Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Enak Tidak???


__ADS_3

Oh, and love oh, love


I'll be that fool for you I'm sure


You know I don't mind


Oh, you know I don't mind


And, yes


You'll be the only one


'Cause no one can deny


This love I have inside


And I'll give it all to you


My love, my love, my love


My endless love


Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi ballroom yang luas dan megah menyambut kesuksesan sang aktor dan artis menampilkan sebuah lagu duet romantis berjudul "Endless Love by Lionel Richie". Para tamu undangan begitu kagum dan tidak menyangka kalau Tuan Muda Abrisam yang terkenal dingin, sombong dan angkuh itu ternyata memiliki sisi romantis dan juga suara yang begitu merdu saat menyanyikan lagu lawas itu. Mereka juga di buat histeris oleh sepasangan suami istri yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian itu berciuman di akhir lagu yang keduanya bawakan.


Rendy juga Mutia yang memiliki acara begitu geram dengan apa yang ditampilkan Bryan juga Freya saat ini. Sungguh perbuatan sepasang suami istri itu tidak pantas untuk ditiru dan dipertontonkan. Apalagi kedua orang itu telah menyabotase pesta resepsi pernikahannya secara terang-terang dan tidak ada rasa takutnya sama sekali.


"Kalau bukan karena Tuan Abrisam, aku tidak mungkin mengadakan acara di tempat ini." geram Rendy mengingat Papa Abri lah yang meminjamkan ballroom untuk acara resepsi pernikahannya dan sekarang acara resepsi pernikahannya disabotase oleh putra dari Papa Abri sendiri. Dan lebih parahnya lagi semua tamu undangan juga keluarganya sendiri lebih memperhatikan pasangan suami istri yang tengah tersenyum bangga karena sukses membawakan lagu yang dipelajarinya selama satu hari itu.


"Ayah!!!! Bunda!!!!"


Semua yang tadinya fokus pada Bryan dan Freya beralih melihat ke arah panggung asal suara berasal. Mereka semua termasuk Bryan juga Freya dan yang punya acara juga melihat Maura berdiri di atas panggung dengan memegang mic.


"Wo ai ni." Maura mengangkat kedua tangannya dan membentuk love di atas kepalanya.


"Maura." Freya begitu terharu melihat putrinya yang berani mengutarakan rasa sayangnya pada Ayah dan Bundanya di atas panggung. Dirinya juga tidak menyangka kalau dapat kejutan dari putri kecilnya di acara pesta resepsi sahabatnya sendiri.


"Sayang, kamu disini dulu. Aku ada janji tadi sama Maura." Bryan lantas berlari kecil dan naik ke atas panggung menemani Maura.


"Ready cantik?" tanya Bryan yang sudah duduk di depan piano.


"Ready Ayah!" seru Maura dengan mengedipkan sebelah matanya pada sang Ayah.


Sorak sorai tepuk tangan kembali terdengar saat alat musik sudah mulai dimainkan. Mereka semua saling berbisik, kira-kira Ayah dan anak dari keluarga Abrisam itu akan membawakan lagu apa dan untuk siapa.


I see your monsters


I see your pain


Tell me your problems


I'll chase them away


I'll be your lighthouse


I'll make it okay (yeah)


When I see your monsters


I'll stand there so brave


And chase them all away


I got a heart made of fool's gold


Got me feeling so cold


You keep chipping away


All the promises that I told


Felt like I was on those


They keep slipping away


I want nobody else


But it's hard to get to know me


When I don't know myself


And it helps 'cause I felt


I was down, I was out.


Then you looked at me now


And said I see your monsters


I see your pain


Tell me your problems


I'll chase them away


I'll be your lighthouse


I'll make it okay

__ADS_1


When I see your monsters


I'll stand there so brave


Begitu terharu melihat suami juga putrinya yang tampil di atas panggung membuat wanita cantik yang tengah berbadan dua itu menangis terharu. Dirinya tidak tahu kapan Ayah dan anak itu berlatih lagu yang saat ini mereka nyanyikan.


"Monster?!! Bukankah dulu aku menyebut Mas Bryan monster." Freya tertawa sendiri mengingat dulu dirinya sering mengumpat Bryan dengan sebutan monster.


"Keterlaluan!" umpat Mutia.


"Mereka bertiga beraninya merusak pesta ku." geram Mutia pada sepasang suami istri dan anak yang saat ini menjadi pusat perhatian. Dia berdiri dari duduknya untuk mengalihkan perhatian tamu undangan kepada dirinya.


