Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Teddy Bear


__ADS_3

Bryan dan keluarga masih liburan di Pulau Jeju. Rencana mereka hanya lima hari di sana dan sekarang hari terakhir untuk mereka bersenang-senang di negara orang karena besok mereka sudah kembali ke negara asal.


Bryan mengajak mereka ke Museum Beruang Teddy Bear Jeju untuk menyenangkan Maura tentunya, karena dia tahu Maura suka dengan teddy bear. Meseum yang sangat menarik, karena menyimpan koleksi berbagai macam boneka teddy bear dan terdapat diorama teddy bear dari masa ke masa.


Maura begitu senang diajak kesana. Ayahnya itu selalu tahu apa yang dia inginkan. Dia banyak menanyakan ini itu pada Ayah ataupun Bundanya.


"Ayah!! Maura ingin itu." Maura menunjuk boneka teddy bear berukuran besar yang ada di dalam lemari kaca.


"Belikan itu ya, Ayah." pinta Maura dengan wajah memelas berharap Ayahnya mau membelikannya.


"Iya Ayah belikan." tanpa pikir panjang Bryan mengiyakan keinginan putrinya itu membuat Maura bersorak gembira.


Freya melolot tak percaya, segampang itukah Bryan mengiyakan keinginan putrinya? jangan bilang Bryan akan membeli boneka yang terpasang di lemari kaca itu? atau lebih parahnya lagi Bryan akan membeli museum ini. Pikiran Freya berkelana kemana-mana membayangkan jika apa yang ada di pikirannya benar-benar terwujud.


"Ren, kamu urus semua."


"Sebelum besok pulang harus selesai." titah Bryan tegas tanpa beban.


"Ba_"


"Tunggu!!" teriak Freya membuat Rendy tidak melanjutkan ucapannya dan membuat semua orang menatapnya.


"Bunda kenapa sih teriak-teriak segala?" tanya Maura menatap Bundanya dengan cemberut.


"Jangan turuti keinginan Maura." protes Freya menatap tajam Bryan.


Maura yang mendengar itu langsung menunduk sedih. Keinginannya lagi-lagi di halangi Bundanya. "Bunda memang gak sayang sama Maura." gumam Maura lirih.


Bryan memicingkan matanya menatap heran pada Freya.


"Kenapa memangnya kalau Bryan menuruti keinginan anaknya sendiri?" tanya Mama Lea yang tidak menyukai aksi protes Freya.


"Nggak apa Ma. Freya nggak larang Mas Bryan menuruti keinginan Maura."


"Tapi ini Maura ingin di belikan boneka yang di pasang di lemari kaca."


"Dan boneka itu koleksi milik museum."


"Freya gak mau Mas Bryan mengeluarkan uangnya hanya untuk membelikan itu."


"Kita bisa membelinya nanti di luar museum saja bisa gak harus koleksi di museum."


"Memang apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Bryan


Freya menatap Bryan, dia menyerit bingung kenapa Bryan justru bertanya seperti itu.


"Kamu akan membeli boneka itu kan?"


"Dan lebih parahnya kamu akan membeli museum ini juga." kata Freya dengan nada sedikit tinggi.


Caca dan Mutia tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan Freya.


Papa Abri dan Rendy hanya geleng kepala saat tahu apa yang ada dipikiran Freya saat ini.


Mama Lea mendengkus kesal melihat menantunya itu. "Aku pikir pintar, ternyata polos juga dia." batin Mama Lea yang ingin tertawa melihat kepolosan menantu barunya itu.


"Kamu ini ya!!" Bryan yang gemas dengan pikiran polos Freya yang suka traveling kemana-mana langsung menyentil pelan kening Freya.


Freya memberengut kesal sambil mengusap keningnya. "Kenapa? kamu akan membeli museum ini kan? aku gak suka."


Bryan tertawa dan mengacak rambut Freya pelan. "Siapa yang bilang?" tanya Bryan.


Freya menatap keluarga yang lain yang terlihat menertawakan dirinya. Freya menunduk merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya pikiran polosnya traveling kemana-mana.

__ADS_1


Freya melirik Bryan dari ujung ekor matanya. Dia menggeleng pelan.


"Aku meminta Rendy untuk memesankan teddy bear untuk dikirim langsung ke rumah."


"Bukan membeli yang ada di museum ataupun membeli museumnya." jelas Bryan yang melihat Freya menunduk malu itu.


Bryan meminta yang lain untuk melanjutkan keliling lagi. Dia ingin memulihkan pikiran Freya juga rasa malu Freya.


"Ishhh..." Freya memeluk Bryan setelah melihat yang lain pergi, dia begitu malu dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Aku kan jadi malu." rengek Freya dengan manja.


Bryan terkekeh pelan, "Kamu nya aja tadi yang langsung memotong pembicaraan."


"Ya maaf."


"Sudah, ayo kita susul yang lain."


"Atau kita pergi sendiri ke suatu tempat." Bryan memberi saran.


"Kemana?" tanya Freya mendongak menatap Bryan.


"Rahasia."


Bryan membawa Freya keluar dari museum dan menuju Chocolate Land.


Mereka tidak menyadari jika di ikuti dan di foto bahkan di vidio semua kegiatan dan kemesraan mereka.


"Untung kemarin Instagram nya aku yang aktifin."


