Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Lapar!!!!


__ADS_3

Di pojok kamar VVIP di salah satu rumah sakit ternama yang ada di Swiss, terlihat anak kecil yang memakai dress gaun polos berwarna baby pink dengan kepang rambut kekinian ala korea tengah duduk dengan wajah tertekuk cemberut.


Semenjak Bundanya dirawat dan masuk kamar inap tadi siang, dia merasa tersisihkan. Dia adalah Maura, tidak ada yang mengajaknya berbicara ataupun sekedar menyapanya, meski semua anggota keluarga sudah berdatangan sejak diberi kabar kalau sang Bunda akan melahirkan malam ini. Janji yang sudah Ayahnya janjikan tadi juga tidak ada buktinya sama sekali, padahal hari sudah mulai sore dan dia sudah terlihat lesu dan lapar sekali.


"Adik belum juga lahir, tapi mereka semua sudah melupakan Maura. Tak ada lagi yang peduli sama Maura. Tidak ada yang bertanya sama Maura, apa Maura lapar atau tidak? Apa Maura mau beli sesuatu untuk menghilangkan kebosanan? Tidak ada dari mereka yang peduli sama Maura. Maura benci sama Ayah yang tidak menepati janjinya." Maura ngedumel sendiri dengan mulut komat kamitnya menatap seluruh anggota keluarga yang terlihat mengerumuni brankar tempat Bundanya duduk, tanpa memperdulikan dirinya.


Alex yang sedari tadi berdiri di dekat pintu hanya menatap Maura yang terlihat menggemaskan saat cemberut dengan mulut yang komat kamit, ngedumel dengan kesalnya. Salah satu sudut bibirnya terangkat keatas saat sudah tidak tahan melihat Maura yang semakin menggemaskan ketika menghentak-hentakkan kedua kakinya yang memakai sepatu dengan hak setinggi 3cm, namun tidak ada yang memperhatikannya.


Alex mendekati Maura yang duduk di sofa paling pojok di ruangan inap VVIP tersebut. Dia gemas dengan Maura sekaligus kasihan dengan anak kecil itu yang pasti saat ini tengah merasakan cemburu akan hadirnya anggota baru di keluarganya.


"Hai, Tuan Putri! Boleh uncle duduk disitu?"


Bukannya menjawab, Maura justru melengos saat Alex datang mendekatinya. Dia naik ke sofa kembali dan duduk dengan bersilang kaki tanpa melepas sepatunya.


"Hufftt...." Alex menjatuhkan tubuhnya di dekat Maura duduk. Dia tidak peduli Maura tadi belum memberinya ijin. Dia hanya ingin menghibur anak kecil itu saja. Syukur-syukur Maura bisa dekat dengannya seperti Rendy yang bisa dekat dengan Maura. "Aish..Aku bukan Rendy." batin Alex kesal dengan pemikirannya sendiri yang apa-apa disamakan dengan Rendy.


"Ternyata Tuan Putri pemarah orangnya. Kelihatannya juga cemburu sama adik yang sebentar lagi akan lahir ke dunia."


Maura menatap Alex dengan mengeratkan giginya, tak lupa dia juga menatap tajam sahabat Ayahnya itu dengan bertolak pinggang. Dia bukan pemarah, dia juga bukan cemburu sama adiknya. Dia hanya kesal saja karena tidak ada yang peduli sama dirinya sejak ada kabar adiknya harus dilahirkan malam ini juga. Bahkan Ayahnya juga melupakan janjinya untuk dinner bersama dirinya juga sang Bunda.


"Aishh...Copot nanti tu mata. Lebar amat bukanya girl!" seru Alex dengan sedikit menjauh dari Maura, berpura-pura takut dengan gadis kecil itu.


"Biarin copot. Nanti matanya Maura akan menghantui Paman yang memiliki otot lemah gemulai. Haaiiihhhhh.." dengan membuat ekspresi wajah seperti hantu, Maura meloncat ke tubuh Alex, membuat sang punya tubuh yang belum siap menerima terjangan langsung terjeramah ke belakang dan Maura berada di atas tubuh Alex.


"Haahhhhh..!!!"


Alex langsung menutup hidung juga mulutnya saat Maura membuang nafas melalui mulut tepat di depan wajahnya.


"Cantik-cantik nafasnya bau." ucap Alex dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya tertutup dengan tangannya sendiri.


"Maura tidak bau. Paman yang bau jigong." balas Maura yang tidak terima dikatai nafasnya bau.


