
Delapan bulan kemudian.
Kediaman Abrisam saat ini terlihat begitu ramai. Ada Mama Asti yang sudah sehat kembali dan tengah bermain dengan cucunya, baby Candra yang kini berusia sebelas bulan. Ada Mama Lea juga Mama Marisa yang bermain dengan cucu mereka, baby Attar yang kini berusia satu tahun tujuh bulan atau sembilan belas bulan. Disana juga nampak Anelis yang tengah membuatkan rujak buat bumil yang sebentar lagi akan melahirkan itu. Tinggal menghitung hari, baby girl akan launching ke dunia.
"Enak banget kamu, Re. Hamil kali ini tidak merasakan ngidam apapun. Beda banget saat hamil baby Attar kemarin. Banyak banget mau kamu."
Anelis tertawa mengingat Freya yang dulu saat hamil baby Attar selalu banyak maunya. Berbeda dengan sekarang yang terlihat santai saja seperti orang tidak hamil.
Freya pun juga ikut tertawa sambil mengambil mangga muda dan mencocolkan pada sambal kacang yang baru saja selesai Anelis buat.
"Reya juga tidak tahu kak. Kali ini semua yang ngidam Mas Bryan. Katanya mirip dulu saat aku hamil Maura."
Anelis mengerutkan keningnya menatap Freya bingung. Darimana Bryan tahu kalau saat itu Freya tengah hamil Maura, pikirnya. Kan Bryan sama Freya tidak saling kenal. Batin Anelis bertanya-tanya.
"Tanya kan saja kak. Nggak usah natap Reya seperti itu."
Anelis mengerjap beberapa kali saat Freya menyadari kalau dirinya tengah menatapnya bingung. Padahal adiknya itu tengah fokus pada rujak buah yang ada di hadapannya saat ini.
"Ekhem...Kok Bryan tahu kalau-"
Belum juga Anelis selesai bertanya, Freya sudah menyahut saja.
"Ya tahulah kak. Kan Freya saat hamil Maura dulu tidak merasakan apapun. Hanya sering bersedih dan menangis saja dulu. Kalau ngidam, dulu semuanya Mas Bryan. Mas Bryan dulu yang ngidam saat aku hamil Maura. Dan saat ini Mas Bryan lagi yang ngidam. Ternyata baby nya girl seperti kakaknya,Maura."
Freya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum yang lebar sambil mengusap perutnya yang membuncit. Lima hari lagi, rencananya dirinya akan melahirkan secara cesar lagi. Itu bukan keinginan Freya sendiri maupun sang suami, tapi dokter sendiri yang meminta Freya lahiran secara cesar untuk meminimalisir kemungkinan buruk yang terjadi kedepannya. Dan Freya sudah menyiapkan mentalnya untuk lahiran keduanya dalam jalur operasi. Dan Maura saja yang lahir secara normal.
"Adil kalau gitu. Ayah nya kebagian anak perempuan, Ibu nya kebagian anak lakinya. Wah aku juga ingin seperti itu. Tapi ini kenapa aku yang mual dan ngidam ya, padahal aku hamil baby girl."
Anelis cemberut sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit. Dia saat ini tengah hamil empat bulan.
Kok bisa hamil? Anelis kan tidak punya suami?
Ya, lima bulan yang lalu Anelis menikah dengan Alex. Banyak banget rintangan yang harus dijalani Alex untuk bisa mempersunting Anelis. Salah satunya Alex harus menerima tantangan dari Bryan selaku adik iparnya Anelis. Dirinya juga harus melawan Andre karena lelaki itu tidak terima kalau Anelis menikah dengan dirinya. Namun akhirnya sang dokter itu menyetujuinya karena Anelis begitu marah besar sama Andre sampai Anelis masuk rumah sakit. Disitulah, akhirnya Andre menyadari kalau sudah tidak ada dirinya lagi di hati Anelis. Yang ada sekarang hanya Alex di hati Anelis.
Freya tertawa kecil sambil mengusap lengan saudara perempuannya itu. "Sabar kak. Semua ibu hamil kan beda-beda. Dinikmati saja. Dibikin enjoy. Dan ini kesempatan buat kak Ane memperalat Kak Alex. Habiskan uang yang dia miliki, keburu dihabiskan sama yang lain."
