
Kini semuanya sudah duduk di ruang tamu. Bahkan Mama Lea juga sudah terlihat duduk disana sambil memangku cucu laki-lakinya, baby Attar. Dan Maura, dia tidak lepas dari Paman Robot sejak tadi yang kini duduk sambil menggendong baby Candra di pangkuannya. Gadis kecil itu memilih duduk dekat Paman Robot, sang Papa yang baru saja kembali pulang setelah dua bulan menghilang tanpa kabar.
"Kamu itu darimana saja sih, Rend? Dua bulan nggak pulang dan sekarang pulang-pulang bawa anak orang. Anak siapa lagi yang kamu bawa? Jangan contoh kelakuan Bryan kamu. Dan ingat, kamu juga sudah punya anak."
Mama Lea terlihat mengomeli Rendy, padahal beliau tahu dan sudah dengar ceritanya dari Freya semalam kalau Rendy tengah berada di pondok pesantren untuk menenangkan diri. Tapi Freya tidak cerita soal anak yang dibawa sama Rendy. Karena pasalnya Rendy memang tidak menceritakan itu pada Bryan dan hanya bercerita pada Bara karena dia ingin meminta tolong pada Bara untuk mengurus semua surat adopsi atas Rafa.
Bryan melototkan matanya pada sang Mama. Bisa-bisanya Mama nya itu menyangkut pautkan anak yang diadopsi Rendy dengan kelakuannya pada pembicaraan ini. Jelas-jelas berbeda lah. Kalau dirinya bawa pulang darah dagingnya sendiri dan yang dibawa Rendy pulang itu darah daging orang. Sangat jauh sekali perbedaannya.
Freya yang duduk disamping Bryan hanya bisa mengusap pelan salah satu lengan suaminya itu. Dia tahu betul, suaminya itu sekarang tengah tersinggung dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Mamanya Bryan sendiri. Dia mencoba membuat Bryan tenang dan jangan sampai terpancing emosi mengingat saat ini ada anak kecil dan sebenarnya sekarang bukan waktunya untuk membahas masa lalu.
Bryan menoleh pada sang istri yang tengah menyunggingkan senyum tipis untuk dirinya membuat darah yang semula hampir sampai ke ubun-ubun kembali turun. Dia tenang dan membalas senyum sang istri.
Sedangkan Rendy yang mendapat omelan dari Mama Lea hanya menghembuskan nafas pelan. Salah dia sendiri pergi tanpa pamit dan pulang-pulang bawa seorang anak. Apalagi kemarin dia pergi dengan meninggalkan seorang bayi yang masih sangat membutuhkan perawatan ekstra dan juga perhatian yang tak kalah ekstra nya.
"Maaf, Bibi. Dia santri di pondok pesantren yang Rendy tinggali beberapa bulan ini. Dia juga yang sudah menolong saya. Dia anak baik, rajin, pintar dan cerdas. Dia juga anak yatim piatu, bahkan sejak kecil. Rendy melihat dia mengingatkan Rendy akan Mutia. Jadi memutuskan mengangkat Rafa jadi anak angkat Rendy. Rendy mengadopsinya."
Rendy mencoba menjelaskan semuanya pada Mama Lea dan Bryan juga Freya yang memang belum tahu soal dirinya mengadopsi seorang anak. Karena dirinya memang belum cerita dan hanya meminta tolong pada Bara saja kemarin untuk mengurus semua surat adopsi untuk Rafa tanpa sepengetahuan siapapun.
"Namanya Rafa-"
"Rafatar anaknya sultan andara itu?? Kenapa cakepan ini daripada dia?!".
Mama Lea buru-buru memotong ucapan Rendy sambil menelisik menatap anak kecil yang duduk di sisi Rendy. Anak itu begitu tampan. Kecil-kecil sudah good looking, pikir Mama Lea.
"Oma kenal sama kembarannya Oppa Kim Bum?"
