Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Cemburu


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju ABA Corp, Rendy tak henti-hentinya mengumpat. Begitu banyak sumpah serapah dia ucapkan untuk Bara yang saat ini telah sah menjadi asisten pribadi Tuan Muda Abrisam, menggantikan dirinya.


Tadi setelah dirinya mengantarkan Mutia, sang pujaan hati bekerja, dirinya langsung tancap gas menuju BRATA Grup. Namun ditengah perjalanan dirinya mendapat telephone dari Bara kalau dirinya tidak perlu datang ke BRATA Grup, melainkan langsung saja stay di ABA Corp sesuai perintah Bryan.


"Selamat pagi Tuan Rendy!" sapa beberapa karyawan yang masih berlalu lalang di lobby padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat.


Rendy hanya acuh saja, pagi ini moodnya sudah tidak baik lagi setelah mendapat telephone dari Bara tadi. Sungguh,setelah dirinya tidak lagi menjabat sebagai asisten pribadi dari Bryan, dirinya merasa tertindas oleh Bara, apalagi Bryan yang sesuka hatinya memerintahkan dirinya untuk bolak-balik dari BRATA Grup ke ABA Corp dan begitupun sebaliknya.


"Aduh!!! Sekarang Tuan Rendy yang jadi CEO-nya, yang ada nanti kita tidak bisa bebas lagi seperti saat Tuan Alex yang menjabat sebagai CEO." ujar karyawan wanita yang memakai baju kerja terusan berwarna merah diatas lutut dengan make up tebal juga warna lipstik merah menyala.


"Iya benar. Ganteng sih daripada Tuan Alex, tapi gaya pemimpinan nya sebelas dua belas dengan Tuan Bryan." sahut karyawan wanita satunya lagi yang bergaya pakaian hampir sama dengan teman wanitanya.


"Dan aku yakin, sebentar lagi akan diturunkan peraturan yang mengatakan "Dilarang bagi karyawan wanita memakai baju sek si dan rok diatas lutut atau dipecat sepihak tanpa pesangon"." kata karyawan pria yang mendengar obrolan para karyawan wanita.


"Dan juga bagi yang telat datang ataupun suka ngegosip seperti kalian, pasti langsung di beri hukuman oleh Tuan Alex." imbuh karyawan pria satunya.


"Termasuk kamu!!" seru teman-temannya yang lain dan pergi menuju tempat kerja masing-masing sebelum terkena tegur oleh CEO baru.


*****


"Selamat pagi Tuan Rendy!" sapa Lisa sang sekertaris CEO ABA Corp. Dia berdiri dengan kepala setengah menunduk memberi hormat pada CEO baru nya.


"Hmm..." Rendy hanya berdehem dan masuk ke ruangan yang dulu ditempati Alex yang saat ini menjadi ruangannya.


Hufffttttt


Lisa menghembuskan nafas panjang dan kasar setelah melihat Rendy masuk ke ruang kerjanya. "Sabar Lisa..Tuan Rendy itu tidak seperti Tuan Alex. Dan kamu harus terbiasa dengan sikap dingin dan tegasnya atasan kamu." gumam Lisa dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Lisa!!" Lisa sontak berdiri lagi dari duduknya saat namanya dipanggil oleh suara berat dan serak. Padahal dirinya belum ada satu menit duduk, namun atasannya itu sudah memanggilnya.


"Berikan semua jadwal hari ini dan seminggu kedepan." perintah Rendy dan kembali menutup pintu ruang kerjanya.


Lisa mengangguk cepat "Baik Tuan." Dengan segera Lisa mencari jadwal kegiatan Rendy untuk seminggu kedepan dan juga jadwal hari ini yang begitu padat.


"Masuk!"


Lisa masuk ke ruangan Rendy setelah mendapat persetujuan dari sang pemilik ruangan. Dilihat Rendy tengah sibuk dengan komputernya.


"Ini Tuan jadwal untuk seminggu kedepan." Lisa menyerahkan Tab-nya pada Rendy.


"Dan ini ada beberapa berkas yang harus Tuan baca sebelum Tuan Alex datang."


Rendy yang tengah membaca semua jadwal kegiatannya menyerngit bingung menatap Lisa. "Berkas apa?" Rendy yang penasaran beralih pada berkas yang sudah berada di hadapannya dan diambilnya.


"Itu berkas menyatakan kalau Tuan Alex menyerahkan jabatannya kepada anda yang menjadi CEO ABA Corp saat ini."


