Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Tahan Rend_


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Bryan sudah sampai di markas dimana mantan Manager Keuangan itu dia tahan untuk sementara waktu sebelum akhirnya dia masukkan kedalam penjara. Bryan segera turun dari mobil dan disambut oleh Rendy. Bryan memicingkan matanya saat mengenali salah satu mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari mobilnya.


"Papa ada disini?" tanya Bryan saat melihat mobil Papa Abri terparkir di sana sebelum dia datang. Dia pikir tadi Papa Abri sudah berangkat ke kantor mengingat tadi dia keluar rumah sudah lumayan siang.


"Benar Tuan, tadi Tuan Abrisam datang kesini bersama mantan asistennya."


"Sekarang beliau sudah ada didalam." jelas Rendy sambil melangkah mengikuti Bryan dari belakang masuk ke markas.


"Paman Gani ada disini?" Bryan menghentikan langkahnya menoleh pada Rendy yang ada dibelakangnya.


"Benar Tuan." Rendy membenarkan.


Bryan mengangguk paham, kebetulan sekali pikirnya. Dia bisa bertanya tentang kecelakaan yang menimpa dirinya sepuluh tahun yang lalu secara langsung dan tidak perlu pergi ke kota S.


Bryan mengerutkan keningnya saat melihat mantan asisten Papa Abri, yaitu Gani, Papa dari Bara berdiri di samping Papa Abri dengan sikap tegap dihadapkan kepada mantan Manager Keuangan.


"Kenapa ada Bibi Arta juga disini?" gumam Bryan yang melihat adik dari Papanya duduk di kursi dengan tangan dan kaki diikat. Nampak jelas raut wajah Bibi nya itu terlihat marah.


Papa Abri sendiri terlihat menatap tajam pada mantan Manager Keuangan, sahabatnya yang telah beraninya berkhianat pada dirinya, juga menatap adiknya yang paling bontot dengan tatapan kecewa.


"Kenapa kamu tega melakukan semua ini pada kakak kamu sendiri Arta?" tanya Papa Abri dengan intonasi yang begitu rendah, beliau benar-benar kecewa atas apa yang dilakukan adiknya selama lima tahun terakhir ini.


"Kenapa Kakak bilang? Ckk,"


"Karena kakak lebih peduli sama adik kakak yang selalu kakak banggakan itu."


"Kak Abri sama kak Raya tidak pernah peduli sama Arta."


"Kak Abri selalu membantu perusahaan Kak Raya tapi tidak pernah membantu perusahan aku yang hampir collapse"


"Kakak itu pilih kasih tahu nggak."


"Jadi jangan salahkan Arta kalau Arta meminta Pak Ari untuk melakukan penggelapan uang perusahaan BRATA. Grup."


Bryan terkesiap saat mendengar pengakuan dari Bibinya itu. Dia tidak menyangka selama ini Bibinya lah yang melakukan penggelapan uang perusahaan melalui Pak Ari, mantan Manager Keuangan.


"Rend???" Bryan meminta Rendy menjelaskan semuanya karena dia belum mendapat penjelasan apapun tadi dari Rendy sendiri. Matanya menatap apa yang terjadi di depannya dan mungkin Papa Abri tidak tahu kalau dirinya juga ada di sana karena posisi Papa Abri membelakangi Bryan.


Bryan sendiri tidak percaya akan apa yang telah Bibi Arta perbuat pada Papanya. Kalau dia tahu Bibi Arta akan berbuat sejauh ini mungkin dirinya akan diam-diam membantu perusahaan Bibi Arta tanpa sepengetahuan Papa Abri mengingat Papa Abri memang memberi tahu dirinya untuk tidak ikut campur urusan perusahaan Bibi Arta yang ada di Singapura ataupun Bibi Raya yang ada di Sydney yang tinggal bersama Oma juga Opanya.


"Paman Gani yang kemarin membuat Pak Ari mau membuka suara, karena beliau sempat menyandera keluarga Pak Ari supaya Pak Ari mengaku."