"Mutia!! Kamu mau ngapain?" Rendy memegang tangan Mutia, menghalanginya untuk tidak berbuat hal yang akan membuat dirinya malu.


"Aku mau naik ke atas panggung. Aku akan membubarkan pengacau yang ada di pestaku."


"Tak akan ku biarkan mereka merebut semua perhatian dari para tamu." sungut Mutia yang merasa Bryan dan juga Freya telah mengacaukan acara pestanya. Ditambah Maura juga ikut andil didalamnya membuat atensi para tamu beralih darinya.


"Jangan bikin malu Kakak Ipar."


Mutia menoleh dan menatap Nino yang baru muncul juga ikut melarangnya. Dibelakang Nino juga ada Bara dan Julian juga ada Evan dan Andre.


"Benar yang dibilang Nino." sahut Andre sambil merangkul pundak Nino dengan gayanya.


"Yang ada nanti sepasang Tuan dan Nyonya Muda itu akan besar kepala dan merasa menang juga puas telah membuat kalian marah." imbuh Bara dengan bersedekap sambil menatap Bryan juga Maura yang masih tampil di atas panggung.


"Freya berhasil membuat Bryan kembali seperti dulu lagi." gumam Bara dalam hatinya karena baru menyadari kalau sikap Bryan sekarang seperti saat remaja dulu meski sikap dingin juga sombongnya masih saja melekat di diri Tuan Muda Abrisam. Bryan yang sering berbuat onar dan pengacau. Bryan yang sering tampil di panggung, bahkan kafe bersama teman bandnya saat sekolah dulu. Bryan yang hangat telah kembali.


"Apa yang mereka katakan benar. Lebih baik kita nikmati saja pertunjukan gratis dari keluarga cemara itu." saran Rendy untuk sang istri supaya tidak mempermalukan diri sendiri di pestanya sendiri.


Mutia menatap Rendy dan menyetujui saran suaminya. Apa yang suami juga para lelaki jomblo itu katakan benar adanya. Lebih baik menikmati pertujukan gratis di pestanya sendiri daripada membuat malu di pestanya sendiri.


"Selamat ya Mutia atas pernikahannya." ucap Evan sambil berjabat tangan dengan Mutia.


"Aku kira kemarin mau menikah sama Alex, tidak tahunya sama asistennya Tuan Bryan." Evan tersenyum sambil melirik Rendy yang terlihat tidak suka dengan ucapan Evan yang mengira Mutia akan menikah dengan Alex.


"Hahaha..Aku sama Alex tidak ada hubungan apapun."


"Dia sekarang sudah mencari kebahagiannya sendiri di luar sana."


"Tinggal kamu sekarang, kapan jujurnya. Yang jentel, jangan penakut." ejek Mutia pada Kakak seniornya itu.


Evan hanya tersenyum saja, bagaimana mau jujur kalau sekarang Caca menjauh darinya setelah pulang dari Singapura. Telephone maupun chat nya tidak pernah dibalas lagi sama Caca. Ditemui di kampus pun juga menghindar.


"Udah lepaskan tangan kamu dari istriku." Rendy menarik paksa tangan Mutia yang masih berjabat tangan dengan Evan.


"Ck..ada yang posesif juga ternyata. Tidak jauh beda sama mantan bosnya." cibir Bara yang diangguki Julian, membenarkan kenyataan yang ada.


"Sifatnya saja juga tidak jauh beda kok, kak." sahut Nino.


"Betul!!" seru Bara juga Julian dan Andre bersamaan membuat mereka tertawa.


"Aku permisi dulu. Mau menyapa teman-teman kuliah dulu." pamit Evan yang segera turun dari pelaminan saat melihat Caca. Dengan alasan menyapa teman kuliah, Evan menemui Caca yang sudah lama tidak dia temui.


"Aku juga permisi dulu. Mau makan, lapar!!"


"Selamat buat kalian berdua." Andre juga segera turun dari panggung saat menemukan orang yang dicarinya dari tadi baru muncul.


"Kenapa kalian masih disini?" tanya Rendy pada Bara dan Nino yang duduk di kursi pelaminannya


"Cepat turun dan cari mangsa. Gak bosan apa jomblo." cibir Rendy


"Sana pergi." Rendy mengusir adik juga sahabatnya yang telah memakai tempat duduknya.


"Menyebalkan." gerutu Nino.


"Ayo Nino kita cari mangsa. Banyak ciwi yang bisa diajak nge-fly."


