Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Seorang penguntit


__ADS_3

Begitu senangnya dia diminta untuk menjemput Mutia, Rendy sampai melupakan mobilnya sendiri yang terparkir di basement. Karena dia sudah sampai lobby dan malas untuk berjalan menuju basement, Rendy memilih mobil yang biasa dipakai Freya yang masih terparkir di depan lobby. Tanpa rasa takut, Rendy meminta sopir juga pengawal Freya untuk turun dari mobil.


"Jangan bilang Tuan Muda juga Nona Freya, atau kalian dapat masalah." ancam Rendy dengan tegas dan penuh tekanan, tidak lupa dengan wajah dan tatapan dinginnya sebelum melajukan mobil keluar dari area perusahaan BRATA Grup.


Butuh waktu lima menit perjalanan menuju ke perusahaan ABA Corp. tempat Mutia bekerja. Namun waktu lima menit itu begitu lama menurut Rendy. Dia selalu mengumpat setiap melihat banyak kendaraan yang berani mendahuluinya. Apalagi saat ini jalanan ramai bertepatan jam istirahat kantor.


"Sial..Mobil Nona Freya tidak pernah di service apa!!!"


"Lelet banget jalannya."


Rendy memukul kemudi mobil dengan keras. Dia menyalahkan mobil yang tidak memiliki salah apapun. Karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu Mutia. Karena sudah seminggu ini dia tidak bertemu Mutia juga Mutia tidak pernah membalas ataupun mengangkat telephone darinya sejak Mutia mempertemukan Alex dengan Paman juga Bibi Mutia.


Terakhir bertemu pun itu sudah lama saat di apartemen Mutia saat Freya ada di sana. Sejak saat itu dia tidak bertemu lagi secara langsung dengan Mutia. Hanya seminggu lalu dia menguntit Mutia secara langsung saat mempertemukan Alex dengan Paman juga Bibi Mutia.


FLASHBACK ON


Rendy yang mengetahui kabar dari anak buahnya yang selalu menguntit Mutia begitu marah saat tahu Mutia akan mempertemukan Alex dengan Paman juga Bibi Mutia yang kebetulan mengunjungi Mutia di kota J.


Sebelum pertemuan itu berlangsung, Rendy terlebih dahulu menemui Paman juga Bibi Mutia yang tinggal di hotel. Namun bukan Rendy sendiri yang menemui Paman juga Bibi Mutia, melainkan dia meminta anak buahnya untuk mengirim dan memberi sebuah vidio kelakuan Alex.


"Bagaimana?" tanya Rendy saat melihat anak buahnya yang baru saja kembali setelah mengantar rekaman vidio kepada Paman juga Bibi Mutia.


"Sudah diterima dan mereka tidak curiga, Bos."


"Dan sebentar lagi mereka menuju restoran di lantai 4 untuk bertemu Nona Mutia juga Tuan Alex." lapor anak buah Rendy.


Rendy mengangguk paham dan meminta anak buahnya untuk segera pergi. Rendy yang masih duduk di sekitar lobby hotel melihat sekeliling memastikan Mutia juga Alex belum datang. Dia segera ke lantai 4 untuk mencari tempat yang pas untuk mengintai wanitanya.


"Alex sialan!!" umpat Rendy saat melihat Mutia dan Alex memasuki restoran. Tangannya mengepal kuat sampai membuat buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam tangan Alex yang merangkul pundak Mutia posesif seakan Mutia adalah miliknya seorang.


"Beraninya dia menyentuh wanitaku." geram Rendy yang tidak menyukai tindakan Alex terhadap Mutia.


Ingin rasanya Rendy menarik Alex dari Mutia dan menghajar habis tampang mesum Alex. "Dasar playboy kadal."


Rendy lantas mempertajam pendengarannya saat terjadi ketegangan di meja yang di tempati Mutia dan Alex juga Paman dan Bibi Mutia.


"Paman tidak menyetujui bahkan tidak merestui hubungan kalian berdua." kata Paman Mutia saat Mutia memperkenalkan Alex sebagai pacarnya.


Pacar bohongan lebih tepatnya, karena Mutia memang meminta Alex untuk menjadi pacar bohongan nya dan untuk kedepannya masih Mutia pikirkan lagi mengingat kelakuan Alex selama ini yang sering main celap celup.


"Bibi juga tidak setuju." timpal Bibi Mutia menatap tidak suka pada Alex.


"Kamu akan menikah dengan anak teman Bibi sesuai keinginan Ayah dan Ibu kamu sebelum meninggal."


"Ahh salah..Bukan keinginan, tapi wasiat kedua orang tua kamu, Mutia."


"Kamu harus menikah dengan Yudha sesuai wasiat Ayah dan Ibu kamu."


