
Caca berjalan layaknya seorang model yang berjalan di atas catwalk. Dia meragakan bagaimana gerakan kaki seorang model yang benar itu seperti apa saat berjalan di atas catwalk. Dia juga meragakan bagaimana posisi punggung dan dada yang benar saat berjalan. Karena seorang model saat meragakan busana di atas panggung catwalk tidak hanya sekedar berjalan dengan memiliki tubuh tinggi langsing dan berwajah cantik saja, tapi juga harus memperlihatkan keindahan baju yang dia peragakan.
Freya pusing sendiri melihat dan mendengar semua penjelasan dari adik iparnya itu yang menurutnya ribet. "Tinggal jalan gitu aja kok repot." keluh Freya dalam hatinya.
Prok prok prok
Maura bertepuk tangan dengan senyum yang sedari tadi tidak kunjung luntur saat melihat Aunty nya berjalan layaknya seorang model.
"Aunty keren!!!" Maura mengangkat kedua jempol tangannya ke arah Caca.
Caca tersenyum lebar pada Maura sambil menaikkan kedua alisnya. Dia melirik Freya yang terlihat pusing atau mungkin memang tak paham sama sekali dengan penjelasannya. "Bagaimana Kak? Sudah paham kan?" tanya Caca.
Freya menyengir kuda, menggeleng kepala pelan sambil menggaruk pelipisnya.
Huufftttt
Caca dan Maura sama-sama menghembuskan nafas lelah. Ini sudah ke lima kalinya Caca meragakan dan menjelaskan kepada Freya namun istri dari Bryan itu belum juga paham. Padahal Maura tadi sekali Caca menjelaskan langsung paham dan bisa, sedangkan Freya yang sudah di jelaskan sebanyak lima kali tak kunjung paham.
"Kak Freya sebenarnya tadi memperhatikan aku nggak sih?" tanya Caca menahan kegeraman dan kekesalan pada iparnya.
"Kak!!!" bentak Caca dengan kesal saat melihat Freya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas yang dia tanyakan tadi.
"Maaf, Ca. Kak Freya memang benar nggak paham soal itu."
"Maafin Kakak yaa." Freya menyentuh lengan Caca dan diusapnya pelan. Dia menatap Caca dengan tersenyum.
"Nanti kalau dimarahi Mama bagaimana?"
"Caca hanya bisa ngajarin kak Freya malam ini dan besok sudah nggak bisa karena Caca harus ke kota B selama 3 hari Kak." keluh Caca yang kini sudah menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Tadi Mama Lea berpesan pada Caca untuk mengajari Freya bagaimana caranya berjalan di atas panggung catwalk sebelum pergi keluar dengan Papa yang katanya mau menghadiri acara pesta pernikahan teman bisnis Papa.
"Kakak juga tidak tahu." Freya juga bingung sendiri, kenapa otaknya tidak juga menangkap penjelasan dari Caca.
"Dan kenapa juga Mama harus mendaftarkan nama Kakak dan nama Maura di acara peragaan busana ibu dan anak itu sih?" imbuh Freya yang juga mengeluh.
Freya tadi saat selesai memasak atau lebih tepatnya merecoki para koki yang sedang memasak untuk makan malam. Mama Lea memberi tahu dirinya kalau dia (Freya) dan Maura sudah di daftarkan di acara peragaan busana Ibu dan anak. Dan acaranya itu akan di selenggarakan secara live di BRATA TV besok lusa tidak ada penolakan.
"Kenapa Bunda nggak coba dulu jalan, nanti kalau ada yang salah biar dibenarkan sama Aunty." saran Maura menatap dua wanita dewasa yang wajahnya sama-sama di tekuk itu.
"Iya kak, coba aja dulu."
"Caca besok sudah tidak bisa mengajari ini." Caca menegakkan duduknya menatap Freya.
Freya menatap bergantian Maura dan Caca yang menampakkan wajah memelas itu. Akhirnya dia mengangguk juga membuat Caca dan Maura begitu hebohnya.
"Ca!!! Ini heels nya tinggi banget sih!! Kakak takut!!" seru Freya yang tidak berani melangkahkan kakinya. Dia takut jatuh dan membuat kakinya terkilir.
"Ya ampun Kak Freya!!!"
"Itu heels nya nggak tinggi, itu cuma 10 cm saja."
"Biasanya para model itu memakai yang 12-15 bahkan sampai 20 cm dan mereka baik-baik saja."
"Bukannya Kak Freya juga sering memakai heels?"
"Kakak Freya kan dulunya kerja di kantoran."