"Dan semalam Paman Gani juga Bara dan yang lainnya yang menangkap Nyonya Arta di bandara yang berniat kabur ke luar negeri."


"Dan kemungkinan Pak Ari hanya dimanfaatkan oleh Nyonya Arta saja." jelas Rendy mengingat cerita yang Bara beritahu padanya tadi pagi.


"Kenapa kamu baru memberi tahu saya sekarang?"


"Kemana saja kamu tadi malam, hah.!!" geram Bryan tertahan. Bryan begitu kesal pada Rendy yang biasanya selalu bisa diandalkan dan selalu cepat tanggap kalau ada masalah dan akhir-akhir ini dia melihat Rendy yang terlihat begitu lelet dan lambat dalam menangani masalah.


"Maaf Tuan." sesal Rendy, dia menunduk mengakui kesalahannya yang memang semalam dia mengikuti Mutia, atau lebih tepatnya pikirannya saat ini terbagi dan tidak bisa fokus lagi.


FLASHBACK ON


Semalam, Rendy yang baru pulang mengantar Bryan langsung bergegas melajukan mobilnya menuju apartemen Mutia. Dia ingin sekali menemui Mutia dan mengganggunya hingga akhirnya mereka beradu mulut. Dia paling suka kalau beradu mulut dengan Mutia.


Rendy menghentikan mobilnya di taman dekat apartemen Mutia. Dia melihat Mutia seperti sedang menunggu seseorang.


"Mau pergi kemana dia?"


"Kenapa berpakaian seperti itu?" gumam Rendy yang melihat Mutia sedikit berbeda.


Cara berpakaian Mutia yang sedikit berbeda dari biasanya. Yang biasanya terlihat santai dan casual saat ini terlihat feminim dengan memakai gaun malam yang panjangnya sampai menutupi kaki dengan belahan belakang sampai lutut. Gaun tanpa lengan dan hanya bertali spaghetti, memperlihatkan pundak juga punggung mulus nan putih Mutia. Rambutnya yang panjangnya sebahu hanya diikat dijadikan satu dengan dikasih tiara kecil di salah satu sisi rambutnya.


Rendy bersiap mau turun dan mendekati Mutia, namun dia urungkan saat melihat sebuah mobil berhenti di depan Mutia.

__ADS_1


"Evan??" gumam Rendy saat melihat Evan turun dari mobil.


"Mau kemana mereka?"


Rendy kembali menutup pintu mobil dan mengikuti mobil Evan yang membawa Mutia pergi. Ternyata Evan mengajak Mutia ke sebuah pesta pernikahan teman sekampus mereka.


Karena sibuk mengikuti Mutia, Rendy sampai tidak memperdulikan handphonenya yang terus saja berdering. Dipikirannya saat itu hanya Mutia saja. Dia takut Mutia kenapa-kenapa mengingat Mutia pergi dengan pakaian yang menurutnya mengundang buaya untuk mendekat.


Dan selama Rendy mengikuti Mutia, untungnya Evan tidak berbuat macam-macam dengan Mutia. Evan mengantarkan Mutia sampai kembali ke apartemen dengan selamat tanpa kekurangan apapun.


Rendy bernafas lega melihat itu. Namun kelegaan itu hanya berlangsung sesaat saja saat dia melihat Alex menyeret Mutia masuk kedalam mobilnya.


"Kurang ajar!! Alex sialan." Rendy melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh mengejar mobil Alex yang juga melaju dengan kencang mengingat hari sudah tengah malam dan jalanan sudah lumayan sepi.


"Kenapa Alex membawa Mutia ke hotel?" Rendy mengerutkan keningnya saat mobil Alex yang dia ikuti masuk ke area hotel dan berhenti di depan lobby.


Rendy memicingkan matanya melihat Mutia keluar dari mobil dengan digendong Alex. Dan terlihat oleh Rendy kalau Mutia pingsan dengan kondisi rambut yang sudah berantakan tidak rapi seperti tadi.


