Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Hilang tanpa kabar


__ADS_3

Freya menatap sendu baby Candra yang saat ini tengah menyedot pu ting susunya dengan kuat. Terlihat jelas bayi laki-laki yang saat ini berusia tiga bulan itu begitu kehausan setelah sedari tadi menangis tiada henti.


Freya tersenyum miris melihat baby yang kemarin lahir dengan berat badan dibawah normal kini sudah terlihat begitu berisi. Kedua pipinya kini sudah seperti bakpao, badan, tangan dan kaki nya juga sudah terlihat seperti roti sobek. Begitu menggemaskan, mirip seperti baby Attar saat diusia dua bulan.


Dengan kedua sudut bibirnya yang bergetar dan menahan air matanya untuk tidak tumpah, Freya memegang salah satu tangan baby Candra dan diciumnya dengan penuh kasih sayang.


Dia begitu kasihan melihat bayi kecil suci, tak berdosa itu harus ditinggal pergi oleh ibunya dan saudara kembarnya untuk selamanya. Ditambah sekarang ayahnya juga menghilang entah kemana. Sudah lebih dari dua bulan ayah bayi mungil itu menghilang tanpa jejak.


Tidak ada kabar maupun pesan yang dia dan Bryan dapatkan. Bahkan kepada keluarganya sendiripun ayah bayi itu juga tidak meninggalkan pesan. Hingga membuat Mama Asti yang masih syok akan kabar menantu dan cucunya meninggal bersamaan ditambah kepergian anaknya yang menghilang tanpa kabar, membuat wanita paruh baya harus dirawat dirumah sakit karena terkena struk.


Bahkan Bryan, suaminya sudah mengerahkan seluruh anak buahnya juga anak buah yang Rendy miliki untuk mencari ayah baby Candra itu. Namun tak ada satu petunjuk sama sekali yang mereka temukan. Sampai sekarang pun mereka masih tetap mencari sosok pria dingin dan kaku itu yang masih belum menunjukkan batang hidungnya.


Freya sungguh masih belum percaya sahabatnya itu pergi meninggalkan dirinya dan keluarganya untuk selamanya secepat ini. Hanya karena terjatuh dikamar mandi bisa membuat sahabatnya itu meninggal. Sungguh semuanya masih terasa mimpi baginya. Mimpi yang begitu amat sangat menyesakkan.


Sahabat satu-satunya yang memiliki jiwa bar-bar telah pergi meninggalkan dirinya. Tidak ada lagi yang merecoki hidupnya dengan guyonan recehnya. Tidak ada lagi yang memaksanya untuk mengajak berbesan dengannya.


Apalagi mengingat Mutia yang baru merasakan kebahagiaan bersama Rendy belum lama ini karena menantikan kelahiran baby twins mereka. Pernikahan mereka juga baru sekitar satu tahunan ini. Mereka juga baru ketemu setelah sekian lama mereka terpisah meski jarak mereka begitu dekat.


Tapi takdir berkata lain. Kembali takdir memisahkan mereka lagi. Memisahkan mereka untuk selamanya dengan jarak jangkau yang begitu jauh. Dan di akhirat nanti mereka baru bisa bertemu, itupun kalau amalan yang mereka miliki sama.


"Candra harus jadi anak yang kuat, soleh, pintar dan tidak boleh lemah. Banyak yang sayang sama Candra. Ada Ayah Bryan, Kak Maura, Attar, Oma, Paman dan Bibi. Apalagi Bunda Freya. Bunda sayang banget sama Candra. Seperti Bunda menyayangi Kak Maura juga Attar. Kamu sudah seperti anak kandung Bunda sendiri.


Freya mencium kening baby Candra dengan penuh kasih sayang. Freya tersenyum tipis melihat mata bulat baby Candra bergerak menatapnya dengan kedua tangannya bergerak ingin menyentuh wajah sang Bunda, Ibu susunya.


"Bunda!!"


Freya mengangkat kepalanya menatap Maura yang tengah memanggilnya dari tempatnya duduk bermain bersama baby Attar di lantai. Freya mengangkat sebelah alisnya menatap putri kecilnya itu.


"Nggak jadi, Bunda. Kakak cuma manggil aja."


Maura tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya lalu melanjutkan bermain lego bersama baby Attar. Meski baby Attar belum bisa merangkai dan menyusun lego, tapi baby Attar begitu jago untuk merusak bangunan lego yang sudah disusun dan dibangun sedemikian rupa oleh sang kakak, Maura.


Untungnya Maura tidak marah. Gadis kecil itu justru membuat lagi dan meminta baby Attar untuk meruntuhkan apa yang dibuatnya tadi. Dan hal sederhana itu justru membuat keduanya tertawa.