"Mumpung diizinkan sama si kulkas." Bara lantas menarik tangan Nino turun dari pelaminan.


"Jangan macam-macam Bara. Nino masih kecil."


Bara hanya melambaikan tangan saja mendengar teriakan dari Rendy. Siapa suruh tadi diminta mencari mangsa. Giliran adiknya di ajak, dia sendiri yang marah dan teriak-teriak, batin Bara.


"Ekhem!!!"


Mutia juga Rendy menoleh saat mendengar orang berdehem di dekat mereka. Wajah keduanya berubah masam saat tahu siapa orang yang mendatanginya. Keduanya lantas berdiri dan menatap sepasang suami istri yang mimik wajahnya sama-sama masam seperti dirinya.


"Mama!! Paman Robot!!" Maura berlari kecil dan memeluk pinggang Mutia dengan erat.


"Mama jahat! Mama nikah sama Paman Robot tidak bilang-bilang dulu sama Maura."


"Padahal Maura sukanya Mama menikah sama Paman Alex bukan Paman Robot yang kaku ini." Maura menunjuk-nunjuk paha Rendy.


"Paman Robot tidak bisa tersenyum dan pasti Paman Robot nanti tidak bisa membuat Mama tersenyum."


"Lebih baik Mama menikahnya sama yang lain saja, jangan sama Paman Robot." Maura terus saja berbicara dan mengatakan kalau tidak ingin Mama Mutia menikah dengan Paman Robot.


Rendy menatap tajam pada Bryan, dia yakin kalau Bryan lah yang mengajari Maura untuk mengatakan kalimat penolakan atas pernikahannya dengan Mutia. Dan sebaliknya, Mutia menatap tajam pada Freya karena dia yakin kalau semua ini ulah Freya mengingat saat ini jiwa usil dan jahil Freya sudah melambung tinggi.


Berbeda dengan Rendy juga Mutia, Freya dan Bryan juga tidak menyangka kalau Maura akan mengatakan kalimat yang pasti akan membuat Rendy panas dan marah. Mereka sama sekali tidak mengajari Maura untuk mengatakan itu semua dan itu diluar rencana mereka. Karena rencana untuk mengerjai sepasang pengantin baru belum dimulai dan masih nanti.


"Pasti kalian kan yang mengajari Maura." Rendy terlihat begitu geram dengan mantan bosnya itu meski sebenarnya dirinya masih bekerja dibawah Bryan.


"Ti,_" Freya tidak melanjutkan ucapannya saat tangannya diremas oleh Bryan.


"Kalau iya kenapa?"

__ADS_1


"Wajar saja kita mengajari Maura karena saya dan Freya adalah Ayah dan Bundanya Maura. Orang tua kandung dari Maura Hanin Azzahra."


"Tidak ada salahnya kalau kami sebagai orang tua kandung mengajari anak kami sendiri."


Rendy bertambah geram dan kesal pada Bryan karena apa yang Bryan katakan itu benar adanya. Mereka tidak salah mengajari Maura, tapi yang mereka ajarkan pada Maura itu sungguh membuatnya kesal.


"Iya kalian tidak salah. Tapi apa yang kalian ajarkan pada Maura itu salah." geram Rendy.


"Ih..Paman Robot jangan marahin Ayahnya Maura."


"Kalau mau, lawan Maura dulu." Maura berdiri di depan Rendy dengan mengangkat dagunya tinggi dan mata melotot tajam dengan kedua pipi yang digembungkan. Tidak lupa kedua tangannya diletakkannya di sisi pinggangnya.


"Ayo lawan, Rend!!"


"Masak kalah sama anak kecil." cibir Bryan yang melihat Rendy hanya diam tidak melakukan apapun.


"Kalian keterlaluan ya. Menikah diam-diam tanpa memberi kabar."


"Apa susahnya sih memberi tahu diawal."


"Sahabat macam apa kalian itu."


"Aku kecewa sama kamu, Mutia."


"Kamu berubah setelah mengenal Rendy."


"Ayo Mas, kita pergi saja." Freya menarik tangan Bryan dan diajaknya turun dari pelaminan.


"Freya tunggu!!" Mutia memegang tangan Freya yang satunya lagi yang bebas.


"Aku minta maaf. Kemarin itu mendadak dan aku juga belum sempat memberi tahu kamu."


"Dan kamu keburu pergi ke Kota S, padahal waktu itu aku sama Rendy mau memberi tahu kalian."


