
Empat hari kemudian
Maura terlihat duduk sendirian di sofa sambil menonton kartun favoritnya. Bundanya tadi izin pergi sebentar ke supermarket, Mamanya juga belum pulang kerja padahal hari sudah malam.
Maura mendengar handphone yang berbunyi di dekatnya, dilihatnya ternyata handphone sang Bunda tertinggal.
"Ayah." gumam Maura saat melihat siapa yang menelepon.
Dengan segera Maura menggeser tombol hijau. "Asaalamualaikum, Ayah!!" sapa Maura dengan cerianya.
"Walaikumsalam cantiknya Ayah."
"Kok Maura yang angkat, Bundanya mana?" tanya Bryan di seberang sana.
"Bunda pergi ke supermarket tapi Maura gak diajak, padahal Maura ingin jalan-jalan." adu Maura dengan muka cemberut.
Bryan tersenyum di seberang sana mendengar aduan putrinya, "Maura ingin jalan-jalan?" tanya Bryan.
"Iya Ayah...."
"Ayah kapan pulang? Ayo kita jalan-jalan Ayah."
"Kita kan belum pernah jalan-jalan bersama." ucap Maura mengingat belum pernah pergi liburan bersama Ayahnya.
"Nanti kalau Maura sudah sembuh dan bisa jalan lagi akan Ayah ajak jalan-jalan kemana pun yang putri cantik Ayah inginkan." kata Bryan.
"Maura sudah sembuh Ayah. Maura juga sudah bisa jalan lagi."
"Benarkah?" tanya Bryan yang memang belum tahu kondisi Maura karena dia begitu sibuk dua hari belakangan hingga tidak sempat menanyakan kabar ke Freya. Dan Freya sendiri tidak berani mengganggu kesibukan Bryan.
"Iya Ayah. Kemarin gips di kaki Maura sudah dilepas sama Pak Dokternya."
"Jadi Maura sekarang sudah bisa jalan dan berlari lagi deh."
"Tidak lagi merepotkan Bunda untuk menggendong Maura." cerita Maura dengan bahagianya.
"Alhamdulillah kalau Maura sudah bisa jalan lagi."
"Berarti kita bisa jalan-jalan dong Ayah." seru Maura dengan semangat.
"Iya cantik, besok kita bisa jalan-jalan."
"Ayah malam ini pulang."
"Benar Ayah?"
"Iya cantiknya Ayah..."
"Sudah dulu ya, sudah malam Maura tidur gih."
"Ayah mau lanjutkan pekerjaan dulu."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Maura meletakkan handphone Bundanya di meja dan dia melanjutkan menonton serial kartun sambil menunggu Bundanya pulang dari supermarket.
"Malam sayangnya Mama.." sapa Mutia yang baru saja pulang dan membawa beberapa kantong belanjaan. Di letakkan nya di meja makan.
Dia mendekati Maura setelah mencuci tangannya di wastafel dapur.
"Sendirian saja."
"Bunda mana?" tanya Mutia yang duduk di sebelah Maura.
"Bunda ke supermarket depan." jawab Maura yang melirik belanjaan Mutia.
"Mama beli apa?" tanya Maura menatap Mutia.
"Mama beli bahan masak." jawab Mutia.
"Maura tadi bilang kalau Bunda pergi ke supermarket depan?" tanya Mutia.
"Iya.."
"Sejak kapan?"
"Sejak tadi..sudah lama gak pulang-pulang." jawab Maura dengan cemberut.
"Aku kok gak ketemu dia ya." gumam Mutia yang memang juga dari supermarket dekat apartemen mereka.
"Bunda tadi bawa tas apa cuma dompet?"
"Bawa tas, Ma. Handphone nya juga ditinggal."
"Kemana Freya?" batin Mutia.
"Maura di rumah saja ya. Mama mau menyusul Bunda kamu."
"Kalau Maura sudah ngantuk, Maura tidur duluan."
"Nggak boleh cengeng."
"Oke..."
"Oke, Ma."
"Maura mau tidur sekarang saja."
"Good girl." Mutia mengusap pelan kepala Maura sebelum anak itu pergi ke kamarnya.
Mutia segera keluar dan menuju supermarket tempat tadi dia belanja. Seharusnya dia tadi ketemu Freya kalau Freya belanja di sana juga. Tapi dia tidak ketemu Freya sama sekali.
Mutia memasuki supermarket dan melihat ke setiap sudut supermarket untuk menemukan sosok yang dicarinya.
Mutia segera menghubungi Rendy disaat dia tidak menemukan sosok Freya yang dicarinya. Dia juga melihat di setiap ruko dan cafe siapa tahu Freya ada di sana.
"Hallo."
__ADS_1
"Ren..Freya menghilang."
"Maksud kamu?"