"Isshhhh."


Alex memekik pelan saat Maura turun dari atas tubuhnya dan mengenai rudalnya yang sangat berharga dan belum menemukan lagi tempat peluncuran yang tepat semenjak dia dibantai habis sama Rendy beberapa bulan yang lalu hingga membuatnya masuk ICU selama seminggu.


"My rudal..Oh My God, anak sama bapak gak ada bedanya. Kejam semua." batin Alex yang merasakan ngilu pada senjatanya yang diberi nama 'rudal'.


"Paman pergi sana. Jauh-jauh dari Maura." usir Maura yang sudah kembali duduk di tempat semula.


"Paman bukannya menghibur Maura, tapi semakin membuat Maura kesal."


"Paman tidak sama seperti Papa Rendy yang tahu keinginan Maura."


"Paman juga tidak seperti Ayahnya Maura yang pintar."


"Paman juga tidak sama seperti Paman Bara yang kocak."


"Paman itu lelaki cemen dan lemah gemulai. Selalu kalah sama Papa Rendy dan selalu nurut sama perintah Ayah."


Alex menelan salivanya kasar mendengar ocehan Maura. Semua perkataan yang keluar dari mulut gadis kecil itu benar adanya, tidak salah sama sekali. Tapi kenapa harus diperjelas segala. Itu sungguh membuat harga dirinya semakin merosot kebawah, terjun bebas tanpa adanya hambatan satupun.


Alex semakin kesal saat Bryan menertawakan dirinya. Entah bos besar itu sudah dari tadi mendengar ocehan Maura atau hanya sekedar menertawakan dirinya. Yang pasti, tawa Bryan yang terdengar seperti sedang mengejek dirinya. Menyatakan kalau apa yang Maura katakan 100% benar.


"Sudah, akui saja kalau kau itu tidak akan menang melawan Maura. Tidak akan bisa merebut gadis cantikku." kata Bryan dengan sombongnya dan mendorong Alex untuk bergeser, karena dia ingin duduk di samping putrinya yang terlihat cemberut dan diam saja setelah dirinya datang mendekat.

__ADS_1


"Santai aja kali!" dengus Alex yang tak dihiraukan sama Bryan.


"Cantiknya Ayah sama Bunda kenapa cemberut? Hemm."


Maura melengos, tidak mau menatap Ayah Bryan dan menyingkirkan tangan Ayah Bryan yang memegang kepalanya. Dia juga malas membalas pertanyaan Ayahnya itu.


"Kenapa? Marah sama Ayah?" tanya Bryan dengan nada pelan dan lembut, berharap putrinya itu luluh dan kembali ceria lagi.


"Atau marah sama Bunda?" tanya Bryan sekali lagi dan hanya mendapat lirikan tajam dari sang putri.


Bryan mengambil nafas perlahan melihat Maura yang ternyata sungguh marah dengan dirinya. Tak hanya itu, Bryan juga melihat kecemburuan Maura karena semua orang lebih fokus pada Freya yang sebentar lagi akan menjalani operasi.


Bryan tadi diminta Freya untuk menemani Maura sebentar dan sekalian memberi pengertian kepada putrinya itu kalau sebentar lagi adiknya akan hadir ke dunia. Supaya putrinya itu tidak merasa tersisihkan saat adiknya lahir nanti. Freya takut nanti akan membuat Maura cemburu akan adiknya dan mengakibatkan rasa sayang Maura ke adiknya akan berkurang. Dan sekarang tugas dia untuk memberi pengertian untuk putri cantiknya supaya tidak marah dan cemburu.


"Baiklah!" Bryan memegang kedua tangan Maura dan berpindah duduk jongkok di depan Maura.


"Ayah minta maaf, Ayah juga minta maaf atas nama Bunda."


"Ayah saat ini tidak bisa menemani Maura, tidak bisa menepati janji Ayah sama Maura."


"Ayah janji, Ayah akan mengajak Maura dinner dan jalan-jalan sesuai keinginan Maura, berbelanja apa saja sesuka Maura."


"Tapi, nanti setelah Bunda menjalani operasi dan adik lahir ke dunia. Ayah akan menuruti semua keinginan Maura."


"Cantiknya Ayah sama Bunda akan tetap dan selalu nomor satu di hati Ayah dan Bunda. Akan selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda."


