Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Tukang Pijit


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Bryan sudah berani menggendong baby Attar meski terlihat masih kaku. Seperti pagi ini, Ayah dua orang anak itu terlihat duduk di halaman belakang sambil berjemur bersama baby Attar yang dia rebahkan di atas dada nya dengan posisi tengkurap dengan keduanya sama-sama memakai kacamata hitam dan bertelanjang dada. Sebuah musik klasik menemani kedua lelaki berbeda generasi itu berjemur di bawah sinar hangat mentari pagi.


"Hai jagoan! Nanti kalau kamu sudah bisa berjalan dan berbicara, Ayah akan mengajari kamu ilmu bela diri, taekwondo, atau mungkin kung fu. Ayah ingin kelak kamu bisa menjaga Bunda sama kakak Maura dan mungkin adik kamu nanti kalau Ayah tidak ada disisi kalian. Jagoan Ayah nanti yang akan menggantikan posisi Ayah untuk menjaga mereka."


Bryan tersenyum miris mendengar perkataan yang baru saja keluar dari bibirnya. Ada perasaan nyeri dihatinya saat dia mengatakan 'menggantikan posisi Ayah'. Dia merasa kalau dirinya tidak akan bisa selalu menjaga keluarga kecilnya. Terutama menjaga Freya, istri yang sangat dia cintai. Tidak mungkin dia akan selalu berada disisi Ibu dari anak-anaknya itu mengingat umur mereka terpaut jauh, 8th.


"Kamu nanti harus menyayangi Bunda dan Kakak kamu. Jangan pernah sakiti mereka dan membuat Bunda dan Kakak kamu sedih. Terutama Bunda, jangan pernah kamu membuat istri Ayah meneteskan air mata kesedihan atau Ayah tidak akan memaafkan kamu dan tidak akan memberikan kamu warisan sepeser pun." Ancam Bryan pada baby Attar yang hanya diam menggeliat di atas dada telanjang sang Ayah.


Bryan terkekeh pelan melihat jagoan kecilnya yang sepertinya merespon semua perkataannya melalu gerakan tubuh yang begitu menggemaskan.


"Takut juga kamu ternyata sama Ayah."


Bryan mengangkat tubuh mungil baby Attar dan memposisikan tubuhnya sendiri dengan posisi duduk tegak. Digendongnya baby Attar dengan satu tangan saja dan diciumnya gemas setiap inci wajah sang putra.


"Ayo kita masuk. Ayah takut nanti kulit kamu gosong. Bisa dimarahi Bunda nanti Ayah, terus nggak dapat jatah dari Bunda. Bisa karatan nanti senjata Ayah."


Bryan meraih handuk kecil yang tadi dia bawa dan dia tutup kan ke tubuh sang putra sebelum masuk kembali ke dalam rumah.


Bryan menghentikan langkahnya saat mendengar suara sang putri dan sang istri dari arah dapur. Dia melangkahkan kakinya menuju dapur terlebih dahulu daripada ke kamar.


Lihat, lihat, lihat, cloud bread


Imut, lucu, lembut, cloud bread


Hongbi, Hongshi, dan teman-teman


Habis makan cloud bread, pasti senang


Kau mau apa? Lihatlah


Ada cloud bread di awan

__ADS_1


Ketika cloud bread turun


Campur resep cinta Ibu


Cloud bread, cloud bread


Kita 'kan punya cloud bread


Cloud bread, cloud bread


Ku senang punya cloud bread


Cloud bread, cloud bread


Kita 'kan punya cloud bread


Cloud bread, cloud bread


Ku senang punya cloud bread


Bryan tersenyum melihat istri dan putri cantiknya tengah bernyanyi sambil membuat kue. Bahkan kedua wanita berbeda generasi itu tidak menyadari kehadirannya dengan baby Attar. Mereka terlihat asik membuat adonan kue dan dicetak diatas loyang kue. Entah kue apa yang mereka buat, yang pasti itu kue request Maura. Karena semalam putri cantiknya itu sebelum tidur meminta dibuatkan kue sebelum Maura kembali lagi ke tanah air bersama Opa dan Oma nya.


Ya, Maura sudah hampir sebulan berada di Swiss bersama mereka dan beberapa hari lagi akan pulang ke tanah air. Dan itu artinya mereka akan tinggal jauh lagi dari gadis kecil mereka yang cerewet dan suka beradu mulut dengan sang Ayah.


Sebenarnya Freya maupun Bryan berat melepaskan Maura yang harus tinggal jauh dari kedua orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi, Maura tidak mau home schooling untuk sementara waktu dan Freya juga Bryan tidak mungkin ikut pulang ke tanah air. Mengingat Baby Attar belum genap satu bulan dan itu tidak memungkin kan mereka membawa baby Attar naik pesawat. Mereka tidak ingin mengambil resiko bila terjadi sesuatu dengan baby Attar. Mungkin nanti setelah usia baby Attar tiga sampai empat bulan mereka akan membawa pulang baby Attar ke tanah air dan berkumpul lagi bersama keluarga besar yang lain.


