Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Dipercepat


__ADS_3

"Saya menyetujui kalian menikah bukan karena aku sudah menerima kamu."


"Tapi karena Maura adalah cucu kandung ku juga karena kebahagiaan Bryan bersama kamu dan Maura."


"Aku tidak segan menendang mu keluar dari keluarga Abrisam kalau kamu sampai membuat anakku kembali terpuruk."


"Apa maksud perkataan Nyonya Alea waktu itu?" monolog Freya pada dirinya sendiri saat mengingat perkataan Mama Lea sesaat sebelum keluarga Abrisam pulang setelah acara makan-makan penyambutan kepulangan Maura dari rumah sakit satu minggu yang lalu.


Sudah seminggu ini Freya berusaha menemukan jawaban dari teka-teki perkataan Mama Lea. Namun sama sekali dia belum menemukan petunjuk apapun. Ingin rasanya dia bertanya langsung pada Bryan, tapi Freya tak punya keberanian untuk itu. Dia takut Bryan nantinya akan mengingat dan kembali terpuruk seperti yang Mama Lea katakan.


Rendy...Dia terlalu kaku juga tertutup. Dia hanya bicara seperlunya saja. Tidak mungkin Freya bertanya sama Paman robotnya Maura. Siapa lagi yang bisa membantu dia untuk menemukan jawaban itu? Internet pun tidak membantunya untuk menemukan berita pribadi Bryan, yang ada hanya prestasi dan pencapaian Bryan di bidang pendidikan juga di bidang bisnis.


Mutia...Freya bahkan tidak dan belum cerita sama sahabatnya itu tentang perkataan Mama Lea. Dia masih menyembunyikan teka-teki itu sendiri sampai batas waktunya nanti.


"Hai..!!!" Mutia menyenggol lengan Freya saat melihat sahabatnya itu melamun dari tadi di balkon dengan udara malam yang begitu dingin. Mungkin akan hujan, pikir Mutia.


Freya mengelus dadanya karena kaget saat tiba-tiba Mutia nongol disampingnya.


"Ngelamun saja dari tadi."


"Kenapa?"


"Kangen sama Tuan Muda?"


"Baru juga ditinggal dua hari sudah kangen saja." goda Mutia pada Freya yang dia kira sahabatnya itu kangen sama Bryan yang pergi ke negara K untuk perjalanan bisnis.


"Apaan sih kamu ini."


"Siapa juga yang kangen sama dia."


"Kurang kerjaan banget kangen sama dia."


"Sok tahu kamu." Freya lantas berjalan masuk menuju ruang keluarga karena sudah tidak tahan dengan angin malam ini yang begitu dingin, padahal dia sudah memakai jaket.


"Terus kenapa kamu ngelamun saja dari tadi kalau gak sedang mikirin doi?" tanya Mutia yang ikut masuk dan menutup pintu dengan rapat karena gerimis sudah turun.


"Bukannya tadi kalian habis vidio call an bersama Maura juga?" sambung Mutia yang ikut duduk di samping Freya.


"Eheemm.." Freya hanya berdehem dan memakan kacang almon panggang.


"Dia bilang besok Omanya Maura yang akan mengantar Maura kontrol." ujar Freya yang terlihat tidak semangat.

__ADS_1


"Terus kenapa?"


"Bukannya ini kesempatan buat kamu untuk membuktikan sama Nenek Lampir itu kalau kamu itu wanita tangguh, wanita mandiri dan pastinya wanita cerdas." kata Mutia dengan semangatnya.


"Sudah aku bilang jangan sebut dia Nenek Lampir." geram Freya pada sahabatnya yang selalu menyebut Mama Lea 'Nenek Lampir'. Bahkan Maura juga sempat ikut-ikutan memanggil Omanya itu Nenek Lampir. Untung Omanya itu tidak dengar, coba kalau dengar. Bisa-bisa dia di bilang tidak becus mendidik anak lagi.


"Tapi mukanya itu mirip sekali sama yang jadi pemeran Nenek Lampir, Freya." ucap Mutia yang ikut memakan kacang almon panggang.


Freya mengerit dan mengingat pemeran wanita yang menjadi Nenek Lampir, "Iya juga yaaa." sahut Freya tertawa lucu. Berani-beraninya dia menertawai calon mertuanya.


"Kualat kamu menertawai calon mertua sendiri." Mutia menoyor pelan kepala Freya gemas. Tadi dia diminta untuk tidak mengatai calon mertuanya dan kini dia sendiri justru menertawakan calon mertuanya.


"Sialan!!" umpat Freya yang kesal namun masih saja tertawa mengingat wajah pemeran Nenek Lampir yang mirip dengan calon mertuanya.


