
"Kenapa kamu membawa aku kesini?" tanya Mutia menatap sekeliling danau yang masih sepi pengunjung. Hanya beberapa orang saja yang terlihat joging juga bersepeda mengingat ini adalah hari senin dan masih pagi juga.
"Kamu tahukan, ini hari senin dan aku harus kerja."
"Dan di perusahaan ABA Corp. setiap hari senin selalu dicek kedisiplinan karyawan." imbuh Mutia yang sedari tadi enggan menatap Rendy setiap kali berbicara semenjak keluar dari mini zoo.
Tadi setelah memergoki Rendy yang tidak menyelesaikan hukumannya, Mutia lantas pergi begitu saja dan Rendy mengejarnya juga memaksa dirinya untuk ikut satu mobil dengannya dan diantar pulang. Tapi apa, Rendy justru membawanya ke sebuah danau buatan di dekat taman.
Rendy menghembuskan nafas lelah dan sedikit merendahkan sandaran kursi pengemudi untuk menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit pusing karena semalam dirinya tidak bisa tidur.
"Aku tahu kalau ini hari senin, dan aku juga masuk kerja."
"Tak hanya perusahaan ABA Corp. yang melakukan cek kedisiplinan kepada karyawannya, tapi BRATA Grup juga."
"Semua perusahaan yang berada dibawah naungan BRATA Grup." balas Rendy dengan memejamkan matanya.
Rendy ingin menikmati indahnya pagi bersama Mutia saat ini. Karena hanya ini kesempatannya bisa menculik Mutia setelah kejadian kemarin membuat dirinya susah bertemu Mutia. Tadi saja dia berfikir kalau Mutia tidak akan merespon chat yang dikirimkannya sebelum datang ke menemui Bryan untuk menjalankan hukuman di mini zoo, tepatnya di kandang buaya. Ternyata apa yang dipikirkannya salah. Mutia datang dan melihatnya ada di dalam kandang buaya dengan tatapan yang terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya. Rendy begitu senang melihat itu, namun sayangnya kesenangan Rendy hanya sesaat karena Mutia memergokinya keluar dari kandang buaya dalam keadaan takut. Sungguh, itu sesuatu yang memalukan dan membuat harga dirinya terasa terinjak-injak dan itu dihadapan wanita yang saat ini sudah memenuhi hati dan pikirannya.
"Kalau kamu tahu seharusnya kamu tidak mengajak ku kesini."
"Dasar lelaki penakut." umpat Mutia lirih dan segera turun dari mobil. Dirinya ingin pulang dan berangkat kerja untuk menghilangkan pikirannya tentang Rendy untuk sesaat saja.
Rendy membuka matanya saat melihat Mutia yang turun dari mobil, dengan segara dia juga turun dan mengejar Mutia. Dia ingin membahas kesalahpahaman yang terjadi pada dirinya juga Mutia dan mantannya dulu.
"Kita belum bicara."
Mutia menghembuskan nafas kasar saat tangannya di cengkram begitu erat oleh Rendy.
"Kita sudah bicara tadi." Mutia mencoba menarik tangannya supaya cengkram tangan Rendy terlepas dari tangannya.
"Bukan pembicaraan omong kosong yang aku maksud." Rendy semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada tangan Mutia.
Mutia meringis merasakan sakit pada tangannya. Dia menatap sembarang arah untuk menyembunyikan air mata yang menggenang di pelupuk matanya saat merasakan sakit di tangannya juga hatinya.
"Aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini."
"Aku juga tidak ingin kamu membatalkan perjodohan ini."
"Kamu boleh marah dan membenci ku, tapi jangan batalkan perjodohan ini."
Mutia hanya diam dan masih menatap ke sembarang arah. Sesekali dirinya mendongak, melihat ke atas supaya air matanya tidak jatuh menetes.
"Tia!!" panggil Rendy dengan suara lembut.
Mutia menggigit bibir bawahnya dan menghapus air matanya yang tiba-tiba saja jatuh dengan sendiri saat mendengar Rendy yang memanggil nama kecilnya dengan suara yang terdengar begitu lembut di telinganya.
"Maafkan aku yang melanggar janji kecil yang dulu sempat aku katakan sebelum aku pergi."
Mutia sudah tidak peduli lagi dengan air matanya, dirinya memejamkan matanya mengingat masa kecilnya dulu sebelum Rendy dan keluarganya pindah ke kota J.
