Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Kalah Sebelum Perang


__ADS_3

Freya kembali masuk ke dalam kamar rawat Mamanya Rendy setelah selesai menerima telephone dari suaminya, Bryan. Dilihatnya di sana Mutia sudah mulai terlihat tenang dan tidak menangis lagi. Kelihatanya Mamanya Rendy sudah berhasil membujuk Mutia, pikir Freya karena melihat Mutia dan Mamanya Rendy terlihat terlibat perbincangan ringan. Dan Nino sudah terlihat duduk santai di sofa sambil bermain dengan gadget-nya.


"Duduk sini Nona Freya." Mama Asti menepuk sisi kirinya yang masih kosong untuk di duduki Freya.


Freya melirik Mutia yang terlihat tersenyum dan mengangguk pada dirinya. Freya tahu arti dari senyuman juga anggukan sahabatnya itu. Dia melangkah mendekat dan duduk di sisi kirinya Mama Asti sesuai permintaan beliau.


"Kenapa Tuan Bryan telephone?"


"Udah kangen ya sama istrinya dan meminta istrinya pulang."


"Nggak tahan banget ditinggal sebentar sama istrinya." Freya tertawa kecil mendengar perkataan yang lebih mengarah ke candaan Mama Asti. Tahu aja, pikirnya. Tapi nyatanya bukan itu alasan Bryan menghubungi dirinya.


"Bibi tahu aja sih. Jadi malu Freya."


"Mas Bryan memang suka begitu."


"Selalu menghubungi Freya kapanpun yang dia mau."


"Tanpa peduli Freya sedang melakukan apapun." ujar Freya terus terang tanpa ada rasa malu sedikitpun. Ternyata kelakuan suaminya itu sudah banyak yang tahu. Dan kebanyakan yang tahu orang-orang terdekat suaminya. "Apa Mas Bryan dulu juga seperti itu pada kak Ane?" batin Freya mengingat dulu Bryan dan Anelis sempat memiliki hubungan.


"Sok malu-malu kamu!" Mutia mendorong pelan bahu Freya. "Biasanya juga malu-maluin, sampai nggak ingat tempat."


Freya mencebik mendengar ejekan dari sahabatnya itu yang sok tahu padahal memang tahu kelakuan dirinya juga suaminya yang terkadang membuat orang yang melihatnya langsung menghibah dirinya juga sang suami. Tapi terkadang iri juga dengan tingkah mereka yang bisa bermesraan di depan umum.


Mama Asti tertawa kecil mendengar ejekan dari Mutia yang membuat Freya terlihat kesal itu. Mengingatkan dulu persahabatannya dengan mendiang Mamanya Mutia yang saling mengejek namun tak pernah memasukkan dalam hati dan baikan lagi layaknya tidak pernah terjadi apapun. Saling menertawakan tingkah kocak masing-masing.


"Oh iya, Freya ingin menyampaikan sesuatu pada Bibi juga Mutia dan Nino juga." Freya tersenyum saat melihat Nino yang tadinya fokus dengan game yang ada di handphonenya terlihat duduk tegak menatap dirinya. Mungkin Nino penasaran kenapa namanya disebut juga.


"Memang apa yang mau Kak Freya sampaikan?" Nino terlihat begitu penasaran dan berpindah duduk di belakang Mutia sambil memeluk Mutia dengan satu tangannya. Mereka bertiga duduk di tepi brankar Mama Asti disisi kanan juga kirinya.


Freya menatap Mutia, Nino dan Mama Asti bergantian dan tidak lupa menampakkan senyum manisnya.


"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan."


"Nggak usah senyum-senyum begitu."


"Tuan Bryan tidak ada disini." sungut Mutia yang justru melihat Freya senyum-senyum dan juga tak kunjung menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.


"Sabar napa, jadi perempuan itu harus sabar."


"Nggak malu apa sama calon mertua."


"Iya tidak, Bi!" Mutia mendengkus mendengar ejekan sahabatnya yang tengah berbadan dua itu. Freya juga Mama Asti terkekeh kecil melihat Mutia yang terlihat mendengkus kesal pada dirinya.


Ekhem


Freya menyamankan duduknya namun tak kunjung terasa nyaman. Tubuhnya dia gerakkan ke kiri kenan, hingga akhirnya dirinya lebih memilih duduk di kursi untuk bisa menyandarkan punggungnya.


"Sudah tidak apa, kalian duduk disitu aja nggak apa." Freya melarang Mutia juga Nino yang terlihat ingin turun dari brankar dan mengambil kursi untuk duduk.


