
Bryan menatap tajam pada Freya yang duduk di depannya, kini mereka sudah sampai di apartemen Freya. Bryan begitu geram saat tahu alasan Freya datang ke Last Night hanya untuk mengetahui masa lalunya. Ingin rasanya dia memarahi Freya saat ini juga, namun dia urungkan karena kondisi Freya yang tidak memungkinkan untuk dimarahi.
"Kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu bahaya?" tanya Bryan yang mencoba untuk tidak membentak ataupun berbicara kasar pada wanita di hadapannya itu.
"Bagaimana kalau lelaki itu melakukan apa yang pernah aku lakukan ke kamu seperti dulu?"
"Apa kamu gak mikir sampai kesana saat mengunjungi tempat seperti itu?"
Freya hanya diam menunduk, dia menangis sesenggukan, dia akui kalau apa yang dia lakukan tadi salah dan berbahaya untuk dirinya sendiri.
"Kamu datang kesana sendirian hanya untuk mengetahui masa lalu ku saja."
"Kenapa nggak kamu tanyakan langsung pada orangnya atau orang kepercayaannya?" tanya Bryan yang sudah terlihat tidak bisa menahan amarahnya.
"Dan kalian,.." Bryan mengeraskan rahangnya menatap Rendy dan Mutia bergantian, "Sejak kapan kalian bekerja sama untuk membuat Freya menyesal dan akhirnya bertindak bodoh seperti tadi."
Freya semakin menunduk saat Bryan menyebutnya bodoh. Dia memang bodoh, bodoh karena berasumsi yang tidak-tidak dengan pikirannya sendiri tentang masa lalu Bryan yang belum tentu sesuai pikirannya. Dan dia selalu berpikiran jelek tentang Bryan.
"Maaf atas kelancangan kami, Tuan." sesal Rendy yang menunduk menyesali kesalahannya. Dia dan juga Mutia memang merencanakan untuk membuat Freya menyesal dengan asumsinya sendiri tentang masa lalu Bryan. Dan mereka juga ingin melihat Bryan dan Freya untuk segera menikah dan tidak ditunda-tunda lagi.
Mutia yang duduk di samping Freya juga diam menunduk. Dia tidak bermaksud membuat Freya melakukan hal seperti tadi. Dan dia tidak tahu kalau Freya sampai nekat melakukan itu sendiri tanpa dirinya.
"Informasi apa yang kamu dapatkan tadi di sana?" tanya Bryan kembali menatap Freya.
Freya menggeleng, dia tidak dapat informasi apapun. Yang dia dapat justru tindakan pelecahan.
Bryan menghembuskan nafas kasar melihat Freya yang hanya geleng kepala dan diam saja, Freya juga masih terlihat menangis. Dia memberi isyarat pada Rendy untuk membawa Mutia keluar, dia tidak peduli hari sudah malam.
"Ishh..apa-apaan sih." keluh Mutia saat tiba-tiba Rendy menarik tangannya hingga membuatnya berdiri dari duduknya.
"Mau kemana coba, ini sudah malam?" tanya Mutia yang ditarik paksa Rendy keluar apartemen.
Rendy hanya diam saja dan membawa Mutia naik ke roof top.
"Ngapain sih kesini? Anginnya dingin tahu." keluh Mutia yang memang merasakan terpaan angin dingin di tubuhnya. Apalagi ini hari sudah hampir tengah malam, dia belum mandi juga belum ganti baju setelah pulang kerja tadi.
Kembali ke Bryan yang terlihat berdiri dan mendekati Freya. Dia duduk disamping dimana Mutia tadi duduk di sana. Dia melingkarkan tangan kanannya di pundak Freya dan mengelusnya pelan.
"Sudah, jangan nangis lagi."
"Dan jangan membuatku semakin marah lagi."
Freya yang mendengar itu bukannya berhenti menangis justru semakin kencang dia menangis. Apalagi sekarang Bryan justru memeluknya.
"Aku..aku..minta maaf." suara Freya tercekat saat mengucapkan maaf. "Aku...salah.." hik hik hik. Freya membalas pelukan Bryan dengan erat.