FLASHBACK ON
Seorang anak kecil dengan rambut panjang dan berkepang dua juga memakai penjepit rambut kupu-kupu terlihat duduk bersila kaki dengan bertopang dagu menatap teman-temannya yang tengah bermain kejar-kejaran, ada juga yang bermain bola. Dirinya sejak tadi hanya duduk saja di bawah pohon tanpa mau ikut bergabung dengan teman-teman sebayanya.
"Kenapa tidak ikut main sama teman-teman?"
Anak kecil itu menoleh, melihat siapa yang bertanya padanya dan beraninya duduk di sampingnya tanpa permisi terlebih dahulu.
Anak kecil itu mendengkus saat tahu siapa yang bertanya pada dirinya, seorang anak kecil yang usianya diatas dirinya dengan badan gemuk dan berkacamata. Dia membuang mukanya dan menggeser duduknya menjauh dari anak kecil laki-laki yang baru datang itu.
"Kamu sedih ya, karena sebentar lagi kamu tidak bisa menjailiku dan mengatai-ngataiku juga tidak bisa bermain lagi sama adek Nino?" tanya anak laki-laki
"Siapa juga yang sedih."
"Aku senang karena tidak melihat kamu lagi yang membuat mata aku sakit." ucap anak perempuan itu dengan manahan untuk tidak menangis. Dia berdiri dan menatap anak laki-laki.
"Kak Yudha itu nyebelin."
"Kak Yudha selalu membantu Tia kalau Tia dijahati sama teman-teman."
"Terus siapa nanti yang akan membantu Tia kalau Kak Yudha pergi."
"Kak Yudha memang tidak sayang sama Tia, Kak Yudha hanya sayang sama Nino saja." teriak Mutia kecil sambil menangis.
Semalam dirinya diberitahu Bibinya kalau Yudha sama Nino akan ikut Mama mereka yang akan pindah kerja di kota J. Mutia kecil begitu sedih, apalagi Yudha juga Nino besok sore berangkat ke kota J dan dia baru tahu sehari sebelum keberangkatan Yudha dan keluarganya. Tidak ada lagi teman yang akan menemaninya bermain kapanpun yang dia mau. Tidak ada lagi yang akan membelanya kalau ada yang jahat pada dirinya. Tidak ada yang membelanya kalau ada yang mengejeknya karena sudah tidak punya Mama juga Papa.
Yudha kecil berdiri dan menarik pelan tangan Mutia kecil, diajaknya Mutia kecil ke sebuah tempat dekat sungai.
"Duduklah disini."
Yudha kecil meminta Mutia kecil duduk di sebuah ayunan yang memang dibuat oleh mendiang Papanya Yudha.
"Ini buat kamu."
"Makanlah biar kamu tenang."
Mutia kecil menatap coklat karamel yang masih ada ditangan Yudha kecil dan menatap Yudha kecil bergantian.
"Tia tidak boleh makan coklat sama Bibi. Nanti bisa sakit gigi juga gendut seperti Kak Yudha."
"Kata siapa?"
"Buktinya Nino tiap hari makan coklat dan dia tidak pernah mengeluh sakit gigi juga tidak gendut."
"Karena dia sering gosok gigi juga makan coklatnya hanya sekeping, tidak sebatang."
"Ini makanlah."
Dengan ragu Mutia kecil menerima coklat karamel yang Yudha kecil berikan padanya. Dipatahkannya sekeping dan dimakannya dengan pelan. Ini pertama kalinya dirinya makan coklat.
"Enak???" tanya Yudha kecil yang melihat Mutia kecil tersenyum.
Mutia kecil mengangguk dan melanjutkan memakan coklat yang rasanya begitu manis dan lembut itu.
Yudha kecil tersenyum dan mengacak pelan rambut Mutia kecil.
"Tunggu disini sebentar."
Mutia kecil melihat Yudha kecil yang berlari turun ke sungai.
"Kak Yudha mau apa?" teriak Mutia kecil.
"Kamu tunggu disitu saja." teriak Yudha kecil.
Mutia kecil menurut, dan melanjutkan makan coklat.
"Sudah habis dua keping. Nanti kalau gigi ku sakit, pasti Bibi akan memarahi ku karena makan coklat."
Mutia kecil menyudahi makan coklat dan menyimpan sisanya di saku baju yang dipakainya.
"Apa itu?" tanya Mutia kecil yang melihat Yudha kecil membawa sebuah botol kecil berisikan kertas.