"Kalau itu sih sudah pasti. Saat ini saja semua kartu yang Alex miliki ada di tangan aku semua. Alex hanya aku jatah satu juta buat sehari. Ntah cukup apa tidak. Kakak tidak pernah melihat dia mengeluh dan kalau pulang kerja selalu bawakan martabak manis buat aku. Makanya beratku makin tambah padahal baru hamil empat bulan"
Anelis memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sudah tidak selangsing dulu. Saat ini berat badannya hampir sebelas dua belas dengan Freya. Padahal Freya saat ini tengah hamil tua dan Anelsi baru menginjak trimester kedua. Tapi berat badan sudah masuk 60kg.
"Nggak apa, yang penting sehat. Aku kemarin waktu hamil Attar juga gitu. Cepat banget berat badan naik. Tapi yang sekarang tidak terlalu. Bertahap naiknya."
Kedua wanita hamil itu terus saja membicarakan kehamilan mereka dan membahas suaminya yang semakin aktif diranjang semenjak istrinya hamil. Tidak ingat waktu.
*****
Tak hanya di keluarga Abrisam yang terlihat ramai. Namun di ruangan CEO di perusahaan ABA Corp juga terlihat begitu ramai dengan empat pria dewasa. Dua pria sudah memiliki anak, satu pria akan menjadi seorang Dady dan satu pria lagi menjadi duda kumbang tanpa anak. Siapa lagi kalau bukan Bryan, Rendy, Alex sama Bara.
Empat orang itu mines satu, Andre. Saat ini Andre selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit. Dia juga tidak mau kumpul lagi dengan teman dan sahabatnya itu. Lebih suka menyibukkan dirinya di rumah sakit.
Saat ini keempat orang itu tengah menjadikan Rendy juga Bara sebagai bahan ejekan dan bully-an. Tapi Rendy yang lebih parah dapat bully-an dari sahabatnya itu. Sejak dirinya pulang dari pondok, dirinya terus dijodoh-jodohkan dengan anak Abah Sodiq yang janda itu.
"Sialan kalian semua! Keluar dari ruangan aku sekarang juga. Kalian disini bisanya hanya bikin emosi saja."
Bukannya pergi, ketiga orang itu justru tertawa terbahak melihat Rendy yang emosi ingin mengusir mereka. Jarang-jarang melihat Rendy emosi hanya karena di bully. Biasanya lelaki itu bisa membalas sindiran maupun ucapan dari sahabatnya. Tapi entah kenapa kali ini dirinya sama sekali tidak berniat membalas mereka semua. Karena saat ini dirinya tidak memikirkan wanita manapun kecuali Mutia. Wanita yang selalu ada dihati dan pikirannya.
__ADS_1
"Nih anak emosi terus. Yang ada belum ketemu Mama baru buat Candra sudah tua aja nanti. Kebanyakan marah."
Bryan dan Bara mengangguk setuju dengan ucapan Alex. Karena memang Rendy selalu marah dan emosi tiap kali mereka semua membahas anaknya Abah Sodiq yang janda.
Rendy mendengkus dan berlalu menuju meja kerjanya. Dirinya masih banyak pekerjaan tapi tiga curut itu mengganggu dirinya dari jam dua siang tadi sampai saat ini hampir jam empat dan itu berarti sudah hampir dua jam dirinya meninggalkan pekerjaan yang masih menggunung.
"Pulanglah sana. Aku masih banyak kerjaan. Dan jangan lupa untuk Tuan Bryan yang terhormat. Tolong bawakan paper bag yang ada di atas meja itu untuk Nona Muda Maura. Saya lupa memberikan itu kemarin saat datang ke rumah anda."
Bryan mengerutkan keningnya menatap paper bag yang ada di atas meja yang tidak jauh dari meja kerja milik Rendy. Dia berdiri untuk melihat apa isi didalam paper bag tersebut. Kecil banget, pikirnya.
"Apa nih isinya?" tanya Bryan yang penasaran.
"Nggak tahu. Belum saya lihat." jawab Rendy yang fokus pada berkas yang ada di hadapannya tanpa menatap Bryan.
