Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Mau depan atau belakang?


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah perlehatan akbar pesta royal wedding Abrisam Bryan Alvaro dengan Freya Almeera Shanum. Bryan membuatkan Instagram khusus buat keluarga kecil mereka, @bryanfreya2001. Kini bukan Bryan saja yang menjadi trendsetter bagi kaum pria, Freya maupun Maura juga menjadi trendsetter bagi mereka kaum wanita dari berbagai kalangan. Apapun yang mereka pakai ataupun gaya yang mereka lakukan juga bahasa yang mereka gunakan menjadi panutan bagi semua kalangan.


Apalagi sekarang mereka sedang liburan di negara ginseng, Korea Selatan. Semua kegiatan mereka selalu dipantau natizen lewat stories instagram mereka.


Setelah menginap di hotel dua malam bersama keluarga yang lain rencana Bryan akan membawa Freya pergi ke Swiss untuk honeymoon. Namun rencana itu gagal hanya karena Freya kedapatan tamu bulanan dan akhirnya mereka saat ini berada di Korea bersama Maura juga yang ingin melihat bunga sakura.


Tak hanya Bryan's Family, namun seluruh keluarga Abrisam juga Rendy dan Mutia juga ikut serta liburan dadakan itu berhubung akhir bulan Maret ini bunga sakura di Korea mekar sempurna.


Saat ini mereka sudah berada di Jeju Island, mereka menginap di salah satu hotel, Shilla Stay Jeju yang dekat dengan pantai Jungmun yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 menit.


"Ayah!!! Hari ini kita lihat bunga sakura kan?" tanya Maura yang melihat Ayahnya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Bukannya kemarin Maura sudah lihat?" tanya Bryan balik sambil mengganggu Freya yang sedang ber-make up.


"Ishh apaan sih!! kecoret kan jadinya." sungut Freya saat eyeliner yang dia kenakan kecoret sampai pelipis.


Bryan tertawa kencang melihat Freya yang marah dan kesal padanya.


"Make up Bunda lucu. Seperti badut." Maura juga ikutan tertawa melihat pantulan Bundanya di cermin.


"Tapi Bunda jauh lebih cantik dari badut." sahut Freya yang membersihkan eyeliner yang mengenai pelipisnya.


"Cantikan juga Maura."


"Iya kan, Yah?" tanya Maura menunjuk kedua pipiya dengan mata genitnya dan memiringkan kepalanya. Dia seperti itu supaya Ayahnya memuji kecantikannya.


Bryan yang gemas dengan apa yang Maura lakukan langsung mengangkat tinggi tubuh Maura membuat Maura memekik kegirangan.


Freya mendengkus sebentar kemudian tersenyum bahagia melihat Maura yang begitu bahagia, apalagi Bryan begitu menyayangi Maura.


Bryan menurunkan Maura saat Caca masuk ke kamarnya mengajak Maura turun duluan untuk sarapan.


"Maura duluan ya, Ayah Bunda."


"Nanti ketemu di restoran." pamit Maura sebelum keluar bersama Caca.


"Iya sayang!"


"Oke, cantik!"


Jawab Freya dan Bryan bersamaan.


Freya berdiri dari duduknya setelah selesai memperbaiki make up-nya. Dia menoleh dan melihat Bryan duduk di sofa sambil bermain game. Freya mendekat dan duduk di lengan sofa. Dia tiba-tiba memeluk leher Bryan dengan erat membuat handphone nya jatuh karena kaget.


"Terima kasih banyak ya, mas." Bryan mematung dalam duduknya bukan karena Freya memeluknya, melainkan panggilan baru yang akhirnya keluar dari mulut Freya.


"Terima kasih sudah menyayangi Maura." sambung Freya yang masih memeluk Bryan. Dia malu pada dirinya sendiri saat memanggil Bryan dengan panggilan yang dia janjikan setelah menikah. Dan baru saat ini pertama kalinya dia memanggil Bryan dengan sebutan lainnya.


Dia kemarin sebelum menikah sudah janji untuk mengubah nama panggilan saat sudah sah menjadi sepasang suami istri dan setelah empat hari paska menikah baru sekaranglah dia memanggil Bryan dengan sebutan lainnya yang sepertinya membuat Bryan begitu senang.


"Coba ulangi apa yang kamu katakan tadi!" perintah Bryan yang melepas paksa pelukan Freya supaya bisa melihat wajah cantik istrinya.