Freya hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat Maura dan baby Attar yang begitu anteng, tidak bertengkar dan saling rebut mainan. Karena biasanya seperti itu dan sang kakak yang tidak pernah mau mengalah. Kecuali sudah merasa bosan dan baru diberikan kepada adiknya dengan suka rela.

__ADS_1


"Adik Attar tidak mau ne-nen Bunda apa pakai dodot?"


Tanpa menatap baby Attar, Freya terlihat meletakkan baby Candra pada baby bouncher dengan perlahan karena baby mungil itu sudah beberapa kali menguap. Bahkan sesekali ketiduran. Dan baru juga diletakkan di baby bouncher, baby mungil itu sudah begitu pulas tidurnya, mengarungi mimpi di siang bolong.


Baby Attar yang di tawari ne-nen oleh sang Bunda, lantas merangkak cepat menuju dimana Bundanya berada saat ini, duduk di sofa. Namun langkaknya berhenti dan menoleh kearah pintu saat mendengar suara berat dan sedikit nge-bass yang begitu dia kenali. Baby Attar memekik kegirangan sambil bertepuk tangan dan merangkak cepat menuju sang Ayah yang baru saja pulang kerja.


"Uhh...kangen banget ya sama Ayah. Padahal baru ditinggal sebentar, belum ada lima jam."


Bryan membawa baby Attar kedalam gendongannya dan diciuminya seluruh wajah baby gembul itu dengan gemas. Bryan melangkahkan kakinya mendekati Freya yang duduk di sofa yang tengah menatapnya dengan senyum tipis.


CUP


Satu kecupan mendarat di kening Freya yang baru saja dia dapat dari suaminya yang baru pulang kerja.


"Kebiasaan deh Ayah itu. Selalu saja hanya Bunda yang dicium sama adik Attar. Kak Maura nggak pernah dicium."


Maura cemberut dengan mata mendelik menatap tak suka sama Ayah Bryan. Tak lupa gadis kecil yang sudah berusia 7 tahun itu meletakkan kedua tangannya di atas perutnya. Gadis kecil itu selalu cemburu tiap kali Ayah Bryan pulang kerja namun tidak menciumnya terlebih dahulu padahal jelas-jelas dialah yang menyambut Ayahnya saat pulang kerja. Namun Ayahnya itu justru mencium Bundanya terlebih dahulu baru baby Attar. Dan gadis kecil itu selalu mendapat giliran paling terakhir. Maura nggak suka kalau yang terakhir, maunya harus yang pertama.


Bryan yang akan mendaratkan pantatnya di sofa terlihat diam ditempat sambil menatap putri cantiknya itu. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis melihat putrinya yang cemberut itu. Dia lantas memberikan baby Attar kepada Freya dan berjalan mendekati putri cantiknya yang tengah merajuk. Bryan berjongkok di depan putrinya itu.


"Kakak mau Ayah cium?"


Bryan menghembuskan nafas perlahan melihat Maura yang memang sungguh merajuk pada dirinya.


"Baiklah kalau kakak Maura marah sama Ayah. Tidak mau melihat wajah Ayah. Padahal Ayah tadi ada rencana akan mendahulukan kakak Maura untuk dicium duluan. Tapi karena kakak Maura marah, ya sudah. Berarti Ayah tidak jadi mendahulukan Kakak Maura."


Bryan beranjak dari posisinya. Dia melangkah pelan kembali ke sofa dimana Freya tengah memberi ASI pada baby Attar. Sesekali dia menoleh ke belakang melihat Maura yang masih saja berpaling tidak mau menatapnya.


Belum juga Bryan mendudukkan tubuhnya, sudah ada yang memeluknya dari belakang. Bryan menarik kedua sudut bibirnya saat tahu siapa yang memeluknya sambil menangis itu. Siapa lagi kalau bukan Maura, putri cantiknya yang selalu bertengkar dengan dirinya. Beradu mulut dan saling mengejek satu sama lain.


"Maura tidak marah sama Ayah. Maura hanya ingin dicium sama Ayah saja kalau Ayah pulang kerja. Tapi maunya setelah Bunda, tidak mau yang terakhir."


Maura menangis dengan masih memeluk Ayah Bryan dari belakang. Dia tidak mau Ayahnya juga ikutan marah seperti dirinya. Nanti kalau Ayahnya juga marah, tidak ada lagi yang akan membelanya dan menuruti apa yang dia inginkan. Kan bisa berabe, soalnya Ayahnya itu selalu ngasih apa yang dia inginkan meski telat. Daripada Bunda, pasti selalu nanti dan akhirnya tidak jadi, kalau sekali tidak yang tidak boleh.