"Yudha itu anak baik dan dia sekarang jauh lebih tampan dari yang dulu."


"Mungkin saat kamu melihat Yudha nanti, kamu akan langsung meninggalkan pacar kamu yang sekarang ini." Bibi Mutia menatap Alex dengan mencibir penampilan Alex yang sedikit sensual. Karena kemeja yang tidak memakai dasi dibuka tiga kancing bagian atas juga jas yang dipakainya tidak dikancingkan. Dan Bibi Mutia tidak menyukai penampilan laki-laki seperti Alex itu.


"Apa yang di katakan Bibi kamu benar, Mutia."


"Meskipun kamu sudah punya pacar, tapi kamu akan tetap menikah dengan Yudha teman kecilmu dulu." sambung Paman Mutia yang juga tidak menyukai Alex.


"Tapi Mutia tidak suka sama Yudha, Paman, Bibi."


"Paman sama Bibi juga tahu dulu Mutia sama Yudha tidak pernah akur."


"Bahkan kami selalu berantem dan tidak ada yang mau mengalah." Mutia menatap Paman dan Bibinya bergantian mengingat masa kecilnya bersama Yudha di yang tidak pernah akur.


"Itukan dulu Mutia. Coba kamu temui Yudha dulu."


"Siapa tahu kamu nanti suka."


"Dia juga kerja di kotak ini, Nak." kata Bibi Mutia


"Sampai kapanpun Mutia tidak akan menikah dengan Yudha si kutu buku itu. Mana dia gendut, berkaca mata dan Mutia tidak menyukainya."


"Mutia hanya mau sama Alex."


"Karena Alex pacar Mutia saat ini dan Mutia suka sama Alex tidak dengan yang lain." Mutia menggigit bibir bawahnya. Hatinya terasa sakit saat mengatakan kalau dirinya menyukai Alex. Padahal dia tidak memiliki rasa apapun pada Alex. Hatinya sudah tertaut pada seseorang yang selalu membuatnya marah dan emosi akhir-akhir ini.


"Kami saling menyukai Paman, Bibi."


"Bahkan kami juga sudah sering tidur bersama."


"Bukan begitu sayang." dengan tatapan genitnya Alex menatap Mutia yang sudah melotot menatapnya.


"Ini tidak sesuai sekenario yang kita buat sebelum datang ke sini." begitulah kira-kira arti tatapan Mutia pada Alex.


"Kurang aja kamu!!!"


Plakk


Alek memegang salah satu pipinya yang tadi ditampar Paman Mutia.


Rendy menatap tajam pada Alex yang telah berani meniduri wanitanya dan dia tidak tahu soal itu. "Dasar mereka tidak bisa bekerja dengan becus." geram Rendy pada kinerja anak buahnya yang menguntit Mutia.


"Paman!!!"


"Kenapa Paman menampar Alex?" Mutia begitu kaget saat Pamannya dengan berani menampar Alex, seorang CEO dari ABA Crop.


"Kenapa kamu bilang?"


"Dia sudah berani meniduri kamu dan kamu bilang kenapa."


"Apa kamu mau terkena penyakit karena lelaki breng sek ini." Paman Mutia begitu marah sampai tangannya menunjuk Alex.

__ADS_1


"Mana tadi Vidio nya. Kasih tunjuk pada keponakan kamu itu."


"Biar dia sadar seperti apa kelakuan pacarnya itu." kata Paman Mutia dengan tegas pada Istrinya.


Bibi Mutia mengeluarkan kamera yang tadi dikirim oleh orang tidak dikenalnya. Dan dibukanya vidio yang isinya kelakuan Alex yang sering main perempuan.


"Laki-laki seperti ini kamu ingin nikahi Mutia?".


"Apa kamu tega membuat kedua orang tuamu sedih melihat anaknya jatuh ke tangan yang salah."


"Paman benar-benar kecewa sama kamu, Mutia."


Mutia menatap Paman dan Bibinya bergantian, darimana Paman dan Bibinya mendapat vidio itu, pikir Mutia. Karena setahu dia, Paman juga Bibinya tidak memiliki kenalan disini kecuali Freya. Tapi Freya tidak tahu kalau Paman juga Bibinya mengunjungi dirinya.


"Yudha!! Tidak mungkin Paman dan Bibi sudah bertemu Yudha di sini." batin Mutia.


"Rendy!!! Ya, pasti Rendy yang memberikan vidio itu."


"Dasar Rendy sialan. Bisa tidak sih dia membuat hati ku tenang walau sehari saja." geram Mutia dalam hati mengingat Rendy yang selalu menghantuinya.


Alex hanya tersenyum tipis melihat vidio dirinya yang sedang bercumbu dengan seorang wanita. Dia tahu siapa orang yang memberi tahu vidio itu. Siapa lagi kalau bukan saingannya untuk mendapatkan Mutia.


