
Alex terus saja menggerutu dan mengumpat di belakang empat wanita yang terlihat sibuk dengan barang-barang yang akan mereka beli untuk oleh-oleh mengingat beberapa hari lagi mereka akan pulang ke tanah air.
"Tau gini aku tadi tidak menawarkan diri untuk mengantar mereka." gerutu Alex dengan kesal.
FLASHBACK ON
Alex tadi pagi yang melihat Anelis memanasi mobil langsung mendekati wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya.
"Ekhem..Mau kemana neng?"
Anelis hanya melirik sekilas lelaki yang tengah bertanya pada dirinya tanpa membalas pertanyaan yang diajukan oleh Alex. Dia terlihat malas dan menyibukkan diri mengecek kelengkapan mobil yang akan dibawanya pergi jalan-jalan.
"Mau pergi ya? Mau abang anter? Biar kamu tidak capek nyetirnya nanti. Abang hapal bener jalanan Swiss." Alex menawarkan diri untuk mengantar dan menjadi supir Anelis walau hanya sehari. Lumayan kan, sambil menyelam minum air. Menjadi supir sekaligus PDKT lagi. Siapa tahu cinta pertama yang belum pernah mulai bakal dimulai dari Swiss.
Anelis menatap Alex sebentar dan terlihat berpikir menerima atau tidak tawaran yang Alex ajukan untuk dirinya. Dia tersenyum tipis dan menatap Alex kembali dengan senyum yang masih bisa Alex lihat walau begitu tipis dan pelit.
"Tak apa, yang penting doi mau senyum sama abang." batin Alex yang senang melihat Anelis akhirnya mau tersenyum pada dirinya setelah sekian lama wanita itu tidak pernah tersenyum lagi pada dirinya.
"Baiklah. Kamu bisa antar kami untuk berbelanja dan jalan-jalan."
"Kami??" Alex mengerutkan keningnya saat ada kata kami di kalimat yang Anelis ucapkan.
"Iya kami. Aku, Mama, Bibi dan juga Caca. Sebentar, aku panggil mereka dulu."
FLASHBACK OFF
"Sial!! Aku kira tadi mau kencan tapi malah jadi kuli panggul." umpat Alex saat melihat kedua tangannya dipenuhi dengan berbagai jenis warna paper bag berbagai macam isi.
Diletakkannya paper bag yang jumlahnya hampir mencapai 10 biji itu ke atas kursi dan dia sendiri langsung memijat tangan juga kakinya yang terasa pegal karena harus mengikuti empat wanita yang tengah berbelanja.
"Kalau Bara sama Bryan sampai tahu. Sudah pasti mereka berdua menertawakan aku yang paling kencang sendiri."
__ADS_1
Alex mendudukkan pantatnya di kursi dimana dia meletakkan kantong paper bag nya tadi. Lebih baik menunggu disini daripada membuntuti mereka seperti bodyguard saja. Iya bagus bodyguard, lha ini jadi kuli panggul.
"Nih minum."
Alex menatap sebotol mineral yang masih tersegel berukuran setengah liter yang ada dihadapannya yang baru saja disodorkan oleh seorang wanita. Dia beralih menatap wanita yang telah memberinya air minum itu dan senyumnya langsung mengembang.
"Anelis!" ucapnya pelan dan perlahan berdiri dari duduknya.
"Mau tidak? Kalau tidak aku minum sendiri."
Dengan cepat Alex merebut botol mineral itu dari tangan halus yang sudah lama tidak dia pegang.
"Masih sama, halus dan lembut." batin Alex saat tak sengaja menyentuh tangan Anelis walau hanya sedikit.
"Sesuatu yang sudah dikasih itu tidak boleh diambil lagi, nanti bisa bintitan. Kan kasihan nanti kalau mata indah kamu bintitan."
Anelis hanya menampilkan smirk nya dan berlalu dari hadapan lelaki yang dulu adalah tetangganya itu, teman bermainnya.
Alex berdehem saat beberapa orang menatapnya aneh seperti orang gila. Iya gila hanya karena diberi minum oleh cinta pertamanya yang belum pernah mulai.
Seolah tidak terjadi apa-apa, Alex lantas membuka botol itu dan meminumnya hingga tandas. Karena memang lelaki yang tengah jadi kuli panggul itu sungguh lelah, letih, lesu, lunglai dan lapar.
"Seenggaknya sudah tidak 5L lagi setelah dikasih amunisi sama doi."
