Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Menuntut Bryan


__ADS_3

Freya buru-buru menghapus air matanya saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia tidak ingin Bryan atau Maura ataupun yang lainnya melihatnya menangis.


"Sudah?" tanya Mama Marisa menatap Freya yang terlihat menepuk pelan pipinya sendiri.


Freya mengangguk dengan mencoba tersenyum biar tidak terlihat sedih nantinya.


Mama Marisa membukakan pintu, "Bryan!!" seru Mama Marisa saat mendapati Bryan lah yang tadi mengetuk pintu.


"Maura mana?" tanya Mama Marisa yang tidak mendapati Bryan bersama Maura dan mempersilahkan Bryan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Maura masih asik dengan kembang apinya dan dia juga meminta aku untuk menemani Bundanya." kata Bryan dengan tersenyum kecil pada Mama mertuanya tanpa menatap Freya sama sekali.


Mama Marisa tersenyum mendengarnya, dia tahu betul cucunya itu selalu posesif pada Freya tiap kali Freya sakit dan selalu meminta Bryan menjauhi Freya biar cepat sembuh.


"Ya sudah kamu temani Freya. Mama akan membawakan makanan untuk kalian." Mama Marisa menepuk pelan pundak Bryan dan berlalu pergi dari kamar anaknya.


Freya menatap Bryan yang masih berdiri ditempatnya tanpa menatap dirinya. Ada perasaan sedih dalam benaknya saat melihat Bryan seperti itu. Apa Bryan marah pada dirinya atau suaminya itu kecewa pada dirinya karena dinner yang sudah disiapkan gagal lagi untuk sekian kalinya.


"Mas Bryan!!" panggil Freya dan berusaha turun dari ranjang sambil menahan sakit pada punggungnya.


Bryan menoleh dan mendapati Freya yang terlihat kesulitan untuk turun dari ranjang. Dia berjalan mendekat ke tempat istrinya berada.


"Kamu mau kemana? Sudah disini saja." Bryan menahan Freya untuk tidak turun dari ranjang.


Bryan menatap manik mata Freya begitu dalam. Begitu banyak kekurangan yang ada pada dirinya saat menjadi imam untuk istri dan anaknya. Lebih tepatnya, dirinya sama sekali tidak pernah mengajari istri dan anaknya tentang agama.


Freya mengerutkan keningnya melihat Bryan yang menatapnya dalam diam. "Mas Bryan kenapa? Mas Bryan marah karena kita tidak jadi dinner?" tanya Freya yang merasa bersalah karena lagi-lagi dinner yang sudah Bryan siapkan gagal lagi.


Bryan menggeleng pelan dan mengusap rambut Freya begitu pelan. Dia mendudukkan pantatnya di samping sang istri. Diambilnya kedua tangan Freya dan digenggam begitu erat dengan mata masih menatap manik hanzel milik istrinya.


"Kenapa menatap Freya seperti itu sih? Apa ada sesuatu di wajah Freya?" Freya mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Bryan.


"Hmm.." Bryan mengangguk dengan masih menatap istrinya itu. "Ada." kata Bryan dengan melepas salah satu genggaman tangan Freya dan beralih mengusap pipi lembut Freya dengan punggung tangannya.


"Apa ada tai mata di mata Freya?" Freya dengan panik mengusap ujung kedua matanya untuk menghilangkan tai mata.


Bryan tertawa kecil melihat kepanikan Freya. Padahal tidak ada apapun di wajah Freya, juga tidak ada tai mata di mata indah milik istrinya. Dia hanya menggoda istrinya saja.


"Mas Bryan kenapa tertawa? Mas Bryan ngeledek Freya ya?!" raut wajah Freya berubah cemberut saat tahu suaminya hanya menggodanya saja.


"Maaf!" ucap Bryan lirih dan kembali memegang kedua tangan Freya.


"Bisakah kamu menuntut ku saat ini juga?" Bryan menatap lekat wajah cantik istrinya dengan serius.


"Maksud Mas Bryan apa?" Freya menatap Bryan bingung. Menuntut? Apa yang harus dia tuntut dari suaminya itu? Perasaan tidak terjadi sesuatu yang serius yang mengharuskan dirinya menuntut Bryan.


"Menuntut? Apa yang harus Freya tuntut dari Mas Bryan?" tanya Freya dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Mas Bryan tidak selingkuh dari Freya kan?" Freya menatap curiga suaminya itu dengan tatapan tajamnya. Beraninya suaminya itu melakukan perbuatan kejam terhadap kehidupan rumah tangganya


"Augghhh!!" rintih Freya saat keningnya disentil oleh Bryan.


Bryan tidak menyangka kalau istrinya akan menuduhnya dengan perselingkuhan hanya karena diminta untuk menuntut dirinya.


"Jernih kan pikiran kotor mu itu." ucap Bryan dengan gemas pada Freya yang memiliki pemikiran sempit itu.


