
Rendy yang baru sampai di kantor langsung di hadang Julian, sekertaris Bryan.
"Anda dari mana saja tadi Tuan Rendy?"
"Di telephon gak diangkat, di sms gak dibales. Apa sih mau anda."
Rendy menoyor kepala Julian kasar. Sekertaris Bryan satu ini laki tapi seperti Nazar, dikit-dikit nyanyi nggak jelas.
"Aduh!!! Bisa nggak sih anda gak usah toyor kepala Juli segala. Pusing kan jadinya." kesal Julian sambil mengusap pelan kepalanya.
"Kalau pusing loncat sana dari roof top."
Julian mendengkus kesal melihat asisten bosnya yang sikap dan sifatnya sebelas dua belas itu.
Rendy masuk ke ruangan Bryan namun tidak mendapati Tuan Muda nya ada di dalam.
"Tuan Muda kemana?" tanya Rendy keluar lagi dari ruangan CEO.
"Yakan jadi lupa kalau sudah di toyor kepalanya." keluh Julian.
Rendy menatap jengah pada Julian. "Ada apa?" tanya Rendy tegas membuat Julian sontak mengambil sikap sempurna.
"Lapor!! Tuan Muda pergi meninggalkan kantor dalam keadaan marah dan buru-buru."
"Tuan Muda juga membatalkan pertemuan dengan klien dari Jepang."
"Laporan selesai."
Rendy menatap tajam pada Julian. "Kenapa kamu tidak menghubungi aku dari tadi hah?" bentak Rendy merasa geram pada lelaki yang ada di hadapannya saat ini.
"Saya sudah menelepon bahkan mengirim anda pesan namun tidak ada balasan sama sekali." Julian membalas tatapan Rendy tanpa rasa takut.
Rendy mengambil handphone nya dan dilihatnya ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Julian juga sms masuk yang belum dia buka.
Rendy melirik tajam Julian yang mencibirnya. Dia segera menghubungi anak buahnya yang dia tugaskan untuk selalu mengikuti Bryan diam-diam.
"Paman Robot!!!" teriak Maura yang baru saja keluar dari lift bersama Freya.
Rendy mengurungkan niatnya untuk menghubungi anak buahnya. Dan mengambil sikap hormat pada Nona Muda kecil calon pewaris Brata grup.
"Selamat siang Nona Muda! Nona Freya!" sapa Rendy juga Julian bersamaan.
"Siang Paman."
"Ayah ada kan di dalam?" tanya Maura yang langsung berlari menuju pintu ruangan Ayah.
"Sayang, pelan-pelan saja gak usah berlarian." tegur Freya yang khawatir dengan kondisi Maura yang akhir-akhir ini mengeluhkan pusing.
"Yes, Bun." Maura membuka pintu dan raut wajah yang tadinya ceria kini terlihat murung karena tidak mendapati sosok Ayahnya ada di dalam sana.
"Ayah kok nggak ada di dalam?" tanya Maura menatap Bunda juga dua lelaki karyawan Ayahnya, Rendy dan Julian.
Freya yang penasaran mengintip ke dalam dan benar saja, ruangan kerja suaminya kosong tidak ada penghuninya.
"Mas Bryan kemana, Ren?" tanya Freya.
"Maaf Nona, saya tidak tahu." Rendy menunduk menyesal.
"Saya juga baru datang dari tugas luar." imbuhnya.
"Bunda!!! Maura mau ketemu Ayah sekarang Bunda." rengek Maura yang kembali menangis lagi.
Freya membawa Maura kepelukan nya untuk meredamkan suara tangis Maura yang mungkin akan mengganggu karyawan lain.
"Sayang, mungkin Ayah ada kerjaan di luar dan nggak bisa di ganggu." jelas Freya berusaha menenangkan putrinya.
"Maura stop dong, jangan nangis lagi. Nanti kalau Ayah marah gimana? Maura mau di marahi Ayah?" Maura menggeleng dalam pelukan Bundanya. Tangisnya sudah reda namun masih sesenggukan.
"Hallo..!!"
Rendy melirik Freya saat mendapat laporan dari anak buahnya di seberang sana.
"Awasi terus jangan sampai lengah."
"Sebentar lagi aku kesana." kata Rendy dengan tegas sebelum akhirnya memutus sambungan telephon.
"Ada apa, Ren?" tanya Freya yang melihat ada gelagat aneh pada Rendy.
"Mas Bryan gak apa kan? Mas Bryan gak ketemu sama dia kan, Ren?" tanya Freya lagi dengan perasaan dan hati bergerumuh.
__ADS_1
Rendy mengangguk, "Iya Nona." Dia sudah di beritahu Papa Abri kalau Freya juga sudah mengetahui tentang wanita itu.
