Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Kekacauan di dapur


__ADS_3

Dua koki yang bekerja di rumah Abrisam terlihat berdiri di sudut dapur. Wajah mereka berdua kadang terlihat tegang, kadang juga mengkerut, kadang juga terkejut bahkan tak segan untuk berteriak. Mereka geleng kepala melihat kekacauan yang ada di dapur. Kulit wortel berceceran, potongan wortel yang tidak sama besarnya, brokoli yang banyak di buang karena ada terdapat ulat kecilnya. Namun mereka tidak bisa melakukan apapun selain memberi arahan pada Tuan Muda Abrisam yang sedang memasak.


"Maaf Tuan, sebaiknya anda memarinasi dagingnya terlebih dahulu baru memotong sayuran buat Sapo Tofu." ujar salah seorang koki memberi tahu Bryan yang tengah terlihat begitu sibuk dengan pisau dan sayuran.


"Nggak usah ngatur-ngatur. Saya mau buat Sapo Tofu dulu."


"Kalian hanya mengarahkan saja." kata Bryan dengan tegas. Dia tidak mau di atur-atur. Apalagi saat ini dia sedang berkonsentrasi dengan pisau dan sayur.


"Nggak usah dekat-dekat juga kali Ren." sentak Bryan yang merasa terganggu dengan Rendy. Dia jadi tidak bisa konsentrasi dalam memasak. Salah, maksudnya memotong sayuran, dia belum mulai memasak.


"Saya kan sedang menjalankan tugas saya Tuan."


"Saya tidak mau nanti Nona Freya justru marah ke saya karena tidak bisa bekerja dengan benar." ujar Rendy dengan tampang tak berdosa nya mengarahkan kembali kamera Hasselblad X1D-50 C Digital Medium Format Mirrorless yang harganya berkisar diatas 100 juta tepat di depan wajah Bryan.


"Sialan kau, Rendy!!" umpat Bryan melemparkan wortel yang belum sempat dia potong ke arah Rendy.


Dengan cepat Rendy menghindar, karena sedari tadi kalau Bryan kesal nggak bisa mengupas ataupun memotong sayuran pasti di lemparnya ke Rendy. Apalagi kalau Rendy dengan sengaja mendekatkan kamera tepat di wajah Bryan, tak hanya lemparan sayuran yang Rendy dapat, tapi terkadang juga langsung tendangan dari Bryan yang dia dapat.


"Aduh Tuan!!!"


"Kalau dari tadi anda lempar terus ke saya yang ada nanti Nona Freya juga bayinya kelaparan."


"Anda mau Nona Freya sampai muntah darah lagi." ucap Rendy yang sebenarnya sudah kesal dengan sikap Tuan Muda yang dikit-dikit marah karena tidak bisa melakukan pekerjaan di dapur.


Bryan mendengkus kesel, dia juga tidak mau melihat istri dan anaknya kelaparan. Apalagi dia sudah dua hari ini tidak menuruti keinginan ngidamnya Freya yang menurutnya aneh.


Pertama saat dini hari Freya minta bubur Century egg congee justru di buatkan nya sereal. Keesokan sore Freya minta buah Anggur Ruby Roman dan itu adanya di Jepang, karena di kota dimana mereka tinggali sekarang hanya ada bibitnya saja buahnya jarang ada. Kalaupun ada stoknya hanya sedikit. Dan akhirnya Bryan meminta Rendy untuk memesannya langsung dari petani anggur ruby roman dan harus sampai dalam waktu dua hari. Jadi besok seharusnya buah anggur yang harganya fantastis itu sudah sampai.


Dan keesokan harinya lagi tepatnya pagi buta Freya minta dibelikan martabak manis dengan taburan emas, es krim dan sprinkel. Aneh, tapi Freya menginginkan itu. Dan si penjualnya harus berkumis, memakai baju belang merah putih dan bersarung. Dan yang beli harus Bryan sendiri tidak boleh meminta tolong pada Rendy. Kalau tidak, Freya tidak akan mau bicara lagi dengan Bryan.