Alex tersenyum sendiri dan melihat Anelis yang tengah memilih topi bersama Caca juga. Dia terus saja memandangi Anelis dengan tatapan memujanya. Seolah didepan sana hanya ada Anelis seorang.
Tidak salahkan kalau dirinya kembali mengejar cintanya Anelis? Cinta pertama yang belum pernah dimulai dan akan dia mulai kembali dari sini. Bukannya dirinya single dan Anelis juga single? Jadi sah-sah saja kalau dirinya mengejar cinta Anelis kembali.
Anelis sudah tidak ada perasaan lagi sama Bryan, begitupun dengan Bryan yang sudah cinta mati dengan adiknya Anelis, Freya. Dan kelihatannya hubungan mereka sudah jauh lebih baik tak ada ikatan cinta, tapi hanya sebuah ikatan antara kakak dan adik ipar saja.
Andre, Anelis juga sudah meninggalkannya dan tidak mau berhubungan dengan lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu lagi. Anelis meninggalkannya hanya karena sejak awal lelaki itu tidak mau mengakui kalau anak yang dia kandung dan lahir kan itu adalah anak mereka berdua. Dan baru mengakui saat anaknya sekarat dan akhirnya meninggal dunia baru mau mengakui. Apa pantas lelaki seperti itu dipertahan kan? Tidak kan. Lebih baik ditinggal dan cari yang baru.
__ADS_1
"Tunggu!!" Alex mengerutkan keningnya saat baru mengingat hubungan Anelis dan Andre yang kandas hanya karena Andre tidak mau mengakui dan tanggung jawab. Apa Anelis masih ada rasa sama Andre? pikirnya.
"Tidak-tidak. Anelis sudah membuang jauh-jauh perasaan nya pada Andre dan saat ini hati Anelis benar-benar kosong dan akan diisi oleh Alex seorang. Hanya Alexander seorang."
"Anelis, kau akan jadi gadisku. Ahh tidak kau lebih pantas jadi wanitaku, ibu dari anak-anak ku."
"Kita mulai kisah cinta kita yang belum pernah dimulai ini. Akan aku buat kau terpesona dengan ketampanan seorang Alexander hingga kau akan bertekuk lulut dihadapanku dan memohon aku untuk menikahimu."
Alex tertawa sendiri dengan khanyalan dan pemikirannya. Sungguh indah walau hanya dibayangkan saja. Apalagi membayangkan kalau dirinya tengah berpacu, bertukar peluh keringat diatas ranjang, dibawah guyuran air shower, di meja makan, di meja kerjanya atau mungkin di sofa bahkan di dalam mobil. Hanya membayangkannya saja membuat Alex beberapa kali menenguk salivanya kasar.
"Aduchhh!!"
Pekik Alex saat kepalanya terkena pukul sebuah tas dan membuyarkan lamunan panjangnya saat dirinya tengah bercumbu mesra dengan Anelis di beberapa tempat.
"Kenapa kau senyum-senyum nggak jelas seperti itu? Pasti memikirkan hal jorok. Dasar bujang lapuk kerjanya hanya tukang celup. Cari gadis yang benar dan diajak nikah. Jangan hanya cari gadis cuma diajak bertukar peluh."
Alex hanya meringis saja mendengar omelan dari Mama Lea yang mana apa yang semua dikatakan wanita paruh baya itu benar adanya.
"Kak Alex malu-maluin. Lihat tuh, sampai tegak berdiri tapi bukan keadilan." Caca tertawa terbahak dan berlalu dari hadapan Alex mengikuti Mama Mama nya tadi.
Tangan Alex langsung menyambar satu paper bag yang ada didekat nya dan diletakkannya pada pangkuannya untuk menutupi senjatanya yang entah sejak kapan sudah berdiri tegak seperti itu.
"Pergilah ke toilet dan jangan bikin malu kami."
Mata Alex membulat saat ternyata Anelis ada disisi kusri yang tengah dia duduki. Dia tidak tahu kalau Anelis ada disana tadi. Sungguh, rasanya Alex ingin menghilang ditelan bumi saat ini juga. Jatuh sudah harga dirinya di depan wanitanya, cinta pertamanya yang belum pernah dimulainya.
"Cepat pergi!"
Alex langsung lari tunggang langgang mencari posisi letak toilet berada saat mendengar gertakan Anelis.
"Mesum!" gumam Anelis dan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum yang begitu lebar hingga nyaris tertawa melihat Alex yang menahan malu dan berlari seperti orang kesetanan.
__ADS_1