
Setelah seharian berada di luar ruangan, Maura langsung terkapar di tempat tidur. Dia sudah tidur, padahal baru jam setengah enam petang. Tadi setelah dari makam tempat peristirahatan terakhir Bapak Armand, Bryan menepati janjinya membawa Maura dan yang lainnya jalan-jalan di kota S. Mereka seharian main di Surabaya North Quay, mereka mencoba berbagai macam kuliner sambil melihat pemandangan kapal pesiar yang berjejer rapi. Setelahnya dilanjut ke Jalan Gula Spot Foto, mereka berswa foto dengan berbagai macam properti yang telah disiapkan di sepanjang jalan. Dan rencana selanjutnya akan ke Surabaya Carnival Park, namun diurungkan karena Maura sudah capek dan mengantuk.
"Ayo kita pulang Bunda. Kaki Maura sudah capek, Maura juga mau tidur di kasur yang empuk." kata Maura saat merengek sudah kecapekan dan mengantuk, padahal dari tadi Maura hanya berada di gendongan Ayah Bryan. Dan bisanya dia bilang kalau kakinya capek.
Bryan menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyum tipis saat melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan masih memakai bathtobe yang membalut tubuh polos istrinya, juga rambut yang basah membuat istrinya itu terlihat segar dan begitu menggoda imannya yang minim dan setipis kapas.
"Cantik!" gumam Bryan dengan menatap penuh binar pada istrinya yang saat ini tengah mengeringkan rambut yang basah dan terlihat begitu sek si dimatanya.
"Pemandangan senja yang indah. Jauh lebih indah dari warna jingganya langit." ucap Bryan lirih mengagumi kecantikan istrinya yang menurutnya semakin hari semakin cantik. Apalagi semenjak Freya hamil, Bryan sungguh tidak bisa berbohong kalau istrinya itu jauh lebih cantik dari biasanya, selalu membuatnya terpesona.
"Kamu tidak capek kan sayang?" tanya Bryan yang berdiri dari rebahan nya di ranjang samping Maura yang terlihat begitu pulas dalam tidurnya, padahal belum mandi sepulang dari jalan-jalan tadi.
"Memangnya kalau Freya capek kenapa?"
"Mas Bryan mau memijat Freya gitu?"
"Dengan senang hati Freya akan menerima pijatan dari Mas Bryan." dengan tangannya yang masih sibuk mengeringkan rambutnya, Freya menatap pantulan Bryan yang tengah berjalan mendekati dirinya.
"Kalau pijatnya pijat plus-plus, kamu mau kan sayang." Bryan mengambil hair dryer dari tangan Freya dan sekarang giliran dirinya yang membantu mengeringkan rambut istrinya.
"Itu mah maunya Mas Bryan." cibir Freya sambil menatap pantulan suaminya yang tengah mengeringkan rambut panjangnya dari cermin. Dengan hanya memakai celana panjang tanpa kemeja yang tadi dipakainya, entah sudah dicampakkan kemana kemeja itu, Freya tidak melihatnya. Suaminya itu terlihat begitu menggoda dan ingin rasanya Freya menggigit roti sobek di perut suaminya itu.
Bryan hanya terkekeh saja, dia paling suka menggoda istrinya itu. Apalagi kalau masalah ranjang, pasti istrinya itu akan mencibir ataupun mengejeknya, padahal dalam hati malu-malu kucing. Buktinya tiap kali olahraga ranjang istrinya itu akan senang dan merasa puas, seperti dirinya yang puas karena bisa mengeluarkan semburan lahar panas di goa Freya beberapa kali di tiap ronde nya.
"Katanya tadi Mas Bryan mau memberi Freya kejutan."
"Mana kejutannya?" Freya memutar tubuhnya menghadap Bryan, kedua tangannya menengadah dengan kepala sedikit mendongak menatap Bryan yang berdiri begitu dekat di hadapannya. Tidak lupa Freya juga menyunggingkan senyumnya.
"Kejutannya tidak ada disini."