"Kata Maura, Freya pergi ke supermarket dan aku mencarinya namun tidak ketemu. Handphone nya juga ditinggal, aku gak bisa menghubunginya." Mutia terlihat panik. Dia terus berjalan di sepanjang jalan mencari Freya sambil berbicara dengan Rendy di telephon.
"Tenang dulu, saya dan Tuan Muda sekarang sudah mendarat di bandara dan masih menunggu mobil jemputan."
"Coba kamu cari di sekitar apartemen dulu."
"Oke."
Mutia melanjutkan pencariannya di sekitar apartemen.
"Tuan Muda.." Rendy mendekati Bryan yang terlihat sibuk dengan laptopnya.
Bryan hanya berdehem saja.
"Nona Freya tidak ada di apartemen nya Tuan."
"Aku tahu, Maura tadi bilang kalau Bundanya pergi ke supermarket."
"Tapi sampai saat ini Nona belum kembali dan Mutia sudah mencarinya namun tidak menemukan Nona, Tuan."
Bryan menoleh menatap tajam pada Rendy, "Maksud kamu?"
"Nona Freya menghilang."
Bryan berdiri dari duduknya, "Kita pulang sekarang!" perintah Bryan yang meninggalkan beberapa barangnya di ruang tunggu VVIP.
Dengan cekatan Rendy membereskan laptop dan beberapa berkas dimasukkan ke tas kerja. Dia keluar dari ruang VVIP dengan mendorong dua koper dan langkah cepat.
"Apa belum datang juga mobilnya?" tanya Bryan yang terlihat khawatir bercampur emosi dan amarah.
Rendy melihat sekeliling, "Itu Tuan." tunjuk Rendy saat mobilnya baru datang.
Tanpa basa-basi lagi mereka segera masuk dan keluar dari bandara.
"Kita ke apartemennya langsung."
"Baik Tuan."
Sementara Mutia terus saja mencari Freya hingga sudah jauh dari apartemen.
"Hai Mutia..Ngapain kamu disini?"
Mutia menoleh melihat siapa yang menegurnya.
"Sonya."
Sonya mendekati Mutia yang berdiri di dekat cafe.
"Ngapain kamu disini?" tanya Sonya lagi.
"Mencari Freya. Kamu lihat Freya?" tanya Mutia.
"Tadi sih aku lihat dia di daerah Last Night."
"Tapi aku gak yakin sih."
"Mungkin aku salah lihat saja."
"Ya sudah, makasih."
Mutia segera pergi dan mencari taxi untuk pergi ke Last Night.
"Ish...tu anak kebiasaan banget." gerutu Sonya dan berlalu masuk ke cafe.
"Aku menuju Last Night."
"Tadi ada yang melihat Freya di daerah sana."
"Tuan,ada yang melihat Nona Freya di daerah Last Night." kata Rendy setelah membaca chat dari Mutia.
"Ngapain dia ada di sana?" tanya Bryan heran dan kaget tentunya. Dia tahu daerah seperti apa itu, karena itu tempat tongkrongannya dulu.
"Sial!!! Kenapa aku lupa untuk memberi Freya dan Maura bodyguard." umpat Bryan kesal akan keteledorannya.
"Saya tidak tahu Tuan. Lebih baik kita segera kesana."
Bryan mengangguk, "Lajukan mobil lebih cepat."
"Baik Tuan Muda."
Suara musik yang begitu keras membuat Freya meringis sambil sesekali menutup telinganya dan terkadang menutup hidungnya karena bau alkohol yang ingin membuatnya muntah.
Entah apa yang dipikirkan Freya hingga dia masuk ke tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Tempat hiburan malam yang selalu dia hindari dari dulu, tapi sekarang dia masuk ke tempat itu hanya untuk mencari kebenaran yang masih dia ragukan.
"Hai, Nona. Sendirian saja."
"Mau Om temani."
Freya menepis tangan om-om itu yang memegang lengannya.
"Maaf."
Freya segera pergi menjauh dari om-om genit dengan perut buncit itu. Dia menuju meja bartender dia duduk di sana menatap sekeliling mencari orang yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Mau minum apa Nona?" tanya bartender perempuan.
"Orange jus." bartender itu tersenyum tipis mendengar pesanan Freya. Dia yakin kalau Freya belum pernah datang ke Club Malam. Terlihat dari wajah heran dan sedikit takut dan panik itu.
"Ini Nona."
"Terima kasih."
Freya mengaduk-ngaduk dan sesekali dia menyeruput jusnya itu.
"Ada yang bisa saya bantu,Nona?" tanya bartender tadi saat melihat Freya yang terlihat mencari seseorang.
__ADS_1
"Aku mau bertemu Ladysa." jawab Freya
"Madam Ladysa maksud Nona?"
