Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Kecelakaan


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi lewat 13 menit. Namun Bryan terlihat tengah bersiap dengan pakaian kerjanya tanpa bantuan sang istri. Sudah dua hari ini dia selalu berangkat ke kantor di awal waktu tanpa menunggu Freya bangun dari tidurnya terlebih dahulu.


Dan untungnya Freya sudah menyiapkan semua keperluan Bryan saat sesudah subuh, karena Freya akan tidur lagi setelah subuh dan itu bukan kebiasaan Freya seperti biasanya sebelum hamil. Mungkin itu bawaan bayi yang ada di dalam kandungannya dan Bryan memaklumi itu dan tidak akan mengusik ketenangan sang istri juga calon bayinya yang masih berada di perut sang Bunda.


Bryan keluar dari walk-in closet dan meletakkan jas di punggung sofa juga sepatu di dekat sofa. Lantas dia berjalan mendekati Freya yang masih memejamkan matanya di atas ranjang berbalut selimut tebal. Bryan mengambil remote AC dan menambah temperatur suhu kamarnya biar tidak terlalu dingin mengingat matahari sudah mulai menampakkan sinarnya.


Bryan mendaratkan pantatnya perlahan di tepi ranjang di sebelah tubuh Freya yang berbaring. Disingkirkan nya rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah cantik Freya kebelakang telinga. Diusapnya lembut pipi juga bibir Freya sebelum akhirnya Bryan mendaratkan ciuman di kening, kedua pipi, hidung dan bibir Freya hingga Freya terasa terusik karena kecupan-kecupan yang Bryan berikan.


"Mas...." gumam Freya dengan suara serak karena merasa terusik dengan kegiatan suaminya yang memberi kecupan di wajahnya bertubi-tubi itu. Dengan mata terpejam Freya menarik dan memeluk erat lengan Bryan yang tadi ada pipinya.


Bryan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis menatap wajah Freya yang semakin berisi, terutama kedua pipi itu. Dan itu semakin membuat Bryan gemas pada Freya.


"Kamu ternyata banyak makan ya selama hamil ini."


"Lihat ini pipi kamu sudah hampir mirip sama Maura."


"Sudah bisa dicubit." Bryan terkekeh pelan saat menjembel pipi Freya membuat sang istri justru merengek.


"Jangan dijembel, Mas. Sakit tahu!!!"


"Enakan dicium gitu lohh, manis." dengan mata yang masih terpejam, Freya menyunggingkan senyumnya membayang dirinya saat ini tengah berciuman bersama sang suami, Bryan.


Cup...Bryan hanya memberikan kecupan singkat di bibir Freya. Namun dengan segera Freya menangkup salah satu pipi Bryan saat Bryan akan melepas kecupan itu. Freya meminta lebih dari sekedar kecupan. Bryan menuruti keinginan istrinya itu. Dilu matnya bibir berwarna peach itu dengan lembut dan melesakkan lidahnya di dalam rongga mulut Freya. Keduanya saling membelikan lidah hingga suara kecapan terdengar di penjuru kamar Bryan dan juga Freya.


Bryan melepas tautan bibir mereka sebelum terlampau jauh dan membuatnya ingin memakan Freya sekarang juga. Bryan menyudahinya dengan segera mengingat dirinya yang ingin segera pergi ke kantor dan mungkin Rendy sudah menunggunya di bawah.


"Sudah ya, sayang..Aku berangkat kerja dulu." Bryan berusaha melepas tangannya yang dipeluk oleh Freya. Dia ingin segera ke kantor dan menyelesaikan masalah penggelapan uang perusahaan yang di lakukan oleh manager keuangan yang sudah bekerja dari awal perusahaan BRATA Grup berdiri. Dia ingin tahu kenapa orang itu melakukan kejahatan, dan yang kedua, kemana saja transaksi uang sebesar 20 Milyar itu dilakukan/ diberikan kepada siapa. Terus siapa dalang dibalik penggelapan uang yang saat ini terjadi.


