Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Masih Berdebat


__ADS_3

"Bunda!!" teriak Maura yang berlari masuk ke kamar dan langsung naik ke ranjang hingga membuat Bryan Junior kaget dan tersedak.


"Sayang, pelan-pelan kan bisa tidak perlu berteriak seperti itu. Lihat adek sampai tersedak." ucap Freya dengan lembut sambil membersihkan susu yang keluar dan mengenai wajah Bryan Junior.


"Maaf Bunda!" sesal Maura dan duduk diam disamping sang Bunda dengan menautkan kedua jari tangannya. Tidak lupa dia menatap sang adik yang tengah terlihat menyusu kembali dan tidak terusik sama sekali dengan kehadiran sang kakak.


"Ada apa sih, Kak? Kenapa berteriak-teriak memanggil Bunda?" tanya Mama Marisa dengan mengelus lembut rambut kepala cucunya.


Maura menatap Oma Mama nya dengan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi dan beralih menatap sang Bunda yang tengah memberikan ASI buat adik kecilnya tanpa membalas pertanyaan yang diajukan oleh sang Oma Mama.


"Bunda dukung Maura kan kalau nama adiknya nanti Attar. Abrisam Attar Ar-Rizky. Bukan Rifqie seperti nama yang Ayah usulkan?" tanya Maura memastikan kalau sang Bunda mendukungnya untuk memberikan nama buat sang adik. Gadis kecil itu ingin ikut andil untuk pemberian nama buat sang adik.


"Kenapa tidak seperti nama yang Bunda sarankan semalam saja namanya? Kan adil buat Maura sama Ayah." kata Freya mengingatkan Maura dengan saran yang sudah dia berikan semalam sebelum Maura dan Bryan tidur.


"Tapi, Bun..." Maura tidak melanjutkan ucapannya, dia terlihat ragu untuk mengutarakan pendapatnya.


"Kenapa?" tangan Freya terulur untuk mengusap pipi chubby milik putrinya itu. Entah kenapa semakin hari pipi Maura terlihat semakin chubby dan menggemaskan.


"Nanti panggilannya ada dua dong. Ayah maunya adik dipanggil Rifqie, sedangkan Maura maunya adik nanti dipanggil Attar." ucap Maura lirih yang tidak suka kalau adiknya dipanggil Rifqie.


"Tidak apa adik nanti memiliki dua panggilan. Yang pasti Oma Mama sama yang lainnya akan mengikuti Maura. Akan memanggil adik bayi nya dengan panggilan Attar, bukan Rifqie."


Maura memalingkan wajahnya cepat kepadanya sang Oma Mama yang mengatakan akan mengikutinya dan itu berarti Oma Mama mendukungnya. Jadi tambah lagi sekutunya selain kedua aunty dan paman paman pendukung dari luar.


"Benar Oma Mama?" tanya Maura memastikan kalau apa yang dikatakan oleh Oma Mama nya benar adanya.


Senyum Maura semakin lebar kala melihat Oma Mama nya menganggukkan kepalanya dua kali dengan mantap. Yes!!! Akhirnya ada juga yang mendukungnya. Maura begitu senang sekali akhirnya selain para Aunty dan paman-paman yang mendukungnya sejak awal, sekarang para Oma juga tengah berada dibelakangnya untuk mendukung dirinya.


"Berarti deal ya Bunda, nama adik bayi kita diberi nama Abrisam Attar Ar-Rifqie dan dipanggil Attar." kata Maura dengan semangatnya yang membara karena sudah mendapat dukungan dari banyak orang di keluarganya.


Maura bersorak gembira saat sang Bunda mengiyakan kalau nama dedek bayi nya ABRISAM ATTAR AR-RIFQIE dan dipanggil Attar. Gadis kecil itu sampai lompat-lompat di atas ranjang untuk mengekspresikan rasa gembira dan kemenangannya sepihak, karena sang Ayah belum tahu dan tidak diajak diskusi.


