Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Tidak semudah itu


__ADS_3

Freya menatap sekeliling setelah turun dari mobil. Halaman rumah yang luas dengan beberapa jenis tanaman hias juga pohon buah, bangunan rumah mewah tiga lantai bergaya eropa yang ukurannya sebelas dua belas dengan rumah mertuanya yang dia tinggali saat ini. Freya mengerutkan keningnya menatap Bryan yang tersenyum kepadanya.


"Ini rumah siapa Mas?"


"Katanya tadi mau mengajakku ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu yang penting." kata Freya yang merasa dibohongi oleh Bryan. Dia tadi mengiyakan karena dia pikir suaminya akan berbicara jujur padanya akan kecelakaan yang menimpa Bapaknya. Ternyata suaminya mengajaknya berkunjung ke rumah orang yang tidak dia kenalnya.


"Mungkin yang punya rumah ini yang tahu kejadian kecelakaan itu sebenarnya." Freya mencoba berfikir positif. Dia sudah capek harus suudzon terus pada suaminya.


"Aku memang ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu disini."


"Ayo kita masuk dulu." Bryan menggandeng tangan Freya dan diajaknya masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi.


"Tunggu, Mas!! Kita harus mengucapkan salam dulu."


"Nggak boleh masuk rumah orang seperti ini."


"Dikira kita ini mau maling."


"Mas Bryan mau digebukin warga karena dikira maling?" Freya menegur Bryan yang seenaknya sendiri membuka pintu rumah dan masuk begitu saja.


"Ihh..Kok malah tertawa sih!!"


"Nggak sopan." Freya semakin kesal karena justru melihat Bryan yang menertawakan dirinya.


"Emangnya tampang kita seperti maling ya??"


"Masak yang satu cantik yang satunya lagi ganteng dibilang mirip maling."


"Kita sudah kaya, nggak perlu maling lagi." kata Bryan yang tidak terima dibilang maling.


"Siapa juga yang bilang mirip maling."


"Freya tidak bilang seperti itu."


"Mas Bryan aja tuh yang bilang mirip maling."


"Terus apa maksudnya sudah kaya nggak perlu maling lagi."


"Kalau masih miskin,Mas Bryan mau maling begitu." sungut Freya yang kesal dengan suaminya itu sambil mengusap perutnya.


"Bukan begitu juga maksudnya sayang."


"Kamu ini pikirannya sejak hamil aneh-aneh saja." dengan gemas Bryan membawa Freya kedekapan nya.


"Lepas dulu Mas..Malu nanti dilihat yang punya rumah." desis Freya dan menatap dalam rumah yang luas namun sepi.


"Assalamualaikum!!" sapa Freya


"Walaikumsalam." jawab Bryan


"Kok dijawab sih salam dari Freya."


"Seharusnya Mas Bryan juga mengucapkan salam."


"Gimana sih." Freya yang kesal bercampur sebal sama Bryan dengan gemas mencubit perut sixpack Bryan.


"Kan kalau ada yang mengucapkan salam harus dijawab sayang."


"Apa kamu lupa?" Freya mendengkus kesal dan menatap sembarang arah. Jelas dia tidak lupa. Tapi kalau yang namanya tamu dan mengucapkan salam yang harus jawabkan penghuni rumahnya. Kecuali rumah kosong.


"Ayo masuk!!"


"Aku akan tunjukkan sesuatu pada mu." Bryan menarik pelan tangan Freya.


"Tunggu Mas!!"


"Ini bukan rumah kosongkan?"


"Kalau benar ini rumah kosong, Mas Bryan mau ngapain Freya?"


"Mas Bryan jangan macam-macam ya sama Freya." Freya sedikit menjauh dari Bryan dan menatap waspada pada suaminya itu.


"Ya ampun, sayang!!" Bryan mengusar ramburnya kasar. Dia merasa pusing dengan istrinya yang memiliki pikiran aneh itu.


Akkhhhhh


Pekik Freya saat Bryan tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.


"Mas Bryan mau bawa Freya kemana?"


"Turunin Freya." Freya terus memberontak minta diturunkan saat Bryan membawanya menaiki tangga.


"Bisa diam tidak."


"Nanti kita bertiga bisa jatuh."