Bryan melepas tangan Maura yang berada di pinggangnya. Dia memutar tubuhnya menghadap Maura dan diangkatnya gadis kecil itu kedalam gendongannya. Diusapnya air mata yang membasahi pipi cubby gadis kecilnya.

__ADS_1


CUP


Bryan mendaratkan satu kecupan dikening Maura. Membuat gadis kecil itu langsung memeluk leher Ayahnya erat dengan kepala disembunyikan pada dada Ayahnya yang begitu nyaman untuk dijadukan sandaran.


"Tidak boleh nangis lagi. Kan sudah Ayah cium. Dan mulai besok, Kakak Maura yang jadi pertama yang akan Ayah cium saat pulang kerja. Bunda sama adik nanti terakhir saja."


"Besok hari minggu Ayah." sahut Maura dengan suara yang tidak jelas seperti gumaman yang sekarang beradi di pangkuan sang Ayah yang sudah duduk di samping Bunda Freya.


Bryan hanya meringis saja. Dia lupa kalau hari ini hari sabtu. Padahal hari ini dia pulang siang sebelum jam makan siang karena ada kabar yang ingin Bryan sampaikan pada Freya. Bryan tersentak saat mengingat itu. Dia membenarkan posisi duduknya dengan masih memangku Maura menghadap Freya yang tengah memberi ASI pada baby Attar.


"Sayang!!"


Freya hanya berdehem saja menyahuti panggilan suaminya. Fokusnya masih pada baby Attar yang bukannya menyesap ASI justru memainkan pu ting sang Bunda dengan sesekali digigitnya. Freya hanya meringis saja dengan memencet pelan hidung baby Attar dengan gemas.


Semenjak gigi baby Attar mulai tumbuh, bayi gembul itu selalu menggigit pu ting sang Bunda tiap kali meminum langsung ASI dari sumbernya. Untung saja tidak sampai putus, coba kalau sampai putus. Amit amit..jangan sampai itu terjadi. Freya tidak bisa membayangkan kalau itu sampai terjadi. Dia masih ingin menyusui baby Attar sampai usia dua tahun, begitupun pada baby Candra juga. Dan dia juga masih ingin punya anak lagi meski bukan saat ini dan kalau sang pencipta menghendaki tentunya.


"Rendy sudah ketemu."


Freya lagi-lagi hanya berdehem karena kurang fokus. Namun detik selanjutnya dia seperti terkejut saat baru tersadar apa yang suaminya itu katakan.


"Rendy sudah ketemu?!"


Bryan mengangguki sahutan dari Freya dengan senyum tipis hingga membuat istrinya itu menampilkan senyum lebar di bibirnya dengan wajah berbinar namun matanya terlihat berkaca-kaca.


"Alhamdulillah!!"


Setetes air mata jatuh dari ujung matanya. Dia begitu lega dan bahagia akhirnya ayah dari baby Candra ketemu juga setelah dua bulan menghilang tanpa kabar.


"Dia masih di pondok sekarang."


Freya mengerutkan keningnya mendengar perkataan Bryan kalau Rendy saat ini ada di pondok. "Pondok?? Pondok pesantren maksdunya?"


Bryan mengangguk, membenarkan apa yang ditanyakan istrinya itu. "Katanya dia ingin menenangkan diri di sana untuk beberapa waktu. Dan katanya juga dia akan pulang besok. Saat ini Bara tengah menjemputnya, karena barang yang Rendy pegang saat keluar rumah kemarin kena rampok semua. Makanya kita tidak mengetahui keberadaannya waktu itu." jelas Bryan sesuai laporan yang didapat dari anak buahnya tadi pagi.


"Alhamdulillah, yang terpenting Rendy baik-baik saja dan masih bernyawa biar bisa berkumpul dengan baby Candra dan kita semua." ucap syukur Freya bahwasannya suami dari sahabatnya itu ketemu dalam kondisi baik-baik saja.

__ADS_1


"Untungnya juga duda baru itu tidak melakukan tindakan di luar kendalinya dan justru memilih pondok pesantren sebagai tempat semedi. Pantas saja anak buah ku tidak menemukan dia. Tak ada yang kepikiran kalau duda baru itu ada di pondok pesantren."


Freya tersenyum tipis mendengar gerutuan suaminya yang kesal sendiri. Siapa yang sangka kalau Rendy memilih tempat yang tepat untuk menenangkan diri selepas kepergian istri dan anak tercinta. Dan pondok pesantren adalah tempat yang begitu pas dan cocok untuk kembali menata hati dan pikiran. Karena disana pasti kita akan lebih dekat dengan sang pencipta.


__ADS_2