"Jadi aku akan membajaknya sebentar biar semua yang mengejar Kak Bryan ataupun Kak Freya pada sadar diri."


...............


Dug


Prang


Manda membanting handphone miliknya ke lantai setelah melihat instastory milik Bryan atau lebih tepatnya milik Bryan juga Freya.


"Seharusnya aku yang saat ini berada di sisi Bryan, bukan kamu wanita murahan." geram Manda kesal mengingat kebersamaan Bryan dengan Freya di instastory tadi.


Aaakkkkkhhhhhhh


Manda teriak sambil menarik selimut dan di lemparnya ke sembarang arah. Dia begitu kesal dan marah karena tidak bisa memiliki Bryan atau lebih tepatnya harta milik Bryan.


Dia juga begitu kesal kenapa foto dan vidio dirinya saat bermain bersama para pejabat juga om-om kaya tersebar di internet.


Manda mengeraskan rahangnya mengingat pertemuan terakhirnya bersama Bryan beberapa minggu yang lalu sebelum akhirnya kebusukannya menyebar di internet.


"Aku yakin ini ulah Bryan dan asistennya itu."


"Aku yakin mereka yang menyebarkannya supaya Bryan bisa memiliki alasan untuk tidak menikah dengan ku."


"Ya ampun, Manda!!!!" pekik Mama Manda saat melihat kamar putrinya yang jarang di tempati berantakan.


"Ini kamar apa kapal pecah?" Mama Manda berjalan masuk ke kamar putrinya dan melihat ke setiap sudut kamar yang berantakan.


"Kamu itu kenapa? Gak biasanya kamu menghancurkan barang-barang kesukaanmu." tanya Mama Manda mengambil handphone milik Manda yang tadi dibanting Manda.


"Ini kenapa juga handphone mahal-mahal di banting sampai retak begini?"


Manda hanya melirik handphone nya yang disodorkan oleh Mamanya itu.

__ADS_1


"Aku ingin menghancurkan kebahagiaan Bryan." Manda menatap Mamanya.


"Aku ingin melihat Bryan hancur seperti sepuluh tahun yang lalu." mata Manda memancarkan kobaran api amarah.


"Bagaimana kamu menghancurkan Bryan?"


"Sedangkan karir kamu sendiri hancur setelah skandal vidio mu bersama beberapa om-om itu tersebar." tanya Mama Manda memandang anaknya dengan sinis.


Dia sudah tahu kebiasaan anaknya itu yang main bersama beberapa pria bahkan di jadikan simpanan. Dia masa bodo, yang penting anaknya menghasilkan uang dan dia bisa meminta saat dia memerlukannya. Bahkan sampai sekarang pun dia tahu kalau Manda masih suka menjajakan tubuhnya.


Manda menyeringai saat mengingat sesuatu. Sepertinya hanya dia yang mampu membuat seorang Tuan Muda Abrisam hancur.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu?" Mama Manda menatap heran anaknya.


"Apa Abang belum bisa dihubungi sampai saat ini?" tanya Manda yang berjalan dan duduk di kursi.


"Kenapa kamu malah menanyakan abang kamu?" tanya Mama Manda balik.


"Mungkin juga dia sudah mati sekarang di tangan anak buahnya Bryan." sambung Mama Manda yang duduk menyilangkan kakinya di tepi ranjang menghadap Manda.


"Apa abang masih sering mengirim uang ke wanita itu?" tanya Manda


"Setiap bulan dia selalu kirim uang buat anaknya."


"Kadang juga seminggu sekali." Mama Manda terlihat kesal mengingat Leon yang selalu menghabiskan uang untuk bersenang-senang juga untuk wanita itu dan anaknya.


"Mama yakin uang itu buat anaknya bang Leon? bukan untuk wanita itu?" tanya Manda


"Manda juga tidak yakin kalau anak itu anaknya bang Leon."


"Manda tahu betul siapa wanita itu." sambung Manda menatap tajam lurus kedepan seakan akan wanita itu ada di hadapannya dan akan dia habisi.


"Wanita player, karena dialah yang mengajari ku dulu hingga aku akhirnya jadi hyper se ks." batin Manda kesal akan dirinya sendiri yang jadi maniak se ks.


"Mama sih yakin gak yakin ya."


"Tapi Mama sering lihat Leon main dengan dia di rumah." jawab Mama Manda yang terlihat masih belum yakin dengan jawabannya.


Manda memutar bola mata malas, "Kalau itu Manda juga sudah tahu dan sering lihat." gumam Manda.


"Manda ingin menggunakan dia untuk menghancurkan keluarga Abrisam." kata Manda dengan seringai jahatnya.


"Maksud kamu?" tanya Mama Manda yang belum paham akan maksud perkataan Manda.


"Nanti Manda kasih tahu."


"Apa Mama tahu dimana abang menyimpan rekening bank nya?" tanya Manda.


Mama Manda tiba-tiba tersenyum setelah tahu maksud dari anaknya.


"Mama tahu maksud kamu."


"Ayo ke kamar abang mu sekarang."


Manda menyeringai dan mengikuti Mamanya dari belakang menuju kamar Leon.


"Bersiaplah Abrisam's family."


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote, comment and gift

__ADS_1


big hug from far away 🤗🤗🤗


__ADS_2