"Lha terus apa? Kenapa Mas Bryan meminta Freya untuk menuntut Mas Bryan kalau bukan karena Mas Bryan melakukan kesalahan. Selingkuh contohnya " ujar Freya dengan mendengkus kesal pada suaminya yang tidak jelas memintanya untuk menuntut tentang apa.


Freya meringis dengan mengeluh sakit saat kedua pipinya yang dijembel dan ditarik oleh Bryan. "Sakit Mas!!" Freya menepuk lengan Bryan dengan kesal.


"Makanya, mulut dan pikirannya dijaga. Jangan mengatakan dan memikirkan yang bukan-bukan." kata Bryan dengan mengusap pipi Freya yang tadi dijembelnya dengan lembut.


"Itu karena Mas Bryan kalau bicara tidak jelas dan hanya setengah-setengah saja.


"Jadi, jangan salahkan Freya kalau Freya berpikiran yang tidak-tidak." Bryan menggelengkan kepalanya pelan melihat Freya yang tidak mau disalahkan dan merasa kalau dirinya benar.


"Iya-iya aku yang salah karena tidak bicara dengan jelas dan benar." Bryan memilih mengalah saja dari bumil daripada urusannya panjang lagi nantinya, karena bukan perdebatan yang dia ingin sampaikan saat ini.


"Aku minta maaf sama kamu. Maaf atas kejahatan yang aku lakukan padamu malam itu. Malam dimana aku mengambil hal yang paling berharga dalam tubuhmu dan membuahkan hasil Maura."


Freya menatap Bryan dengan mengingat kembali kenangan buruk malam tahun baru beberapa tahun yang lalu. Itu bukan hanya kesalahan Bryan saja, dirinya juga salah. Kenapa waktu itu dirinya mau saja disuruh sama Shelin untuk datang kesana. Tapi dibalik semua itu dia merasa bersyukur, karena Bryan mau bertanggung jawab dan begitu menyayangi dirinya, memanjakan dirinya juga Maura bahkan Bryan juga sangat mencintai dirinya.


"Freya!!" panggil Bryan dengan suara lirihnya dan menatap lekat wajah istrinya.


"Apa aku sudah menjadi suami yang baik untuk kamu dan Maura?" Freya mengangguk atas pertanyaan yang Bryan ajukan. Bryan memang suami yang baik dan bertanggung jawab menurutnya, dan pasti sangat sayang dan cinta sama keluarga kecilnya. Selalu melindungi dirinya juga Maura dan calon anak kedua mereka.


Bryan tersenyum kecil saat melihat Freya yang menganggukkan kepalanya, lantas dia bertanya lagi pada istrinya. "Apa aku sudah menjadi imam yang baik untuk kamu dan Maura?"


Freya terdiam mendengar pertanyaan Bryan yang menanyakan sesuatu yang diluar perkiraannya. Dia tidak menyangka suaminya akan menanyakan sebuah pertanyaan yang menurutnya tidak akan pernah Bryan tanyakan kepada dirinya. Dan dirinya sungguh dibuat speechless oleh pertanyaan yang Bryan ajukan.


"Kenapa diam?" tanya Bryan saat Freya tak kunjung memberinya tanggapan atas pertanyaannya.


"Apa aku memang imam yang buruk buat kamu dan Maura?" Bryan mengulangi pertanyaannya untuk kedua kalinya. Melihat tanggapan yang Freya berikan lewat ekspresi wajah sudah menunjukkan kalau dirinya memang seorang imam yang buruk untuk istri dan anaknya.


Freya menggeleng pelan dan berganti dirinya yang menggenggam tangan Bryan. "Kenapa Mas Bryan menanyakan itu sama Freya?" tanya Freya balik yang tidak mau menyinggung suaminya.


"Aku ingin kamu menuntut ku kalau aku memang seorang imam yang buruk buat kamu saat ini."


"Aku ingin kamu menuntut ku sekarang. Aku tidak ingin nantinya kamu menuntut ku dihadapan Allah nantinya." ucap Bryan dengan lirih, dirinya merasa memang seorang imam yang buruk buat istri dan anaknya


Freya terharu mendengar perkataan Bryan. Dia tidak menyangka maksud dari menuntut yang Bryan katakan tadi adalah sesuatu yang sangat-sangat berharga untuk Bryan.


"Baiklah!!" ucap Freya dengan menatap lekat wajah suaminya.


"Benar. Mas Bryan memang suami yang baik untuk Freya dan Ayah yang baik untuk Maura juga Bryan Junior. Baik, sangat baik." Freya menjeda ucapannya sebentar sambil menyunggingkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Tapi, Mas Bryan bukan imam yang buruk. Mas Bryan hanya tidak pernah menuntun istri dan anak Mas Bryan untuk selalu dekat pada sang pencipta. Mas Bryan hanya mementingkan dunia tanpa mementingkan akhirat."