"Kamu mau debay nya kenapa-kenapa." Freya langsung terdiam dan berpegangan erat dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher Bryan. Dia juga tidak mau terjadi apa-apa dengan anak yang ada dalam kandungannya.


"Ini kamar siapa Mas? Kok ada foto pernikahan kita dipajang di dinding." tanya Freya setelah Bryan menurunkannya saat sudah tiba di sebuah kamar yang jauh lebih luas dari kamar mereka di rumah Papa Abri. Disana terdapat foto berukuran besar bergambarkan dirinya juga Bryan saat nikah kemarin tergantung di atas dinding ranjang tempat tidur.


Bryan memeluk Freya dari belakang dengan mesra dan diciumnya pipi Freya sambil berujar, "Ini kamar kita."


Freya menoleh kesamping menatap Bryan, "Kamar kita?" tanyanya dengan kening mengkerut.

__ADS_1


Bryan mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Freya.


"Iya...Ini kamar kita. Ini juga rumah kita."


"Rumah yang sudah aku siapkan sebelum kita menikah."


"Tapi kita justru tinggal di rumah Papa."


"Dan nanti setelah Maura pulang dari Singapura, kita akan tinggal disini."


"Aku sudah menyiapkan semua." Bryan melepas pelukannya.


"Bukannya kamu bilang setelah menikah ingin tinggal di rumah kita sendiri?"


"Dan ini, rumah yang sudah aku siapkan untuk kamu."


"Untuk keluarga kita."


Freya diam menatap Bryan, "Kenapa kamu baik banget sama aku, Mas. Kamu bukan melakukan semua ini karena merasa bersalah sama aku kan?" tanya Freya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu."


"Aku melakukan ini semua murni dari hati aku yang paling dalam."


"Tidak ada paksaan ataupun tekanan dari orang lain ataupun karena aku punya salah padamu."


"Aku melakukan ini hanya untuk mu."


"Untuk kamu, wanita yang yang mau menerima kekurangan dan melebihanku."


"Wanita yang aku sayang dan cintai."


"Untuk istriku, Freya Almeera Shanum." kata Bryan dengan tatapan mata yang begitu teduh memandang Freya sambil menangkupkan sebelah tangannya pada pipi Freya.


Mata Freya berkaca-kaca, "Bagaimana Freya bisa marah sama Mas Bryan kalau Mas Bryan saja begitu tulus menerima Freya." ucap Freya dengan air mata yang sudah jatuh, tak mampu dia bendung lagi sedari tadi. Bryan tersenyum menanggapi itu.


"Memangnya kamu saat ini lagi marah sama aku?" Bryan mengusap air mata yang jatuh di pipi Freya.


"Maafkan Freya yang berfikiran sempat pergi dari kehidupan Mas Bryan." Freya memeluk Bryan dengan erat.


"Maafkan Reya, Bapak."


"Reya tidak bisa hidup tanpa Mas Bryan."


"Reya tidak bisa jauh dari Mas Bryan."


"Maafkan Reya yang memilih untuk tetap bertahan dengan orang yang membuat Bapak meninggal."


"Karena Allah tahu mana yang terbaik baik untuk hambanya."


"Maafkan Reya dan restuilah kami, Bapak." ucap Freya dalam hatinya. Dia telah memutuskan untuk memaafkan dan menerima suaminya itu atas kecelakaan 10 tahun lalu.


"Mak-sud kamu apa, Freya?" tanya Bryan dengan terbata. Apa Freya sudah tahu kalau aku yang menabrak Bapak juga Adiknya, batin Bryan menerka-nerka kenapa Freya meminta maaf pada dirinya dan sempat ingin pergi dari hidupnya.


"Freya sudah tahu semuanya."


"Freya sudah tahu kalau Mas Bryan lah yang menabrak Bapak hingga meninggal." dengan cepat Bryan melepas pelukan Freya pada dirinya saat mendengar pengakuan Freya. Dia tidak tahu kalau Freya mengetahui tentang kecelakaan itu. Bryan menatap lekat Freya dengan perasaan penuh rasa bersalah.


"Sa-sa-yang..Ak-ku.." suara Bryan tercekat, seakan sulit untuk mengungkapkan kebenaran atau mungkin dia tidak menyangka Freya akan tahu duluan sebelum dia menjelaskan pada istrinya itu.