"Kejutannya masih aku siapkan." Bryan menepuk pelan tangan Freya yang menengadah meminta kejutan.
"Sudah hadap depan lagi. Rambutnya masih basah." Freya mendengkus dan kembali ke posisi semula seperti perintah Bryan.
"Mas Bryan aja masih disini, gimana mau menyiapkannya?" tanya Freya dengan tangan yang sibuk membuka beberapa alat make up miliknya.
"Paling juga yang menyiapkan kejutannya bukan Mad Bryan sendiri, melainkan anak buahnya Mas Bryan." cibir Freya melirik Bryan yang terlihat begitu menghayati setiap proses mengeringkan rambut.
Bryan hanya tersenyum tipis mendengar cibiran dari istrinya itu. "Kalau ternyata yang menyiapkan suami tampanmu sendiri. Aku akan kamu kasih apa?" Bryan menatap Freya dari pantulan cermin dengan tangan yang masih mengeringkan rambut istrinya yang tinggal sedikit lagi yang masih basah.
"Memang Mas Bryan mau apa dari Freya?" tantang Freya. Dia mendongak, menatap Bryan yang berdiri di belakangnya.
"Kamu tanya aku mau apa?" Bryan memicingkan matanya menatap Freya yang terlihat tengah meremehkan dirinya.
"Hm.." Freya mengangguk dengan senyum remehnya.
"Kalau aku mau ini bagaimana?"
Mata Freya mengerjap beberapa kali saat bibir Bryan tiba-tiba menyambar bibirnya dan menciumnya rakus. Sungguh, suaminya itu selalu mengambil kesempatan dalam kesempetin di manapun mereka berada.
Aaarggghhhh
Teriak Freya saat rambutnya masuk ke mesin hair dryer.
Bryan yang panik dan bingung lantas mencabut aliran arus listrik hair dryer.
"Sayang, maaf. Aku tidak sengaja." dengan penuh penyesalan dan kepanikan Bryan mencoba melepaskan rambut Freya yang masuk ke mesin hair dryer.
Freya menatap Bryan yang terlihat begitu kesusahan melepas rambutnya yang ketarik dan masuk mesin hair dryer dengan penuh amarah dan kebencian.
Bryan beberapa kali menelan ludahnya saat melihat tatapan istrinya yang seperti singa betina yang siap menerkamnya. "Nggak lucu kan kalau hanya karena aku menciumnya, terus aku kena kartu merah darinya gara-gara membuat rambutnya nyangkut di hair dryer." gumam Bryan dalam hati.
"Hmm..." Bryan berdehem perlahan.
"Sayang, rambutnya aku potong saja ya." Bryan tidak berani menatap istrinya, dia tahu kalau istrinya sekarang ini ingin sekali menerkam dirinya. Mengingat Freya yang saat ini begitu suka memiliki rambut panjang.
__ADS_1
"Saya_" Aaarrggghhhhh teriak Bryan saat kakinya diinjak begitu keras oleh Freya.
Bryan menelan salivanya kasar melihat Freya yang menatapnya tajam penuh amarah. Dia hanya menahan sakit di kakinya, tidak berani mengeluh lagi. Dan dia baru tahu kalau istrinya itu memiliki tenaga dan kekuatan di luar dugaannya.
"Apa selama ini Freya hanya pura-pura lemah saja ya? Mantap banget tadi injakan kakinya." batin Bryan yang merasakan sakit di kakinya.
Freya merebut hair dryer dari tangan Bryan secara kasar dan pergi begitu saja masuk ke kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
BRRRAAKKKKK
Bryan terlonjak kaget saat mendengar pintu kamar mandi ditutup begitu kencangnya oleh Freya. Dia melirik Maura, takut kalau Maura terkejut dan bangun dari tidurnya terus nangis.
Huufftttttt
"Alamat gagal nanti kejutannya."
"Kenapa juga tadi waktu aku cium Freya tidak aku matikan dulu hair dryer nya."