"Dari siapa?" tanya Bryan lagi karena Rendy memberi tahunya setengah-setengah.
"Istrinya kiayi Sodiq. Beliau menitipkan itu buat Maura katanya."
Bryan manggut-manggut saja. Dia tahu kalau istrinya kiayi Sodiq itu sangat kagum dengan kepintaran Maura. Padahal beliau baru melihat Maura satu kali saja, itupun saat Maura merengek ikut Papa Rendy waktu menengok Rafa beberapa bulan yang lalu.
"Ya sudah pulang dulu. Sudah jam empat. Waktu kerja dah habis dan waktunya pulang."
Setelah mengucapkan itu, Bryan keluar diikuti Alex juga Bara dan meninggalkan Rendy yang masih dengan setumpuk kerjaan yang menggunung.
"Emang dasar lah mereka. Dibantu sedikit kek apa gitu. Malah nyelonong pergi begitu saja." dengkus Rendy setelah melihat pintu ruangannya tertutup dari luar. Dia seakan lupa kalau dirinya tadi lah yang mengusir mereka bertiga dan tidak minta bantuan untuk membantu dirinya menyelesaikan pekerjaan.
"Harus cari asisten kalau begini ceritanya." gumam Rendy.
*****
Maura, dirinya dirumah bersama sang adik, baby Attar. Mereka berdua ditemani Caca juga sepasang suami istri, Alex dan Anelis. Di rumah itu juga ada Rendy dan Mama Asti dan baby Candra juga tentunya yang menginap disana selama Freya berada di rumah sakit.
Saat ini Freya sudah berada di ruang operasi ditemani Bryan. Para dokter juga sudah mulai proses operasinya. Freya juga sudah dibius setengah.
Bryan menatap istrinya yang tengah menyunggingkan senyum tipis pada dirinya. Freya tidak menangis lagi seperti saat melahirkan baby Attar kemarin. Istrinya itu terlihat begitu rileks kali ini. Mungkin ini untuk yang kedua kalinya.
"Kamu hebat sayang. Kamu seorang ibu yang luar biasa." bisik Bryan tepat di telinga sang istri. Tidak lupa suami dari Freya itu mencium pipi istrinya dengan lembut dan sayang. Salah tangannya juga menggenggam tangan kanan Freya yang memegang tasbih kecil.
"Mas Bryan juga seorang Ayah yang hebat." suara Freya terdengar begitu lirih dan tercekat. Mungkin menahan sakit yang dirasa.
"Kita sama-sama hebat." Bryan tersenyum dan mencium punggung tangan kanan istrinya itu.
Tiga jam berlalu, Freya sudah kembali ke kamar bersama sang baby. Baby girl, seperti ibunya.
Baby girl disambut antusias oleh kedua Oma kece nya. Kedua Oma itu saling berebut untuk menggendong cucu ketiga mereka.
Freya dan Bryan tersenyum melihat kehebohan kedua Oma-Oma kece itu. Mereka bersyukur anaknya masih bisa merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap juga merasakan kasih sayang dari Omanya meski Opa mereka sudah tidak ada.
"Oma sama Opa tidak jadi kesini, Mas?" tanya Freya mengingat Oma dan Opa nya Bryan yang sudah kembali lagi ke Australia dan katanya ingin kesini lagi untuk melihat cucu buyut mereka.
"Tidak sayang. Oma sama Opa sudah tua. Nanti saja kalau ada kesempatan kita yang akan berkunjung kesana." Freya mengangguki ucapan Bryan.
"Kalian sudah menyiapkan nama belum?" tanya Mama Marisa yang saat ini tengah menggendong baby girl dan Mama Lea sibuk membuat dokumentasi dengan memfoto baby girl.
"Sudah, Ma. Tapi kami menunggu Maura sama Attar dulu. Mereka masih ada diperjalanan saat ini."
__ADS_1
Mereka semua terlihat manggut-manggut dan kembali asik dengan baby girl yang baru berusia beberapa jam.
Tak ada satu jam, kamar yang tadinya tak begitu ramai,kini semakin ramai. Maura sudah datang bersama baby Attar diantar oleh Caca dan Anelis juga Alex. Baby Candra juga datang bersama Papa dan neneknya.