"Aku pindah karena ingin menyandarkan punggungku saja yang terasa kaku."

__ADS_1


"Mungkin minta di elus sama Mas Bryan." Freya terkekeh sendiri mendengar apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Rasanya dirinya seperti tengah bucin pada suaminya.


"Wanita hamil memang seperti itu, Nona Freya."


"Carilah tempat duduk senyaman yang anda inginkan." Freya mengangguk mendengar perkataan Mamanya Rendy. Jujur saja, dirinya yang saat ini sudah duduk di kursi masih terasa tidak nyaman. Dan entah kenapa semenjak kehamilan keduanya ini dirinya begitu manja dan ingin sesuatu yang terus membuatnya terasa nyaman. Mungkin karena ada Bryan disisinya saat kehamilan kedua ini, berbeda dulu saat hamil Maura, dirinya begitu mandiri.


"Langsung saja ya keburu Rendy datang." Mutia mengerutkan keningnya mendengar Freya menyebut nama Rendy. Kenapa kalau Rendy datang, pikir Mutia.


"Begini,..Rendy, wanita yang dicium Rendy itu selain yang menabrak Bibi juga Nino, wanita itu dulunya mantannya Rendy."


"Apa???!!!" pekik Mama Asti dan Nino bersamaan. Mereka, ibu dan anak itu terlihat begitu kaget. Sepertinya mereka tidak mengetahui kalau Mona itu mantannya Rendy, pikir Freya saat melihat ekspresi Mama dan Adiknya Rendy.


Berbeda dengan Mutia yang terlihat diam saja menatap Freya, dirinya tidak ingin berkomentar apapun. Padahal dirinya juga kaget dan syok Freya mengatakan kalau wanita itu adalah mantannya Rendy. Karena setahu dia, wanita itu yang dicium Rendy dan yang menabrak Mama Asti juga Nino. "Jadi dulu Rendy sudah pernah punya pacar dan mantan." batin Mutia yang hatinya begitu terasa sesak.


Dulu dirinya jual mahal setiap Rendy mendekatinya karena dirinya tidak ingin jatuh cinta pada Rendy yang memiliki karakter dingin dan kaku juga tatapan matanya itu begitu sulit Mutia tebak hingga dirinya ingin mengetahui isi hati pria dingin dan kaku itu. Dan berakhir dirinya memang benar-benar jatuh cinta pada pria dingin dan kaku itu.


"Iya,Mona yang kemarin ada disini itu mantannya Rendy dan yang dicium sama Rendy."


"Dan Mutia melihatnya." kata Freya dengan menatap sahabatnya,Mutia yang terlihat diam menyimak apa yang disampaikannya dengan tatapan kosong, entah apa yang dipirkan sahabatnya itu.


"Sialan!!!!" Nino berdiri dari duduknya.


"Wanita tidak tahu diri."


"Wanita kurang ajar." Nino terlihat begitu kesal dan marah dengan wanita itu. Kenapa dirinya baru tahu sekarang dan tidak dari sebelum-sebelumnya. Kalau dirinya sudah tahu dari sebelumnya. Sudah Nino pastikan wanita itu tidak akan bisa hidup tenang.


"Nino!! Duduk!!" Nino melirik Mamanya yang dengan tegas memintanya untuk duduk kembali.


Nino menghembuskan nafas kasar dan duduk kembali di dekat Mutia dan tidak memeluk Mutia seperti tadi.


"Bukannya Nona Freya sama Mutia baru beberapa bulan di kota J?" tanya Mama Asti yang tidak bermaksud menyebut Freya sok tahu, karena setahu dirinya, Freya itu berasal satu kota sama Mutia dan itu berarti satu kota sama dirinya juga.


"Freya tahu dari cerita Mas Bryan semalam, Bi."


"Mona, wanita itu mantan pacarnya Rendy waktu kuliah dulu."


"Wanita itu pergi meninggalkan Rendy dan menikah dengan pria yang jauh lebih mapan dari Rendy waktu itu yang hanya anak kuliahan." Mereka terlihat diam mendengar Freya berbicara, tidak ada yang menyela dan berkomentar.


"Dan kemarin, pertama kalinya Rendy dan Mona bertemu setelah hubungan mereka putus beberapa tahun yang lalu."


"Dan kamu juga salahpaham Mutia." Mutia mengerutkan keningnya saat Freya menyebut namanya dan dirinya salahpaham atas apa, pikirnya.