"Hair dryer sialan!!" umpat Bryan pada benda mati yang saat ini dibawa istrinya ke kamar mandi.
"Ihh...semua ini karena Tuan Muda sombong itu."
"Harus banget ya dipotong." Freya menatap sedih pada rambutnya yang masih menyangkut dan masuk di mesin hair dryer.
Freya menghembuskan nafas perlahan dan mengeluarkan gunting dari laci. "Kalau dipotong rambutku jadi pendek dong."
"Akkhhhh...Tidak tidak tidak." Freya menggelengkan kepalanya beberapa kali membayangkan rambutnya pendek seperti dulu. Pasti akan semakin bulat wajahnya mengingat sekarang dirinya tengah hamil dan timbangan berat badannya sudah naik beberapa kilogram.
"Aku nggak mau punya rambut pendek." Freya menatap pintu kamar mandi dengan tatapan tajam seolah Bryan ada di balik pintu itu.
"Mas Bryan!!!!" teriak Freya sekencangnya sampai lupa kalau dirinya tengah berbadan dua.
Freya meringis saat perutnya tiba-tiba terasa kencang. Dia terus mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan hatinya. "Maafin Bunda ya anak Bunda sayang." ucap Freya lirih sambil mengusap lembut perutnya.
Brakk
"Perut kamu kenapa? Debay nya tidak apakan?" Bryan menunduk dan mencium perut Freya sambil mengusapnya lembut.
"Mas Bryan jahat! Freya nggak mau rambutnya dipotong. hiks hiks hiks." Freya memukul pelan pundak Bryan, dirinya begitu kesal akan ulah suaminya tadi yang mengakibatkan rambutnya nyangkut dan masuk ke mesin hair dryer.
Bryan menegakkan berdirinya dan memegang salah satu tangan Freya yang digunakan untuk memegangi hair dryer. Digantikannya Freya memegangi hair dryer itu.
"Aku minta maaf, aku tadi tidak sengaja."
"Sudah ya jangan nangis lagi." Bryan mengusap air mata yang jatuh di pipi Freya.
"Terus ini bagaimana? Freya nggak mau rambutnya dipotong pendek." rengek Freya yang kekeh rambutnya tidak mau dipotong.
Bryan menghembuskan nafas perlahan, kalau sudah merengek seperti ini bukan dengan cara paksa untuk mengalihkan perhatian istrinya itu, harus dengan cara lembut dan menuruti apa yang diinginkan istrinya itu.
"Coba kamu lihat cermin di depan kamu."
"Kamu menghadap ke cermin dulu." Bryan memutar tubuh Freya menghadap ke cermin.
"Mas Bryan mau apa?" tanya Freya saat melihat suaminya itu mengambil gunting yang tadi dia ambil dan letakkan di atas wastafel.
"Mau buka mesinnya. Aku gunakan gunting karena tidak mungkin ada obeng disini." Freya bernafas lega saat tahu suaminya mengambil gunting bukan untuk memotong rambutnya melainkan digunakan sebagai obeng.
"Maafkan aku sayang." gumam Bryan lirih dan masih terdengar oleh Freya.
"Maaf untuk ap,_" mata Freya melotot menatap pantulan suaminya dari cermin.
"Mas Bryan!!" Freya berbalik dan memukul beberapa kali lengan juga dada suaminya dengan kesal.
"Katanya guntingnya Mas Bryan pakai buat buka mesinnya, tapi kenapa rambut Freya justru Mas Bryan potong?" Freya begitu kesal dan geram pada suaminya itu.
__ADS_1
"Maaf sayang." ucap Bryan sambil meletakkan hair dryer yang sudah lepas dari rambut Freya karena dipotongnya rambut sang istri.
"Maaf maaf maaf. Rusak kan jadinya rambut Freya."
"Mas Bryan nyebelin. Mas Bryan harus tanggung jawab." sungut Freya dengan menggeser tubuhnya menjauh dari suaminya yang tidak bisa dipercaya itu dan juga selalu membuat ulah.