"Ini untuk kamu."
"Buka nanti kalau sudah sampai dirumah."
Mutia kecil menerima botol itu dan diputar-putarnya. Dirinya begitu penasaran dengan apa isi didalam botol itu.
"Kamu kan sudah masuk SD, dan pastinya kamu sudah bisa baca."
"Kamu baca itu surat yang ada di dalam botol."
"Itu aku tulis khusus buat kamu."
"Kak Yudha nulis surat buat Tia?"
Yudha kecil tersenyum dan mengangguk.
"Hahahaha...Kak Yudha suka ya sama Tia."
"Tapi sayangnya Tia tidak suka sama Kak Yudha yang gendut dan pakai kacamata."
"Tapi kalau Kak Yudha itu seperti Harry Potter, Tia pasti langsung suka meski Kak Yudha pakai kacamata."
Yudha kecil hanya tersenyum saja mendengar apa yang Mutia kecil katakan. Dia memang gendut dan berkacamata, tapi dia cerdas dan pandai bela diri.
"Belajarlah bela diri untuk melindungi diri kamu."
"Aku akan kembali kesini setelah lulus kuliah."
Mutia kecil yang tadi tertawa dan tersenyum tiba-tiba berubah sedih saat mendengar apa yang Yudha kecil katakan.
"Aku janji, setelah lulus kuliah nanti aku akan menemui." kata Yudha kecil yang masih tetap tersenyum.
Mutia kecil menghitung dengan jarinya. Saat ini Yudha kecil baru kelas 6 SD dan dihitungnya sampai lulus kuliah.
"Lulus kuliah berapa tahun kak?" tanya Mutia kecil yang memang belum tahu.
"3-4 tahun."
"10 tahun lagi aku akan kembali menemui kamu."
__ADS_1
"Aku berjanji padamu."
"Aku akan kembali untuk menemui mu."
"Menjadi seperti Harry Potter."
Mutia kecil menggelengkan kepalanya, 10 tahun itu lama. Apa bisa dirinya bermain sendiri dengan teman-teman yang memiliki orang tua lengkap. Dirinya hanya ingin bermain dengan Nino yang selalu membuatnya tertawa dan Yudha yang selalu menjaga juga melindunginya dan selalu membelanya.
"Sudah dulu ya, aku harus pulang."
"Kata Mama tadi keretanya berangkat siang, tidak jadi sore."
"Tidak boleh!!" teriak Mutia kecil dengan memegang erat tangan Yudha kecil.
"Kak Yudha tidak boleh pergi."
"Nanti Tia tidak bisa menjahili Kak Yudha lagi."
"Tidak ada yang membela dan membantu Tia lagi."
"Kak Yudha disini saja, tidak boleh pergi." Teriak Mutia kecil dengan menangis melarang Yudha kecil untuk pergi.
"Tidak bisa Tia."
"Aku juga harus menjaga Mama."
"Nino masih terlalu kecil, dia tidak bisa menjaga Mama."
"Aku janji padamu."
"Setelah lulus kuliah aku akan kembali untuk menemui mu dan menjadikan kamu kekasih ku."
"Aku janji."
"Kekasih??"
Yudha kecil mengangguk.
"Seperti yang Mama juga Papa katakan sebelum meninggal."
"Kalau Kak Yudha sama Tia besok kalau sudah besar akan dinikahkan."
Lagi, Yudha kecil mengangguk.
"Tapi Tia tidak mau. Kak Yudha gendut dan tidak ganteng seperti Harry Potter."
Yudha kecil terkekeh dan mencubit gemas pipi Mutia kecil.
"Lihat sepuluh tahun lagi."
"Aku akan jauh lebih ganteng dari Harry Potter kamu itu."
"Sudah dulu ya."
"Sampai ketemu 10 tahun lagi putri butterfly."
Cup
Yudha kecil mencium kening Mutia kecil dan segera melepas paksa genggaman tangan kecil Mutia kecil.
"Kak Yudha!!!" teriak Mutia kecil
"YUDHA JAHAT!!" teriak Mutia remaja di tepi sungai, dimana dirinya bertemu untuk terkahir kalinya dengan Yudha kecil.
"Ini sudah lebih dari 10 tahun dan kamu tidak kembali juga."
"Aku sudah lulus sekolah dan sebentar lagi aku masuk universitas."
"Tapi kenapa kamu tidak kembali juga." Mutia remaja duduk menangis di ayunan yang sampai sekarang masih dirawatnya.