Bryan diam saja sambil mengelus rambut dan punggung Nayra. Dia ingin membuat Freya tenang dulu baru bicara lagi. Percuma bicara dengan orang yang emosinya tidak setabil seperti sekarang ini. Freya yang menyesal dan merasa bersalah dan dia yang marah karena Freya pergi ke tempat hiburan malam ditambah lelaki itu telah beraninya menyentuh wanitanya.
"Apa kamu gak malu sama Maura kalau menangis terus seperti ini?" ejek Bryan yang merasakan kalau jasnya sudah basah karena air mata Freya.
Freya menggelengkan kepalanya di dada bidang Bryan. Bryan tersenyum tipis melihat jawaban yang Freya berikan.
Freya melepaskan pelukannya saat dia merasa kalau dirinya sudah mulai tenang dan terkontrol emosinya. Dia mengangkat kepalanya menatap Bryan.
Bryan yang melihat mata Freya yang sembab dan hidung yang memerah juga pipi yang basah karena air mata, tangannya meraih tisu di atas meja dan memberikannya pada Freya.
Freya mengusap wajahnya dan "hooossstttt" Freya membuang ingusnya tepat dihadapan Bryan tanpa rasa malu sedikitpun. Dia lantas melempar tisu bekas ingus itu tepat di tong sampah yang ada di samping sofa yang Bryan duduki.
Bryan menahan nafasnya melihat kelakuan Freya barusan yang menurutnya begitu jorok. Dan dia tidak suka sesuatu yang jorok ataupun kotor. Wajar, dia itu pria yang suka kebersihan, tidak suka melihat sesutu yang kotor dan itu membuatnya ilfeel.
"Stop!!" pekik Bryan saat melihat Freya menggunakan tangannya untuk menggosok hidungnya yang gatal.
"Cuci tangan mu sekarang dan buang itu semua tisu cepat." perintah Bryan yang sudah menggeser duduknya menjauh dari Freya.
Freya mengerutkan keningnya dan tanpa banyak bertanya lagi dia memunguti tisu bekasnya tadi dan membuangnya di tong sampah dekat sofa yang Bryan tempati.
"Apa dia merasa jijik." batin Freya yang sekarang sedang mencuci tangannya melirik punggung Bryan.
Freya kembali dan duduk di sofa dimana Bryan yang duduk di sana sebelumnya.
"Ngapain kamu duduk disitu?" tanya Bryan melihat Freya yang tidak duduk di sampingnya, "sini!!!" Bryan menepuk tempat kosong dimana Freya tadi duduk di sana.
"Ayo sini!!!" perintah Bryan dengan tegas.
Dengan ragu Freya berdiri dan melangkah mendekati Bryan "Eghhh.." lenguh Freya saat tangannya ditarik Bryan membuatnya duduk dipangkuan laki-laki itu.
"Sudah, duduk disini saja." Bryan menekan erat pinggang Freya saat dia berusaha untuk bangun dan pindah.
__ADS_1
"Apa yang kamu ragukan akan sosok pria dewasa yang tampan dan berkarisma juga pekerja keras dan kaya raya seperti aku ini?" tanya Bryan menatap netra coklat Freya yang tepat dihadapannya itu.
"Aku_" Bryan mengangkat dagu Freya saat gadisnya itu ingin menunduk.
"Tatap, aku. Aku gak mau kamu bicara tanpa menatap lawan bicaramu." kata Bryan tegas.
"Aku kamu berpikir kalau aku tukang celup sana sini terlepas aku dulu pernah melakukan itu ke kamu?" tanya Bryan terlebih dahulu sebelum Freya menjawab keraguan yang dia miliki pada dirinya.
Freya mengangguk pelan dengan menatap takut pada Bryan. Dia takut kalau Bryan marah karena dia berpikir Bryan itu maniak s*k*.
Bryan terkekeh pelan, jadi ini alasan Freya tidak ingin cepat-cepat menikah dengannya itu karena ragu kalau dirinya itu suka celup sana sini dengan beberapa wanita, pikir Bryan.
"Aku bukan pria brengsek yang akan melakukan itu pada setiap wanita yang menemaniku."
"Mereka hanya menemaniku dan sesekali juga mereka juga merayu dan menggoda ku."