"Ayo kita pergi. Anggap saja kita tidak memiliki keponakan seperti dia." Paman Mutia mengajak istrinya yang sedari tadi menangis dalam diam pergi untuk kembali ke kamar.


"Paman, Bibi!!! Alex tidak seperti yang kalian pikirkan. Mutia bisa jelasin." Mutia berusaha menahan Paman juga Bibinya. Dia juga ikut menangis,bukan seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin membatalkan perjodohan dengan Yudha, bukan dia yang mendapat masalah karena Alex yang mengatakan omong kosong yang membuat Paman dan Bibinya marah dan kecewa padanya.


"Kami bukan Paman dan Bibimu lagi."


Mutia menangis melihat Paman dan Bibinya pergi meninggalkan dirinya tanpa mau mendengar penjelasan darinya.


"Sudah nggak usah menangis lagi."


"Ayo kita makan dulu, aku sudah menahan lapar dari tadi."


Mutia menghapus air matanya dengan kasar dan menatap Alex dengan tajam. Bisa-bisanya lelaki yang tadi mengatakan omong kosong yang tidak ada bukti nyatanya menyantap makanan dengan begitu lahap.


"Sakit kamu, Alex."


"Kenapa kamu ngomong seperti itu pada Paman juga bibi aku?"


"Itu tidak ada di dalam rencana kita tadi sebelum kesini."


"Gila kamu." geram Mutia pada Alex yang menghentikan makannya.


"Sini duduk dulu." Alex menarik tangan Mutia untuk duduk kembali.


"Itu tadi memang tidak ada dalam rencana kita."


"Tapi kalau kamu mau berhasil membatalkan perjodohan kamu itu,.."


"Omonganku tadi pasti akan berhasil membuat Paman dan Bibi kamu membatalkan perjodohan kamu dengan si Yudha itu."


Mutia memicingkan matanya menatap Alex. Benar juga sih, batin nya.


"Tapi kita tidak pernah tidur bersama."


"Beraninya tadi kamu ngomong seperti itu" geram Mutia mengingat omongan Alex tadi.


"Memang kamu mau tidur bersama playboy ini." Alex menaik turunkan kedua alisnya menatap Mutia.


"Dasar partner sinting." Mutia menyambar tasnya.


"Ayo anter aku pulang!" Mutia berdiri dari duduknya.


"Kamu nggak makan dulu." kata Alex mengingat Mutia tadi yang belum sempat mencicipi apapun. Bahkan minumannya masih utuh.


"Sudah hilang selera makanku."


Rendy menatap kepergian Mutia dan Alex dengan tangan mengepal begitu erat. Dia tidak menyangka Mutia memang berniat untuk membatalkan perjodohan itu. Tapi seenggaknya dia sedikit lega karena Mutia tidak pernah tidur dengan Alex.


"Jadi kamu benar-benar mau membatalkan perjodohan itu Mutia." Rendy menyeringai jahat.


"Itu tidak akan terjadi kalau Rendy Yudha Pratama masih hidup."


"Akan aku pastikan kalau perjodohan yang sudah diatur keluargamu itu akan tetap berlanjut."


"Dan rencanamu itu akan gagal Mutia Amalia Azmy."


FLASHBACK OFF


"Mutia!!!"


Mutia dan beberapa teman satu devisi keuangan yang tengah ada di lobby menuju cafetaria menoleh mencari sumber suara yang memanggil Mutia. Apalagi yang memanggil itu suara seorang lelaki dan itu jarang terjadi dan itu membuat teman-teman kerjanya penasaran.


"OMG....Bukannya itu Tuan Rendy, asistennya Tuan Bryan."


"Ya ampun ganteng bangetttt."


"Gila...Itu manusia atau vampir."


"Apa Tuan Rendy tadi memanggil aku?"


"Yeee..PD banget jadi orang."


Mutia memutar bola matanya jengah melihat kelakuan teman-teman satu devisinya. "Macam tidak pernah lihat orang ganteng saja." batin Mutia yang geram.


"Bisa ikut saya sebentar, Nona Mutia."


Seorang temannya menyenggol lengan Mutia, "Itu Tuan Rendy manggil kamu." bisiknya.

__ADS_1


"Bisa ikut saya sekarang, Nona."


"Tuan Bryan juga Nona Freya menanti kehadiran anda sekarang juga."


"Itu Mutia cepat.." tubuh Mutia didorong teman-temannya mendekat ke Rendy.


"Kita duluan ya, Mut."


"Permisi Tuan Rendy.." pamit teman-teman Mutia dengan menatap genit pada Rendy.


Rendy hanya menampilkan tampang datar dan dingin saja. Dia malas menanggapi wanita-wanita genit dengan mata jelalatan seperti teman Mutia tadi.