Mutia remaja menggenggam erat tali ayunan itu. Rahangnya mengeras, dengan sorot mata tajam menatap ke satu titik di hadapannya.
"Kamu pembohong, penipu dan tidak bisa menempati janji kamu."
"Aku membencimu."
"Aku membenci kamu, YUDHA!!!"
Akkhhhhhh
Teriak Mutia remaja yang terasa begitu sakit hatinya tiap kali mengingat janji Yudha kecil,namun tidak ditepatinya sampai saat ini.
"Aku sempat pulang saat itu, meski aku telat."
"Aku datang ke rumah Paman juga Bibi, tapi kamu sudah tidak tinggal di sana."
"Dan Paman juga Bibi tidak tahu alamat tempat tinggal teman kamu."
"Saat aku mencari mu di universitas, aku melihatmu terlihat begitu bahagia dengan seorang pria."
"Aku pikir kamu sudah melupakan aku dan berpacaran dengan dia."
"Aku tidak jadi menemui mu dan kembali lagi ke kota J."
"Maaf, aku tidak mencari dan menemui mu lagi setelah itu."
"Maafkan aku juga yang tidak jujur kalau aku ini Yudha gendut mu."
"Pangeran lebah mu."
Mutia mengingat apa yang tadi Rendy katakan sebelum pergi karena dapat panggilan pekerjaan dari Bryan yang katanya penting dan darurat.
Mutia tidak jadi masuk kerja, dirinya ingin menyendiri di apartemen tanpa adanya gangguan. Handphonenya pun juga sudah dia non-aktifkan.
Dibukanya laci di nakas samping tempat tidur. Diambilnya botol kecil yang berisi surat. Dibukanya penutup botol itu dan dikeluarkannya kertas surat itu.
Trriingg
Mutia menunduk dan mengambil sebuah kalung yang terjatuh dari dalam botol. Kalung dengan liontin kupu-kupu dan sebuah cincin yang juga dijadikan liontin. Kalung yang dulu Mutia kecil temukan di dalam botol bersama surat pemberian Yudha kecil.
Mutia mencium kalung itu dan mengambil cincin untuk dipakainya terlebih dahulu baru memakai kalung.
"Kalau kamu mau jadi kekasih aku pakai kalung itu."
"Kalau kamu memang menerima apa yang diinginkan kedua orang tua kita, pakai juga kalung itu."
"Kalau kamu sudah mencintaiku, pakailah cincin itu."
Mutia melihat cincin yang baru saja dia pakai di jari kelingkingnya. Karena cincin itu terlalu kecil dan tidak muat dijari tengah, maka dipakaikan nya di jari kelingking.
"Jangan GeEr dulu, aku memakai kalung ini bukan karena mau jadi kekasih kamu juga menerima perjodohan kita."
"Aku hanya suka dengan liontin kupu-kupunya saja."
"Jangan kepedean juga kalau aku sudah mencintai kamu."
"Aku pakai cincin ini karena mubasir aja kalau tidak dipakai."
"Mana muatnya hanya di jari kelingking saja lagi." gerutu Mutia dengan menangis bahagia. Dirinya tersenyum sendiri melihat barang pemberian Yudha kecil yang seharusnya dipakainya 7 lalu saat Yudha kembali, baru dipakainya sekarang setelah Rendy mengakui kalau dirinya Yudha gendutnya dulu.
"Pangeran lebah!" Mutia tersenyum sendiri mengingat panggilannya dulu pada Yudha kecil. Dirinya menyebut Yudha kecil seperti lebah yang besar, dan dipanggilnya pangeran lebah.
"Dan sekarang pangeran lebah sudah berubah menjadi Harry Potter."
"Tapi sekarang jauh lebih ganteng pangeran lebah aku dari pada Harry Potter."
"MUTIA!!!"
Teriak Mutia sekencang mungkin. Dirinya begitu kesal kenapa dulunya saat awal bertemu Rendy dirinya tidak menyadari kalau Rendy itu Yudha, pangeran lebahnya. Dan dirinya begitu menyesal karena terus berselisih paham dan berantem terus tiap kali bertemu Rendy.
"Kalau kamu jujur dari awal, aku juga tidak mungkin bertingkah seperti ini."
Arrggghhhhhh
"Pasti nanti banyak yang ngira kalau aku ini wanita yang hanya mementingkan fisik pria saja untuk dijadikan pacar juga pendamping hidup."
