Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Hidupmu bakal hancur lagi


__ADS_3

Rendy terlihat mengejar Mutia yang sudah berjalan keluar dari lobby hotel. Tadi setelah mengambil baju ganti untuk Bryan dia kembali ke hotel dan mendapati Mutia yang sudah keluar dari lobby.


"Tunggu." Rendy mencengkeram tangan Mutia dengan erat.


"Lepaskan tangan saya." bentak Mutia menarik tangannya dengan kuat yang dicengkeram Rendy.


"Akan saya antar pulang." kata Rendy dengan wajah datar.


"Saya bisa pulang sendiri." tolak Mutia.


Ahhkkkk


Pekik Rendy saat kakinya diinjak Mutia dengan high heels yang dipakainya dengan keras hingga cengkeraman tangannya pada Mutia terlepas.


Mutia mengambil kesempatan ini untuk segera menjauh dari Rendy. Dia segera naik ojek yang tadi sudah dia pesan. Dia kembali ke apartemen, berharap pasangan tak tahu malu itu sudah tidak ada di apartemen.


Mutia mendengkus kesal saat dia memasuki lift dan ternyata manusia robot itu juga ikut masuk.


"Kalau anda keluar lagi anda akan telat datang ke kantor." ucap Rendy saat melihat Mutia yang ingin melangkah keluar seperti tidak mau satu lift dengannya.


Mutia mengurungkan niatnya untuk keluar, mengingat jam sudah menunjukkan hampir jam setengah tujuh. Dia berdiri menjauh dari Rendy, dia malas berdekatan dengan manusia robot yang datar dan kaku seperti kanebo kering. Dia juga tidak berniat untuk ketemu lagi dengan manusia satu itu.


Mutia melangkah cepat memasuki apartemennya, dia akan berteriak kalau perlu dia akan memukul Freya juga Bryan yang telah beraninya mengotori sofa miliknya. Milik Mutia dan Freya maksudnya, karena mereka yang membelinya. Tapi kain yang mereka pakai untuk menutupi sebagian tubuh mereka itu Mutia yang beli.


"Mutia_" seru Freya saat melihat Mutia kembali.


"Kamu kemana semalam? Terus tidur dimana? Kok baru pulang?" tanya Freya beruntun pada sahabatnya itu.


"Di sofa." jawab Mutia singkat dan berlalu pergi ke kamar.


Namun langkahnya berhenti saat melewati sofa yang semalam dipakai Freya dan Bryan untuk berolahraga yang membuat bibirnya ikut ternodai tanpa dia inginkan. Apalagi yang menodai bukan pacar, bukan juga calon suami tapi manusia robot macam kanebo kering. Dia menatap nanar pada sofa itu.


"Ternodai sudah." gumam Mutia bergegas masuk ke kamarnya.


"Mama kenapa Bun?" tanya Maura yang duduk dipangkuan Ayahnya sambil memakan sereal untuk sarapan paginya.


Maura begitu senang tadi saat bangun tidur ternyata Ayahnya ada di samping kanannya, begitupun Bundanya di samping kirinya. Maura begitu manja pada Ayahnya yang sudah seminggu tidak dia temui. Mandipun dia minta sang Ayah yang memandikan dan sekarang pun sama, makan pun harus dipangku sama Ayahnya katanya "Maura kangen Ayah banyak-banyak dan Ayah harus gendong Maura seharian."


Dan seperti inilah sekarang, Bryan makan sambil memangku Maura dan untungnya Maura tidak minta disuapi juga.


"Bunda tidak tahu." jawab Freya, "mungkin Mama buru-buru untuk pergi ke kantor." Freya mengutarakan pikirannya pada Maura.


Maura mengangguk saja dan kembali menyantap sereal kesukaannya.


"Kamu apakan dia, Ren?" tanya Bryan yang melihat Rendy hanya diam saja menatap Mutia yang menghilang di balik pintu kamar.


"Tidak ada Tuan." jawab Rendy, "ini baju ganti buat Tuan." Rendy menyerahkan paper bag pada Freya karena Freya yang mengulurkan tangannya untuk menerima paper bag itu.


Bryan menatap Rendy dengan tersenyum sinis. Dia tahu apa yang Rendy lakukan semalam, karena dia juga tidak sengaja melihat pantulan Rendy dan Mutia di kaca.


"Duduk dan makanlah." perintah Bryan yang melihat Rendy hanya diam berdiri saja.


"Terima kasih Tuan, saya sudah makan." tolak Rendy dengan sopan.


"Saya akan duduk disana saja." Rendy menunjuk sofa ruang tamu.