Maura menoleh pada sang Oma karena Omanya menyebut nama Rafatar anak dari sultan andara. Anak artis yang sering dia lihat di aplikasi yutub juga aplikasi toktok. Anak artis yang wajahnya sering disama-samakan dengan oppa-oppa korea.
Freya menepuk jidatnya mendengar pertanyaan yang gadis kecilnya lontarkan pada Mama Lea. Bisa-bisanya putri kecilnya itu menanyakan pertanyaan yang mungkin tidak bisa Mama Lea jawab. Karena Mama Lea pecinta sinetron tanah air dan tidak suka drama luar negeri. Kalau fashion luar negeri sudah pasti Mama Lea hafal diluar kepala.
"Anak kamu, Mas." bisik Freya pada Bryan.
"Anak kamu juga."
"Anak kita."
Kedua pasang suami istri itu tak habis pikir dengan pertanyaan Maura. Gadis kecil itu terlalu dekat dengan Caca yang suka sekali dengan drama-drama China, Korea, juga Thailand. Dan sudah dapat dipastikan kalau Maura tahu itu dari Caca, selain dari internet tentunya.
__ADS_1
"Oma tidak kenal cucu Oma yang cantik." Mama Lea tersenyum pada Maura yang terlihat mengerucutkan bibirnya karena tidak tahu siapa itu Oppa Kim Bum. "Terus namanya Rafa siapa?" tanya Mama Lea menatap Rendy dan Rafa bergantian.
"Ayo boy! Kenalan sama Oma dan yang lainnya. Perkenalkan nama kamu."
Rendy meminta Rafa untuk memperkenalkan dirinya sendiri secara langsung pada penghuni rumah keluarga Abrisam.
Rafa berdiri dan mencium punggung tangan Mama Lea dengan takzim.
"Nama saya Rafandra Aditya. Tapi Papa Rendy menambah nama Pratama di belakang nama Rafa."
Mama Lea tersenyum dan mengusap kepala Rafa pelan. Anak itu begitu sopan sampai membuat Mama Lea yang notabene tidak menyukai orang asing apalagi tidak dari kalangannya langsung terpesona.
Apa karena Rafa anak santri? Mungkin saja.
Rafa pun juga melakukan hal yang sama pada Bryan juga Freya. Bahkan Freya sampai memeluk Rafa begitu erat dan meminta anak laki-laki itu duduk disampingnya.
"Sekarang anak aku ada 4."
Freya terlihat bahagia sampai mengusap lengan Rafa yang duduk di sisinya. Dia tersenyum pada suaminya dengan menaikkan kedua alisnya.
Oh ya ampun!!!
Apa Bryan sungguh benar lelah, sampai sedari tadi otaknya begitu lelet dan lemot diajak bicara.
Bahkan biasanya saat mendapat kode tatapan dari istrinya dia langsung paham dan mengerti maksudnya, tapi saat ini otaknya tidak bisa berpikir sama sekali. Memang Bryan perlu me-refresh ulang otaknya. Mungkin dengan olahraga ranjang dengan Freya otaknya langsung kembali bekerja sesuai fungsinya.
Freya mendengkus kesal melihat suaminya yang entah kenapa hari ini begitu lelet dan lemot seperti siput. Tidak seperti biasanya yang sat set sat set, kelar, beres.
"Tanda itu, tanda!!" seru Bara yang sedari tadi diam melihat interaksi mereka semua.
"Tanda?!" gumam Bryan pelan.
Bryan menyeringai saat tahu maksud tanda yang Bara serukan. Apalagi Freya tadi menyebut kalau anaknya sekarang ada empat. Berarti saat ini Freya ingin mempunyai anak empat.
"Sayang, ayo kita ke kamar dan buat adik untuk baby Attar. Katanya kamu mau punya anak empat." bisik Bryan tepat ditelinga sang istri. Bahkan lelaki itu sempat memberi gigitan kecil pada daun telinga sang istri.
"Ishh...Mas Bryan apaan sih! Kok jadi ngelantur gitu sih."