"Sayang sudah, nanti jatuh. Sini cium adiknya dulu."


Maura langsung menghentikan acara lompat-melompat nya dan mendekati sang Bunda yang tengah menidurkan sang adik diatas ranjang.


CUP

__ADS_1


CUP


CUP


Tiga kecupan Maura berikan pada sang adik di kedua pipi dan hidung mungil sang adik.


"Attar ganteng, adiknya kakak Maura."


CUP


Maura kembali memberi kecupan pada kening Attar, sang adik.


"Siapa yang meminta kakak memanggil anak Ayah dengan panggilan Attar?" tanya Bryan yang baru masuk ke kamar dan menatap Maura dengan tatapan mengintimidasi.


"Maura. Kenapa? Ada masalah Ayah Bryan." Maura berdiri dan bertolak pinggang dengan dagu terangkat membalas tatapan sang Ayah.


"Mama keluar dulu ya." pamit Mama Marisa pada Freya dengan berbisik. Beliau tidak ingin ikut campur masalah Ayah dan anak itu yang tengah perang dingin hanya karena memperdebatkan nama.


Freya mengangguk dan tersenyum pada Mama nya. Dia sendiri sebenarnya juga ingin keluar menghindari perdebatan suami dan anaknya ini. Tapi kalau tidak ada dirinya yang ada perdebatan itu akan semakin sengit dan tidak akan ada yang mengalah.


Freya memindahkan baby nya ke box bayi sebelum suami dan anak gadisnya membuat onar di atas ranjang dan dapat dipastikan anak membuat baby nya terbangun dan menangis.


"Berhenti atau Bunda akan marah dan mengusir kalian berdua."


Bughh


Bryan ketimpuk bantal yang dilempar Maura saat mendengar suara Freya yang tegas dan penuh ancaman. Tidak lupa, Bryan dan Maura melihat sorot wanita dewasa yang badannya semakin berisi itu karena habis melahirkan dan terlihat memancarkan amarah dan kekesalannya.


Maura menggeser tubuhnya perlahan mendekati sang Ayah yang sudah berdiri di sisi ranjang. Dia terlihat memegangi tangan sang Ayah dan bersembunyi di belakang tubuh sang Ayah. Mencari perlindungan dari sang Ayah, pahlawannya.


Sekuat tenaga Freya menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkah Maura. Gadis kecilnya itu tadi terlihat berdebat dan berkelahi dengan Ayahnya, tapi saat dia menggertak, gadisnya itu justru meminta perlindungan dari sang Ayah. Sungguh lucu dan menggemaskan. Ingin sekali Freya tertawa melihat Maura yang ketakutan.


Ditambah Bryan yang diam saja sambil mengusap tangan Maura yang menggenggam tangannya erat untuk menenangkan putrinya yang tengah ketakutan. Sungguh, Freya sampai menggigit bibir dalam bagian bawah untuk menahan diri supaya tidak tertawa ataupun tersenyum melihat tingkah dan ekspresi anak dan suaminya.


"Kenapa mereka lucu sekali sih?" batin Freya yang gemas sendiri dengan anak dan suaminya, padahal dia tadi hanya menggertak saja, bukannya marah ataupun kesal. Tapi yang didapat justru membuat anak dan suaminya takut sendiri.


"Ayah ngikut saja. Ayah ngikut Bunda saja siapa nama yang baik buat jagoan Ayah. Terserah Bunda kasih nama jagoan Ayah siapa, yang penting jangan marah dan usir kami." ucap Bryan dengan gugup dan tidak lupa memasang wajah pasrah dan ketakutan kalau saja Freya benar marah dan mengusir dirinya dan juga putrinya, Maura.

__ADS_1


"Maura juga. Maura ikut Bunda saja. Siapapun nama dedek bayi nya, Maura ikut saja. Maura tidak mau Bunda marah dan mengusir Maura." Maura juga ikut menyuarakan ketakutannya kalau sampai dirinya benar diusir sama sang Bunda karena bandel dan tidak mau mengalah.