Freya tersenyum dan mengusap lengan Bryan.


"Bukannya Mas Bryan mengajak Freya kesini untuk membicarakan sesuatu hal yang penting?"


"Freya ingin mendengarnya sekarang atau tidak, Freya akan pergi meninggalkan Mas Bryan sendiri." ancam Freya karena melihat Bryan yang terlihat bersalah dan takut itu. Jauh berbeda dari sosok Bryan yang Freya kenal dulu yang selalu arogan meski memiliki kesalahan. Dan dulu, Bryan seperti monster menurut Freya.


"Kamu tahu darimana Freya?"


"Apa kamu sudah tahu dari dulu, makanya kamu dulu selalu menghindar dari ku?" tanya Bryan penasaran. Kalau benar Freya sudah tahu dari dulu, besar kemungkinan Freya tengah membalasnya saat ini. Makanya dia selalu mengancam untuk pergi.


Freya tersenyum miring dan berjalan melihat-lihat interior yang ada dikamar. "Kalau Freya sudah tahu dari dulu, Freya tidak mungkin sekarang menjadi istri Mas Bryan." Freya menoleh ke arah Bryan yang masih berdiri di posisinya.


"Freya kemarin tidak sengaja mendengar pembicaraan Papa dan Mama juga yang lainnya di rumah Oma."


"Freya dengar kalau Mas Bryan lah yang menabrak Bapak dan juga Adik Freya." ungkap Freya. Freya dapat melihat keterkejutan dari raut wajah suaminya. "Apa benar Mas Bryan tidak tahu dan Papa menyembunyikan semua kebenaran ini dari kami." batin Freya yang mengingat sekilas pembicaraan mertuanya itu.


"Aku minta maaf sama kamu dan seluruh keluarga kamu, Freya." Bryan menunduk mengakui kesalahannya, dia tidak sanggup bila harus menatap istrinya itu karena kesalahan yang telah diperbuatnya.


"Benar, akulah yang menabrak Pak Armand juga Laras."


"Aku juga baru tahu kalau yang aku tabrak itu adalah Bapak juga adik kamu beberapa hari yang lalu."


"Aku sungguh minta maaf,Freya." Freya hanya diam saja menatap Bryan yang berbicara sambil menunduk itu. Freya tahu suaminya itu tengah menyembunyikan air marahya saat ini. Air mata penyesalan dan rasa salah yang amat besar.


"Aku tidak bisa mengendalikan kemudi saat mobil yang aku kendarai oleng hingga akhirnya menabrak pemotor yang dikendarai Bapak kamu yang saat itu tiba-tiba muncul dari sebuah gang."


"Aku minta maaf, karena akulah penyebab Bapak dan adik kamu meninggal." dengan posisi yang masih menunduk, Bryan memencet pangkal hidungnya yang merasa pusing karena berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya.


"Kenapa Mas Bryan dulu tidak datang dan meminta maaf langsung pada Freya dan Ibu?"


"Kenapa harus orang suruhan Papa yang datang dan memberikan kami uang bela sungkawa."


"Bahkan mereka juga memberikan uang untuk biaya Freya sekolah sampai lulus kuliah."

__ADS_1


"Bahkan Freya dan Ibu diminta untuk tidak menuntut atas meninggalnya Bapak juga Laras." Freya memalingkan wajahnya ke arah lain dengan mata berkaca-kaca mengingat kejadian setelah Bapak juga Laras dimakamkan.


"Tapi apa Mas Bryan tahu."


"Semua uang itu tidak sepeserpun Freya atau Ibu terima."


"Dan Kami tidak mempermasalahkan kemana perginya uang itu."


"Yang kami inginkan saat itu hanya kenapa bukan orang yang menabrak atau keluarganya sendiri yang datang menemui kami."


"Kenapa meminta orang lain untuk menemui kami." Freya menoleh menatap Bryan yang juga tengah menatapnya.


"Mas Bryan tahu?"


"Sakit, itu yang Freya rasakan saat tahu suami yang Freya cintai ternyata yang mengakibatkan cinta pertama Freya meninggal."


"Ingin rasanya Freya marah sama Mas Bryan tapi Freya tidak bisa."