Freya memejamkan matanya menahan gejolak rasa yang ada di benaknya. "Jadi yang benar yang menghubungi Mas Bryan tiap malam itu wanita itu dan sekarang Mas Bryan menemui wanita itu diam-diam." tak terasa sebutir air mata jatuh dari kelopak matanya.
"Saya permisi dulu Nona." pamit Rendy yang langsung di hadang Maura.
"Paman mau kemana? Maura ikut!!"
"Paman mau menyusul Ayah kan?" Maura menerca beberapa pertanyaan kepada Rendy dengan menampilkan wajah galaknya namun justru itu membuat Rendy gemas dengan anak bos nya itu. Ingin rasanya Rendy mencubit pipi gembul Maura. Namun dia sadar kalau sampai itu terjadi dia sendiri nantinya yang akan dicabik-cabik oleh hewan peliharaan Bryan.
Rendy menghembuskan nafas perlahan dan menoleh menatap Freya memohon seakan meminta bantuan. Karena kalau dia tidak cepat sampai kesana takutnya wanita itu benar-benar mencuci otak Bryan.
"Sayang, Maura nggak usah ikut ya."
"Paman kan mau menyusul Ayah karena pekerjaan."
"Nanti kalau sudah selesai pekerjaannya Ayah pasti akan menghubungi Maura atau mungkin langsung pulang kerumah." Freya kembali membujuk Maura yang ingin bertemu Ayahnya itu.
"Iya kan Paman Rendy?" imbuh Freya menatap Rendy.
"Iya Nona Muda. Nanti kalau sudah selesai Paman akan meminta Ayah Maura untuk menghubungi Nona Muda segera." ujar Rendy dengan senyum tipis, sangat tipis hingga tidak terlihat.
"Paman janji, nggak bohong sama Maura?" tanya Maura
Rendy mengangguk dan mereka berdua melakukan janji jari kelingking.
"Tolong kirim rekaman suara maupun vidio ke saya." pinta Freya pada Rendy.
"Baik Nona. Saya permisi."
Setelah berpamitan Rendy langsung melesat pergi ke lokasi yang baru saja dikirim anak buahnya.
"Semoga Mas Bryan ingat jalan pulang, ada istri dan anaknya yang menantikan kepulangannya." batin Freya.
"Sayang, ayo kita pulang!"
"Kita tunggu Ayah di rumah."
Maura mengangguk dengan wajah cemberut karena tidak bisa bertemu Ayahnya.
...............
"Jangan buat saya sampai bertindak kasar pada anda, Anelis." Sergah Bryan yang mulai jengah karena sesampainya dia di restoran tempat janji ketemunya, Anelis langsung memeluk Bryan dengan erat tanpa mau melepaskan dirinya.
"I miss you, Bryan. I miss you so much." Anelis mengulang kata itu terus sedari dari tadi sambil memeluk Bryan erat.
Bryan yang semakin risih mendengar perkataan itu keluar dari mulut Anelis sontak dengan kasar Bryan melepas paksa pelukan Anelis pada tubuhnya dan didorongnya kasar tubuh wanita itu.
Akkhhhh
Pekik Anelis saat pantatnya mendarat sempurna di lantai. Untung pantatnya tidak dia pasang silicon, bisa bergeser nanti silicon nya. Dia menatap Bryan marah namun dia tahan. Dia harus terlihat lemah untuk mendapatkan simpatik lagi dari Bryan seperti dulu.
"Mau apa anda meminta saya datang kesini?" tanya Bryan yang sudah duduk di kursi sambil melirik kamera CCTV yang ada di sudut ruangan VIP. Dia menyeringai saat tahu CCTV itu menyala.
Dengan berpura-pura kesakitan Anelis berdiri dan berjalan tertatih duduk di depan Bryan.
"Aku kangen sama kamu, Al. Apa kamu nggak kangen sama aku?" tanya Anelis dengan tampang memelas.
Bryan terkekeh pelan menanggapi Anelis. Dia menegakkan tubuhnya menatap Anelis dengan serius.
"Jangan pernah anda memanggil saya 'Al' lagi."
"Karena Al yang anda kenal sudah mati." ucap Bryan dengan dingin dan menatap tajam pada Anelis.
"Tapi dulu kamu sangat suka kalau aku memanggil kamu 'Al'."
"Bahkan dulu kamu_"
Brakkk
"Sudah saya bilang jangan memanggil saya 'Al' lagi." bentak Bryan dengan menggebrak meja hingga membuat air minum yang ada di dalam gelas tumpah sedikit.
Anelis tersentak kaget melihat amarah Bryan. Dia jadi takut sendiri. "Benar kata Manda, Bryan sudah berubah." batin Anelis.
"Maaf.!!" ucap Anelis gugup.