"Sini.." Bryan menarik tangan Freya untuk lebih pada dirinya. "Aku akan tanggung jawab."
Freya hanya mendengkus saja. Dirinya sudah terlanjur kesal pada suaminya itu. Sudah dipastikan, pada akhirnya rambutnya akan dipotong pendek juga karena sudah duluan kepotong akibat nyangkut pada mesin hair dryer.
Bryan melirik sekilas pada Freya yang sudah begitu kesal dan marah pada dirinya. Dengan memegang gunting juga sisir, Bryan berkreasi pada rambut istrinya.
"Senyum dikit napa? Kasihan itu debay nya pasti sedih karena Bundanya dari tadi marah-marah saja." Freya hanya melirik tajam pada pantulan suaminya di cermin.
"Apa kamu takut terlihat gendut dengan rambut pendek? Makanya kekeh ingin rambut panjang." Freya hanya diam saja tidak mau menanggapi ocehan suaminya itu. Hatinya sudah lebih dulu dongkol dengan ulah suaminya tadi.
Bryan terkekeh sendiri karena Freya sama sekali tidak menanggapi omongannya.
"Haduh..jangan sampai karena hair dryer kejutan yang aku siapkan gagal."
"Padahal tadi sudah aku pesankan sesuatu yang mahal dari luar negeri dan sudah sampai barangnya."
"Hufffttt...Apa buat Anelis saja ya. Dia kan seorang wanita, pasti suka dengan hadiah kejutan yang sudah aku pesan tadi."
"Pasti dia mau, apalagi yang ngasih lelaki tampan dan pastinya dulu pernah dihatinya." Bryan mencoba untuk menahan diri untuk tidak tertawa saat tak sengaja melihat pantulan Freya di cermin yang melotot penuh amarah pada dirinya.
"Mas Bryan nyebelin, Mas Bryan ngeselin." Freya pergi begitu saja dari kamar mandi. Dirinya begitu kesal dengan omongan Bryan tadi yang dengan mudahnya memberikan hadiah kejutan pada Kakaknya, Anelis.
"Seenaknya saja ngasih hadiah kejutan buat kak Ane."
"Aku kan belum menolaknya."
"Sok tahu sekali dia kalau aku tidak mau kejutan yang telah dia siapkan."
"Suami tidak tahu diri, memotong rambut seenaknya sendiri." sungut Freya dengan hidung yang kembang kempis menunjukkan kekesalan dan amarah.
"Lihat!! Jelek kan jadi...nya." Freya speechless dengan hasil potongan rambutnya yang tadi dikerjakan oleh Bryan. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di cermin saat ini.
"Ini yakin tadi Mas Bryan yang motong rambut aku." Freya begitu tidak percaya dengan hasil karya suaminya sendiri.
"Ini sungguh diluar dugaanku."
"Aku kira tadi dipotong pendek."
"Ternyata hanya dirapikan saja dan hasilnya sungguh diluar dugaanku." Freya tersenyum sendiri dengan menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri sambil memainkan rambutnya.
"Tidak jadi nyebelin deh. Mas Bryan is the best pokoknya." gumam Freya dan berjalan ke arah kamar mandi dimana pintunya yang tertutup dan terdengar suara gemericik air.
"Terima kasih suamiku sayang."
"Cepat mandinya ya, aku tunggu kejutannya nanti."
Bryan yang tengah menggosok rambutnya dengan shampoo tersenyum saat mendengar teriakan istrinya dari luar.
"Dasar betina, marahnya saja didahulukan setelah lihat hasilnya langsung klepek-klepek."
🍁🍁🍁
Assalamualaikum
Maaf ya baru up lagi, terlalu banyak deadline akhir tahun hingga melupakan dunia kehaluan sejenak.
Terima kasih buat para FreBry Lovers yang masih setia menantikan kelanjutan kisah Freya juga Bryan.
Sehat selalu buat kalian para pembaca dan author.
__ADS_1
Big Hug from far away 🤗🤗