Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Berdebat


__ADS_3

Tujuh hari sudah usia Bryan Junior dan sudah empat hari baby boy itu pulang ke rumah beserta dengan sang Bunda juga. Begitu banyak perubahan di keluarga kecil Bryan setelah kehadiran si jagoan kecil Bryan Junior. Bryan dan Freya sekarang mulai berbagi tugas untuk memberi kasih sayang kepada kedua anaknya. Mereka tidak ingin Maura merasa tersingkirkan akan kehadiran adik kecil. Apalagi Maura hanya berada di Swiss selama sebulan saja, karena hanya sebulan Maura izin sekolahnya. Gadis kecil itu selebihnya belajar daring dari rumah mengingat libur sekolahnya hanya seminggu, tapi dia izin tidak masuk sekolah selama sebulan.


Seperti pagi ini, Ayah dan gadis kecil terlihat tengah bersama di ruang santai. Bukannya bercengkrama dan bercerita, keduanya terlihat berdebat tentang siapa nanti nama yang pantas buat baby boy, anggota baru di keluarga itu. Ya, Maura sudah mulai mau menerima sang adik. Gadis kecil itu sudah tidak cemburu dan menempel terus sama sang Bunda. Tapi, sekarang gadis kecil itu selalu saja berdebat dengan sang Ayah bila itu menyangkut adik kecilnya. Seperti sekarang saat membahas nama buat sang adik kecil.


"Attar, Attar, Attar, Attar titik. Namanya harus ada Attar nya dan panggilannya harus Attar." seru Maura dengan kencang sambil bertolak pinggang menatap tajam sang Ayah yang sedari kemarin tidak menyetujui ide pemberian nama debay nya Attar.


"Rifqie. Nama Rifqie lebih bagus daripada Attar. Dan kepanjangannya nanti Abrisam Rifqie Alvaro. Seperti nama Ayah. Abrisam Bryan Alvaro." ucap Bryan dengan tersenyum bangga dan mengangkat sebelah alisnya. Menurutnya nama pemberian darinya lebih bagus daripada pemberian Maura. Attar? Apa itu Attar? Kalau lidahnya sampai kebelibet, yang ada nanti jadi Altar. Haduch..memang mau ke Altar pelaminan apa. Ada-ada saja. Bryan menggeleng pelan dengan pemikirannya yang entah kenapa sampai ke situ.


"Bagusan Attar, Ayah. Attar itu artinya murni dan suci." Maura tetap kekeh dengan pendiriannya. Dia ingin nama adiknya harus ada Attar nya.


"Nggak. Sekali Rifqie tetap Rifqie. Tidak boleh yang lain." Bryan sama saja dengan Maura. Dia terlihat tidak mau mengalah dari putri kecilnya.


"Attar!"


"Rifqie!"


"A-t-t-a-r dibaca Attar!"


"Rif-qie!"


"ATTAR!!" teriak Maura saat Ayah nya tidak mau mengalah sama sekali dengan dirinya.


"Ehh...kenapa teriak-teriak sih cucu Oma." Mama Lea terlihat mendekati Ayah dan anak yang tengah berdebat tentang siapa nama yang cocok untuk Bryan Junior.


"Kenapa teriak-teriak? Hem.." tanya Mama Lea dan memangku tubuh kecil cucu pertamanya.

__ADS_1


"Diapain sama Ayah sampai berteriak kencang seperti itu?" Mama Lea mengusap lembut rambut kepala cucunya.


Maura menekuk wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Gadis kecil itu juga terlihat menundukkan kepalanya sambil menautkan kedua jari-jari tangannya.


"Ayah jahat Oma. Ayah tidak mau mengalah sama Maura. Padahal Maura hanya ingin nama adiknya Maura nanti dipanggil Attar. Tapi Ayah tidak mau. Ayah justru membentak Maura." adu Maura dengan air mata palsunya. Dia yakin, Oma nya pasti akan membantunya kali ini. Apalagi nama yang dia sebutkan tadi memiliki arti yang bagus. Murni dan suci. Pasti Oma nya akan mendukungnya untuk melawan Ayah Bryan dan mempertahankan nama Attar untuk dedek bayi nya.


Bryan terlihat membelalakkan matanya saat sang putri memfitnahnya. Membentak? Kapan dia membentak Maura? Perasaan dari tadi nada bicaranya biasa saja tanpa membentak ataupun memarahi Maura. Yang ada Maura yang berbicara kencang dan teriak pada dirinya saat memperdebatkan nama buat baby boy.


"Ayah tadi membentak Maura?" dengan mimik wajah dibuat sesedih mungkin dan air mata palsunya, Maura mengangguk dan mengiyakan sang Oma kalau Ayah Bryan tadi membentak dirinya.


Mama Lea terlihat menghembuskan nafas kasar dan menatap Bryan sengit nan tajam. "Beraninya kamu membentak cucu Mama sampai menangis seperti ini. Ayah macam apa kamu tidak mau mengalah sama anak sendiri." omel Mama Lea yang tidak suka cucu pertamanya dibentak dan dimarahi oleh Ayahnya sendiri.