"Iya." Freya tersenyum kikuk.
Bartender itu terlihat mencari seseorang dan dipanggil mendekat.
"Rin..Antar dia. Mau ketemu Madam Ladysa katanya."
Cathrin memicingkanatanya melihat penampilan Freya dari atas sampai bawah. Baju maroon panjang yang terlihat kebesaran dengan celana jeans warna silver. Tak ada yang menonjol sedikitpun dari penampilan Freya, hanya wajahnya saja yang cantik. Cathrin aku itu, karena tubuh Freya tidak semon tok dia.
"Barang baru?" bisik Cathrin
Batender itu hanya mengendihkan bahunya sambil meracik minuman.
"Ayo ikut aku."
Freya berdiri dan mengikuti Cathrin dari belakang.
"Kamu terlihat polos, yakin mau menemui Madam Ladysa?" tanya Cathrin
"Yakin Nona."
Cathrin terkekeh mendengar jawaban Freya
"Siapa nama mu?"
"Freya."
Freya di bawa ke sebuah lorong yang terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang di sana.
"Permisi Madam.!! Ada yang mencari Madam."
Madam Ladysa memicingkan matanya melihat Freya yang berdiri di samping Cathrin.
"Sudah dulu,Madam. Mau cari mangsa lagi."
"Duduklah." perintah Ladysa setelah melihat Cathrin pergi.
Freya duduk dengan ragu di sofa, di sana selain Ladysa ada seorang lelaki yang sedari tadi menatapnya.
"Siapa kamu dan kenapa mencari saya?"
"Saya Freya, Madam."
"Siapa?" tanya Ladysa karena tidak mendengar suara Freya yang seperti bisikan itu.
"Freya, Madam."
"Saya_"
"Buat aku saja dia. Kelihatannya dia masih polos." kata lelaki itu memotong ucapan Freya. Dia menyeringai menatap Freya.
Freya memicingkan matanya mendengar perkataan lelaki itu. Dia paham maksud dari perkataan lelaki itu.
"Saya ingin bertanya sama Madam." ujar Freya.
"Tidak perlu bertanya sayang. Langsung saja kita main." Lelaki itu sudah berdiri didekat Freya yang duduk.
"Maaf, saya tidak ada urusan dengan anda." tolak Freya tegas.
"Ck..pura-pura menolak nyatanya mau."
"Lepas." teriak Freya saat lelaki itu menariknya dibawa keluar menuju kamar yang biasa dia pakai.
"Lepas...Tolong!!!" teriak Freya yang sudah menangis ketakutan.
Bughh
Freya terlepas dari cengkraman lelaki itu saat ada yang menendang tubuh lelaki itu dari belakang.
Mutia segera mendekati Freya yang terlihat ketakutan itu, "Freya kamu nggak apa?" tanya Mutia yang khawatir melihat keaadaan Freya. Dia memeluk sahabatnya itu erat.
"Kurang ajar.!!!!"
Bughh
"Beraninya kau menyakiti wanitaku!!."
Bughh
Bughh
Krekkk
Agghhhhh
"Sekali lagi kau menyentuh wanitaku, tamat riwatmu."
Agghhhhhhh
"Tuan Muda sudah hentikan!! Biar saya yang urus."
Bryan mendorong lelaki itu kehadapan Rendy dengan kasar.
Mutia melepaskan pelukannya pada Freya saat melihat Bryan mendekati mereka. Tanpa banyak bicara lagi, Bryan langsung menggendong Freya keluar dari club malam tanpa mempedulikan tatapan para pengunjung, diikuti Mutia yang berjalan di belakang Bryan sambil membawa tas milik Freya.
Sorot mata pengunjung memandang kepergian Tuan Muda Abrisam dengan penuh tanda tanya, mereka berbisik satu sama lain. Siapakah kira-kira wanita yang sudah membuat seorang Tuan Muda Abrisam itu marah dan bahkan turun tangan dengan sendirinya untuk mengotori tangannya menghabisi musuhnya tanpa ampun.
"Bawa dia kemarkas dan kurung dia." perintah Rendy pada anak buahnya untuk membawa pergi lelaki yang sudah hampir sekarat itu.
"Dan anda,-" Rendy menatap Ladysa dengan mata elangnya, "saya pastikan karir anda akan leyap malam ini juga." Rendy pergi begitu saja tanpa mempedulikan Ladysa yang terlihat memohon ampun di tangan anak buah Rendy yang lain.
🍁🍁🍁
have a nive day
terima kasih atas Like, Vote and Comment juga dukungannya dari kakak-kakak reader.
__ADS_1
terima kasih masih setia menantikan kelanjutan ceritanya Maura : Tragedi Tahun Baru
big hug from far away 🤗🤗🤗