Dengan kekuatan uang, Bryan menghilangkan sikap gengsi dan angkuhnya. Dia memohon dengan sangat pada penjual martabak untuk membuatkan martabak manis bertabur emas di pagi hari. Bryan sendiri yang membeli emas yang bisa dimakan seberat 1 ons dan keperluan toping lainnya. Karena dia yakin si penjual martabak tidak memiliki itu semua. Bryan juga membeli baju belang merah putih dan juga sarung lalu diberikan ke penjual martabak. Dan untungnya penjual martabak itu berkumis.


Sekarang Freya minta Bryan memasak untuk dirinya dengan menu masakan Sapo Tofu dan Beef Bulgogi.


"Ini untuk pertama dan terakhir kalinya."


"Dan aku harap Freya tidak aneh-aneh lagi ngidamnya." gerutu Bryan yang kesal karena Freya ingin makan Sapo Tofu juga Beef Bulgogi tapi tidak beli dan harus dimasak langsung oleh Bryan dan minta di rekam oleh Rendy sebagai barang bukti.


"Huftt...Rasain anda Tuan Muda."


"Enak kan dikerjain istri sama anak sendiri?"


"Rasanya aku ingin ketawa melihat wajah anda yang tegang dan ketakutan juga bingung itu Tuan Muda."


"Bolehkah aku unggah video ini ke media sosial?"


"Pasti akan heboh di bicarakan netizen." batin Rendy tertawa puas saat melihat seorang Tuan Muda Abrisam yang biasanya berkutat dengan kertas dan bolpoin, bertemu orang-orang penting sekarang harus berkutat dengan alat masak.


Rendy yang tadi pagi mengantarkan baju serta sarapan pagi buat Bryan diminta Freya untuk mengambil gambar vidio selama Bryan memasak. Dia diminta khusus oleh Freya.


Setelah hampir tiga jam lamanya Bryan berkutat di dapur membuatkan Freya Sapo Tofu juga Beef Bulgogi, akhirnya selesai juga dengan hasil akhir yang memuaskan meski tampang Bryan saat ini terlihat begitu kacau. Dan jangan di tanyakan bagaimana keadaan dapur. Sudah pasti seperti kapal pecah.


Pak Mun juga Surti yang mengintip dari pintu dapur hanya bisa geleng kepala. Karena kalau sudah seperti itu, merekalah yang akan membersihkannya dan juga pasti akan ada banyak alat masak yang rusak. Karena tadi Bryan sempat membuat gosong salah satu teflon juga mematahkan gagang teflon.


"Akhirnya selesai juga!!"


"Perfect!!" Bryan tersenyum puas dengan hasil karya masakannya.


Diletakkannya di atas meja makan dan Bryan mengambil handphone nya. Diambilnya gambar masakan yang dia buat dari berbagai sudut lalu dikirimkannya gambar itu ke Freya.


"Your handsome husband has completed his mission"


"I'm sure you will love me more." tulis Bryan


"Hmmm..Jadi tidak sabar untuk mencicipinya."


"Cepat datang!! Aku sudah sangat lapar." balas Freya


"Wait for me my beautiful wife." tulis Bryan


Bryan tersenyum setelah membalas chat dari Freya. Dia menatap masakannya sebelum akhirnya dia membersihkan dirinya yang sangat kacau juga sudah bau bawang.


Rendy menelan salivanya susah payah menatap hasil masakan Taun Mudanya. Dia melirik dua koki yang juga menatapnya.


"Ini yakin tidak apa dimakan sama ibu hamil?" tanya Rendy yang merasa kasihan dengan Freya nantinya.


"Saya tidak yakin Tuan."


"Lebih baik nanti tanyakan saja sama dokternya." kata salah satu koki.


"Takut kalau Nona Freya dan kandungannya kenapa-kenapa." imbuh koki yang lainnya.


"Bagaimana Tuan Muda bisa begitu bangganya dengan masakan yang begitu asin dan juga dagingnya masih keras hampir tidak bisa di gigit." gumam Rendy yang tadi diminta Bryan untuk mencicipi masakannya. Dan Bryan sendiri jangan ditanya. Dia sendiri tidak mau mencicipi hasil masakannya.