"Ekhemm!!"


Freya yang tengah menuangkan adonan kue ke loyang kue menoleh melihat siapa yang berdehem dengan kerasnya. Freya tersenyum tipis saat tahu siapa orang yang hampir saja membuatnya kaget. Siapa lagi kalau bukan Bryan, suaminya yang paling tampan sedunia.


Bahkan baby Attar yang berada di gendongan Bryan pun terlihat kaget saat mendengar deheman dari sang Ayah yang begitu keras.

__ADS_1


"Ayah!!" pekik Maura dengan melambaikan kedua tangannya yang penuh dengan tepung meminta sang Ayah mendekat.


"Ayah sama adik Attar seperti tukang pijat langganan Opa saja kalau pakai kacamata hitam."


Freya tertawa mendengar ucapan putri kecilnya. Gadis kecilnya itu selalu saja membully Ayahnya kalau lagi bersama, tapi kalau tengah berjauhan, Ayah dan anak itu saling merindukan.


Celetukan Maura yang tepat sasaran membuat Bryan langsung melepaskan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya. Ayah dua orang anak itu tidak mau jadi bahan bualan dan ejekan putri cantiknya. Sudah cukup dia kalah terus sama si kecil Maura. Dia tidak mau menjatuhkan harga dirinya lagi kalau harus kalah dan jadi bahan ejekan putri cantiknya. Lebih baik diam dan mengalah saja daripada membalas dan akhirnya kalah juga dari sang putri.


"Mana ada tukang pijit yang memiliki badan perfect dan atletis seperti Ayah, Kak."


Bryan tersenyum bangga saat istrinya memuji tubuhnya yang perfect dan atletis. Sungguh apa yang Freya katakan benar adanya. Tubuhnya memang idaman setiap kaum hawa. Dan istrinya itu selalu memuji tubuhnya kala mereka tengah bercumbu.


"Kalau pun ada tukang pijat seperti Ayah, Bunda pasti akan minta di pijit sama dia."


Mata Bryan mendelik mendengar lanjutan perkataan yang baru saja keluar dari mulut manis istrinya itu. Apa tadi istrinya itu bilang? Minta dipijit kalau tukang pijit nya seperti dirinya. Bryan mengepalkan erat salah satu tangannya hingga buku jarinya memutih menahan kekesalan akan perkataan istrinya yang sudah berani menyiram api di lahan gersang.


"Kenapa muka Ayah merah seperti itu? Ayah cemburu ya sama Bunda karena mau minta dipijit kalau tukang pijitnya seperti Ayah." ledek Maura dengan tertawa senang karena melihat sang Ayah cemburu hanya gara-gara perkataan saja yang tidak akan mungkin terjadi.


Freya yang baru saja memasukkan loyang kue yang bersisi adonan kue kedalam oven hanya mampu menahan dirinya untuk tidak tertawa. Sudah dipastikan kalau dirinya tertawa yang ada suaminya itu akan merajuk atau lebih parahnya akan menghukumnya seperti biasa.


"Sudah, jangan dimasukkan kedalam hati. Masukkan saja ke dalam tong sampah dan buang jauh-jauh." ucap Freya dan mengambil baby Attar kedalam gendongannya.


"Freya tadi hanya bercanda, Mas. Maura juga hanya meledek saja. Mas Bryan seperti tidak mengenal Maura saja sih." Freya mengusap lengan suaminya pelan untuk mereda kekesalan di hati suaminya.


"Bukannya Maura itu seperti Mas Bryan? Suka meledek orang kerjaannya." Freya mengangkat sebelah alisnya dengan senyum tipis menatap suaminya yang masih saja dengan menatapnya tajam penuh amarah.


Bryan mendengkus. Memang benar apa yang Freya katakan. Maura memang sifat dan sikapnya hampir mirip dengan dirinya. 80% sifat dan sikap Maura nurun dari dirinya dan sisanya 20% nurun dari Freya.


"Tapi aku tidak suka meledek Papa seperti Muara yang suka meledek Ayahnya sendiri." dengkus Bryan dan mendekati Maura yang tengah membersihkan tangannya di wastafel.


Maura memekik kencang saat tubuhnya diangkat tiba-tiba sama sang Ayah. Maura terus meronta dan tertawa saat dirinya dibawa lari keluar dari rumah oleh sang Ayah.

__ADS_1


Freya hanya geleng kepala saja melihat Suami dan Anak gadisnya. Tiada hari tanpa berdebat dan berantem, saling meledek satu sama lain.


"Nanti kalau sudah besar, Attar jangan seperti Ayah sama Kakak Maura ya. Attar hanya boleh nurun kepintarannya Ayah sama Kakak Maura saja, yang lainnya jangan. Bunda nanti bisa pusing kalau Attar juga ikut seperti Ayah dan Kakak Maura." ujar Freya pada baby Attar berharap kelakuan Ayah dan gadis kecilnya tidak menurun pada baby Attar, cukup kepintaran dan kepandaiannya saja yang nurun pada baby Attar.


__ADS_2