"Sial!! Apa yang Alex lakukan pada Mutia." Rendy bergegas turun dari mobil dan mengikuti Alex.


"Alex!! Berhenti!!" teriak Rendy


Alex menoleh ke belakang dan melihat Rendy melangkah cepat kearahnya. Dengan cepat Alex berlari dan segera masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka.


"Shitt!!!" umpat Rendy saat dia telat masuk ke dalam lift yang dinaiki Alex juga Mutia.


"Kelantai berapa Alex membawa Mutia." gumam Rendy yang khawatir akan terjadi sesuatu hal terburuk pada Mutia.


Rendy melihat kemana lift yang dinaiki Alex juga Mutia berhenti. "17" gumam Rendy dan dia buru-buru masuk ke lift satunya lagi dan menuju lantai 17.


"Bodoh kau Rendy!!" umpat Rendy dengan menarik kasar rambutnya kedepan setelah sampai di lantai 17.


"Di lantai ini tidak hanya ada satu atau dua kamar saja, tapi banyak."


"Boleh saya minta kunci kamar Tuan Alexander CEO ABA corp.?"


"Saya diminta beliau untuk menunggu di kamarnya." ucap Rendy mencari alasan supaya bisa masuk ke kamar hotel yang Alex boxing


"Maaf, anda siapa kalau boleh saya tahu?" tanya petugas hotel dengan sopan juga dengan senyuman.


"Saya Rendy, asisten pribadi Tuan Muda Abrisam Bryan Alvaro." ucap Rendy dengan tegas. "Maaf Tuan Muda, saya memakai nama anda." batin Rendy memanfaatkan nama dan kekuasaan Bryan untuk menyelamatkan pujaan hatinya.


"Ini kuncinya Tuan, ada di lantai 19 nomor 2003."


"Lantai 19?? Bukannya lantai 17?"


"Bukan Tuan. Tuan Alexander CEO ABA Corp. ada di lantai 19 dengan nomor 2003."


"Sial!! Alex telah menipuku."


Rendy bergegas pergi setelah mendapat kunci kamar yang telah Alex boxing. "Aku tidak akan memaafkan mu kalau kamu sampai berbuat macam-macam dengan Mutia, Alexander." Rendy terlihat geram saat mengingat Mutia tadi dalam keadaan pingsan berada dalam gendongan Alex.


Rendy segera membuka pintu kamar 2003 dimana Alex dan Mutia berada di dalam kamar itu. Rendy mengepalkan tangannya juga rahangnya begitu mengeras dan melangkah cepat menuju ranjang. Ditariknya kerah Alex dari belakang dan dihajarnya habis-habisan wajah Alex sialan itu.


"Mati kau Alex."


"Beraninya kau meniduri wanitaku dalam keadaan tidak sadar hah." bentak Rendy dan kembali memberi bogem mentah di wajah Alex hingga hidungnya mengeluarkan darah.


Rendy begitu marah saat melihat Alex tadi menindih Mutia dan menciumi wajah juga leher Mutia disaat Mutia dalam kondisi tidak sadar.


Akkhhhhh


Teriak Alex saat tangannya dipatahkan oleh Rendy yang benar-benar murka melihat wanitanya hampir saja dilecehkan oleh Alex.


"Itu karena tangan Anda telah berani menyentuh tubuh wanitaku."

__ADS_1


Bughh


Rendy menginjak dada Alex dengan kencang yang membuat Alex muntah darah dan sudah terlihat lemas tidak bertenaga lagi.


Rendy mendekati ranjang dan membuka jasnya. Ditutupnya tubuh Mutia menggunakan jasnya.


"Rendy...hihihi kamu tampan sekali."


"Kenapa wangi kamu beda dengan yang tadi?"


"Yang tadi bikin aku mual, tapi yang sekarang aku sangat menyukainya." Mutia meracau tidak jelas sambil tertawa saat Rendy memakaikan jas ditubuhnya


Rendy menyingkirkan tangan Mutia yang memegang kedua pipinya. "Apa yang telah Alex berikan kepada kamu tadi? Kenapa tidak melawan." geram Rendy mengingat Mutia yang biasanya sulit didekati dan melawan kenapa tadi bisa terjebak oleh Alex.