"Astagfirullahalazim!!!"


"Apa-apa ini!!!"

__ADS_1


"Siapa yang membuat dapur saya seperti kapal pecah seperti ini." ucap Mama Lea dengan lantang saat pulang dari butiknya dan mendapati dapur dirumahnya berantakan sudah seperti kapal pecah yang sedang di bersihkan.


Surti juga Pak Mun dan beberapa maid yang sedang membersihkan dapur langsung menghentikan kegiatan mereka saat mendengar suara menggelegar dari Nyonya rumah.


"Apa-apaan ini, Pak Mun?"


"Dan itu kenapa dua koki hanya berdiri saja?"


"Apa kalian yang membuat kekacauan ini?" tuduh Mama Lea pada kedua koki yang berdiri di dekat Rendy di depan meja makan.


"Maaf Nyonya." kedua koki itu menunduk.Kalaupun Tuan Muda yang membuat masalah pasti mereka lah yang tetap disalahkan karena membiarkan Tuan Muda masak sendirian.


"Kalian seperti baru saja bekerja disini."


"Kalian itu koki senior dan seharusnya kalian bisa kerja cepat, bersih dan rapi seperti biasa tidak seperti saat ini."


"Lihat itu!!!" Mama Lea menunjuk dapur dengan tangan kanannya.


"Kalian mau nggak saya gaji selama tiga bulan, hah." sentak Mama Lea.


Kedua koki itu hanya menunduk,mereka tidak berani mengatakan kalau Tuan Muda Abrisam lah yang membuat kekacauan di dapur.


"Kenapa diam saja?"


"Kalian ngaku kalau kalian salah?" Mama Lea masih terus saja menyalahkan dan memarahi kedua koki itu.


Rendy yang merasa kasihan mendekat ke Mama Lea. Dia ingin memperlihatkan apa yang dia rekam selama tiga jam tadi. Dia ingin melihat ekspresi Mama Lea seperti apa. Rendy yakin, pasti Nyonya rumah yang memiliki suara menggelegar ini akan tertawa terbahak-bahak melihat aksi anaknya yang memasak.


"Kenapa kamu!?" Rendy terlonjak kaget saat Mama Lea menyentaknya.


"Belum juga ngomong apa-apa sudah disentak saja." batin Rendy.


"Ini Nyonya,-" Rendy menyerahkan kamera yang Bryan miliki ke Mama Lea.


"Apa itu?" Mama Lea menyipitkan matanya menatap Rendy dan kamera bergantian.


"Ini batu kali Nyonya." ingin rasanya Rendy menjawab seperti itu, tapi tidak sopan. Apalagi yang sedang berdiri di hadapannya saat ini istri dari Tuan Abrisam Brata Yudha. Bisa dilempar dia nantinya ke tengah laut.


"Ini_" Rendy tidak jadi melanjutkan perkataannya saat mendengar suara Bryan yang bicara pada Mama Lea.


"Katanya tadi mau langsung ke rumah sakit." tanya Bryan yang sambil menutup makanan tadi dan dimasukkan ke tas bekal.


"Apa itu?" tanya Mama Lea penasaran. Dia mendekati Bryan dan membuka kembali apa yang telah Bryan masukkan ke dalam tas bekal.


"Buat siapa ini?" Mama Lea mencium aroma makanan itu. Kening dan juga hidungnya mengkerut. Dia menatap Bryan.


"Bryan pergi dulu." pamit Bryan dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan ekspresi bingung dari Mamanya.


Mama Lea menatap kedua koki itu, "Jadi kekacauan di dapur Bryan yang buat?" tanya Mama Lea memastikan kalau dia tadi tidak salah dengar kalau Bryan tadi yang memasak.


"Benar Nyonya." jawab keduanya kompak.


Lutut Mama Lea langsung lemas mendengar jawaban dari kedua koki nya. Kepalanya tiba-tiba pusing. Dia lantas duduk di kursi dengan tangan memegangi kepalanya yang bertumpu di atas meja makan.