"Rendy mencium Mona bukan karena senang bertemu dengan mantan pacarnya lagi atau masih mencintai mantan pacarnya itu."


"Rendy mencium Mona bukan karena itu."


"Rendy melakukan itu hanya ingin melihatmu, apa kamu sudah suka dan jatuh cinta sama dia apa belum."


"Rendy melihatmu ada disana juga, makanya dia melakukan itu hanya untuk mengujimu." Freya melihat Mutia yang hanya diam dan justru memilih berdiri melihat keluar jendela yang dimana sedang turun hujan.


"Sekarang Rendy menuju kesini."

__ADS_1


"Dia takut kamu membatalkan perjodohan ini." imbuh Freya yang sebenarnya kasihan juga melihat sahabatnya itu. Cara yang Rendy lakukan untuk membuktikan apakah Mutia cinta atau tidak sama dia itu menurutnya sangatlah tidak gentle.


"Bibi!!" Mama Asti yang melamun karena memikirkan sikap anaknya terhadap Mutia tersadar saat tangannya di sentuh Freya.


"Boleh Freya mengerjai Rendy?" Mama Asti juga Nino terlihat mengerutkan keningnya menatap Freya. Dikerjai bagaimana maksudnya, pikir mereka.


Freya tersenyum melihat wajah kebingungan ibu dan anak itu.


"Kita kerjai Rendy, kita pura-pura tidak tahu apa yang telah Rendy lakukan kemarin."


"Yang kita tahu hanya Mutia melihat Rendy yang tengah berciuman dengan wanita lain dan juga membatalkan perjodohan itu."


"Aku memang membatalkan perjodohan itu." tak hanya Freya yang menatap Mutia yang terlihat kecewa dan marah itu, tapi Mama Asti juga Nino menatap Mutia.


"Tapi, bukannya kak Mutia tadi sudah mau berdamai dan kembali menerima kak Rendy?" Nino terlihat kaget saat lagi-lagi Mutia membatalkan perjodohan. Apalagi Mama Asti yang sudah terlihat sedih mendengar perkataan Mutia barusan. Membatalkan perjodohan lagi, padahal baru beberapa menit yang lalu mau menerima Rendy kembali dengan syarat yang sudah dia tentukan. Dan dia belum mengatakan syarat apa itu kepada Mama Asti juga Nino. Bahkan Freya tidak tahu menahun soal itu.


"Itu tadi, dan sekarang aku benar-benar ingin membatalkan perjodohan itu."


"Mutia sudah sangat kecewa dengan apa yang telah Rendy lakukan pada Mutia, Bibi."


"Maaf, Mutia tidak bisa." Freya gelagapan saat melihat Mutia yang mengambil tas dan mau pulang itu.


"Gawat, nggak berhasil dong ngerjain Rendy nya." batin Freya yang kesal kalau sampai dirinya tidak berhasil mengerjai Rendy.


"Mu,_" Freya tidak jadi melanjutkan ucapannya saat pintu terbuka dan terdorong begitu kerasnya. Freya membulatkan matanya saat melihat asisten suaminya itu yang saat ini tengah jadi bahan ghibah sudah muncul diantara mereka.


"Gawat, misi gagal."


"You are lose. Game over." batin Freya yang merasa gagal mengerjai Rendy. Padahal sandiwara belum dimulai dan sang target sudah sampai finish duluan.


"Kamu kelamaan sih Freya." Freya mengeratkan g


gigi-giginya sambil berdecak sebal.


"Kenapa juga tadi pakai acara basa basi segala." Freya begitu kesal pada dirinya sendiri yang gagal mengerjai Rendy.


"Achh...padahal aku ingin melihat Rendy kalah dan dihukum."


"Aku nggak mau melihat Rendy menang terus."


"Mas Bryan!!!! Istrimu gagal menyelesaikan misi."


"Aku mau pulang saja, aku juga mau ngumpet bersama dedek bayi biar tidak kelihatan."


"Bunda kalah sebelum perang."


Huwaaaaaaa


Maaf ya kemarin tidak up dan hari ini hanya up sedikit. Authornya lagi sibuk di real life untuk beberapa hari kedepan dan Insha Allah, author akan usahan tetap up, tapi tidak janji yaaa. Dan kalau kesibukannya sudah selesai, Insha Allah akan up lagi tiap hari.


Have a nice day

__ADS_1


Big Hug 🤗🤗🤗


dewi widya 😘


__ADS_2