
Maura terlihat berjalan sambil bernyanyi riang dengan kedua tangannya digandeng Mutia juga Caca di sisi kanan juga kirinya. Mereka bertiga bernyanyi saling bersautan menuju restoran untuk sarapan pagi walah jam sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mereka semua telat bangun karena merayakan kemenangan Maura yang mendapatkan medali emas. Dibelakang mereka ada Rendy juga Dosen Kevin yang hanya diam saja mendengarkan para ladies bernyanyi lagu yang berjudul you are my sunshine.
The other night dear, as I lay sleeping
I dreamed I held you in my arms
But when I awoke, dear, I was mistaken
So I hung my head and I cried.
You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away
I'll always love you and make you happy,
If you will only say the same.
But if you leave me and love another,
You'll regret it all some day: ( suara Maura)
You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away
You told me once, dear, you really loved me
And no one else could come between.
But not you've left me and love another;
You have shattered all of my dreams: (suara Caca)
You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away
In all my dreams, dear, you seem to leave me
When I awake my poor heart pains.
So when you come back and make me happy
I'll forgive you dear, I'll take all the blame. (sura Mutia)
You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away ( suara Maura, Mutia dan Caca bersamaan)
"Maura is the sun of father and mother." ucap Maura yang dibantu Mutia mengambil tempat duduk.
"No..Maura is the moon of father and mother." ejek Caca yang duduk di sebelah kiri Maura.
"No aunty!!!"
"Maura tidak suka bulan."
"Bulan itu seperti wajah aunty yang saat ini ada tumbuh jerawatnya."
"Dari jauh terlihat indah dan cantik, tapi kalau didekati banyak lobang nya." Maura menutup mulutnya karena berhasil mengejek kembali adik Ayahnya itu. Siapa suruh mengejek Maura, batin Maura dengan tertawa puas.
__ADS_1
Caca mendengkus kesal dengan ejekan keponakannya itu. Dia jerawatan karena mau datang bulan saja dan itu tidak berlangsung lama karena dia sudah mengolesi obat luar pada jerawatnya.
"Sudah!! Ayo kita makan."
"Kita sudah telat untuk sarapan ini." tegur Mutia yang duduk di kanan Maura berhadapan dengan Rendy.
"Ini sih namanya sarapan pagi sekalian makan siang." celetuk Caca setelah meneguk minumannya.
"Nggak apa aunty."
"Ini namanya hemat."
"Nanti uangnya bisa dipakai buat beli yang lain."
"Bunda sama Maura dulu juga sering begitu."
"Iya kan Ma. Kita bertiga dulu juga sering begitu?" Maura memiringkan kepalanya menatap Mutia sambil tersenyum.
Mutia menatap Maura sambil tersenyum kecut dan mengusap kepala Maura lembut. "Iya sayang." jawab Mutia lirih, pasalnya sampai sekarang dirinya juga masih menghemat meski dikasih tempat tinggal gratis oleh Bryan juga Freya. Apartemen yang ditinggalinya saat ini.
Rendy menatap intens mata Mutia yang memancarkan kesedihan itu walau bibirnya terus memaksakan untuk tersenyum di depan Maura juga yang lainnya, termasuk kepada dirinya.
"Mama..Maura minta disuapi boleh?" tanya Maura yang menatap penuh harap pada Mutia. Saat ini mereka tengah sarapan di sebuah hotel yang memang sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara event kompetisi. Mereka juga menginap di sana selama menemani Maura.
"Boleh tidak ya??!!!" Mutia terlihat berpikir sambil melirik Maura yang masih menatapnya penuh harap itu.
Maura memanyunkan bibirnya dengan mata yang dikedip-kedip kan nya beberapa kali. Mutia tersenyum dan mengangguk.
"Horree!!! Makasih Mama sayang." seru Maura dengan hebohnya.
"Sini!! Aunty saja yang suapi." Caca meminta piring Maura yang sudah ada di dekat Mutia.
"Nggak mau." tolak Maura tegas.
"Aunty kalau nyuapi Maura seperti nyuapi kuli bangunan."
"Banyak-banyak dan mulut Maura tidak muat." Maura mengingat kemarin saat dirinya disuapi aunty nya. Maura sampai tersedak beberapa kali karena terlalu kebanyakan.
"Ya sudah kalau tidak mau." Caca kembali melanjutkan makannya sambil membalas chat dari Evan.
"Kita besok pulang kan, Ma?" tanya Maura setelah menelan makanan yang baru saja selesai dia kunyah.
"Tapi katanya Mister Kevin besok Maura sudah boleh pulang." kata Maura mengingat dirinya kemarin diberi tahu Dosen Kevin kalau dirinya besok sudah boleh pulang, tidak perlu menunggu lusa.
Mutia mengerutkan keningnya, dia memang tidak tahu soal itu. Setahu dia Maura besok masih ada kegiatan meski tidak diwajibkan untuk datang.
"Benar begitu Mister Kevin?"
"Maura besok sudah boleh pulang?" tanya Mutia pada Dosen Kevin.
"Iya benar." sahut Rendy cepat sebelum di dahului Dosen Kevin. Rendy tidak suka melihat Mutia berinteraksi dengan Kevin yang memiliki wajah seperti Song Jong Ki, artis Korea dan Rendy juga tahu kalau Mutia itu penggila drakor. Dan itu sangat berbahaya untuk dirinya meski dirinya juga bisa dibilang tampan dan bukan cantik.
"Nona Maura besok sudah boleh pulang."
"Hari ini pun Nona Maura juga sudah boleh pulang selepas acara siang nanti."
"Tapi mengingat Nona Maura ingin jalan-jalan dulu sebelum pulang, jadi kita pulangnya besok."