Freya seketika membuka kedua matanya saat sang suami izin berangkat kerja. Dilihatnya jam digital di atas nakas masih menunjukkan pukul 6 lewat 21 menit. Dan ini sudah terjadi dua hari berturut-turut sejak Freya sudah mau menerima kehadiran keluarga kandungnya, Mama Marisa dan juga Anelis, sang kakak. Freya lantas bangun dari tidurnya dan duduk menatap Bryan dengan tangan Bryan masih di pegang dan dipeluknya.


"Aku harus ke kantor sekarang." kata Bryan yang melihat Freya menatapnya dengan tatapan protes. Dia tahu istrinya saat ini tengah manja-manjanya dengan dirinya. Kata Mama Lea itu bawaan bayi dan Bryan harus memaklumi itu. Tapi sampai kapan? Bryan sendiri tidak tahu. Mungkin selama kehamilan Freya atau bahkan sampai lahiran nanti.


"Tapi ini masih pagi, Mas..Nanti saja kenapa sih??!!" rengek Freya yang tidak terima ditinggal Bryan berangkat kerja. Dia masih ingin bermanja-manja dengan Bryan.


"Apa di kantor ada masalah?"


"Kenapa berangkat awal terus?"


"Freya masih ingin tidur dipeluk sama Ayah Bryan."


"Seperti ini." Freya memeluk Bryan dan menyusupkan wajahnya di dada suaminya yang sudah berpakaian rapi dengan dasi yang senada dengan warna rompi yang dikenakan namun belum memakai jas.


Bryan menghembuskan nafas pelan, dia memang belum memberi tahu pada Freya kalau ada masalah di kantor. Dan rencananya memang Bryan tidak akan memberi tahu masalah itu karena dia tahu pasti Freya bakal ikut membantu dirinya, mengingat masalah yang dihadapinya saat ini berhubungan dengan penggelapan uang. Dan Freya ahli dalam hal mencari dan menyusut tuntas akar dari masalah penggelapan dana keuangan. Bryan takut nanti Freya lelah, apalagi saat ini Freya sedang berbadan dua dan Bryan tidak ingin membuat istrinya itu kelelahan.


"Ada masalah sedikit dan hampir selesai."


"Aku berangkat awal biar nanti aku bisa pulang lebih awal dan bisa menemani kamu, sayang." kilah Bryan yang mencari alasan yang masuk akal biar Freya tidak kepikiran dan mengizinkannya berangkat sekarang.


"Tapi Freya ingin Mas Bryan didekat Freya terus memeluk Freya seperti sekarang." Freya menghirup wangi parfum yang Bryan kenakan. Kening dan hidungnya mengkerut saat mengenali aroma parfum yang Bryan kenakan.


"Mas Bryan pakai parfum aku?" Freya mendongak menatap Bryan yang menggaruk tengkuknya. Entah gatal atau tidak Freya tidak tahu dan yang tahu hanya Bryan.

__ADS_1


Bryan mengangguk dengan menyengir kuda. Karena akhir-akhir ini dia tidak begitu menyukai aroma parfum maskulin dan kayu-kayuan yang sering dia gunakan. Dia lebih suka aroma parfum yang sering Freya pakai.


"Iya..Aku pakai parfum kamu supaya saat aku kerja dan rindu sama kamu, aku bisa merasakan kalau kamu ada di dekat aku disaat aku menghirup aroma parfum kamu yang aku pakai saat ini." wajah Freya merona merah mendengar kalimat gombalan yang baru saja Bryan lontarkan pada dirinya. Freya mengulum senyumnya menatap manik biru Bryan.


Bryan menyunggingkan senyumnya dan mencubit gemas hidung Freya. "Baru segitu saja sudah malu-malu meong." batin Bryan.


"Sudah dulu ya, aku berangkat sekarang."


"Nanti kalau kamu kangen ingin memeluk dan mencium suami kamu yang tampan ini kamu datang saja langsung ke kantor."


"Tapi jangan lupa bawakan bekal makan siang sekalian buat suami tampanmu ini." ucap Bryan dengan penuh percaya dirinya mengakui kalau dirinya itu tampan.


Freya mencibir Bryan dan melepaskan pelukannya itu. Suaminya itu benar-benar memiliki sifat percaya diri yang begitu tinggi. Dan entah kenapa dia justru menyukai sifat Bryan yang penuh percaya diri itu.