"Terima kasih sudah menyayangi Maura." Freya menatap Bryan dengan senyum cerah di wajahnya.


Bryan menggeleng, "Bukan yang itu, sebelum itu?" tanya Bryan.


"Ehhhmmmmm!!!!" Freya berpikir sejenak.


"Terima kasih banyak." katanya setelah mengingat apa yang dia katakan tadi.


"Setelah itu?" sahut Bryan cepat karena menurutnya Freya hanya main-main saja.


"Terima kasih banyak ya." kata Freya dengan menyunggingkan senyumnya. Padahal dia tahu maksud Bryan, namun dia hanya pura-pura saja tidak tahu.


"Bukan itu sayang." Bryan yang gemas dengan Freya langsung menarik tubuh Freya untuk duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Kamu tadi memanggil aku apa?" Bryan menatap netra coklat Freya lekat.


"Kamu."


"Bryan."


"Tuan Muda."


"Ayah Maura."


Aaakkkkhhhhh


Teriak Freya saat Bryan tiba-tiba memindahkan dirinya dengan kasar dan berlalu pergi keluar.


Freya tersenyum gemas melihat Bryan yang merajuk, "Tunggu mas!!" panggil Freya.


Freya berjalan mendekati Bryan saat lelaki itu menghentikan langkahnya. Freya memegang lengan Bryan dan mendongak menatap wajah Bryan yang terlihat biasa saja tanpa ekspresi apapun, datar seperti triplek.


"Jangan marah dong." ucap Freya dengan wajah sedihnya


"Freya tadi hanya bercanda, mas." dia memeluk Bryan dari depan.


Bryan mengulum senyumnya saat melihat Freya yang memeluknya hanya karena dia mengira kalau dirinya marah. Padahal Bryan senang bukan main saat Freya memanggilnya dengan sebutan 'Mas Bryan'. Ahh...rasanya seperti mendengar suara merdunya Freya saat dia kuasai tubuhnya.


Bryan melepas pelukan Freya, dia tersenyum dan menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Freya membuat keduanya saling menatap.


"Aku tidak marah. Aku tahu kalau kamu tadi hanya bercanda."


"Sudah jangan sedih lagi." Bryan mengusap ujung mata Freya yang berair.


"Aku senang kamu memanggilku seperti tadi." sambung Bryan.


"Memang aku tadi memanggil kamu apa?" tanya Freya dengan tampang polosnya. Pura-pura polos lebih tepatnya.


"Kamu yaaaa!!!" Bryan menarik hidung Freya dengan gemas.


"Itu hukuman karena kamu memakai riasan palsu yang tebal." kata Bryan sambil mengusap bibir Freya dengan ibu jarinya.


"Tebal!!!!" ulang Freya sambil menyerit. Padahal dia hanya memakai make up tipis ala korea tapi dibilang tebal.


"Bilang aja modus." sungut Freya dan melepaskan diri dari Bryan. Dia berjalan keluar untuk menyusul Maura dan yang lainnya yang sudah duluan ke restoran untuk sarapan sebelum jalan-jalan melihat festival cherry blossom.


Bryan tertawa senang melihat Freya yang marah. Karena pipinya pasti akan memerah, hidungnya juga. Dia menyusul Freya yang sudah berjalan duluan.


"Rendy sama Mutia mana?" tanya Bryan setelah mendudukkan diri di kursi samping Freya. Dia tidak melihat dua sejoli itu. Yang satu kaku seperti kanebo kering, yang satunya lagi bar-bar.


"Kak Mutia tadi pagi-pagi sudah keluar, katanya mau jalan-jalan sekitar hotel."


"Kalau kak Rendy gak tahu." jawab Caca yang sedang menikmati pancake nya.


Bryan mengangguk paham, "Pasti Rendy ngikuti Mutia." gumam Bryan yang akhir-akhir ini melihat perubahan Rendy yang terlihat gelisah saat Mutia menghilang selama dua hari.


...............


Mutia mendengkus kesal saat Rendy mengikutinya dari belakang mulai dari dia keluar kamar hotel tadi sampai sekarang sudah berada di pantai Jungmun.


Mutia menghentikan langkahnya tiba-tiba dan berbalik menatap malas Rendy dengan kedua tangan yang memegang sepatu di taruh di pinggang.