Bryan semakin melebarkan bola matanya saat melihat Maura yang tengah menjulurkan lidahnya pada dirinya. Gadis kecil itu juga tidak lupa mendelik dan menarik kebawah kedua kantung matanya mengejek sang Ayah tanpa sepengetahuan sang Oma tentunya.


Belum juga Bryan mengeluarkan suaranya untuk membalas ejekan sang putri, Mama Lea sudah duluan membentak dirinya.


"Ini kenapa sih, dari tadi Opa dengar ribut terus. Meributkan apa memangnya?" tanya Papa Abri yang bergabung dengan istri, anak dan cucunya. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan meski perutnya sekarang sudah mulai sedikit membuncit itu mendudukkan pantatnya di sebelah Bryan.


"Apa lagi kalau bukan nama buat si kecil. Mereka tidak ada yang mau mengalah. Apalagi anak Papa, tidak mau mengalah sama sekali sama cucu Mama." ucap Mama Lea sewot pada Bryan terlihat mendelik kan kedua matanya pada sang putra satu-satunya.


"Sudah nggak usah ributkan nama buat cucu lelaki Opa. Biar Opa saja yang ngasih nama bu_"


"JANGAN!!"


"TIDAK!!"

__ADS_1


Belum juga Papa Abri menyelesaikan ucapannya, Bryan dan Maura sudah berteriak kencang hingga suara Ayah dan anak itu menggema di sepenjuru rumah. Mereka berdua tidak ingin pria paruh baya itu memberi nama buat baby boy. Karena sebelumnya usul nama yang Papa Abri berikan sungguh membuat Bryan dan Maura pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak pusing coba. Papa Abri memberi nama baby boy dengan nama Brahmana. Katanya baby boy, jagoan kecil Bryan lahirnya besar seperti sapi brahman. Oh..sungguh Opa tidak tahu diri, suka sekali menyamakan cucu nya sendiri dengan seekor sapi.


Freya dan Mama Marisa yang ada di dalam kamar dengan Bryan Junior hanya menggelengkan kepala mendengar teriak itu.


"Itu kenapa lagi sih? Perasaan dari tadi teriak-teriak terus." tanya Mama Marisa penasaran karena sedari tadi mereka hanya mendengar teriakan saja tapi tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya di luar sana. Di ruang santai.


Freya yang tengah menyusui Bryan Junior hanya tersenyum menanggapi rasa penasaran Mama Marisa. Dia sudah tahu kenapa suami dan putri nya itu berteriak-teriak. Apalagi kalau bukan soal memperdebatkan nama buat si jagoan kecil Ayah dan Bunda, Bryan Junior, baby boy.


"Apa mereka masih memperdebatkan nama buat cucu Mama?"


Freya mengangguk, mengiyakan Mama Marisa. Memang kenyataannya seperti itu. Itu sudah terjadi semenjak Bryan Junior diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ayah dan anak itu langsung mengusulkan nama dan akhirnya berdebat sampai saat ini karena belum ada yang mau mengalah.


"Ya Allah, Ya Rabbi. Kenapa Bryan tidak mau mengalah saja sih sama Maura? Atau nama dari pemberian mereka digabung saja kan bisa. Tidak perlu berdebat dan teriak-teriak seperti itu."


Mama Marisa terlihat gemas sendiri dengan menantu dan cucu perempuannya itu. Berdebat hanya karena sebuah nama untuk Bryan Junior. Ingin rasanya dirinya saja yang memberikan nama buat cucu nya yang baru tujuh hari yang lalu dilahirkan oleh putri bungsunya, Freya.


"Freya semalam juga sudah memberi saran seperti itu pada mereka, Ma. Tapi mereka tetap saja tidak mau. Masih tetap dengan pendirian mereka masing-masing." ujar Freya sambil tersenyum menatap baby nya yang tengah menyesap pu ting nya dengan rakus.


"Haus banget ya ganteng nya Bunda. Habis apa sih tadi sampai kehausan gini. Hmm." Freya terlihat gemas dengan sang baby sampai menciumi pipi Bryan Junior dengan gemas hingga membuat mulut Bryan yang tengah menyesap susu terlepas.


"Sssttttt...Maafin Bunda sayang, ini minum lagi." Freya buru-buru menyodorkan pu ting nya pada Bryan Junior sebelum baby boy itu menangis karena acara menyesap susunya diganggu.


"Ayah dan anak gadisnya itu memang harus diberi pelajaran. Biar apa-apa sedikit saja tidak perlu didebatkan. Gemes banget deh Mama sama mereka." dengkus Mama Marisa yang gemas dengan kelakuan menantu dan anaknya.


"Freya juga gemas dengan suami dan putri kesayangan Bunda."

__ADS_1


__ADS_2