"Cium aku..." Mutia memajukan bibirnya kedepan, tangannya dia kalungkan di leher Rendy.


"Nggak usah aneh-aneh, ayo kita pergi dari sini." Rendy menyentil kening Mutia membuat yang punya kening mengaduh, namun masih tetap memejamkan matanya.


"Obat apa yang telah Alex berikan kepadanya." gumam Rendy dan membawa Mutia keluar dari kamar itu meninggalkan Alex yang telah tidak sadar itu.


Rendy menurunkan Mutia saat sudah sampai di lift. Dengan satu tangan dia menahan tubuh Mutia menempel pada tubuhnya supaya tidak jatuh mengingat Mutia saat ini tengah dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Dan tangan lainnya dia gunakan untuk menelepone anak buahnya untuk membereskan masalah Alex.


Rendy memejamkan matanya saat dua benda kenyal yang Mutia miliki menempel di dadanya juga terlihat menyembul keluar karena tali spaghetti itu telah lepas.


Rendy meneguk salivanya susah payah saat tidak sengaja melihat dua benda kembar nan kenyal itu. Dia merapatkan jas yang dia pakaikan pada Mutia untuk menutupi benda kembar itu. Digendongnya kembali Mutia ala bridal style.


Rendy mendudukkan Mutia di kursi depan dan tidak lupa memakaikan sabuk pengaman namun Mutia menghalanginya terus hingga membuat gaun yang Mutia pakai semakin merosot kebawah.


Rendy yang panik langsung menutup pintu dan dia sendiri berlari kecil mengitari mobil dan segera masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi dari area hotel.


"Ujian malam ini benar-benar berat." Rendy mencengkram erat kemudi mobil tanpa berani melirik ke arah Mutia yang duduk disampingnya.


Apalagi sekarang Mutia terlihat kepanasan dan jas milik Rendy sudah dia lepas. Gaunnya yang panjang sampai kaki, dia singkap sampai paha. Bahkan bagian atas dua bukit kembar itu sudah terpampang jelas.


Rendy beberapa kali menelan salivanya, bahkan punyanya sedari tadi sudah mengeras hanya dengan melihat saja.


"Sial!!! Kalau seperti ini mana tahan aku." umpat Rendy yang sudah mulai pusing karena pikirannya benar-benar liar ditambah pemandangan disampingnya yang begitu menggiurkan. Ingin rasanya dia menuntaskan hasratnya saat melihat wanita disampingnya begitu siap untuk diterkamnya.


Tubuh Rendy menegang saat tangan Mutia menyentuh pahanya dan meraba pahanya hingga naik keatas yang hampir saja mengenai belutnya yang sudah terbangun sedari tadi.


"Alex sialan!! Dia memberikan obat laknat itu pada Mutia." umpat Rendy yang tanpa sengaja melihat mata Mutia yang sudah terbuka. Rendy bisa menebak kalau saat ini obat yang sudah diberikan oleh Alex sudah bereaksi.


"Singkirkan tanganmu itu Mutia." Rendy memegang tangan Mutia yang berada diatas pahanya dan menyingkirkan tangan Mutia.


"Egghhh...Panas Rend." kedua tangan Mutia memeluk lengan Rendy. Kepalanya dia usapkan di lengan Rendy yang masih berbalut kemeja.


"Shitt...tahan Rend..tahan.." Rendy benar-benar merutuki Alex yang telah beraninya memberi Mutia obat laknat itu.


Rendy benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dalam mengemudi saat ini. Dengan terpaksa dia membelokkan laju mobilnya di sebuah taman yang sudah sepi pengunjung.


"Rend.." suara Mutia terdengar serak.


"Jangan salahkan aku, Tia."


"Mata kamu mirip sekali sama si kutu buku, gendut dan gemmmppphhhhh_,"


FLASHBACK OFF


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, vote, comment, and gift


big hug 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2