"Tuan Bryan dan Nona Freya sudah menandatanganinya." jelas Lisa sang sekertaris.


"Kenapa Tuan Muda tidak memberi tahu apapun kepada ku?" gumam Rendy yang tidak dapat kabar apapun dari Bryan dari semalam.


"Apa Alex sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Rendy yang mengingat Alex akan tanda tangan setelah keluar dari rumah sakit.


"Sudah Tuan. Tadi pagi Tuan Alex menghubungi saya dan beliau akan datang siang ini untuk menandatangani berkas tersebut." jawab Lisa tanpa meninggalkan senyumnya seperti biasa dia lakukan.


Rendy menatap Lisa sekilas dan menutup berkas serah terima jabatan. "Kamu boleh keluar."


Lisa mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan itu. Dirinya tidak ingin berlama-lama berada diruangan atasannya itu, kalau tidak mau mati membeku.


"Apa ruangan yang saya minta sudah siap?"


Lisa yang sudah hampir membuka pintu pun mengurungkan niatnya saat mendengar pertanyaan Rendy. Dia berbalik dan tersenyum menatap atasan barunya itu.


"Maaf Tuan, belum siap." jawab Lisa takut dan menunduk.


"Kata kontraktornya akan siap dua sampai tiga hari lagi." imbuh Lisa.


Rendy mengangguk dan mengusir Lisa dengan gerakan tangannya tanpa menatap sekertaris nya itu. "Tunggu!!"


Lisa memejamkan matanya sejenak mendengar kembali suara Rendy. Dia mengurungkan niatnya untuk melangkah keluar dari pintu dan berbalik menghadap Rendy dengan senyum manis penuh keterpaksaan.


"Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Lisa yang sudah geram dengan atasan barunya, padahal ini masih pagi.


"Tolong kamu hubungi ke bagian perpajakan, minta karyawan yang bernama Mutia untuk segera menghadap ke saya saat ini juga."

__ADS_1


"Dan saya tidak ingin diganggu sampai Alex datang."


"Baik Tuan." tanpa banyak tanya lagi, Lisa bergegas keluar dan menghubungi bagian akuntansi dan perpajakan untuk meminta Mutia datang menghadap CEO baru.


Rendy mengerutkan keningnya saat mendapat pesan singkat dari Bara. "Maunya ini anak apa sih. Tadi diminta stay disini dan sekarang diminta kembali kesana setelah urusan dengan Alex selesai." gerutu Rendy yang kesal dengan asisten baru Bryan yang seenaknya sendiri memerintahkan dirinya.


"Dan kenapa Tuan Bryan juga Nona Freya sudah tanda tangan terlebih dahulu?"


"Kenapa tidak tanda tangan sama-sama nanti?" Rendy begitu penasaran kenapa Bryan juga Freya menandatangani surat itu duluan tanpa menunggu dirinya.


"Jangan bilang Tuan Bryan sudah membuang dan tak menganggap ku lagi."


"Awas saja kalau itu sampai terjadi. Aku tidak akan membantunya lagi kalau ada kesulitan." geram Rendy yang merasa Bryan sudah tidak memerlukannya lagi setelah dirinya sudah tidak jadi asisten pribadinya.


Rendy menatap handphonenya yang berbunyi, dilihatnya nama "Tuan Bryan" memanggil.


"Selamat pagi Tuan Bryan." sapa Rendy setelah menggeser tombol hijau pada layar handphonenya.


"Hmm...Pagi."


"Nanti siang Alex akan ke sana untuk menyerahkan jabatannya buat kamu."


"Aku sama Freya sudah tanda tangan dan maaf, kami tidak bisa datang kesana."


"Aku sama Freya juga Mama dan Anelis bersama Maura juga saat ini mau ke kota S."


"Dan tolong selain ABA Corp, BRATA Grup juga kamu handle."


"Bantu Bara di BRATA Grup juga."


"Terima kasih."


Rendy menatap handphone yang sudah mati itu. Bryan mengakhiri panggilan sepihak tanpa menunggu balasan dan protes dari Rendy.


"Kenapa aku tidak tahu kalau mereka ke kota S?"


"Sial!! Bryan sudah tidak menganggap ku lagi."


Srekkk


Rendy begitu kesal dan geram dengan Bryan yang sudah tidak menganggapnya lagi. Biasanya kalau ada masalah sedikit ataupun ingin pergi ke suatu tempat pasti dirinya lah orang pertama yang paling tahu. Dan sekarang, baru dua hari dirinya sudah tidak menjabat sebagai asisten pribadi Bryan, dirinya seakan sudah dilupakan oleh Bryan.