"Lusa juga bisa." jelas Rendy sambil menatap Mutia. Dia juga ingin pulang besok ataupun lusa, karena dia sendiri ingin mengajak Mutia ke suatu tempat yang pasti belum pernah Mutia kunjungi.
"Horree!! Kita nanti jalan-jalan." Maura terlihat begitu senang dan semangat. Mungkin dia ingin menghilangkan penat karena sudah sebulan lebih belajar, menghafal dan mempelajari berbagai rumus yang membuat siapapun pusing melihatnya.
Mutia melihat Rendy yang tiba-tiba menjauh saat menerima sebuah panggilan telephone. Keningnya mengkerut saat melihat raut wajah Rendy yang terlihat cemas dan khawatir itu.
"Rendy kenapa?"
"Apa ada sesuatu di rumah?"
"Apa terjadi sesuatu pada Freya juga Tuan Bryan?" pikiran Mutia menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Rendy langsung panik, dan khawatir seperti itu setelah menerima panggilan telephone.
"Pak Kevin!! Bisa anda menjaga Nona Maura untuk dua hari kedepan?" tanya Rendy dengan sikap tenang namun Mutia masih melihat kepanikan dan kekhawatiran dari mata Rendy.
"Bisa...Kenapa memangnya?"
"Anda mau kemana?" tanya balik Dosen Kevin yang melihat gelagat aneh pada Rendy.
"Saya harus kembali hari ini."
__ADS_1
"Ada keadaan darurat yang mengharuskan saya kembali hari ini juga." jelas Rendy dengan tenang, dia tidak ingin membuat yang lainnya khawatir.
"Ada apa?"
"Apa terjadi sesuatu di rumah?" Rendy tersenyum tipis pada Mutia yang terlihat khawatir itu.
"Tidak ada."
"Hanya Tuan Bryan meminta saya untuk kembali hari ini."
"Maura ikut pulang sama Paman Robot." sahut Maura cepat setengah berteriak saat nama Ayahnya disebut sama Rendy.
"Tidak bisa Nona. Anda harus menghadiri acara siang nanti."
"Anda pulang besok dengan yang lain setelah acara selesai." jelas Rendy dengan tenang dan lembut berharap Maura menurutinya.
"Tidak mau!!!"
"Kalau Paman Robot pulang, berarti Maura juga harus pulang. Titik." Maura terlihat mau menangis, matanya sudah memerah, hidung juga telinga memerah dan sebentar lagi mungkin hujan badai akan segera turun.
Rendy menghembuskan nafas kasar. Dia tidak mungkin harus kembali besok. Dia ingin segera kembali hari ini juga.
"Nona Maura bisa ikut pulang."
Rendy mengerutkan keningnya menatap Dosen Kevin yang mengizinkan Maura pulang.
"Tapi Nona Maura hari ini masih ada acara." ujar Rendy yang tidak habis pikir dengan Dosen Kevin yang mengizinkan Maura pulang.
"Saya tahu. Biar saya nanti yang akan menggantikan Nona Maura."
"Tapi saya harus ditemani salah satu dari kalian." Dosen Kevin menatap dua wanita dewasa yang ada di depannya, Mutia juga Caca.
"Kak Mutia saja. Caca punya acara dan tidak bisa menemani Pak Kevin." tolak Caca langsung yang tahu akan maksud dari Dosennya itu.
"Kalau Maura pulang, berarti Mama juga ikut pulang."
"Aunty saja yang menemani Mister Kevin."
"Aunty kan tidak punya pacar."
"Pacarannya sama Handphone terus." Caca melotot pada keponakannya itu. Bisa-bisanya keponakannya itu menghina dirinya yang tidak memiliki pacar.Tidak tahu aja kalau dirinya sudah punya pacar.
Mutia tertawa mendengar penuturan Maura yang belum tahu kenyataan kalau Caca sudah memiliki pacar. "Siapa suruh backstreet. Diejek sendiri kan sama keponakannya." batin Mutia tertawa melihat Caca yang terlihat kesal bercampur malu itu.
"Baiklah Nona Caca, anda yang akan menemani Pak Kevin ke acara siang nanti."
"Saya bersama Mutia juga Nona Maura akan pulang terlebih dahulu." tukas Rendy yang sudah tidak sabar untuk segera kembali pulang.
"Tapi Kak, Ca,_"
"Tidak ada tapi-tapian Nona."
"Atau saya akan melaporkan anda pada Tuan Bryan kalau anda saat ini tengah paca,_"
"Stop!!!" teriak Caca sebelum Rendy meneruskan ancamannya.
"Iya-iya Caca yang akan menemani Pak Kevin disini."
"Tapi besok kirimkan jet pribadi."
"Aku nggak mau pulang naik pesawat komersil." ujar Caca setengah kesal pada Rendy yang seenaknya saja itu. Apa-apa melapor pada kakaknya, Bryan.
"Baik Nona. Kalau begitu kami kembali pulang terlebih dahulu." pamit Rendy
"Dada Aunty!! Dada Dosen ganteng." pamit Maura yang saat ini tengah digendong Rendy.
"Saya pulang dulu Nona Caca, Mister Kevin."
"Sampai ketemu di rumah." Caca mendengkus melihat Mutia yang tersenyum mengejek dirinya saat berpamitan.
"Awas saja kalau mereka nanti membocorkan pada Kak Bryan kalau aku saat ini pacaran sama Evan."
"Bisa-bisa nanti Kak Bryan meminta aku untuk memutuskan Evan." batin Caca kesal karena rahasianya terbongkar sama Mutia juga Rendy.
"Ini pasti karena Evan kemarin yang bilang ke kak Mutia saat mengantar Kak Mutia ke bandara." geram Caca pada pacar rahasianya itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
have a nice day
big hug 🤗🤗🤗