"Maaf, kalian tahu dari orang lain." sesal Mutia yang tidak memberitahu pernikahannya dari awal.


"Saya juga minta maaf. Maaf telah merahasiakannya dari Tuan dan Nona." ucap Rendy yang juga menyesal telah membuat Bryan dan juga Freya marah pada dirinya juga Mutia. Dan dia tahu kalau Bryan juga Freya membuat kegaduhan di pesta pernikahannya itu hanya sebatas pelampiasan rasa kesal dan amarah mereka pada dirinya juga Mutia.


"Makanya Paman Robot, jangan merahasiakan sesuatu dari Ayah sama Bunda."


"Marah kan Ayah dan Bundanya Maura."


"Maura juga marah sama Paman Robot."


"Kenapa Paman Robot tidak izin dulu sama Maura kalau mau menikah sama Mama Mutia."


"Paman tidak tahu apa kalau Maura ini anaknya Mama Mutia, Mama bar-bar, Mama pemberani." sungut Maura yang ikutan kesal pada Rendy.


"Maaf ya Nona Muda." Rendy berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan tinggi Maura.


"Bolehkah sekarang Paman Rendy meminta izin pada Nona Muda?" Maura mengangguk lucu


"Nona Muda, bolehkah Mama Mutia menikah dengan Paman Rendy?"


"Izinkan Paman Rendy untuk menemani dan membahagiakan Mama Mutia."


"Membantu Nona Muda untuk menjaga Mama Mutia."


Maura mendongak menatap Ayah dan Bundanya meminta persetujuan. "Bagaimana Ayah, Bunda?"


Baik Bryan maupun Freya hanya mengangkat kedua bahu mereka. Kenapa harus tanya, pikir keduanya. Itukan rencana Maura sendiri dan mereka tidak diberitahu. Mereka saja kaget kenapa putrinya bisa sampai berfikiran sejauh itu untuk mengerjai Rendy juga Mutia.


Maura menghembuskan nafas lelah karena tidak mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya. Dirinya kembali menatap Rendy dan Mutia bergantian.


"Kalau Paman Robot mau mendapat izin dari Maura, Paman Robot harus mengizinkan Maura untuk tidur bersama Mama Mutia malam ini."


"Kalau tidak, Maura tidak akan membiarkan Paman Robot untuk mendekati Mama Mutia."


"Maura akan meminta Paman Bara sama Paman botak untuk mengurung Paman Robot di kandang binatang buas milik Ayah."


"Bagaimana Paman? Apa Paman setuju?" Maura bersedekap sambil memiringkan kepalanya menatap Rendy.


Rendy memicingkan matanya menatap Maura yang entah sejak kapan anak kecil itu mirip sekali dengan Bryan si tukang kurung mengurung orang kalau tidak menurut dengannya. "Ayah sama anak tidak ada bedanya." batin Rendy yang kesal saat mendengar suara tawa dari Bryan meski terdengar lirih.


"Baiklah, malam ini Nona Muda boleh tidur sama Mama Mutia."


Maura meloncat kegirangan dan memeluk leher Rendy dengan erat. "Terima kasih Papa Rendy."


Tubuh Rendy menegang saat Maura memanggilnya Papa untuk pertama kalinya. Entah kenapa perasaannya mulai menghangat karena ini pertama kalinya ada yang memanggil dirinya Papa.


"Maaf ya, tadi kami membuat kehebohan sendiri." ucap Freya sambil mengusap lengan Mutia.


Mutia tersenyum dan mengangguk, "Aku juga minta maaf sama kamu."


"Sama-sama." Freya memeluk Mutia dengan erat. "Selamat ya atas pernikahannya dan maaf karena Maura pasti akan mengganggu malam kalian."


"Aku tahu pasti ini usul dari kamu." tebak Mutia.


"Nggak apa, nikmati saja. Lagian pasti kalian juga sudah sering melakukannya."


"Gimana enak tidak?"


Mutia mendelik pada sahabatnya itu, dirinya tidak menyangka akan pertanyaan yang diberikan oleh sahabatnya itu. Tidak mungkinkan dirinya mengatakan yang sebenarnya. Dirinya memang bar-bar, tapi kalau masalah itu tidak mungkin dirinya akan menceritakannya pada sahabatnya sendiri ataupun orang lain. Itu rahasianya sendiri bersama pasangannya dan bukan untuk diumbar.


🍁🍁🍁


have a nice day

__ADS_1


big hug 🤗🤗


__ADS_2