"Aku bukan wanita seperti itu."
Mutia bergulung di kasur karena kesal sendiri dengan pemikiran yang buruknya.
Akkkhhhh
Mutia memejamkan matanya saat tubuhnya jatuh dari atas ranjang. Mutia membuka matanya sedikit saat merasakan dirinya jatuh ditempat yang empuk dan tidak seperti karpet bulu yang memang ada disisi ranjangnya.
Mutia membuka matanya lebar saat tahu sesuatu yang aneh itu ternyata sesuatu yang saat ini membuat jantungnya berdetak begitu kencang. Dengan susah payah Mutia menelan salivanya.
"Terlalu nyaman ya sampai tidak mau pindah."
Mutia kelabakan sendiri dan terlihat kesusahan untuk bangkit dari atas tubuh pria yang baru saja dijatuhi nya.
"Rend!!" Mutia gugup sendiri saat tiba-tiba Rendy memeluk pinggangnya membuatnya tidak bisa pindah posisi dari atas tubuh pria itu.
__ADS_1
Rendy tersenyum saat melihat kalung yang dulu pernah dia berikan kepada Mutia kecil dipakainya.
"Kamu memakainya."
"Apa cincinnya juga kamu pakai?"
Mutia sontak menyembunyikan tangan kirinya. Dirinya tidak mau Rendy mengetahui kalau dia sudah memakai cincin itu.
"Cincinnya aku buang."
"Cincin jelek, mana mau aku memakainya." sewot Mutia dengan memalingkan wajahnya juga menggigit bibir bawahnya. Sungguh, dirinya begitu malu kalau sampai tahu dirinya sudah memakai cincin itu.
"Yang benar!!" goda Rendy sambil memainkan rambut pendek sebahu Mutia.
"Apa sih??" Mutia terlihat risih sendiri.
"Sudah ih lepas." Mutia bergerak-gerak diatas tubuh Rendy untuk bisa meloloskan diri.
"Kenapa kamu bisa masuk kesini?"
"Password-nya sudah aku ganti dan kenapa kamu bisa masuk?"
"Apa kamu masih menguntit aku terus?" sungut Mutia yang menutupi kegugupannya. Sungguh, dirinya tidak pernah segugup ini saat berhadapan dengan Rendy. Tapi kenapa saat ini dirinya begitu gugup dan salting sendiri.
"Aku sudah tidak perlu menguntitmu lagi."
"Aku masuk kesini karena sudah diberi akses sama Nona Freya."
Rendy menunjukkan kunci cadangan apartemen yang ada ditangannya dengan senyum mengejek.
"Freya sialan!!"
"Percuma saja aku ganti password terus kalau jailangkung satu ini punya kunci cadangannya." gerutu Mutia yang kesal dengan sahabatnya itu.
"Kamu itu sebenarnya dukung siapa sih!!" Mutia geram sendiri dan terus mengomel diatas tubuh Rendy.
Auwhhhhh
"Kamu mau apa?" Mutia yang tadinya kesal dan geram pada Freya berubah panik saat Rendy tiba-tiba membalikkan tubuhnya hingga kini dirinya berada dibawah tubuh Rendy yang menindihnya.
"Terima kasih kamu sudah mau memakai cincin pemberian dari ku."
Rendy terkekeh saat melihat Mutia yang menutupi jari tangan kirinya yang dipakaikan cincin pemberian darinya.
"Tidak usah disembunyikan, aku sudah melihatnya."
"Terima kasih putri butterfly sudah mau menerima cinta dari pangeran lebah."
Mutia melihat Rendy yang tersenyum begitu manis dan tulus. Sungguh, senyuman itu baru Mutia lihat saat ini dan itu membuat hatinya menghangat dan perutnya terasa penuh dengan ribuan kupu-kupu yang siap meledak.
"Ka-kamu nggak usah kepedean." sewot Mutia menutupi rasa gugup, senang, bahagia, semua bercampur jadi satu.
"Aku memang anaknya kepedean."
"Apalagi jika berhadapan dengan kamu."
Mutia memejamkan matanya saat tangan Rendy mengusap lembut kulit wajahnya.
"Kamu semakin cantik putri Butterfly."
Mutia membuka matanya melihat Rendy yang saat ini begitu dekat jaraknya dengan dirinya. Mutia sampai merasakan hembusan nafas segar dari mulut Rendy.
"Dari dulu aku memang cantik." seloroh Mutia.