"Ambil tas kamu dan jangan membuat Tuan Muda juga Nona Freya menunggu lama." Mutia mencibir Rendy lantas kembali ke ruangannya.


"Bukannya ini mobilnya Freya?" tanya Mutia saat dia akan masuk ke dalam mobil.


"Iya, untuk membuktikan kalau saya tidak berbohong pada anda." kilah Rendy, padahal nyatanya dia tadi malas mengambil mobilnya hanya karena ingin cepat bertemu Mutia.


"Kenapa belok kesini. Katanya sudah ditunggu Freya sama Tuan Bryan." protes Mutia saat mobil yang Rendy kendarai masuk ke parkiran restoran.


"Saya mau makan siang dulu. Laper."


Mutia mendengkus dan mau tidak mau ikut turun dan masuk ke restoran. Dia juga lapar mengingat saat ini sudah lewat dari jam dua belas.


"Kak Mutia!!"


Mutia tersenyum melihat pemuda, seorang mahasiswa yang menghampiri dirinya. "Hai, No." Mutia melambaikan tangannya.


Rendy memejamkan matanya sejenak saat mengenali suara itu. Dia menghembuskan nafas perlahan dan menoleh ke belakang dan benar saja dia sangat kenal, bahkan kenal luar dalamnya.


Rendy memberi peringat kepada pemuda itu dari tatapan matanya untuk diam dan tidak bicara macam-macam.


Pemuda itu hanya tersenyum saja seolah tidak kenal dan tidak memperdulikan tatapan Rendy. "Boleh gabung, Kak." tanyanya pada Mutia.


"Boleh duduk saja, sini." Mutia menggeser duduknya supaya Nino adik dari Yudha duduk di sampingnya.


"Terima kasih calon kakak ipar ku sayang." Nino memeluk Mutia dan menjulurkan lidahnya pada Rendy yang terlihat geram itu.


"Hanya Kakak, bukan calon Kakak ipar." ralat Mutia yang memang tidak ingin menikah dengan Yudha.


"Ahhh iyaa ya..Nino tahu Kak Mutia tidak mungkin menyukai Kak Re..maksudnya Kak Yudha yang gendut dan kutu buku itu." Nino melirik Rendy yang memberi peringatan lewat tatapan mata.


"Siapa dia kak? Pacar kak Mutia." Nino menunjuk Rendy dengan dagunya. Yang ditunjuk terlihat kembali menikmati makanannya dan tidak terusik selagi Nino tidak bicara yang macam-macam lagi pada Mutia.


"Bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang penguntit."


"Hmmppffttt..." Nino menahan tawanya mendengar jawaban Mutia. Namun akhirnya dia tertawa juga saat Rendy kesedak makanannya.


"Jangan di tertawakan. Kasihan dia masih jomblo dan belum menikah." cibir Mutia menatap Rendy yang juga tengah menatapnya.


Nino terkekeh melihat Mutia dan Rendy bergantian.


"Ehemm." Rendy berdehem setelah selesai makan.


"Sebaiknya kita cepat kembali sebelum Tuan Bryan juga Nona Freya marah." kata Rendy yang tidak ingin berlama-lama di sana apalagi ada Nino yang bisa saja keceplosan kalau sudah bercerita.


"Saya ke toilet sebentar."


Setelah Mutia tidak terlihat Rendy lantas berdiri dan mendekati Nino.


"Akkhhh...Kak sakit Kak." pekik Nino saat Rendy tiba-tiba menarik telinganya.


"Sejak kapan kamu ketemu Mutia?" Rendy menatap Nino tajam.


"Sudah lama, beberapa hari setelah aku membuat kerusuhan di club' beberapa bulan yang lalu." jawab Nino cuek dan melanjutkan makannya.


"Awas kalau kamu bicara macam-macam sama Mutia."


"Aku pastikan bulan depan kau akan jadi gelandangan." ancam Rendy sebelum pergi.


"Ehh tunggu dulu.." Nino menarik lengan Rendy sebelum Rendy melangkah jauh.


"Uang tutup mulutnya mana?" Rendy melihat tangan Nino yang menggerakkan jari telunjuk dan ibu jarinya.


"50jt."


"20jt."


"45jt."


"25jt atau jadi gelandangan saat ini juga."


"Ya iya 25jt. Tapi sekarang."


"Dasar mata duitan."


"Awas kalau dibuat senang-senang sama para pacarmu itu."


"Thanks bro..sudah masuk."


"Aku pergi dulu, mau party sama para ladies."


Rendy menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nino yang tidak pernah berubah. Dan dia harus lebih waspada lagi sama Nino jangan sampai mulut Nino bocor dan membongkar semuanya pada Mutia.


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for reading brother and sister

__ADS_1


big hug 🤗🤗🤗


__ADS_2