"Apa bisa dimakan makanan tadi?"


"Aduh!!! Kasihan sekali menantu dan calon cucu ku." ujar Mama Lea yang merasa kasihan kalau Freya nanti sampai memakan makanan yang Bryan buat.


***************


Freya terlihat tidak sabar, dia sedari tadi mengintip keluar dari jendela tempatnya dirawat. Kenapa sudah hampir setengah jam lebih setelah Bryan mengirimkannya pesan kalau sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit, namun tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Bunda lihat apa sih? Sedari tadi berdiri disitu." tanya Maura yang berjalan menuju arahnya.


Maura sejak kemarin ikut tidur di rumah sakit tidak mau pulang. Dia takut Bundanya kenapa-kenapa atau lebih tepatnya Bundanya akan benar-benar pergi meninggalkan dirinya juga Ayah Bryan. Maura masih ada sedikit ketakutan atau mungkin trauma kalau Bundanya pergi lagi dari hidupnya.


"Tidak ada sayang."


"Bunda hanya melihat awan hari ini begitu cerah." kilah Freya dengan mengulum senyum melihat awan putih yang bergerak perlahan.


"Bunda bohong. Bunda pasti lagi menunggu kedatangan Ayah." Maura mencibir Bundanya. Karena Maura tadi melihat Bundanya melihat handphone dan sesekali matanya mengarah pintu masuk rumah sakit yang ada di bawah sana yang terlihat dari kamar VVIP yang ditempati sekarang.


Freya tertawa pelan menatap putrinya itu. Putrinya itu memang tahu saja apa yang tengah dia rasakan.


"Bunda tenang saja. Ayah sebentar lagi sampai kok."


"Mungkin Ayah terjebak macet di jalan atau mungkin mobil Ayah kehabisan bahan bakar."


"Dan Ayah nggak akan kemana-mana." Maura mencoba menghibur Bundanya.


Dia tahu Bundanya itu sedih karena Ayah Bryan tidak kunjung kembali ke rumah sakit setelah pergi lima jam yang lalu. Bundanya hanya pura-pura tersenyum saja padahal dari sorot mata yang Maura lihat kalau Bundanya saat ini begitu merindukan Ayah Bryan, atau mungkin makanan yang dimasak oleh Ayah Bryan. Entahlah Maura tidak tahu. Yang dia tahu dari sorot mata Bunda Freya menunjukkan kerinduan.


"Bunda tahu."


"Ayo kita duduk di sofa!" ajak Freya dan mendorong penyangga tiang infus dengan tangan kanannya.


Setelah beberapa menit akhirnya yang ditunggu datang juga. Freya menyambutnya dengan suka cita. Dia langsung meraih tas bekal yang Bryan pegang tanpa memberi ucapan terima kasih dengan baik dan benar.

__ADS_1


Maura tertawa melihat wajah Ayahnya yang tertekuk karena diabaikan oleh Bundanya. Kasihan Ayahnya sudah merentangkan tangannya menyambut pelukan Bundanya justru diabaikan begitu saja. Akhirnya Maura yang memeluk sang Ayah sebagai ganti Bundanya.


"Kalau Bunda tidak mau kan ada Maura, Ayah." ujar Maura yang ada dipelukan Ayahnya.


"Maura benar. Apalagi Maura bisa dipeluk sambil digendong seperti ini." Bryan mengangkat tubuh Maura ke dalam gendongannya. Maura tertawa.


"Ini benar Mas Bryan yang masak?" tanya Freya setelah membuka kotak bekal dan melihat secara langsung tampilan makanan yang suaminya masakan.


Bryan yang sudah mendaratkan pantatnya di samping sang istri menjawabnya dengan bangga, "Iya dong. Sesuai titah Yang Mulia Ratu Freya Almeera Shanum, Baginda Raja Abrisam Bryan Alvaro, Ayahanda dari Putri Maura Hanin Azzahra, kalau makanan itu benar adanya Baginda Raja yang membuatnya langsung khusus buat Yang Mulia Ratu." dengan tangan kanan diletakkan di dada sebelah kiri, Bryan menundukkan kepalanya.