Bryan menunduk mendengar perkataan Freya. Apa yang Freya katakan benar adanya. Dirinya memang mementingkan dunia tanpa memikirkan akhiratnya. Hanya kesenangan dunia yang dia prioritaskan saat ini tanpa memprioritaskan kebahagiaannya kelak di akhirat.


"Mas Bryan!!" Bryan tetap menundukkan kepalanya saat Freya memanggilnya. Dirinya begitu malu saat ini karena tidak bisa menjadi imam yang baik untuk istri dan anaknya.


"Freya mau menuntut Mas Bryan saat ini. Freya ingin Mas Bryan menjadi imam Freya juga anak-anak. Freya ingin Mas Bryan mengajarkan kepada kami ajaran Allah dengan benar. Freya ingin mengejar surga Allah bersama Mas Bryan dan anak-anak. Freya ingin Mas Bryan membawa kami selalu berada dijalan-Nya. Ijinkanlah Freya tak hanya jadi istrimu saja, tapi jadi makmum kamu juga."


Bryan mengangkat kepalanya menatap Freya yang tersenyum manis pada dirinya. Akhirnya Freya menuntutnya juga dalam hal kebaikan. Dirinya juga tak hanya ingin menjadi suami yang baik saja untuk Freya, tapi juga ingin menjadi seorang imam yang baik untuk Freya dan anaknya.


"Terima kasih kamu sudah mau menuntut ku." Bryan meremas kedua tangan Freya dengan pelan dan diciuminya kedua punggung tangan Freya bergantian.


"Mulai saat ini juga, detik ini juga aku akan mencoba menjadi imam yang baik untuk kamu yang bisa memberi contoh kebaikan untuk kamu juga anak-anak."


Freya tersenyum mendengarnya, dia setuju saja dengan jalan kebaikan yang akan mereka jalankan saat ini.


"Malam ini kita habiskan untuk bertaubat kepada-Nya. Kita tinggalkan acara tahun baru ini untuk bertaubat, menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dan lebih dekat lagi kepada-Nya." ucap Bryan dengan semangat untuk memulai awal yang baru dengan kebaikan.


Freya mengangguk setuju dengan senyum yang semakin lebar tentunya. Siapa sih yang tidak ingin menjadi pribadi yang baik dan lebih dekat dengan sang pencipta. Apalagi berjuang bersama suaminya dijalan Allah.


"Ayo kita ambil wudhu dan kita sholat taubat bersama." Bryan berdiri terlebih dahulu dan membantu Freya untuk berdiri.


"Tunggu dulu, Mas." Bryan mengerutkan keningnya saat Freya mencegahnya membantunya berdiri.


"Kenapa? Kamu tidak mau kita bertaubat bersama?" tanya Bryan dengan curiga kalau istrinya itu hanya mempermainkannya saja dan tidak mau berada dijalan yang benar bersama dengan dirinya.


"Bukan itu, Mas Bryan." Freya merasa jengah dengan kecurigaan yang Bryan berikan pada dirinya. Padahal dirinya tadi juga mencurigai Bryan terlebih dahulu.


"Terus apa?" tanya Bryan dengan posisi masih berdiri dihadapan Freya.


"Kita beneran tidak jadi dinner?" tanya Freya dengan tampang polosnya.


Bryan memutar bola matanya jengah. Dia tak habis pikir dengan pertanyaan yang Freya berikan. Bisanya istrinya itu masih kepikiran dinner disaat ingin bertaubat kepada-Nya. Padahal istrinya tadi sudah menyetujui malam ini dihabiskan untuk bertaubat.


"Kamu mau bertaubat apa mau dinner?" tanya Bryan balik pada istrinya.


"Ya bertaubatlah, dinner bisa dilakukan nanti." jawab Freya dengan cepat.


"Kalau bertaubat harus dilakukan segera dan jangan ditunda-tunda. Karena kita tidak tahu besok atau nanti bahkan satu menit lagi kita masih bisa bernafas apa tidak, tidak ada yang tahu." imbuh Freya yang sok tahunya.


"Kalau sudah tahu taubat harus dilakukan segera, kenapa masih mempertanyakan dinner segala? Hmm." Bryan yang gemas dengan Freya lantas menarik pelan hidung mancung Freya.


Hehehe...Freya hanya tertawa cengengesan saja. Dirinya juga tidak tahu kenapa masih mempertanyakan jadi dinner apa tidak. Itu keluar begitu saja dari pikirannya tadi dan akhirnya bertanya daripada nanti saat sholat taubat dirinya memikirkan dinner.


"Kita sholat taubat sekarang dan nggak usah memikirkan dinner lagi. Kita bisa dinner besok atau lusa, semoga tidak gagal lagi." kata Freya dengan semangat berdiri dan berjalan duluan untuk mengambil air wudhu.


"Semoga lahirannya masih lama, biar bisa dinner dulu sebelum lahiran. Aaminn."

__ADS_1


__ADS_2