"Tapi 'si rosi' tidak kunjung bangun."
"Tidak seperti saat bersamamu seperti ini."
"Dia langsung terbangun tanpa kamu merayu dan menggodaku."
Freya mengerutkan keningnya, Siapa si rosi, batinnya.
"Jadi kamu...Kamu tidak...."
"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan." sergah Bryan cepat.
"Kamu bisa tanya sama Rendy, Alex, ataupun Bara."
"Atau perlu wanita-wanita yang dulu pernah menemaniku."
"Rendy punya daftar semua wanita itu."
Freya membulatkan matanya mendengar Rendy yang memiliki semua daftar wanita yang Bryan pernah sewa. Berapa banyak memang wanita yang sering menemani Bryan sampai Rendy mempunyai daftar wanita-wanita itu, pikir Freya.
"Sudah, jangan pikirkan itu lagi."
"Kalau kamu takut, kita besok ke rumah sakit untuk mengecek apa punya ku ada penyakitnya atau tidak."
"Biar kamu tahu." tantang Bryan.
"Yakin aku gak perlu periksa?" tanya Bryan dan dengan cepat Freya menggelengkan kapalanya.
"Berarti dua hari lagi kita menikah." Freya mengangguk mendengar perkataan Bryan.
"Kamu mau dan sudah siap?" tanya Bryan menatap lekat mata Freya.
"Kalaupun aku tidak mau dan belum siap, kamu pasti akan tetap memaksa aku."
"Bukankah Tuan Muda Abrisam tidak suka yang namanya penolakan?" ejek Freya dengan wajah cemberut. Menolak seperti apapun dia pasti akan tetap mengikuti Bryan.
Bryan tersenyum tipis dan menarik gemas hidung Freya hingga membuat hidup mancung itu kembali memerah.
Freya mendengkus sambil mengusap hidungnya yang memerah.
"Kenapa?" tanya Freya yang melihat Bryan diam saja dengan menatapnya berbeda dari tadi.
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu di bawah sana?" tanya Bryan balik.
Freya yang tahu maksud dari pertanyaan Bryan hanya menggeleng, dia berbohong pada Bryan karena Freya sudah merasakannya dari tadi dan dia hanya diam saja berusaha untuk tetap tenang di pangkuan Bryan.
"Kamu berbohong."
"Aku tahu kamu dari tadi sudah merasakannya." Bryan menatap lekat bibir Freya.
"Dimana laki-laki tadi menyentuhmu?" tanya Bryan sambil mengusap lembut pipi Freya dengan buku jarinya.
"Disini?" Bryan menyentuh kedua tangan Freya.
"Disini?" Bryan beralih menyentuh kedua pipi Freya
"Atau disini?" Bryan mengusap bibir Freya dengan salah satu jari jempolnya.
"Hmm..dimana?" tanya Bryan dengan suara seraknya dan tatapan yang begitu sayu.
Freya seperti terhipnotis akan tatapan Bryan dan sentuhan yang di berikan dengan salah satu tangan Bryan. Dia dengan lancarnya menjawab, memberitahu dimana saja lelaki tadi menyentuhnya.
__ADS_1
"Aku akan menghapusnya untukmu."
Bryan mencium kedua lengan Freya bergantian, beralih mencium pundak Freya, dan terakhir pipi Freya untuk menghapus jejak lelaki baji ngan tadi menyentuh gadisnya itu.
"Sekarang aku akan memberikan jejak untukmu sebagai tanda kalau Freya Almeera Shanum hanya milik Abrisam Bryan Alvaro."
Bryan mencium bibir Freya dengan lembut, sangat lembut hingga membuat Freya tanpa sadar membalas ciuman Bryan dan dia juga memejamkan mata dan mengalungkan kedua tangannya di leher Bryan.
Bryan menyeringai dalam cumbu annya, dia semakin merengkuh Freya erat dengan satu tangannya. Sedang tangan lainnya dia gunakan untuk menjelajah punggung Freya dari balik baju yang Freya kenakan.
"Brymmphh..." Freya terkejut saat tangan Bryan sudah berada di balik kain yang membungkus gunung kembarnya.