"Masuk!!" perintah Rendy pada orang yang telah berani mengganggunya saat ini. Tidak tahu saja orang itu kalau emosi juga tempramen Rendy sedang buruk. Apalagi tadi dirinya juga sudah meminta Lisa untuk tidak ada yang mengganggunya. Dan pastinya orang yang sudah berani mengganggunya akan dia jadikan pelampiasan amarahnya.


"Apa anda tidak diberitahu Lisa kalau hari ini saya tidak bisa diganggu?" bentak Rendy tanpa melihat orang yang masuk ke ruang kerjanya, padahal dia sendiri yang mengizinkan orang itu masuk.


"Maaf Tuan, saya telah mengganggu anda."


"Saya tadi kesini hanya karena perintah Tuan Rendy."


"Maaf kalau mengganggu, Permisi."


Rendy menoleh saat mendengar suara Mutia. Dirinya lupa kalau tadi meminta Lisa untuk memanggil Mutia supaya datang ke ruangannya.


"Mutia!! Sayang tunggu!!" Mutia melotot saat Rendy memanggilnya "Sayang" dengan suara yang begitu nyaring. Rendy tidak peduli dengan tatapan Mutia, dia melangkahkan kakinya cepat kearah pintu yang akan ditutup Mutia.


"Ada apa Tuan Rendy memanggil saya?" tanya Mutia dengan mengeratkan giginya juga senyum kesalnya.


"Maaf keceplosan tadi."


"Ayo masuk." Rendy tadi begitu refleks memanggil Mutia dengan panggilan "Sayang", apalagi saat dikantor. Dirinya lupa kalau Mutia sudah melarangnya untuk mempublis hubungan mereka dulu sebelum acara pernikahan digelar. Mengingat hampir sebagian karyawan di kantor ada yang tahu hubungannya dengan Alex. Mereka mengira Mutia dan Alex memiliki hubungan khusus yang lebih dari sekedar karyawan dan bos.


Rendy menutup pintu dan menggandeng tangan Mutia diajaknya duduk di sofa. Dia lantas memeluk Mutia dari samping, menyandarkan kepalanya dipundak Mutia dengan mata terpejam.


"Ren!! Jangan seperti ini. Ini masih di kantor dan aku takut nanti kalau Mbak Lisa atau karyawan lain masuk dan lihat." Mutia begitu risi dipeluk Rendy seperti itu. Dirinya begitu takut kalau hubungannya dengan Rendy diketahui karyawan saat ini, karena dia belum siap hubungannya dengan Rendy di publis.


"Tidak ada yang berani masuk."


"Tadi aku sudah minta Lisa untuk tidak ada yang mengganggu kita." ujar Rendy dan berpindah merebahkan kepalanya di pangkuan Mutia.


"Aku ingin tidur sebentar di pangkuanmu." imbuh Rendy dan menghadapkan wajahnya pada perut Mutia. Dia juga melingkarkan satu tangannya di pinggang Mutia.


Mutia tersenyum kecil dan mengusap surai hitam dan lebat milik Rendy dengan lembut. Dia melihat ada beberapa berkas yang tergeletak di lantai dekat meja kerja Rendy.

__ADS_1


"Apa kamu begitu lelah sampai harus membuang berkas sampai berserakan seperti itu?" tanya Mutia menunduk dan meneliti pahatan wajah Rendy yang begitu sempurna dimatanya. Mutia tersenyum sendiri mengingat dirinya yang tidak mengenali kalau Rendy adalah Kak Yudha yang ditunggunya selama ini.


"Hm..Tuan Muda kurang ajar itu telah membuangku."


"Dia melupakan aku begitu saja setelah mendapatkan Bara."


"Aku sudah tidak penting lagi buatnya." Kening Mutia mengkerut mendengar perkataan Rendy yang menurutnya aneh. Seperti seorang lelaki yang cemburu pada mantan kekasihnya yang sudah memiliki kekasih baru.


"Rend...Kamu masih normalkan?" tanya Mutia dengan ragu dan suara yang begitu pelan seperti berbisik.


Rendy membuka matanya dan menatap Mutia yang menatapnya penasaran itu. Dia bangun dari pangkuan Mutia dan mengahadapkan tubuhnya pada sang istri.


"Masih kamu pertanyakan aku normal apa tidak?"


"Memangnya apa yang aku lakukan padamu tiap malam itu apa?"