__ADS_1
Freya mendorong pelan dada Bryan untuk menjauhi tubuhnya. Siang-siang otaknya sudah mesum saja itu bapak dua orang anak itu.
Meninggalkan Freya dan Bryan yang membahas masalah yang ambigu. Di tempat yang sama dan waktu yang sama pula terlihat gadis cantik yang duduk di sebelah Rendy menekuk kan wajahnya sambil bersedekap tangan. Dia begitu kesal karena tidak diajak kenalan sama anak yang katanya diadopsi oleh Papa Rendy.
"Memangnya Maura yang cantik ini patung apa tidak diajak kenalan. Hufft!!!"
Rendy yang mendengar gumaman kekesalan dari gadis cantik yang dulu memanggilnya Paman Robot itu menatap Maura yang cemberut kesal dan beralih pada Rafa yang memang belum mengajak Maura kenalan. Putra angkatnya itu terlihat nyaman dengan Freya. Mungkin Rafa rindu sosok ibu saat ini dan mungkin Freya adalah sosok ibu yang Rafa inginkan. Kalau memang benar, Rendy tidak sia-sia mengadopsi Rafa dan mengenalkannya pada keluarga Abrisam.
"Kata siapa Kakak Maura tidak cantik? Kakak Maura itu cantik dan paling cantik disini. Kalau Rafa tidak mau kenalan sama Maura, kenapa tidak Maura saja yang kenalan sama Rafa?"
Maura menoleh pada Papa Rendy. Dia terlihat memikirkan saran yang telah diberikan oleh Papa Rendy untuknya. Bagus juga sarannya, ketika laki-laki jual mahal disitu wanita yang akan maju. Dan ketika Rafa tidak mau kenalan dengannya jadi dirinya yang akan berkenalan terlebih dahulu pada Rafa si anak santri itu.
Tanpa banyak bertanya lagi, Maura turun dari atas sofa dan melangkahkan kakinya mendekati sofa yang tengah diduduki Ayah dan Bundanya serta seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun. Dengan langkah pasti dan sedikit angkuh, mirip sekali dengan Ayah kandungnya, Maura menjulurkan tangan kanannya pada Rafa.
"Hai, nama saya Maura Hanin Azzahra. Calon istri dari Rafandra Aditya Pratama. Nanti kalau aku sudah berusia dua puluh tahun, kamu harus menikah dengan ku. Tidak boleh dengan yang lain. Dan kamu harus menepati janji ini."
Maura yang melihat Rafa diam saja langsung mengambil tangan kanan Rafa dan mengaitkan kedua jari kelingking mereka.
"Kamu sudah janji di depan keluarga besar kita. Jadi tidak boleh mengingkari janji ini."
CUP
Setelah mengucapkan kalimat yang panjang lebar pada Rafa dan memberikan kecupan pada salah satu pipi Rafa, Maura berlalu pergi naik ke lantai dua menuju kamarnya tanpa rasa berdosa sama sekali.
Sedangkan, para orang dewasa itu masih terlihat diam dan kelihatannya begitu syok mendengar ucapan penerus darah dari Bryan Alvaro. Sungguh, sikap percaya diri yang Maura perlihatkan tadi mirip sekali dengan sikap Bryan saat mengejar cinta Freya dulu. Tidak ada bedanya sama sekali. Sungguh-sungguh penerus darah Bryan.
"Apa tadi yang bicara putri aku, Mas?" tanya Freya yang masih syok atas tindakan gadis kecilnya.
"Hmmm." Bryan hanya berdehem dan mengangguk. Dia juga masih syok akan apa yang Maura lakukan tadi. Dirinya merasa dejavu saat dirinya mengejar Freya dulu. Dirinya juga tidak menyangka gadis kecilnya itu punya keberanian sebesar itu.
"Penerus darahku ada di Maura." batin Bryan yang melihat sikap Maura sebelas dua belas dengan dirinya.
\=\=\=TAMAT\=\=\=
__ADS_1