Bryan tetap tidak melepaskan ciuman di bibir Freya saat gadisnya itu berusaha menghindar. Bryan semakin memperdalam ciuman itu.
Freya yang merasa darahnya sudah terbakar karena sentuhan tangan Bryan akhirnya hanya diam tanpa melawan. Dia sudah terbawa suasana akan sentuhan-sentuhan lembut yang Bryan berikan padanya.
"Aku akan memulainya sekarang." ucap Bryan saat dia sudah merebahkan Freya di sofa.
"Tapi_" Freya terlihat ragu, tapi dari tatapan matanya yang sayu dapat Bryan lihat kalau libid* di tubuh Freya meningkat.
"Tidak apa, jangan khawatir. Kita dua hari lagi akan menikah."
"Jadi nikmatilah sayang."
"Aku akan memberikan tanda kepemilikan padamu supaya tidak ada lelaki yang berani menyentuhmu."
Bryan kembali melancarkan aksinya, dia membuka seluruh kain yang melekat di tubuh Freya dan juga di tubuh miliknya.
Bryan terkekeh saat melihat Freya yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa ditutup?" Bryan menyingkirkan kedua tangan Freya, "aku nanti tidak bisa melihat kedua matamu yang merem melek karena keenakan." Bryan mendapat pukulan di dadanya dari Freya.
Bryan tersenyum dan mencium kening Freya begitu lama.
"Aku akan mulai dan janji akan pelan-pelan"
Bryan menarik kain tipis yang ada di punggung sofa sebagai penghias sofa, dia jadikan sebagai penutup tubuh mereka saat ber cinta.
Bryan dan Freya begitu menikmati permainan mereka di atas sofa yang sempit. Bryan juga meminta Freya untuk duduk di pangkuannya dan meminta gadisnya itu untuk memuaskan ya.
"Oh..Freya...You are so great." geram Bryan saat dia merasakan miliknya sebentar lagi akan meledak.
"I can't stand it anymore." Bryan mengangkat tubuh Freya dan di rebahkannya kembali di sofa. Dia tidak ingin keluar saat permainan dikendalikan Freya. Dia ingin keluar bersama dengan Freya saat permainan ada dibawah kendalinya.
"Bryan, slow down." pekik Freya saat Bryan sudah tidak bisa mengontrol gerakan ya.
"Can not, dear." Bryan terus bergerak cepat diatas Freya. Bryan masih mencoba untuk tidak keluar sekarang meski dia sudah merasakan kalau Freya sudah berkali-kali keluar.
"Kamu kenapa sih ngikut kesini juga?" tanya Mutia saat melihat Rendy yang berdiri di belakangnya saat dia akan membuka pintu apartemen.
"Saya ingin menjemput Tuan Muda." jawab Rendy singkat.
Mutia mendengkus kesal, dia lupa kalau Bryan masih dia apartemennya. Mutia masuk kedalam diikuti Rendy. Mutia berdiri mematung di tengah-tengah antara tuang tamu dan ruang keluarga. Dia begitu syok dengan apa yang dia lihat dihadapannya itu.
Dengan segera Rendy membungkam mulut Mutia saat wanita itu akan berteriak. Dia rapatkan wanita itu di dinding.
"Mmpphhh..." Mutia memukul dada Rendy supaya melepaskan tangannya yang membungkan mulutnya.
"Mau saya lepaskan?" tanya Rendy menatap tajam pada Mutia.
Mutia mengangguk cepat.
"Janji jangan keluarkan suara apapun" masih menatap Mutia.
Lagi-lagi Mutia mengangguk cepat dengan membalas tatapan Rendy.
Rendy melepaskan tangannya yang membungkam mulut Mutia sebagai gantinya dia membungkam mulut itu dengan bibirnya.
Mata Mutia membola seketika, dia diam beberapa saat akan keterkejutan yang baru saja dia rasakan. Jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat.
Setelah sadar akan apa yang baru saja Rendy lakukan padanya dia langsung memukul dada lelaki dihadapannya itu. Dia terus berusaha memberontak dan lepas dari bibir Rendy yang menempel di bibirnya.
"My first kiss." teriak Mutia dalam hati.
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
thanks for like, vote, comment and the support
big hug from far away 🤗🤗🤗