Bryan menghembuskan nafas kasar, "Apa yang mau anda bicarakan? cepat katakan." kata Bryan dengan tegas.
Anelis menatap netra biru Bryan, "Aku mau kamu bertanggung jawab untuk anak yang telah aku lahirkan sembilan tahun lalu." kata Anelis dengan lantang tanpa rasa takut sama sekali.
__ADS_1
Bryan mengerutkan keningnya, bingung. "Anak!!" ulang Bryan.
"Iya!!! Aku hamil waktu aku pergi meninggalkanmu waktu itu."
"Aku hamil anak kamu Bryan!" teriak Anelis dengan deraian air mata.
Bryan tertawa terbahak mendengar pernyataan Anelis. Hamil dari mana pikirnya, kalau dia dulu LDR sebelum akhirnya Anelis pergi.
"Nggak usah mengadi-ngadi anda."
"Mana buktinya?" tanya Bryan yang memang merasa tidak pernah melakukan hubungan in tim dengan Anelis.
Anelis segera menghapus air mata palsunya dan mengambil ponselnya.
"Ini buktinya." Anelis memberikan handphone nya pada Bryan.
Bryan melihat foto anak laki-laki yang berumur sekitar 9 tahun, Bryan terus menggeser foto-foto itu dan berhenti saat melihat foto dirinya atau lebih tepatnya mirip dengannya dan Anelis tidur berpelukan tanpa memakai busana. Bryan semakin menajamkan penglihatannya saat memutar vidio adegan ranjang, sekilas lelaki itu mirip dirinya. Tapi dia merasa belum pernah bahkan tidak akan pernah berhubungan dengan Anelis.
"Bagaimana?"
"Apa belum cukup buktinya?" tanya Anelis tersenyum tipis melihat keterkejutan Bryan.
"Bukankah Foto dan juga Vidio itu sudah cukup memperkuat bukti yang ada?" imbuh Anelis dengan rasa percaya dirinya.
Bryan melirik Anelis sekilas dan lanjut memutar lagi untuk memastikan kalau di vidio itu bukan dirinya. Dia juga diam-diam mengirim vidio dan satu foto ke nomornya.
"Belum cukup kalau saya belum melihat langsung anak itu dan akan saya lakukan test DNA untuk membuktikan kebenarannya." ujar Bryan yang langsung berdiri dari duduknya setelah meletakkan handphone Anelis diatas meja.
"Jangan hubungi saya kalau tidak ada hal yang penting dan segera atur pertemuan saya dengan anak anda itu agar saya bisa secepatnya melakukan test DNA pada nya." sambung Bryan dan bergegas keluar dari ruangan itu tanpa makan maupun minum.
Anelis tidak menanggapai Bryan yang sudah pergi dari hadapannya. Dia begitu syok saat Bryan akan melakukan test DNA pada anaknya.
"Sial!!! Bisa gawat kalau harus test DNA segala." umpat Anelis yang terlihat gelisah.
...............
"Jadi benar Mas Bryan menemui wanita itu?" gumam Freya.
"Foto!!"
"Vidio!!"
"Kenapa nggak terlihat di rekaman yang Rendy kirim?"
Freya saat ini memutar ulang rekaman CCTV yang Rendy kirim beberapa menit yang lalu berharap foto dan vidio yang Bryan lihat terlihat di CCTV namun nihil tidak terlihat sama sekali.
"Mas Bryan nggak mungkin kan pernah melakukan itu juga pada wanita itu?"
Freya menangis di kamar melihat dan mendengar pembicaraan di rekaman CCTV yang Rendy kirim.
"Bagaimana kalau nanti hasil test DNA nya cocok?"
"Apa Mas Bryan juga akan menikahi wanita itu?"
"Apalagi mereka dulu pernah dekat."
"Dan juga anak wanita itu laki-laki."
"Apa Mas Bryan akan meninggalkan aku juga Maura?"
Ketakutan Freya semakin bertambah dan semakin membuatnya menangis tersedu saat mengingat Maura, putri kecilnya.
"Ya Allah..Kuatkan hamba untuk menghadapi badai cobaan di dalam rumah tangga hamba."
"Hamba serahkan semua kepada-Mu ya rabb."
"Man'jaa'a bil hasanati falahuu khoirumminha wa man'jaa'a bissay'aatii fala yuj'zaallaziina 'amilussayi'aati illa maa kaanu ya'malun."
"Aamiin."
Artinya: Sesiapa yang datang membawa amal baik (pada hari akhirat) maka baginya balasan yang lebih baik daripadanya. Dan sesiapa yang datang membawa amal jahat, maka mereka yang melakukan kejahatan tidak dibalas melainkan dengan apa yang mereka kerjakan.
🍁🍁🍁
have a nice day
thank's for like, vote, comment and gift
big hug from far away 🤗🤗🤗
__ADS_1