Freya memejamkan matanya dan menggeleng gemas dengan dirinya sendiri yang sepertinya menjadi penakut ini. Biasanya pakai yang 5 cm dan 7 cm itupun sekarang sudah jarang dia pakai kalau bukan ke kantor Bryan atau ke acara resmi saja.
"Maura!! Ayah tadi belum pulangkan sayang?" tanya Freya saat mengingat Bryan yang sudah beberapa hari terakhir ini pulang malam.
"Belum bunda." jawab Maura di sertai gelengan kepala.
Freya melirik jam yang terpasang di dinding belakang sofa sudah menunjukkan pukul setengah sembilan lewat. "Apa ada masalah di kantor sampai Mas Bryan sudah hampir 4 hari ini pulang malam terus? Tapi kalau ada masalah kenapa Papa terlihat biasa saja dan pulang dari kantor seperti biasa di sore hari." batin Freya bertanya-tanya.
"Kak Bryan memang begitu kak kalau banyak kerjaan, gak usah dipikirkan."
"Lebih baik kak Freya cepat coba jalan biar nanti Caca koreksi." kata Caca yang sudah berdiri di titik dimana Freya nantinya harus berpose memperlihatkan busana yang dia kenakan.
Freya mendengkus kesal menatap Caca yang terlihat memainkan handphone nya itu. Entah akan merekam dirinya atau sedang membalas chat dari temannya Freya tidak tahu.
Freya mengambil nafas dalam dan panjang, lalu di hembuskan nya perlahan. Dia sudah mulai tenang dan semoga dengan heels setinggi 10 cm dia bisa melangkah dengan imbang dan tidak jatuh.
"Tegak kak, dan pandangan lurus kedepan." terik Caca saat Freya sudah memberanikan diri melangkah walau pelan.
Caca mengangkat kedua jempolnya sambil tersenyum puas saat melihat Freya yang sudah dengan lihainya berjalan layaknya model sungguhan setelah beberapa kali percobaan.
"Hore Bunda sudah bisa." teriak Maura yang turun dari sofa dan berjalan menuju Freya yang bersandar di bahu sofa.
__ADS_1
"Ayo kak kita bikin vidio." ajak Caca pada Freya.
"Nggak Ca, Kakak capek." tolak Freya dengan tampang lesunya.
"Sekali take aja nggak berkali-kali, please!!" mohon Caca dan Maura ikut-ikut memohon padanya.
Dan akhirnya mereka membuat vidio layaknya seorang yang sedang fashion show. Bahkan Caca mempersiapkan properti mulai dari tas juga topi dan kacamata.
"Astaqfirullahalazim!!!"
"Kalian ini malam-malam bukannya istirahat ini malah bikin konten."
Mereka bertiga menoleh saat mendengar suara yang begitu familiar di telinga mereka bertiga.
"Ayah!!!" panggil Maura yang begitu senang melihat Ayahnya sudah pulang dari bekerja. Dia berlari ke arah Ayahnya dan menghambur ke pelukan Ayahnya itu. Sudah dua malam dia tidak melihat Ayahnya pulang kerja karena tidur lebih awal.
"Cantiknya Ayah kok belum tidur? hemm" di ciumnya pipi gembul Maura dengan gemas.
"Maura belum ngantuk."
"Dan Maura sama Bunda tadi diminta Oma untuk belajar berjalan seperti model sama Aunty Caca, Ayah." ucap Maura dengan semangat.
Bryan memicingkan matanya menatap Freya yang sudah melepas sepatu heels dan juga kacamata yang tadi dia pakai, berjalan ke arahnya.
Freya tersenyum pada Bryan dan mencium tangan kanan Bryan. "Mas tadi sudah makan?" tanya Freya menatap Bryan.
"Sudah, tadi makan bersama beberapa klien menggantikan Papa." Freya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu Freya siapkan air hangat buat Mas mandi." Bryan mengangguk saja dan melangkah ke kamar mengikuti Freya.
"Kak Freya!! siapa yang bantuin Caca beresin ini semua?" teriak Caca saat melihat Freya sudah naik ke lantai dua bersama Bryan dan Maura juga.
"Beresin sendiri." sahut Bryan tegas sebelum Freya menyahuti teriakan Caca.
Setelah melihat Bryan sudah masuk ke kamar mandi, Freya mendekati Maura yang rebahan di atas ranjang sambil bermain handphone milik Ayahnya.
"Maura nggak ngantuk apa kok mainan handphone nya Ayah?" tanya Freya yang sudah duduk di samping Maura.