"Freya hanya ingin pergi,_"


"Sayang, aku mohon jangan pergi." Bryan menyela perkataan Freya. Dia menjangkau Freya dengan cepat dan dibawanya ke dalam pelukannya.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Kamu boleh marah atapun membenci aku, bahkan kalau kamu ingin menghukum ku, aku bersedia."


"Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Dan pikirkan lagi, ada Maura juga anak yang masih ada didalam kandungan kamu."


"Aku mohon sayang. Jangan pergi." Bryan mengeratkan pelukannya pada tubuh Freya yang terasa kaku dan tidak membalas pelukannya itu.


"Mas Bryan yakin mau dihukum?" tanya Freya


"Aku yakin dan aku terima hukuman apapun dari kamu." jawab Bryan yang terdengar tegas.


"Kalau Freya ingin Mas Bryan masuk penjara, apa Mas Bryan mau?" tanya Freya yang masih berada di pelukan Bryan.


"Aku mau, asal kamu tidak pergi dari hidupku." jawab Bryan cepat tanpa berpikir panjang. Dia hanya ingin Freya tetap berada disisinya.


"Kalau dipenjaranya didalam kandang singa yang kelaparan selama sebukan, apa Mas Bryan masih mau?" tanya Freya lagi.


"Aku mau, asal kamu bahagai."


"Aku tidak takut mati untuk melihat kebahagianmu." Freya mengulum senyum mendengar jawab Bryan.


"Kalau Mas Bryan mati, berarti Maura juga debay nya akan mendapat Ayah baru."


"Dan aku yakin Kak Evan yang pertama kali mendaftar untuk jadi Ayah baru buat anak-anak." goda Freya pada suaminya itu yang paling tidak suka kalau dia membahas Evan.


"Itu tidak akan pernah aku biarkan."


"Hanya Abrisam Bryan Alvaro lah Ayah satu-satunya Maura dan debay junior."


"Tidak ada yang lain selain aku " Bryan melepas pelukannya dan menatap Freya dengan lekat.


"Dan aku tidak akan mati meski kamu akan mengurungku di kandang singa yang kelaparan selama sebulan." imbuhnya yang memang sudah tahu caranya menghindar dari amukan singa kelaparan.


"Baiklah..kita lihat nanti."


"Apa singanya yang bakal mati atau justru Mas Bryan yang kalah dan menyerah."


"Tapi sebelum itu, Freya ingin Mas Bryan mengakui kesalahan yang telah Mas Bryan perbuat di depan keluarga Freya secara langsung."


"Dan juga kedua orang tua Mas Bryan mengakui kesalahan pada Freya yang telah menyembunyikan kebenaran ini sebelum Freya menjadi menantu di keluarga Abrisam."


"Baru, setelah itu Freya akan menghukum Mas Bryan." ujar Freya menatap tajam pada suaminya itu.


"Itu tidak masalah."


"Aku akan menyelesaikan tantangan dari mu dalam sebulan sesuai yang kamu inginkan."


"Asal kamu menepati janji kamu untuk tetap berada disisiku."


"Dan lebih penting, kamu memaafkan aku." Freya tersenyum menatap Bryan dan mengalungkan tangannya pada leher Bryan.


"Freya Almeera Shanum berjanji akan selalu berada di sisi Abrisam Bryan Alvaro sampai ajal memisahkan kita."


"Dan Freya akan memaafkan Mas Bryan kalau Mas Bryan sudah menyelesaikan tantangan dari Freya." Bryan tersenyum mendengar perkataan Freya. Di usapnya lembut wajah Freya.


"Baiklah, ayo kita ke apartemen Mama."


"Aku akan meminta maaf sama Mama juga Anelis."


"Setelah itu aku siap menerima hukuman yang kamu berikan." ucap Bryan penuh semangat. Dia akan melakukan apapun untuk menebus kesalahannya dan mendapatkan maaf dari Freya juga biar Freya tetap berada di sisinya bersama anak-anak.


Freya tersenyum dan mengangguk. Bersiaplah Tuan Bryan, tak semudah itu mendapatkan maaf dari seorang Freya. Kita lihat, seberapa besar perjuanganmu nanti untuk mendapatkan maaf dari ku.


🍁🍁🍁


have a nice day


big hug 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2