"Mutia!!! Kamu nggak makan dulu?" tanya Freya melihat Mutia yang sudah selesai bersiap untuk pergi ke kantor hanya melengos tidak begitu memperdulikan Freya.


"Kenyang." jawab Mutia cuek dan pergi begitu saja. Dia juga tidak menghiraukan Rendy yang sedari tadi memperhatikannya.


"Mutia kenapa ya?? Nggak biasa dia seperti itu." gumam Freya melihat kepergian Mutia.


Bryan mengusap punggung Freya dengan pelan saat mendengar gumaman Freya.


"Nggak apa. Mungkin semalam ada yang membuatnya kesal." Freya mengangguk mendengar perkataan Bryan.


"Kesal karena semalam melihat adegan live juga keberanian Rendy yang menci pok Mutia." batin Bryan yang ingin tertawa mengingat kegilaannya semalam.


Dengan beraninya dia bermain dengan Freya di sofa ruang keluarga tanpa mengingat siapa saja penghuni apartemen tempat tinggal Freya. Dan untungnya bukan Maura yang melihat. Entah apa nanti yang bakal Maura tanyakan jika putri kecilnya itu melihat adegan dewasa.


Setelah sarapan selesai Bryan bergegas bersiap dan berganti pakaian dengan yang dibawa Rendy tadi. Dia harus membujuk putrinya terlebih dulu sebelum pergi. Karena dia kemarin sempat berjanji akan mengajak Maura jalan-jalan setelah pulang dari perjalanan bisnis.


"Cantiknya Ayah, jalan-jalannya ditunda nanti ya setelah Ayah sama Bunda selesai menikah."


"Ayah akan ajak Maura sama Bunda pergi untuk melihat bunga sakura." Bryan menatap Maura dan Freya bergantian meminta persetujuan mereka berdua.


"Benar Ayah gak akan bohong?" tanya Maura memastikan, karena dia suka melihat bunga sakura di vidio-vidio yang sering dia tonton di you-tube.


Pernah suatu saat Maura mengajak Bundanya untuk melihat bunga sakura yang sedang mekar di negara aslinya, namun sang Bunda hanya berjanji saja tanpa mewujudkannya. Dan sekarang dia tidak mau kalau Ayahnya berbohong dan mengingkari janjinya seperti sang Bunda.


"Iya cantik."


"Ayah berangkat kerja dulu yah. Ada sedikit kerjaan yang belum Ayah selesaikan." Maura mengangguk dan tersenyum pada Ayahnya.


"Nanti dandan yang cantik yah.."


"Oma akan kesini dan mengajak kalian untuk fitting baju." sambung Bryan.


"Siap Ayah." jawab Maura dengan semangatnya.

__ADS_1


Bryan yang gemas mengacak pelan rambut Maura, dia tidak berani kencang-kencang takut melukai bekas jahitan di kepala putrinya.


"Aku nanti menyusul kalian dan mungkin sedikit telat."


"Nggak apa kan?" tanya Bryan sambil memegang tangan Freya dan menatap manik coklat dengan lembut.


Freya mengangguk pelan, "Iya gak apa. Selesaikan saja dulu pekerjaan mu." jawab Freya menyunggingkan senyum manisnya.


"Jangan pakai baju yang terbuka, atau aku sendiri nanti yang bakal mencongkel mata para lelaki mata keranjang juga hidung belang." ancam Bryan memberi Freya peringatan.


"Memang aku punya baju yang terbuka apa kecuali baju yang kamu kasih waktu itu yang lumayan terbuka." sewot Freya yang mengingat dirinya dikerjain Rendy untuk memuaskan ***** Tuan Mudanya namun berujung berendam di kolam renang.


"Tapi kenapa tiap kali melihatmu aku selalu ingin menerkam mu saat ini juga, hemmm." Bryan menarik cepat tangan Freya hingga membuat Freya sekarang berada direngkuhan Bryan.


"Ishhh..lepas.!!!" Freya memberontak dalam rengkuhan Bryan


"Ini masih pagi dan hilangkan pikiran mesum kamu itu."


"Aku masih capek karena kamu semalam."


"Mana tempat tidurnya sempit lagi." keluh Freya yang terlihat kesal atas apa yang Bryan lakukan semalam, tapi kenapa semalam dia juga menikmatinya. Entahlah, Freya seperti terhipnotis akan sentuhan dan kehangatan tubuh Bryan. Dan Freya akui kalau tubuh Bryan begitu 'ekkhhmm' Freya sampai menggigit bibir bawahnya jika membayangkan dada dan perut Bryan yang begitu menggoda untuk di sentuh.