"Hehehe..Maura boleh tidur disini kan, Bun?" tanya Maura sambil memberikan handphone Bryan pada dirinya.
"Boleh dong. Ayo ke kamar mandi untuk sikat gigi basuh muka tangan dan kaki." ajak Freya ke kamar mandi.
Freya dan Maura masuk ke kamar mandi dimana Bryan masih mandi di dalamnya. Tenang kawan, kamar mandinya antara wastafel dengan shower dan bathtub dipisahkan dengan dinding kaca.
"Sebentar lagi juga sudah selesai cantik." sahut Bryan yang terlihat membilas tubuhnya di bawah shower.
"Cepat ya Ayah." kata Maura yang sudah menyelesaikan kegiatannya dan kembali ke kamar.
"Sayang, tolong buatkan aku lemon madu yahh." pinta Bryan yang melihat Freya masih di kamar mandi.
Freya mengiyakan dan segera keluar dari kamar mandi. Dia meminta Maura untuk tidur dulu karena dirinya mau membuatkan pesanan Bryan.
"Ini Mas." Freya meletakkan secangkir lemon madu hangat di atas meja sofa dimana Bryan duduk saat ini.
"Terima kasih ya sayang." ucap Bryan menatap Freya dengan tersenyum dan meminta istrinya itu untuk duduk di sebelahnya.
Setelah meminum habis lemon madu buatan istrinya itu Bryan merengkuh tubuh Freya ke dalam dekapannya. Diusap dan diciumnya rambut kepala Freya berulang-ulang sambil menghirup wangi rambut Freya.
"Maaf ya sayang beberapa hari ini aku pulang malam." ucap Bryan setelah hening beberapa menit.
Freya mengangguk, dia sedikit mengangkat wajahnya untuk menatap wajah suaminya. Freya tersenyum saat Bryan juga menatap wajahnya.
"Kenapa harus minta maaf kalau memang kerjaan Mas Bryan banyak di kantor."
"Freya nggak apa asal Mas Bryan harus bisa jaga kesehatan dan mengatur waktu untuk istirahat juga."
"Jangan terlalu memforsir pekerjaan, itu tidak baik."
"Freya tidak ingin nantinya Mas sakit kalau harus pulang malam terus dan sering mandi malam." jelas Freya.
Bryan tersenyum tipis dan mencuri kecupan singkat di bibir istrinya itu, "Terima kasih atas pengertian kamu. Aku tidak akan capek dan sakit juga tidak akan lupa untuk istirahat di sela pekerjaan yang akhir-akhir ini begitu banyak." ujar Bryan.
"Kenapa Mas tadi mencium bibir Freya?"
"Mas masih dalam masa hukuman ya." rajuk Freya dengan wajah marah namun tangannya semakin mengeratkan dekapan pada suaminya itu.
"Bukannya kemarin kamu sudah memaafkan aku?" tanya Bryan dan diangguki Freya.
"Terus kenapa nggak boleh cium kamu?" tanya Bryan lagi.
__ADS_1
"Kan baru seminggu dan masih tiga minggu lagi." jawab Freya dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Sayang, jangan lama-lama dong. Sudah ya seminggu saja."
"Apa kamu gak kasihan sama 'si rosi'?"
"Kalau dia karatan dan gak bisa digunakan lagi nanti gimana?" rajuk Bryan yang sudah melesakkan wajahnya di tengkuk Freya juga semakin mengeratkan dekapan pada istrinya.
Freya hanya terkekeh pelan, dia mencoba menahan rasa gelinya saat Bryan justru menciumi tengkuknya.
"Isshhhh Mas Bryan mah jangan dileher." Freya mencubit pelan perut rata Bryan saat Bryan memberikan tanda merah keungu-unguan di lehernya.
Bryan melonggarkan dekapannya dan menatap manik coklat Freya, "Nggak boleh di leher berarti boleh di tempat lain asal yang tertutup?"
Bryan menyeringai mendapat anggukan dari Freya, "Sesuai keinginan anda ratuku." geram Bryan dengan suara beratnya.
"Hah???" Freya masih belum paham maksud Bryan. Detik berikutnya dia baru paham namun telat, Bryan sudah menyesap belahan kenyal miliknya dengan agresif.
"Mas Bryan kalau mencium nggak bilang-bilang dulu. Kan jadi engap aku nya." rajuk Freya dengan wajah memerah karena kekurangan pasokan oksigen.
Bryan terkekeh saat melihat Freya beberapa kali mengambil nafas dan dibuang kembali dan seperti itu terus sampai nafasnya kembali normal.
