
Dua hari paska tahun baru sekaligus perayaan ulang tahun Freya yang ke 26th, Bryan membawa Freya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Freya. Karena sudah beberapa hari ini Freya sering merasakan kontraksi palsu, juga sering merasakan sakit pada punggungnya.
"Ayah!!" panggil Maura saat baru turun dari mobil yang terparkir sempurna di depan lobby rumah sakit.
Bryan yang membantu Freya turun dari mobil menoleh sebentar pada putri kecilnya yang sudah terlebih dulu turun. "Kenapa?" tanya Bryan.
"Pulang dari rumah sakit Ayah jadikan mengajak Maura dinner bersama Bunda juga?" tanya Maura yang memang tadi sebelum berangkat menuju rumah sakit, sang Ayah sudah berjanji pada dirinya akan mengajaknya dinner juga bersama Bunda Freya.
Bryan tersenyum dan mengusap puncak kepala Maura perlahan. "Jadi dong. Tadi Ayah sudah pesan tempat untuk kita bertiga. Ayah juga sudah memesan makanan kesukaan cantiknya Ayah." ucap Bryan.
"Yeeee...." Maura begitu senangnya karena Ayahnya memang jarang mengajaknya makan diluar, apalagi di restoran mewah. Biasanya dia makan diluar bersama Bundanya atau dengan Aunty nya atau dengan Oma Opanya.
Bryan tersenyum melihat keceriaan Maura yang begitu senang diajak makan bersama dengan Ayah dan Bundanya. Bryan juga ada sedikit rasa bersalah pada Maura karena memang tidak pernah membawa Maura makan di restoran. Tapi hari ini dia ingin menghabiskan waktunya bersama Freya juga Maura sebelum Bryan Junior launching ke dunia.
"Bara!! Parkirnya jangan jauh-jauh." Bryan mengingatkan Bara untuk tidak memarkirkan mobil terlalu jauh dari lobby rumah sakit.
Bara hanya mengacungkan jari jempolnya sebelum akhirnya mencari parkiran mobil yang dekat dengan lobby. Dia tidak bisa seenaknya saja parkir mengingat dirinya tidak punya koneksi di negara Swiss.
"Sayang, kamu duduk disini dulu." kata Bryan meminta Freya juga Maura untuk duduk terlebih dahulu di ruang tunggu.
"Aku mau kesana dulu." tunjuk Bryan pada bagian informasi untuk menanyakan dokter kandungan yang biasa memeriksa Freya selama berada di Swiss sudah tiba atau belum.
Freya mengangguk saja, karena biasanya Bryan yang mengurus semuanya selama berada di Swiss dibantu dengan Bara dan tidak biasanya Bryan hanya meminta Bara untuk menunggu di depan tidak ikut masuk seperti yang sudah-sudah.
"Perut Bunda bergerak!" seru Maura saat tidak sengaja melihat perut Bundanya bergerak-gerak. Karena ini baru pertama kalinya dirinya melihat perut Bundanya yang bergerak tanpa disentuh. Seingat dia waktu masih dirumah dulu, perut Bundanya itu akan bergerak kalau disentuh.
Freya tersenyum sambil mengusap lembut kepala Maura. "Maura tidak mau memegang perut Bunda?" tanya Freya.
Maura mengangguk antusias, "Mau Bunda." kata Maura dan langsung memegang perut Bundanya sambil mengelusnya pelan. Maura tersenyum geli saat tangannya merasakan pergerakan dari dalam perut Bundanya.
"Dedeknya lagi main bola didalam." kata Maura membuat Freya tertawa kecil, begitu pula dengan beberapa ibu hamil yang lainnya yang tengah menunggu di ruang tunggu. Mereka tertawa juga bukan karena paham akan apa yang Maura katakan, tapi karena tingkah ekspresi yang didapat dari Maura yang begitu lucu dan menggemaskan.
"Hai dedek kecil!!" sapa Maura dengan mendekatkan kepalanya pada perut sang Bunda.
"Dedek lagi main bola ya?" tanya Maura pada adiknya yang masih berada dalam perut sang Bunda.
"Ohhh..Iya.." Maura mengangguk seakan adiknya membalas pertanyaannya.
"Kalau nendang bolanya jangan kencang-kencang ya dedek. Kasihan perut Bundanya jadi gerak-gerak. Nanti saja kalau dedek sudah lahir kita main bola bersama untuk melawan Ayah yang sok jagoan itu."