"Siapa yang berpikiran mesum pagi-pagi? Aku nggak yaaa.." kilah Bryan dengan gemas menjembel pipi Freya membuat sang empunya pipi sontak memberengut kesal.


"Dan kamu capek kenapa? Memangnya semalam habis ngapain?" tanya Bryan yang pura-pura tidak tahu. Padahal dialah yang telah membuat Freya kecapekan.


"Tau ahh, semalam ada monster mesum yang tak tahu diri." sungut Freya


"Sudah ishh..Lepas!!!" Freya memberontak lagi dalam rengkuhan Bryan.


"Kalau aku nggak mau?" Bryan semakin mengeratkan rengkuhannya dengan seringai mesum.


"Akkk_"


"Bunda...Ini punya siapa?"


Freya tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar dan melihat apa yang dipegang putrinya itu. Dia segera melepaskan diri dari Bryan dan melangkah cepat ke arah Maura.


"Kamu dapat dari mana ini, sayang?" tanya Freya yang langsung mengambil dua cup kembar berwarna hitam miliknya yang tadi dia cari tidak ketemu. Dan justru anaknya sendiri yang menemukannya. Dia berlari cepat menuju kamar mandi dan dimasukkannya ke mesin cuci.


Bryan tertawa melihat itu, tadi dia juga ditanya Freya di mana semalam dia melempar dua cup kembar miliknya dan Bryan hanya menjawab tidak tahu. Karena dia tidak memikirkan itu, yang dia pikirkan isi dari cup kembar itu.


Bryan mendekati putrinya yang terlihat mematung melihat Bundanya yang berlari cepat masuk kamar mandi.


"Maura tadi menemukannya dimana?" tanya Bryan.


"Dibawah kain ini, Yah." Maura menunjuk kain yang Bryan pakai semalam untuk menutupi tubuh mereka. Bryan tersenyum kecut dan mengangguk pelan.


"Bilang sama Bunda, Ayah sudah berangkat."


"Oke Ayah."


Bryan bergegas keluar dari apartemen diikuti Rendy. Wajah yang tadinya begitu hangat dan cerah berubah dingin dan tegas.


"Kita ke markas sekarang." perintah Bryan dengan tegas, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat juga tatapannya setajam elang saat mengingat kejadian yang menimpa Freya di Last Night.


"Baik Tuan."


Dengan segera Rendy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju markas milik keluarga Abraham.


...............


"Mama!!!"


"Ma.."


"Papa!!!"


Teriak Manda yang baru saja sampai rumah. Dia masuk rumah berteriak memanggil kedua orang tuanya.


"Papa!!! Mama!!!"


Teriak Manda lagi di dekat tangga, dia malas untuk naik ke lantai dua.


"Kenapa rumahnya tidak ada liftnya sih, bikin capek saja." keluh Manda.


"Kamu ini kenapa sih, Manda?" sergah Mama Manda dari lantai dua. Dia turun menapaki anak tangga dengan gaya yang sok elegan.


"Sudah jarang pulang sekalinya pulang teriak-teriak macam tarsan." sindir Mama Manda yang sudah berdiri di depan anaknya.


"Ada apa?" tanya Mama Manda yang melihat anaknya hanya diam menatapnya dengan kesal.


"Nih lihat!!" Manda memberikan handphon nya pada Mamanya.


"Apa ini?"


"Mama putar saja itu vidionya."


Mama Manda memutar vidio dari handphon Manda. Dilihatnya Bryan menendang, memukul, dan meninju bahkan mencengkram kuat tangan seorang lelaki yang sangat dia kenali.

__ADS_1


"Kenapa Leon bisa dihajar Bryan seperti ini?" tanya Mama Manda yang masih memutar ulang vidio itu. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihatnya. Semoga itu bukan putranya.


"Ada apa sih,Ma?" tanya Papa Manda yang baru saja turun.


"Lihat Pah.!!" Mama Manda memberikan handphon itu pada suaminya.


"Kenapa Bryan bisa memukuli Leon seperti ini?" tanya Papa Manda menatap anak dan istrinya bergantian.


"Mama nggak tahu,Pah."


"Manda coba kamu jelasin." pinta Mama Manda pada putrinya.


Manda berjalan menuju sofa dan duduk di sana sebelum akhirnya menceritakan kejadian kenapa abangnya bisa dihajar habis-habisan sama Bryan.


"Jadi maksud kamu, Leon menggoda tunangan Bryan bahkan mau diajak abangmu ngamar?" tanya Mama Manda yang tidak percaya kalau Bryan dengan mudah dan cepatnya punya tunangan setelah memutuskan pernikahan dengan Manda, putrinya.