"Mas Bryan mau aku siapkan makan dulu sebelum berangkat?"


"Atau bawa bekal saja untuk sarapan dimobil." Freya berangsur turun dari ranjang dan mengambil jas yang tadi Bryan letakkan di sofa dan memakaikannya pada tubuh atletis Bryan dan merapikan kembali dasi dan kerah kemeja sang suami.


"Nggak usah, aku tadi sudah minta Rendy untuk memesankan sarapan buat di kantor." Bryan menarik pelan lengan Freya setelah selesai memakai sepatu. Freya berdiri di depan Freya sedangkan Bryan masih dengan posisi duduk.


"Nggak boleh rewel ya Juniornya Ayah." Bryan berbisik pada calon anaknya dan mengelus lembut perut Freya yang sudah ada sedikit perubahan meski belum begitu kentara.


"Jangan buat Bunda kamu kecapekan."


"Dan kalau mau bermanja-manja malam saja setelah Ayah pulang."


"Nanti akan Ayah tengok kamu sekalian." Freya memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Bryan pada calon anaknya dan tak urung dia juga menyunggingkan senyum saat Bryan menciumi perutnya.


"Iya, nanti aku salamin." Freya mengambil tas kerja Bryan dan mengantar suaminya sampai di depan teras. Dimana disana sudah ada Rendy yang entah jam berapa datangnya menunggu sang Tuan Muda.


"Aku berangkat dulu ya sayang."


"Jangan lupa datang ke kantor kalau kangen sama suami kamu yang paling tampan sedunia."


"Dan jangan lupa bekal makan siangnya."


"Harus kamu yang masak." Freya memutar bola matanya malas mendengar perkataan Bryan yang panjang itu.


"Iya sudah sana berangkat."


"Kasihan itu Rendy sudah nunggu dari tadi." Freya sedikit mendorong tubuh Bryan mendekat kearah pintu mobil yang sudah dibuka oleh Rendy.


"Kalau lama-lama Freya gak izinkan Mas Bryan berangkat sekarang." ancam Freya dengan mendelik tak suka pada Bryan.


"Ya sudah aku berangkat sekarang."


"Minta sangu dulu, tapi."


Freya terkejut saat tiba-tiba Bryan menarik pinggangnya dan mencium bibirnya lembut membuat Freya memejamkan matanya mengikuti permainan bibir Bryan yang melu mat bibirnya dengan lembut dan sesekali melesakkan lidahnya memasuki rongga mulut Freya.


"Damn it!!!!" umpat Rendy yang pagi-pagi harus melihat perbuatan bos dan istri bosnya yang tidak tahu tempat dan tidak memperdulikan dirinya yang masih jomblo itu.

__ADS_1


"Nggak laki nggak bini sama saja."


"Bucin tidak tahu tempat." gerutu Rendy yang masih diam berdiri di tempatnya sambil memegang erat pintu belakang yang tadi dia bukakan untuk Bryan.


"Rend, ngelamun saja."


"Cepat tutup pintunya kita berangkat." sentak Bryan yang sudah masuk kedalam mobil dan melihat Rendy melamun saja tanpa bergeming sedikitpun. Entah apa yang dipikirkan asistennya itu.


Freya tersenyum melihat Bryan memarahi Rendy yang melamun. "Sabar ya Rend, janur kuning belum melengkung kok. Segera tikung sebelum melangkah jauh." seru Freya yang tahu pasti Rendy melamun akan perbuatan mereka tadi dan juga memikirkan Mutia.


Rendy mendengkus dan menundukan kepalanya pada Freya setelah menutup pintu belakang.


Freya lantas kembali masuk kedalam rumah setelah mobil yang dikendarai Rendy sudah berjalan jauh dan menghilang di balik pagar.


"Tenang saja, nanti kalau semuanya sudah selesai aku akan memberi mu cuti untuk merebut Alex dari Mutia." ujar Bryan saat di perjalanan menuju kantor. Tangan dan juga matanya fokus pada laptop yang ada di pangkuannya saat ini.