"Apa tidak cukup membuktikan kalau aku ini normal?" Rendy begitu kesal pada Mutia yang mencurigai dirinya tidak normal. Dirinya normal dan tidak belok. Dirinya masih lurus saja.


"Bukan seperti itu maksud aku, suamiku."


"Aku hanya merasa kamu cemburu sama Tuan Bryan yang sudah melupakan kamu karena ada Bara."


"Kamu seperti,_"


"Jadi maksud kamu aku ini cemburu pada Tuan Muda dan kamu mengira kalau Tuan Muda itu kekasih aku." sungut Rendy yang tidak terima dengan apa yang Mutia katakan terhadap dirinya.


"Rendy...Suamiku...Bukan seperti itu maksud aku." Mutia berjalan mendekati Rendy yang sudah terlebih dulu berpindah duduk di kursi kerjanya.


"Pangeran Lebah ku.." Mutia memeluk Rendy dari belakang, "Maafkan Putri Butterfly yaa."


Rendy tak bergeming, dirinya sudah begitu kesal, mood nya sudah buruk dari tadi pagi dan sekarang ditambah Mutia yang mengatai dirinya cemburu pada Bryan dan secara tidak langsung istrinya itu telah menyebut kalau dirinya pria tidak normal.


"Rend..Sayang!!!" Mutia berdiri disamping Rendy, menatap Rendy dengan tatapan sedih. "Aku minta maaf."


Mutia memejamkan matanya dan menghembuskan nafas pelan. "Baiklah, aku akan kembali ke tempat kerja ku dulu."


Mutia menghentikan langkahnya saat pergelangan tangannya di genggam erat oleh Rendy.


"Aku mau kamu disini dulu menemani aku." pinta Rendy.


"Aku masih banyak kerjaan." balas Mutia menatap Rendy yang terlihat begitu lelah.


"Sebentar saja."


Rendg menarik cepat tangan Mutia yang dipegangnya hingga tubuh ramping Mutia jatuh tepat dipangkuannya.


"Maaf, tadi aku membentakmu."


"Aku hanya lelah saja karena Tuan Bryan saat ini pergi ke kota S dengan keluarga Nona Freya."


"Dan si Tuan Muda itu tidak memberi tahuku dari kemarin-kemarin."


"Aku baru tahu tadi."


Mutia tersenyum dan mengangguk kecil. Dia tahu Rendy begitu lelah dengan pekerjaan yang begitu banyak. Apalagi dua hari yang lalu Rendy harus bolak balik antara ABA Corp ke BRATA Grup. Dan harus pulang malam terus. Ditambah sesampainya di apartemen, Rendy pasti selalu meminta jatah ranjang pada dirinya. Katanya untuk menghilangkan penat atas pekerjaan di kantor.


"Aku tahu."


"Maaf juga ya. Aku tadi juga mengatai kamu kalau kamu,_" Mutia tidak melanjutkan ucapannya karena Rendy mencium sekilas bibirnya.


"Jangan seperti itu. Aku takut nanti tiba-tiba Mbak Lisa masuk." suara Mutia tertahan karena kedua tangannya menutup mulutnya. Dia tidak mau Rendy mengambil kesempatan untuk mencium bibirnya.


"Tidak akan." Rendy memeluk tubuh ramping Mutia.


"Alex sudah keluar dari rumah sakit."


"Dan nanti dia akan kesini untuk menandatangani surat pengalihan jabatan." imbuh Rendy dengan suara pelan seakan dia takut kalau Alex akan merebut Mutia darinya. Apalagi dirinya dengan Mutia baru menikah siri dan hubungan mereka belum di publis.


"Jadi suami aku sebentar lagi akan resmi jadi CEO ABA Corp dong." goda Mutia dengan suara centil dan manja. Namun hatinya begitu takut. Takut nantinya dibilang kalau dirinya itu wanita murahan. Mencampakkan Alex hanya karena Alex sudah tidak menjadi CEO ABA Corp dan berpaling ke Rendy yang saat ini menjadi CEO ABA Corp.


"Lihatlah Bara pemandangan di belakang meja kerja itu."


"Sungguh sepasang suami istri yang tidak bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan mana urusan pribadi."

__ADS_1


"Tidak profesional sama sekali."


Rendy menatap tajam dua orang yang baru saja masuk ke ruang kerjanya tanpa permisi terlebih dahulu. Berbeda dengan Mutia yang sudah berdiri dan menunduk dari tadi setelah mendengar ada suara orang lain d ruangan kerja Rendy.


__ADS_2