Maura hanya diam menatap Ayahnya yang berbicara panjang lebar. Dia sudah bosan dengan janji-janji yang Ayahnya berikan. Meski janjinya ditepati, tapi Ayahnya tidak pernah tepat waktu dalam berjanji dan pasti molornya lama. Dia ingin Ayahnya tidak perlu membuat janji segala dengan dirinya, tapi langsung mengajaknya ke suatu tempat yang indah dan belum pernah dilihatnya, hatinya sudah senang sekali. Tidak perlu janji.


"Maura sekarang dinner dulu ditemani Paman Alex sama Paman Bara juga Aunty Caca sama Aunty Ane ya." kata Bryan yang memang tadi disarankan oleh Freya untuk Maura dinner dulu sama Paman dan Aunty nya sebagai gantinya.


"Ayah mau temani Bunda dulu, sebentar lagi Bunda akan menjalani operasi."


"Maura sayang kan sama Ayah dan Bunda?" tanya Bryan dan Maura mengangguk mantap, dia memang sayang pakai banget sama Ayah dan Bundanya meski sering dibohongi ataupun dijahili. Karena dia bisa jahili balik Ayah dan Bundanya, dan dia juga sayang sama adiknya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


"Kalau Maura benar sayang sama Ayah dan Bunda juga sayang sama adik juga. Ayo Maura temui Bunda dan beri semangat ke Bunda dan dedek bayinya."


"Pasti Bunda akan senang banget mendapat semangat dari putri tersayangnya." Bryan lantas menggendong Maura dan dibawanya mendekati Freya yang duduk di brankar.


Maura hanya diam saja digendong sama Ayah Bryan. Dia tidak memberontak untuk menolak menemui Bunda Freya. Pandangan matanya berfokus pada Bundanya yang juga menatapnya dengan senyum yang begitu tulus dan dapat dirasakannya.


Anggota keluarga yang lain menyingkir untuk memberikan ruang buat Maura sebelum Freya memasuki ruang operasi.


"Sini sayang, duduk samping Bunda." ucap Freya dengan memberi sedikit ruang disebelahnya untuk Maura.


Bryan menurunkan Maura tepat disamping Freya duduk dan dia sendiri duduk di depan Maura menghadap anak dan istrinya.


"Katanya tadi ada yang ingin Maura sampaikan buat Bunda. Kenapa cantiknya Ayah diam saja?" Bryan tersenyum saat mendapat tatapan tajam dari putrinya. Dia tahu pasti Maura tengah kesal kepadanya, karena sebenarnya dirinya lah yang tadi meminta Maura menyampaikan sesuatu buat Freya sebelum menjalani operasi dan bukan keinginan Maura sendiri.


Freya ikut tersenyum dan mengusap rambut kepala Maura, sesekali diciumnya. "Memang Kakak Maura mau menyampaikan apa buat Bunda?" tanya Freya dengan merangkul Maura dari samping.


Maura menatap Bundanya dalam diam, dia masih memikirkan kata-kata yang pas untuk disampaikan buat Bundanya juga adiknya pastinya. Tapi kenapa di otaknya saat ini hanya ada makanan saja yang muncul? Apa ini karena efek dirinya sudah lapar sedari tadi? Oh Tuhan!!! Kasihanilah anak kecil ini yang kelaparan, tapi tak ada satu orangpun yang menyadarinya. Bahkan Ayah dan Bundanya tidak menanyakan apakah putrinya itu lapar apa tidak? Mau makan apa tidak? Sama sekali tidak ada yang bertanya soal itu kepadanya.


"Hmmm...Kenapa diam saja? Kenapa menatap Bunda seperti itu?" Freya menatap Maura bingung sambil memegang kedua pipi Maura supaya menghadap kearahnya.


"Maura kenapa?" tanya Bryan yang ikut bingung kenapa putrinya tiba-tiba diam, padahal biasanya paling cerewet.

__ADS_1


"Apa Maura marah karena tidak jadi dinner? atau Maura cemburu sama adik yang sebentar lagi akan lahir?"


Maura menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Ayahnya. Dia tidak marah lagi karena tidak jadi dinner. Dia juga tidak cemburu sama adiknya. Dia hanya lapar saja.


"Terus kenapa? Hemm." Freya menatap Maura lembut berharap Maura mau mengatakan sesuatu. Dia takut Maura memendam amarah dan rasa cemburunya.


"Maura lapar Bunda."