"Kenapa Mas Bryan tertawa seperti itu?" Freya mendelik tak suka pada Bryan.
"Nggak apa."
"Kamu sama Maura lusa akan ikut fashion show yang akan diadakan Mama ya?" tanya Bryan yang tadi melihat instastory milik Caca.
"Hmm.." Freya mengangguk mengiyakan.
"Mas izinin Freya ikut?" tanya Freya
"Mau bagaimana lagi, kalau nggak aku izinin nanti Mama makin tidak suka sama kamu."
"Tapi kalau aku izinin, aku sendiri yang tidak suka dan tidak rela istriku yang cantik ini di lihat banyak orang." jawab Bryan yang sebenarnya merasa keberatan kalau istrinya harus berjalan lenggak lenggok di panggung fashion dan dilihat begitu banyak orang.
"Freya sejujurnya juga tidak mau. Tapi tadi melihat antusias Maura yang begitu besar saat latihan dan juga Mama sendiri yang mendaftarkan kami juga mau berbicara lagi dengan Freya. Membuat Freya tidak mampu untuk menolaknya." ujar Freya.
"Ya sudah sebaiknya kita tidur, dan ikuti saja keinginan Mama yang terpenting baik untuk kamu dan keluarga kecil kita." kata Bryan dengan bijak.
"Tunggu disini sebentar Mas!" pinta Freya dan dia berjalan menuju nakas samping tempat tidur dan mengambil sesuatu di dalam laci.
"Apa itu sayang?" tanya Bryan saat melihat Freya kembali membawa kertas berwarna putih.
"Ini apa maksudnya, Mas?" Freya menunjukkan foto yang dia pegang dengan berdiri di hadapan Bryan.
Bryan bangun dari posisi duduknya dan menatap diam pada Freya. Dia tidak percaya kalau Freya yang mengambil foto itu yang dia kira hilang saat akan di tunjukkan pada Papa Abri. Bahkan dia sempat menyalahkan Rendy juga Alex bahkan Bara yang saat ini dia utus untuk pergi menjemput sepupunya.
"Kenapa ada foto Mama kandung Freya dengan mantannya Mas Bryan?"
"Apa Mas Bryan bisa jelaskan pada Freya?"
"Freya yakin ini asli bukan editan." tanya Freya yang masih mencoba tenang meski hatinya sebenarnya sudah gelisah dari beberapa hari belakangan ini.
"Sayang duduklah dulu! Akan aku jelaskan." Bryan juga terlihat tenang saat membawa Freya duduk di sampingnya.
"Kamu dapat foto itu dari mana?" tanya Bryan.
"Dari mobil yang biasa Mas Bryan pakai saat ke kantor."
"Freya tak sengaja menemukan foto itu disana saat Mas meminta Freya untuk mengambilkan handphone Mas yang tertinggal di mobil." jawab Freya jujur.
"Apa masih ada rahasia lagi yang Mas Bryan rahasiakan dari Freya?" tanya Freya menatap lekat Bryan yang sama-sama menatapnya lekat.
"Kamu mau tahu semuanya?" tanya Bryan balik, lebih baik dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu daripada harus menutup-nutupi. Meski terkadang kejujuran itu pahit diawal, namun akan manis diakhir. Percayalah, kejujuran itu kunci dari setiap permasalahan meski nantinya banyak yang menghujat tapi kenyataan itu kita tidak membutuhkan hujatan manusia melainkan pengakuan dari Allah.
Freya mengangguk ragu, "Aku mau." meski ada keraguan di hatinya. Jujur, dia belum siap jika harus mengetahui kenyataan kalau dia dan Anelis adalah saudaraan. Apalagi saat Freya melihat-lihat beberapa foto Anelis yang sekilas mirip dengan Bapaknya.
Siap tidak siap, percaya tidak percaya itulah kenyataannya.
🍁🍁🍁
Assalamualaikum kakak-kakak kesayangan.
Author kembali lagi nih setelah istirahat total dua hari tanpa tahu dunia luar seperti apa. Maaf ya tidak up untuk beberapa hari dikarenakan kondisi Author yang tiba-tiba drop karena kehujanan. Dan Alhamdulillah saat ini sudah sembuh meski masih ada sisa-sisa sedikit rasa pusing dan lemasnya.
Terima kasih untuk kalian kakak-kakak kesayangan yang masih setia dengan si gemoy Maura dengan Ayah Bryan juga Bunda Freya.
Have a nice day kakak-kakak kesayangan
__ADS_1
Jaga kesehatan yaaaaa
Big hug from far away 🤗🤗🤗