Freya mengerutkan keningnya sambil tertawa kecil saat Maura dengan penuh percaya diri bilang kalau Ayahnya sok jagoan. Bagaimana kalau Bryan dengar, pikirnya.
"Kita bermain bersama Bunda juga dan bersatu melawan Ayah." sambung Maura dengan mencium perut Bundanya dengan gemas.
__ADS_1
"Cantiknya Ayah sudah berani ya mau melawan Ayah." Bryan yang baru saja kembali langsung mengangkat tubuh mungil Maura kedalam gendongannya.
Maura tertawa kecil dan langsung melingkarkan tangannya pada leher sang Ayah supaya tidak terjatuh. "Berani dong! Kan sebentar lagi Maura akan punya adik laki-laki yang kuat dan hebat dan pastinya akan mengalahkan Ayah."
"Kita buktikan saja nanti. Siapa yang jauh lebih hebat dan kuat. Ayah atau anak-anak Ayah. Karena Ayah sudah memiliki segalanya saat ini." ucap Bryan dengan sombongnya.
"Oke!! Kita lihat saja nanti. Pasti Maura sama dedek yang akan menang dan mengalahkan Ayah." kata Maura tak mau kalah dengan Ayahnya. Karena setahu dia, Ayahnya mudah luluh kalau sudah diberi jurus andalan. Menangis atau tidak boleh mendekati Bunda Freya.
Bryan mengangguk saja, karena pasti dirinya yang akan menang dan mengalahkan anak-anaknya.
"Nyonya Bryan!" panggil seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan.
Bryan membantu Freya berdiri dengan satu tangannya karena tangan satunya memegangi Maura yang berada dalam gendongannya. Mereka mengikuti suster itu masuk kedalam ruangan dokter kandungan.
"Morning Mr and Mrs Bryan." sapa dokter kandungan berjenis kela min perempuan yang bernama Eveline.
"Morning doctor Eveline." balas Bryan juga Freya sambil berjabat tangan dengan sang dokter.
"Selamat pagi dokter." sapa Maura dengan ikut menyalami dokter Eveline.
Dokter Eveline tersenyum pada Maura yang masih berada di dalam gendongannya Ayah Bryan. "Selamat pagi juga, girl." balas dokter Eveline dengan Bahasa Indonesia yang tidak begitu lancar sambil mengusap lembut kepala Maura.
"Dokternya bisa Bahasa Indonesia juga ternyata. Hehehe.." Maura tertawa sambil menutup mulutnya karena tidak menyangka dokter yang akan memeriksa Bunda Freya juga bisa berbahasa Indonesia.
"Perlengkapannya sama ya Ayah dengan di rumah sakit Paman Andre." kata Maura mengingat dirinya pernah diajak Ayah Bryan memeriksakan kandungan Bunda Freya di rumah sakit tempat Andre bekerja dan mendapati perlengkapan USG sama persis seperti di sana.
Bryan mengangguk saja karena matanya saat ini tengah fokus pada monitor yang ada di hadapannya. Ada terdapat gambar bayi yang bergerak aktif dengan kaki dan tangan yang sesekali menendang.
"Usia kehamilannya sudah 36 minggu, 2 hari." kata dokter Eveline sambil tersenyum dan kedua tangannya juga masih sibuk bekerja memeriksa kandungan Freya.
"Dedek bayinya gerak terus ya Ayah." bisik Maura pada Ayahnya. "Lucu, pengen nyubit Maura." imbuh Maura dengan gemas sendiri.
Bryan hanya tersenyum kecil menanggapi celetukan putrinya itu. Dia sendiri juga gemas pada Bryan Junior. Dia sudah tidak sabar melihat Bryan Junior lahir kedunia.
"Ini sudah mulai masuk panggul. Apa Nyonya sering merasakan sakit pada pinggang?" tanya dokter Evelin.
Freya mengangguk, "Yes doctor. Sudah beberapa hari ini sering sakit pinggang juga sakit punggung." kata Freya dengan mata sesekali menatap layar monitor dan dokter Eveline bergantian.
Dokter Eveline mengangguk paham dan kembali mengukur panjang janin juga menimbang berat badan janin.
"Dok, bagaimana dengan air ketubannya?" tanya Freya yang memang mengkhawatirkan janinnya kekurangan atau bahkan keracunan air ketuban mengingat beberapa hari ini dia juga merasakan ada sesuatu yang merembes dari **** *************.