"Baiklah kalau kalian mau mengikuti Bunda." dengan gaya angkuhnya, Freya bersedekap tangan dan tidak lupa mengangkat sedikit dagunya menatap anak dan suaminya tajam dengan senyum tipisnya.


"Kalian harus saling memaafkan dan berjanji untuk tidak mempersalahkan siapa nama yang akan Bunda kasih buat dedek bayi."


Dengan cepat dan tanpa menunggu lama lagi, Maura dan Bryan langsung berpelukan dan saling memaafkan. Bahkan sepasang anak dan Ayah itu terlihat sedih saat saling meminta maaf.


"Haduchh..boleh tidak sih aku tertawa saat ini. Lucu sekali sih mereka." Freya mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa saat ini atau kalau tidak anak dan suaminya itu akan kembali berdebat dan lebih parahnya akan merah dan kesal pada dirinya karena telah dipermainkan.


"Bunda! Kakak Maura sudah minta maaf sama Ayah." Bryan mengangguk, menatap Freya dan mengiyakan apa yang Maura ucapkan.


"Jadi siapa nama adiknya kakak Maura?" tanya Maura menatap Bunda dan Ayah nya bergantian.


"Iya. Namanya siapa sayang jagoan Ayah?" tanya Bryan juga sambil memegang kedua pundak Maura yang berdiri didepannya.


Freya menyunggingkan senyum dan berjalan mendekati box bayi dimana sang putra tengah tidur.


"Namanya,_" Freya diam sejenak dan menatap anak serta suaminya sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Nama jagoan Bunda, Abrisam Attar Ar-Rifqie dan dipanggil Attar." ucap Freya sambil mengusap pipi Attar dan membubuhkan satu kecupan di kening sang putra.


Maura tersenyum lebar dan berbalik, lantas dia memeluk pinggang Ayahnya erat. "Maura menang Ayah. Kakak menang." seru Maura yang masih memeluk Ayahnya itu.


Bryan hanya menyunggingkan senyum tipisnya sambil mengusap pelan kepala Maura. Dia lantas mengangkat tubuh mungil Maura kedalam gendongannya.


"Jadi Ayah kalah ini?" tanya Bryan pada putri cantiknya dengan wajah sedihnya.


Dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, Maura mengangguk mantap. "Ayah kalah dan Maura menang." ucap Maura dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher sang Ayah.


"Huffttttt...Lagi-lagi Ayah selalu kalah dari Kakak Maura. Tidak ada lagi yang mendukung dan menyemangati Ayah." ucap Bryan dengan wajah dan ekspresi dibuat sesedih mungkin sambil berjalan mendekati istrinya yang tengah memandangnya dengan senyum tipis menghiasi wajah cantik Freya.


"Jangan sedih Ayah. Meski Ayah kalah dan tidak ada yang mendukung juga menyemangati Ayah, tapi Maura tetap sayang kok sama Ayah. Sayang banget sama Ayah, My superhero." Cup. Maura mencium pipi kanan Ayahnya tanda kalau dia begitu sayang dengan sang Ayah yang selalu mengajaknya berdebat dan selalu memberikan apapun yang dia inginkan. Meski terkadang telat dan tidak tepat waktu.


"Ayah juga sayang sama cantiknya Ayah yang cerewet ini." dengan gemas Bryan juga memberikan kecupan pada kening Maura dan tidak lupa menggelitiki pinggang Maura.


Freya tersenyum melihat Suami dan Anaknya yang sudah kembali lagi akur dan tidak berdebat lagi. Dia berharap kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecilnya dimana pun mereka berada dan sampai ajal menjemput mereka.

__ADS_1


"Kalianlah sumber kebahagiaan dan kekuatan Bunda."


__ADS_2