"Bisa tidak anda tidak usah mengikuti saya." sungut Mutia kesal pada sosok di depannya itu yang telah mengambil ciuman pertamanya. Bibir yang dia jaga kesuciannya untuk suaminya kelak telah ternodai dan pelakunya sosok kanebo kering yang sekarang berdiri di hadapannya itu.


"Kemana anda pergi selama dua hari yang lalu sebelum pernikahan Tuan Muda dengan Nona Freya?" tanya Rendy menatap netra silver Mutia.


"Bukan urusan anda." jawab Mutia cepat.


"Dan tolong jangan ikuti saya."

__ADS_1


"Paham anda!!" Mutia berbalik dan melanjutkan jalannya.


Dia terus menggerutu di sepanjang langkah kakinya ditepi pantai. Sebenarnya kemarin dia tidak mau ikut liburan keluarga Abrisam, tapi karena melihat Maura yang terus menangis meminta dia ikut juga Freya yang terus memaksanya akhirnya dia ikut juga. Dan ternyata manusia robot macam kanebo kering itu juga ikut.


Aaawwwhhhhh


Pekik Mutia saat kakinya tidak sengaja menginjak bulu babi. Dia melempar sepatunya begitu saja.


"Bulu babi sialan!" umpat Mutia yang terduduk untuk mencabut duri yang menancap di kakinya.


"Pelan-pelan, jangan kasar seperti itu." sentak Rendy saat melihat Mutia mencabut durinya dengan kasar.


Rendy berjongkok di hadapan Mutia, "Kalau gak mau lumpuh atau mati, diam!!" ucap Rendy tegas saat kaki Mutia yang akan dia pegang ditarik pemiliknya.


Mutia memberengut menatap kesal Rendy. Dia akhirnya membiarkan Rendy membantunya.


"Isshhh.." Mutia meringis merasakan sakit saat dua duri yang menacap di telapak kakinya berhasil di cabut Rendy.


"Ehh..eehhh..eehhh...anda mau apa?" Mutia terlihat panik saat Rendy semakin mendekat ke tububnya.


"Mau depan atau belakang?" tanya Rendy yang melihat Mutia panik dia mendekat.


"Hahh.." Mutia menatap Rendy bingung. Apa maksudnya coba, pikir Mutia.


"Lama."


Ahhhkkkkk


Teriak Mutia saat Rendy tiba-tiba memegang pinggulnya dan diangkatnya Mutia ke pundaknya seperti mengangkat karung beras.


"Aishhhh...Turunin nggak!!" Mutia teriak-teriak sambil memukul punggung Rendy. Kakinya dia gerak-gerakkan supaya Rendy kualahan dan akhirnya menurunkan dia. Tapi nyatanya Rendy justru memegang kedua kakinya erat.


Plakkkk


Rendy memukul pantat Mutia supaya wanita bar-bar itu diam, tidak berisik lagi karena telinganya sudah panas dan mendengung mendengar Mutia yang sejak tadi teriak-teriak.


"Kau..." Mutia yang geram memukul punggung Rendy lebih keras lagi.


"Beraninya kau!!!"


"Anda telah melakukan pelecehan terhadap wanita."


"Akan saya laporkan anda ke kantor polisi."


Plakkk


Lagi Rendy memukul pantat Mutia dengan gemas. Meski tidak keras namun mampu membuat Mutia semakin meradang.


"Mama kenapa di gendong Paman robot seperti itu?" tanya Maura yang berada di gendongan Bryan di punggung melihat Mamanya yang teriak dalam gendongan Paman robotnya.


Saat ini mereka turun dari hotel untuk memenuhi keinginan Maura yang ingin melihat festival cherry blossom.


Semuanya yang berjalan di belakang Bryan dan Maura melihat arah yang ditunjuk Maura. Mereka semua memicingkan matanya melihat pemandangan yang aneh. Setahu Bryan, Papa Abri, Mama Lea juga Caca, Rendy tidak pernah mau berhubungan ataupun bersentuhan dengan wanita, apalagi harus menggendong seperti itu atau lebih tepatnya dipanggul. Dan terlihat raut wajah bahagia di wajah Rendy.


"Akhirnya ada juga wanita yang membuat Rendy tersenyum." batin Bryan.


"Mutia kenapa sih gak bisa anggun sedikitpun." keluh Freya dalam hati.


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote, comment and gift


big hug from far away 🤗🤗🤗

__ADS_1


dewi widya


__ADS_2