"Tertawa saja terus sampai ayang beb telephone tak dihiraukan." sindir Mutia yang melihat handphone Freya berbunyi namun tak kunjung diangkat Freya.


Freya menghentikan tawanya dan melihat siapa yang telephone. 'Ayah Maura' saat nama ID itu yang muncul di layar handphonenya.


"Aku ke kamar dulu mau tidur." pamit Mutia yang bergegas masuk kemarnya sendiri.


"Bukannya tadi sudah telephone dan kenapa sekarang telephone lagi?" gumam Freya yang masih menatap layar handphonenya yang masih menyala.


Freya menatap handphonenya menunggu Bryan menelephone lagi. Cukup lama dia menunggu hingga akhirnya dia tersenyum sendiri saat handphonenya kembali berbunyi dengan nama ID yang sama. Tapi bukan panggilan telephone, melainkan panggilan vidio call. Freya berdehem dan sedikit memperbaiki tatanan rambut lurusnya sebelum akhirnya mengangkat telephone itu.


"Gini banget sih kamu, Freya." batin Freya yang gemas dengan tingkahnya sendiri.


"Ada apa?" tanya Freya saat melihat Bryan yang hanya diam menatapnya dengan senyum dan itu sudah membuat Freya salah tingkah sendiri.


Bryan menggelengkan kepala pelan, "Aku hanya ingin melihat wajah cantik calon istriku sebelum calon suamimu ini tidur."


"Gombal!!!" sahut Freya, dia lantas menggigit kecil bibir bawahnya menahan untuk tidak tersenyum. "Oh Tuhan...Kenapa pipi ku terasa panas seperti ini? Tahan Freya..Tahan." batin Freya yang meyakini kalau sekarang mungkin pipinya sudah memerah.


Bryan terkekeh kecil, apalagi saat melihat pipi Freya yang memerah malu itu karena dia bilang wajah cantik calon istriku. Pipi Freya pasti akan memerah karena malu. Entah kenapa Bryan begitu suka dengan itu. Hal sederhana namun bisa membuat Freya bahagia.


"Sayang..!!!"


Freya menatap layar handphonenya yang dipenuhi wajah Bryan.


"Sepulang aku dari sini kita nikah yah? please!!!" pinta Bryan dengan tampang memelas.


"Kenapa?" semburat merah di pipi Freya hilang saat mendengar permintaan Bryan.

__ADS_1


"Bukannya kamu sudah janji menunggu sampai pengobatan Maura selesai?" tanya Freya heran kenapa Bryan tiba-tiba memajukan tanggal pernikahan.


"Aku hanya ingin terus bersama kamu dan Maura, supaya aku bisa selalu menjaga kalian dengan bebas tanpa ada batasan."


"Tapi Maura belum_"


"Jangan Maura terus yang kamu jadikan alasannya."


"Aku tahu alasan kenapa kamu meminta menunggu sampai Maura selesai pengobatan." Bryan menatap Freya serius di layar handphonenya.


"Jadi, Bryan sudah tahu?" batin Freya terkejut saat Bryan mengetahui alasannya kenapa dia tidak mau menikah sekarang dan menunggu pengobatan Maura selesai.


"Aku dengar apa yang Mama katakan padamu waktu makan malam minggu lalu."


Freya bernafas lega, ternyata Bryan belum tahu. Bryan kira dia menunda pernikahan mereka karena Maura, tapi sebenarnya bukan itu alasan dia menunda pernikahan.


"Memang apa yang kamu dengar?" tanya Freya yang penasaran, karena dia juga ingin tahu jawaban dari teka-teki perkataan Mama Lea dari orangnya langsung.


"Kalau kamu mau tahu, kita menikah setelah aku pulang dari sini." kata Bryan dengan tegas.


"Ya sudah, kalau gitu aku nggak mau dengar dan juga nggak mau tahu." sahut Freya cepat yang merasa kesal karena tidak mendapat informasi gratis dari yang bersangkutan.


"Baiklah kalau seperti itu kemauan kamu."


"Aku akan bilang sama Papa kalau pernikahan kita akan dipercepat seminggu lagi setelah aku pulang dari perjalanan bisnis."


"Tidak ada penolakan." Bryan lantas memutus sambungan vidio call segera sebelum Freya membalas perkataannya.


"Maaf Freya...Aku ingin mempercepat pernikahan kita bukan karena keinginanku sendiri."


"Aku melakukan ini untuk melindungi kalian dari masa lalu ku dengan dia."


"Aku tidak ingin kalian kenapa-kenapa kedepannya."


🍁🍁🍁


have a nice day


like, vote, comment and dukung author kakak-kakak


Big hug from far away 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2