"Merebut Mutia dari Alex yang benar Tuan." sargah Rendy yang tak terima dengan perkataan Bryan. Dia masih normal dan dia tidak menyukai Alex.


"Oh.. Aku kira kau suka sama Alex." ucap Bryan tanpa rasa bersalah sedikitpun pada asistennya itu.


Rendy mendengkus kesal dan menambah kecepatan penuh laju kendaraan, berhubung masih pagi dan jalan masih terlalu sepi.


"Mau cari mati kau, Rendy!!" sentak Bryan yang kaget karena tiba-tiba Rendy mempercepat laju kendaraan.


Rendy menyeringai puas melihat wajah pucat Bryan dari kaca spion dalam mobil lantas dia kurangi kecepatan laju mobilnya. Dia tahu bosnya itu memiliki trauma dengan laju kendaraan yang melesat dengan kecepatan penuh, tapi dia tidak tahu apa penyebab pastinya. Padahal yang Rendy tahu Bryan dulu ingin menjadi seorang pembalap dan sekarang Bryan hanya mengoleksi mobil balap saja tanpa dia gunakan sama sekali. "Itu pembalasan dari saya Tuan Muda Abrisam." batin Rendy yang begitu puas mengerjai bosnya itu. Tanpa dia tahu apa yang terjadi di kursi belakang yang Bryan duduki.


Bryan memegang dadanya, nafasnya memburu dan terasa sesak juga jantungnya yang berdekat begitu cepat. Keringat tiba-tiba mengucur di kening juga pelipisnya. Bryan teringat kejadian saat dia pulang dari London dan mengetahui Anelis pergi mengkhianatinya juga bertengkar dengan sang Mama. Untuk meluapkan kekesalan di dalam hatinya Bryan pergi ke rumah Bara yang ada di kota S bersama Alex. Mereka bertiga melakukan balapan liar dalam kondisi mabuk di pagi buta selepas merayakan pergantian tahun.


Namun naas, mobil yang Bryan kendarai oleng karena melesat dengan kecepatan penuh dan berakhir menabrak pemotor yang tiba-tiba muncul dari sebuah gang. Bryan yang tidak bisa mengendalikan lagi laju mobilnya tak bisa mengelak dan kecelakaanpun tak bisa dihindari. Mobil Bryan menabrak pembatas jalan setelah menghantam pemotor dan dia pingsan setelah kepalanya terbentur kemudi mobil. Dia juga tidak tahu bagaimana nasib pemotor yang ditabraknya itu. Yang dia ingat pemotor yang dikendarai seorang pria yang berboncengan dengan seorang anak perempuan berseragam sekolah, keduanya terpental jauh.


Bryan tidak tahu nasib kedua orang yang ditabraknya itu karena berita kecelakaan yang Bryan alami ditutup kasusunya saat itu juga oleh kepolisian. Media bahkan tidak ada yang meliput berita itu, lebih tepatnya media tidak ada yang tahu. Karena semua kejadaian waktu itu ditutup rapat oleh Gani, papanya Bara atas perintah Papa Abri yang dulu memang Gani adalah asisten pribadi sekaligus tangan kanan Papa Abri.


Bryan hanya tahu dari Papa Abri kalau kedua orang yang Bryan tabrak, mereka sudah tenang di alam lain dan itu artinya mereka berdua telah meninggal.


"Kita sudah sampai Tuan."


Suara Rendy membuyarkan lamunan Bryan yang mengingat kejadian 10 tahun yang lalu di kota S. Bryan segera menutup laptopnya dan keluar dari mobil membiarkan Rendy membereskan apa yang tadi belum sempat dia kerjakan karena Rendy mengagetkan dirinya dan membuatnya mengingat kecelakaan itu.


"Setelah beberapa tahun kenapa aku ingat lagi kejadian itu."


"Paman Gani. Aku akan cari tahu langsung dari Paman Gani setelah masalah penggelapan selesai."


"Aku ingin minta maaf pada keluarga korban kecelakaan, walau sudah terlambat."


"Maafkan aku.."


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, vote, comment and like

__ADS_1


big hug 🤗🤗🤗


__ADS_2