"Aku tahu."
"Dan sekarang kamu jauh lebih cantik lagi."
"Gombal."
"Udah ih!!! Aku masih marah sama kamu."
"Minggir." Mutia memukul pelan dada juga bahu Rendy untuk menyingkir dari atas tubuhnya.
"Cium aku dulu,baru aku akan melepaskanmu."
"Nggak mau."
"Aku masih marah sama kamu dan kamu tadi juga gagal tidak menyelesaikan misi hukumannya."
"Ya sudah, kita akan seperti ini terus."
Rendy semakin tidak mengikis jarak diantara keduanya.
"Kamu janji setelah aku mencium kamu, kamu akan melepaskan aku."
Rendy hanya berdehem dengan menatap netra silver milik Mutia yang terus bergerak kekanan dan kekiri.
Mutia memejamkan matanya untuk bersiap mencium Rendy, sesuai apa yang Rendy minta.
Cup
Hmmppfffhhh
Rendy menahan kepala Mutia dan justru dirinya lah yang duluan mencium dan menyesap bibir mungil Mutia. Rendy bermain dengan sangat lembut membuat Mutia merasakan kehangatan didalamnya.
"Bodoh Mutia!!!"
"Kenapa kamu begitu menikmatinya?"
"Kamu kan saat ini sedang berpura-pura marah pada Rendy."
"Tapi kenapa kamu membalas permainan lidah Rendy dan menikmatinya."
Mutia yang sudah terbawa suasana tidak menyadari dengan apa yang telah Rendy lakukan pada tubuhnya yang sudah setengah telanjang itu, menyisakan pembungkus gunung gembar juga segitiga bermuda. Dia terus melenguh saat tangan-tangan nakal milik Rendy juga bibir dan lidah Rendy bermain di beberapa titik sensitif di tubuhnya.
"Rend!!" lenguh Mutia yang sudah merasa terbang begitu jauh meninggalkan bumi.
Rendy menatap mata Mutia yang sudah berkabut gairah. "Apa aku boleh melanjutkannya?" bisik Rendy dengan menciumi dan menjilati telinga Mutia.
Egghhhh
Mutia hanya melenguh dan mengangguk, sungguh dirinya sudah tidak tahan lagi dengan foreplay yang Rendy lakukan pada tubuhnya.
Rendy lantas mengangkat tubuh Mutia dan dibaringkannya diatas ranjang.
"Yakin aku boleh memasukinya?"
Mutia memejamkan matanya menikmati permainan tangan Rendy yang ada di intinya. Dirinya sudah tidak memperdulikan pertanyaan Rendy lagi. Didalam tubuhnya saat ini terasa ada sesuatu yang akan keluar.
Mutia membuka matanya saat sudah terasa mau keluar justru Rendy berhenti bergerak.
"Kamu tidak puas?" tanya Rendy yang mendapat tatapan protes dari Mutia.
Mutia mendengkus dan memalingkan wajahnya, meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos.
"Jangan marah, aku akan memberimu kepuasan yang lebih dari malam itu."
Tanpa menunggu respon dari Mutia, Rendy kembali melancarkan aksinya bermain diatas tubuh Mutia. Hingga membuat Mutia merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Aku akan menikahi kamu besok, putri butterfly."
"Besok??"
"Iya, kita nikah siri dulu."
"Aku ingin kita leluasa bermain seperti ini."
"Baru nanti aku akan meresmikan pernikahan kita setelah berkasnya semua sudah selesai."
"Seminggu.."
"Seminggu lagi kita resmikan pernikahan kita."
"Pernikahan sesuai keinginan kamu."
"Pernikahan pangeran dan putri di sebuah dongeng."
"Kamu maukan?" Rendy menatap lembut manik mata Mutia dengan bermain surai lembut Mutia.
"Setelah mengambil mahkotaku baru diajak nikah."
"Dasar tukang icip-icip." dengus Mutia dan menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang memerah, dirinya begitu senang akhirnya bisa nikah dengan pangeran lebah nya meski harus ada drama dulu tidak mau dijodohkan dengan teman kecilnya yang ternyata justru teman kecilnya, yaitu pangeran lebah nya yang telah mengambil mahkotanya juga mengajaknya menikah.
"Mutia!!! Memang dasar kamu tidak punya malu, tidak punya harga dirinya."
🍁🍁🍁
have a nice day
big hug 🤗🤗🤗
__ADS_1