Freya dan Maura tertawa mendengar jawaban yang keluar dari mulut Bryan. Berbeda dengan Rendy yang ingin muntah rasanya mendengar apa yang Bryan katakan.


"Sejak kapan Tuan Muda berubah jadi absurd seperti itu."


"Apa tadi otaknya ikut diiris dan dimasukkan ke dalam beef bulgogi?" batin Rendy yang merinding sendiri melihat kelakuan Bryan seperti itu.


"Rendy!!"


"Aku mau lihat apa benar Mas Bryan sendiri yang membuatnya."


Rendy memberikan kamera dengan cepat kepada Freya.Dia ingin melihat ekspresi Freya seperti apa saat melihat Bryan yang memasak sampai membuat dapur menjadi kapal pecah.


Rendy menganga tidak percaya, Freya justru menangis terharu melihat rekaman vidio itu. Bahkan tangisnya sampai tersedu-sedu. Tidak seperti ekspektasinya. Dia mengira Freya akan tertawa terbahak melihat kekacauan yang Bryan buat.


"Terima kasih ya Mas."


"Mas Bryan sudah rela melakukan ini semua untuk Freya meski Mas Bryan membuat hancur dapurnya juga tampang Mas Bryan yang begitu kacau."


"Benar-benar berantakan." ucap Freya menatap lekat wajah suaminya.


"Mmpppfffhhhhh...!!!" Rendy menahan tawanya mendengar ucapan Freya. Benar Freya menangis terharu, terharu karena Bryan membuat kekacauan di dapur.


Bryan yang awalnya tersenyum lebar mendengar ucapan terima kasih dari sang istri langsung lenyap sudah saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya setelahnya. Dia mencoba menahan dirinya untuk tidak marah mendengar ejekan dari istrinya. Dia mencoba kembali tersenyum, namun tipis dan rahangnya sedikit mengeras saat melirik Rendy yang sedang menahan tawanya.


"Sapo Tofu sama Beef Bulgogi nya Mas Bryan saja ya."


"Freya sudah tidak menginginkannya.


"Tadi Freya sama Maura sudah makan nasi kandar."


"Papa tadi meminta sekertarisnya mengantarkan makanan kesini."


"Itu kotaknya masih disana."


Bryan lantas merubah ekspresinya menjadi dingin setelah sadar kalau dia baru saja di kerjai sama istrinya.


"Mas Bryan nggak marah kan?" tanya Freya dengan nada pelan sambil memegang tangan kiri Bryan dan mengusapnya pelan dengan ibu jarinya.


Dia tahu pasti suaminya saat ini kecewa bahkan marah sama dirinya. Pasti suaminya itu merasa di permainkan oleh dirinya. Dapat Freya lihat dari air muka Bryan yang berubah menjadi dingin. Apalagi sorot matanya bisa membekukan siapa saja yang di tatapnya.


"Freya minta maaf ya!!"


"Mas Bryan jangan marah lagi ya."


"Freya akan makan kok."


Freya beringsut mendekat ke meja dan mengambil sendok. Dia menyendok kan Sapo Tofu itu dan siap mendarat ke mulutnya namun ditahan oleh Bryan.


Freya menoleh menatap Bryan, "Kenapa?" tanya Freya dengan tatapan bingung.


"Itu rasanya asin dan asin banget, juga dagingnya masih keras seperti batu."


Freya dan juga Bryan menoleh ke sumber suara yang begitu familiar di telinga mereka.


"Jangan dimakan."


"Kekacauan yang Bryan buat didapur sudah membuktikan kalau masakan itu tidak layak untuk dimakan."


"Mama tidak ingin terjadi apa-apa sama menantu dan calon cucu Mama"


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, vote, comment and gift


big hug from far away 🤗🤗


dewi widya


🍁🍁🍁


beginilah jadi nya kalau lagi nggak mood bikin cerita tapi maksain diri tetap bikin supaya bisa tetap up.


maaf partnya membosankan 🙏🙏


authornya ada sedikit something di dunia nyata,

__ADS_1


__ADS_2