Jawaban yang baru saja keluar dari mulut Maura, tak hanya membuat seluruh anggota keluarga syok, tapi Bryan dan juga Freya juga terlihat syok, mereka bahkan melupakan tadi Maura sudah makan apa belum.


"Dari tadi tidak ada yang mengajak Maura makan. Tidak ada yang menawari Maura makan. Bahkan tidak ada yang bertanya bagaimana keadaan Maura. Semuanya sibuk dengan adik bayi, padahal adiknya belum lahir juga dan masih nanti jam 8 malam."


Freya yang merasa bersalah langsung memeluk Maura dengan erat. Tak hanya Freya, Bryan pun juga merasa bersalah karena membiarkan putrinya kelaparan. Kalau seperti ini, bisa dipastikan Maura akan cemburu dengan adiknya kelak mengingat sebelum lahir saja sudah dilupakan walau hanya sebentar.


"Maura lapar?" Maura mengangguk dalam pelukan Bundanya.


"Kalau Maura lapar, Maura makan dulu sama Paman dan Aunty. Ayah sama Bunda tadi sudah menyiapkan tempat buat Maura makan sepuasnya bersama Paman dan Aunty."


"Maura boleh mesan apapun keinginan Maura. Asal harus dimakan dan dihabiskan, tidak boleh hanya dicicipi saja. Oke!" Maura mengangguk lagi dan melepaskan diri dari pelukan Bundanya.


"Sepuasnya kan Ayah, Bunda?" Maura menatap Ayah dan Bundanya bergantian.


"Iya sepuasnya." jawab Bryan sambil mengusap kepala Maura.


"Yes!!" seru Maura yang merubah ekspresi wajahnya kembali ceria.


"Kalau begitu Ayah harus jagain Bunda, temani Bunda selama adiknya mau lahir nanti. Ayah tidak boleh ninggalin Bunda walau itu hanya satu detik saja. Tidak boleh." Bryan mengangguk saja dengan pesan yang Maura sampaikan buat dirinya. Karena tanpa diminta pun dia juga akan menjaga dan menemani Freya sekarang dan selamanya.


"Buat adik. Jangan buat Bunda merasakan kesakitan lagi atau kamu nanti akan melawan kakak mu ini. Dan semoga nanti kamu tidak seperti Ayah yang suka ingkar janji." Bryan melotot tak percaya dengan apa yang baru saja Maura katakan. Apa benar seperti itu dirinya? Apa benar dia selalu ingkar janji?"


Yang lainnya tertawa mendengar perkataan Maura. Karena mereka semua tahu apa yang Maura katakan itu benar adanya. Bryan memang orangnya suka ingkar janji. Adapun janji yang ditepati, itupun waktunya molornya begitu lama, bisa sampai berbulan-bulan baru ditepati.


Freya tersenyum saja, "Buat Bunda apa?"


"Buat Bunda. Maura sayang sama Bunda, sayang banget." ucap Maura sambil memeluk Bundanya erat.


"I love you, Bunda." bisik Maura.


Freya menangis terharu mendengar bisikan putrinya. Dia juga sayang banget sama Maura, melebihi kasih sayang dari siapapun. "I love you too, kesayangan Bunda." Freya menciumi seluruh wajah Maura dengan sayang.


"Sudah dulu Bunda. Maura mau makan dulu." pamit Maura pada Bundanya.


"Ehh..Mau kemana?" Bryan menahan Maura yang akan turun dari brankar.


"Maura belum meluk Ayah dan bilang sayang sama Ayah."


Maura menghembuskan nafas kasar melihat Ayahnya yang iri karena tidak dipeluknya. "Ayah mau Maura peluk?" Bryan mengangguk cepat.


"Berikan dulu kartu ATM nya pada Maura. Satu saja cukup." Maura menodongkan tangan kanannya meminta kartu ATM pada Ayahnya.


Tanpa pikir panjang, Bryan mengambil dompetnya dan menarik salah satu kartu ATM nya dan diberikan kepada Maura.


"Terima kasih Ayah." ucap Maura dan mengecup singkat pipi kanan Ayahnya.


"Ayah memang cemburuan." seru Maura dan langsung turun dari brankar tanpa memperdulikan Ayahnya yang iri dan cemburu itu.

__ADS_1


"Ayo Paman, Aunty. Kita habiskan uang Ayah. Kita makan-makan sekarang." seru Maura sebelum keluar dari kamar rawat bersama kedua Paman dan kedua Aunty nya.


"I LOVE YOU, AYAH!!!"


__ADS_2