Baby Attar begitu antusias untuk melihat adiknya yang baru saja lahir kedua. Dia bahkan meminta Paman Alex untuk menggendongnya supaya bisa melihat wajah baby girl yang saat ini tengah tidur di box bayi.
"Dedek antik, akak antik, Attal anteng. Cemua oke!!" celoteh baby Attar yang begitu senangnya melihat kehadiran sang adik.
"Namanya siapa Ayah, Bunda? Ada nama Az-Zura nya kan?" tanya Maura sambil menoel pipi sang adik supaya terbangun.
"Namanya...." Bryan dan Freya saling lirik dengan menyunggingkan senyum.
"Nadia Elina Az-Zura binti Abrisam Bryan Alvaro." jawab Bryan dan Freya bersamaan.
"Kenapa tidak ada nama Abrisam nya?" Mama Lea terlihat proses karena nama sang cucu tidak ada nama Abrisam dibelakang nama cucu ketiganya.
"Memang tidak Bryan kasih, biar namanya seperti kakaknya Maura. Tapi sampai kapanpun, di belakang nama mereka bintinya tetap Abrisam Bryan Alvaro." jelas Bryan.
Mama Lea mengangguk pelan. Meski sebenarnya tidak terima, tapi itu anaknya Bryan dan Freya. Jadi mereka berhak memberi nama buat anak mereka. Dan pasti di setiap nama yang disematkan pasti memiliki arti yang baik.
"Warna matanya tidak sama seperti kakak juga Ayah. Berarti yang mirip Ayah cuma Maura saja. Itu berarti cuma Maura yang anak Ayah. Yang berhak mewarisi semua yang Ayah miliki." ucap Maura panjang lebar saat melihat mata sang adik yang baru saja membuka matanya karena terganggu sama sang kakak.
Bryan tersenyum miris mendengar ucapan Maura. Andai dulu dia tidak melakukan kesalahan dengan Freya, mungkin Maura tidak akan lahir di luar nikah. Andai dulu dirinya dan Freya bertemu dalam kondisi baik dan melakukan pernikahan dengan semestinya, mungkin Maura akan mewarisi semua kekayaannya.
Andai dulu?
Bryan menghembuskan nafas perlahan, dia begitu menyesal akan kenakalan yang dilakukan dulu saat baru menginjak dewasa. Dia tidak bisa membayangkan sembilan tahun lagi, tepatnya saat Maura berusia tujuh belas tahun. Saat dirinya dan Freya memberitahu siapa Maura sebenarnya. Apakah putrinya itu akan marah dan membenci dirinya. Atau lebih parahnya tidak mau mengakui dirinya sebagai Ayah. Bryan tidak bisa membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi. Dia begitu menyayangi Maura melebihi apapun. Maura adalah kesalahan yang mempersatukan dirinya dengan Freya. Dan Maura yang hampir 80% mirip dengan dirinya. Mulai dari mata, sikap dan kelakuannya.
Bryan menoleh saat tangannya dielus pelan oleh sang istri.
"Jangan sedih. Saat ini dan seterusnya waktunya bahagia. Dan Maura sampai kapanpun akan tetap menjadi anak Bryan Alvaro seorang." bisik Freya yang merasakan perubahan pada raut wajah suaminya saat mendengar ucapan Maura.
Bryan mengangguk pelan dan membalas senyuman tipis istrinya yang sudah melahirkan tiga orang anak untuk dirinya. Dia merengkuh tubuh sang istri dengan erat.
"Terima kasih sayang. Kamu, Maura, Attar juga Nadia adalah anugrah terindah yang aku miliki. Kalian adalah harta berharga yang aku miliki."
...TAMAT...
🍁🍁🍁
Sampai disini dulu ya kisah Bryan dan Freya nya.
Kita lanjut yang mana dulu nich??
Kisah Rendy sang duda
atau
Kisah cinta Maura
Insya allah, salah satu di antara kedua kisah itu akan segera author up.
Ditunggu yaaaa
Salam hangat dari author buat kakak kakak semua 🤗
__ADS_1