Dokter Eveline menatap Freya sejenak dan menghembuskan nafas berat. Seperti ada sesuatu yang serius ingin dia sampaikan kepada sepasang suami istri itu.
__ADS_1
"Kenapa dok? Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Bryan saat merasakan ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah dokter yang memeriksa Freya. Dirinya juga sambil memegang tangan Freya untuk memberi ketenangan pada istrinya kalau saja nanti mereka akan mendapat kabar buruk. Nauzubillah...
"Sebelumnya, untuk panjang dan berat janinnya sudah sesuai bahkan melebihi usianya saat ini. Dan untuk detak jantungnya juga normal." jelas dokter Eveline sebelum menjawab pertanyaan Bryan juga Freya.
"Alhamdulillah." gumam Freya saat tahu janinnya normal saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Tapi_" dokter Eveline menjeda ucapannya membuat Bryan dan Freya saling menatap bingung. Ada kekhawatiran sendiri di hati mereka kalau sampai ada kabar buruk yang akan disampaikan dokter Eveline.
"Tapi kenapa, dok?" tanya Freya dengan semakin mengeratkan genggaman tangan Bryan.
"Apa Nyonya Bryan merasakan ada rembesan air yang keluar beberapa hari ini?" tanya dokter Eveline.
Freya mengangguk saja, karena dia memang merasakan itu untuk beberapa hari terakhir selama merasakan sakit pada pinggang juga punggungnya.
Bryan yang memang tidak tahu apapun karena Freya tidak menceritakan padanya hanya fokus mendengarkan saja. Dia tidak ingin mengambil salah langkah dan memarahi istrinya hanya karena tidak menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya.
"Air ketubannya sudah mulai berkurang." kata dokter Eveline.
Freya begitu kaget mengetahui kenyataan bahwa yang merembes beberapa hari terakhir adalah air ketuban. Begitu pun Bryan juga merasakan keterkejutan yang luar biasa, namun dia berusaha untuk lebih tenang dan terkontrol.
"Kalau Nyonya masih tetap merasakan rembesan itu. Bisa dikhawatirkan air ketubannya akan habis dalam waktu kurang dari seminggu. Dan itu bisa membuat,_" dokter Eveline tidak melanjutkan ucapannya karena disela oleh Bryan.
"Apa itu akan membahayakan anak kami dokter?" tanya Bryan menyela.
Dokter Eveline mengangguk, mengiyakan. "Benar. Dan itu bisa membuat janinnya keracunan air ketuban.
Freya terdiam mendengar jawaban dari dokter Eveline atas pertanyaan yang suaminya ajukan tadi. Dia tidak menyangka kehamilannya kali ini begitu menegangkan dan banyak rintangan yang harus dia hadapi. Mulai dari mual yang parah, masuk rumah sakit, sering merasakan sakit dan saat ini dia baru mengetahui kalau air ketubannya sudah tinggal sedikit dan bisa mengakibatkan janinnya keracunan.
"Apa bisa dilakukan tindakan sekarang, dok?" tanya Bryan yang siap saja kalau hari ini akan dilakukan tindakan untuk penyelamatan anaknya meski usianya masih bisa dibilang prematur.
"Kalau Nyonya Bryan sudah siap bisa dilakukan hari ini juga atau mungkin besok juga bisa. Yang penting kurang dari dua hari kalau mau janinnya selamat." kata dokter Eveline dan itu semakin membuat Freya semakin terdiam dan merasa bersalah dengan dirinya sendiri.
"Hari ini saja, dok. Lakukan tindakan sekarang juga." kata Bryan dengan tegas karena tidak mau terjadi sesuatu dengan istri dan calon anaknya nantinya.
"Tapi bisanya nanti jam 8 malam. Saya sudah ada jadwal dua operasi hari ini. Bagaimana Tuan?"
Bryan menatap Freya yang hanya terdiam dengan pandangan kosongnya. Bahkan istrinya itu tidak meresponnya saat dirinya mengusap punggung tangan istrinya itu.
"Baik dok tidak masalah, yang terpenting istri dan anak saya nantinya selamat dalam kondisi sehat." akhirnya Bryan menyetujui untuk nanti malam melakukan tindakan penyelamatan bayi yang dikandung Freya, anaknya.
"Jadi kita tidak jadi dinner dong Ayah, malam nanti?"
Bryan menghembuskan nafas berat saat putrinya tidak jauh beda dengan istrinya yang mempertanyakan jadi tidaknya dinner di situasi yang genting. Like mother like daughter.
__ADS_1