"Iya, kata temenku abang memaksa tunangan Bryan sebelum akhirnya Bryan datang dan menghajar anak kesayangan Mama." jawab Manda dengan sewot mengingat dirinya tidak jadi menikah dengan Bryan.


"Siapa tunangan Bryan?" tanya papa Manda heran Bryan yang sudah punya tunangan. Kenapa dia tidak tahu,batin nya.


"Siapa lagi kalau bukan yang mengaku punya anak dengan Bryan." sewot Manda yang merasa kalah dengan Freya yang tidak lebih segalanya dari dirinya. Dilihat dari segi fisik Manda lebih dari segalanya, penampilan pun Manda jauh diatas Freya.


"Terus dimana Leon sekarang?"


"Semalam dia tidak pulang."


"Apa dia pulang ke apartemen mu?" tanya Mama Manda


"Ada yang lihat abang dibawa anak buah Bryan."


"Mampus!!" Papa Manda terlihat frustasi,dia menggusar rambutnya kasar.


"Kenapa sih,Pah?" tanya Mama Manda.


"Papa sudah membuat perjanjian dengan Tuan Abrisam kalau keluarga Hertanto tidak akan mengusik lagi keluarga Abrisam setelah Tuan Abrisam memberikan dua perusahaannya atas nama Papa."


"Tapi kalau keluarga kita masih tetap mengusik keluarga Abrisam, tidak hanya perusahaan yang mereka berikan sebagai kompensasi atas gagalnya pernikahan Manda dengan Bryan yang akan dia ambil kembali, tapi perusahaan Hertanto juga akan ikut dia ambil." jawab Papa Manda yang terlihat cemas.


"Aduch...bagaimana dong Pah kalau seperti ini jadinya."


"Mama nggak mau kita jatuh miskin."


"Papa lakukan apapun supaya Bryan juga Tuan Abrisam tidak melakukan apapun dengan perusahaan kita."


"Entah itu Leon harus mati ditangan mereka,Mama tidak peduli."


Manda membulatkan matanya mendengar kehebohan Mamanya yang takut jatuh miskin, tapi yang lebih membuatnya tak percaya dia rela kehilangan anaknya demi harta biar tidak jatuh miskin.


...............


Bryan tertawa terbahak-terbahak mendengar pembicaraan di keluarga Hertanto. Tidak sia-sia dia semalam sudah meminta anak buahnya untuk meretas cctv di kediaman Hertanto untuk melihat dan mendengar aktivitas yang dilakukan oleh keluarga tak tau malu itu.


Dan lihat sekarang, lelaki yang tergeletak dengan tangan dan kaki diikat itu terlihat menyedihkan setelah mendengar perbincangan kedua orang tuanya.


"Bagaimana saudara Leon?" Bryan berjongkok di depan Leon, lelaki yang Bryan habisi semalam karena telah berani memegang wanitanya.


"Mau mati sekarang sesuai keinginan orang tuamu atau..." Bryan mengangkat dagu Leon dengan senjatanya.


"Tetap hidup tapi jatuh miskin." Kata Bryan dengan suara rendah dan begitu dingin ditambah dengan seringai jahat muncul disudut bibirnya.


"Cuih.." Leon meludah tepat di depan Bryan langsung membogem wajah Leon hingga batuk dan berdarah.


"Aku tidak peduli. Lakukan sesukamu. Karena suatu saat aku akan membalasmu lebih kejam dari ini."


Bryan tertawa kencang mendengar itu. "Lakukan kalau kamu bisa."


"Bisa..Setelah Anelis kembali aku yakin hidupmu bakal hancur lagi seperti dulu."


Bryan yang mendengar nama yang sudah lama tidak dia dengar langsung diam, dia mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya kuat dan juga menatap tajam pada Leon yang terlihat tertawa mengejek dirinya.


"Kurang ajar, kau!!"


Bughh


Bughh


Bughh


"Lempar dia ke kandang Sniper." Bryan menatap tajam pada Leon yang sudah hampir sekarat itu.


"Dan pastikan singaku makan dagingnya sampai habis tanpa sisa beserta tulangnya."


🍁🍁🍁


have a nice day


terima kasih like, vote, comment, gift and dukungannya dari kakak-kakak readers


big hug from far away 🤗🤗🤗

__ADS_1


🍁🍁🍁


(buat kalian para readers yang masih setia menantikan up nya Maura, author ketikkan 2rb kata, semoga kalian puas) 😴😴😴


__ADS_2