
Rendy tersenyum sendiri saat melihat Mutia yang hanya menggeliat saat di kecup keningnya. Pagi ini dia bangun terlebih dahulu dan berniat menyiapkan sarapan untuk istrinya. Sudah hampir beberapa hari ini hubungannya dengan Mutia mulai membaik meski masih ada kekakuan diantara keduanya.
Rendy sadar apa yang telah dia perbuat pada Mutia sejak awal nikah kemarin. Dia yang awalnya tidak akan menuntut Mutia untuk segera hamil jadi terbawa Mamanya yang sudah sangat menginginkan cucu. Dan itu membuat Rendy tanpa sadar terus memaksa Mutia untuk melakukan ini itu dan memakan atau meminum ini itu.
Dan apa yang telah Rendy dan Mamanya perbuat itu justru membuat Mutia tertekan. Mengakibatkan Mutia menjadi stress batinnya, meski sikapnya masih biasa saja seperti Mutia pada biasanya.
Rendy secara perlahan turun dari ranjang supaya tidak membangunkan istrinya. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah juga menggosok giginya sebelum beraktifitas di dapur.
Rendy terlihat berpikir setelah membuka lemari pendinginnya. Dia jadi bingung sendiri harus membuat menu sarapan apa untuk Mutia. Padahal biasanya dulu sebelum menikah dirinya sering memasak untuk dirinya sendiri.
"Omelette?! Terlalu mudah."
"Sandwich?! Udah biasa."
"Nasi goreng?! Sudah umum."
"Sereal?! Sudah bosan."
Rendy bingung sendiri dan akhirnya searching di google daripada menyajikan menu yang biasa untuk pertama kalinya buat sang istri. Rendy semakin bingung karena rata-rata yang muncul di pencarian menu yang sering dia buat.
"Kenapa semua berbahan dasar roti sama oatmeal?!" gumam Rendy kesal sendiri karena belum juga mendapatkan ide untuk menu sarapan pagi ini.
Rendy melihat jam yang ada di dinding sudah menunjukkan pukul lima lebih. "Sudah jamnya Mutia bangun." gumam Rendy dan akhirnya mengambil telur dan beberapa sayuran juga sebungkus roti.
"Ini sajalah, keburu Mutia bangun. Yang penting buatnya pakai cinta." ujar Rendy dengan percaya dirinya menyajikan roti bakar dengan telur mata sapi. Dia juga membuat salad sayur yang memang sering dimakan Mutia tiap pagi, bahkan sering dibuat bekal ke kantor.
Dengan ketrampilan tangannya yang begitu lihai memasak, dalam waktu kurang setengah jam Rendy sudah selesai menyiapkan sarapan spesial untuk istri tercinta.
"Perfect!!" ucap Rendy dengan bangganya setelah melihat penampakan hasil masakannya tadi.
"Mau dibilang lebay biarin saja, karena aku menyajikannya dengan cinta." imbuh Rendy dan berlalu kembali ke kamar untuk membangunkan sang istri.
Rendy memicingkan matanya saat tidak mendapati Mutia berada di atas ranjang. "Kemana dia?" gumam Rendy.
Bunyi suara pintu kamar mandi terdengar dan Mutia keluar dari dalam kamar mandi dalam kondisi lemas sambil memegang perutnya.
"Sayang! Kamu kenapa?" Rendy melangkah cepat mendekati Mutia yang terlihat lemas dan pucat.
"Kamu sakit? Kenapa keluar keringat dingin seperti ini?" Rendy yang hanya melihat Mutia hanya menggelengkan kepalanya pelan lantas menggendongnya dan direbahkan nya di atas ranjang.
Mutia meringis menahan sakit pada perutnya membuat Rendy bingung sendiri. Apa sebenarnya yang terjadi pada istrinya itu.
"Perut kamu sakit? Apa kamu mau datang bulan? Apa maag kamu kambuh? Aku panggilkan dokter ya? Atau kita rumah sakit saja?"
Perut Mutia semakin sakit mendengar banyaknya pertanyaan yang Rendy ajukan untuk dirinya. Bisa tidak suaminya itu kalau bertanya satu-satu saja dulu baru bertanya lagi. Bukannya langsung diberondong banyak pertanyaan seperti itu. Semakin sakit kan jadinya.
"Kamu mau kemana?" Rendy menahan tubuh Mutia yang akan turun dari ranjang. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Mutia kalau sampai Mutia nekat beraktifitas.
"Lepas dulu ih!" Mutia menyingkirkan tangan Rendy yang menahan tubuhnya.
"Nggak mau. Kamu disini saja dulu sampai sembuh." Rendy tetap kekeh menahan tubuh Mutia untuk tidak turun dari ranjang.
"Tapi aku sudah tidak tahan, Rendy." Mutia menahan sesuatu yang segera ingin dikeluarkan saat ini juga atau nantinya bakal jadi penyakit.
"Kalau sudah tidak tahan, ayo kita ke rumah sakit saja." Rendy berdiri dari duduknya dan mengambil dompetnya.
"Aku mau pup, Rend. Tidak perlu ke rumah sakit." ucap Mutia pada akhirnya yang sudah tidak tahan lagi menahan sesuatu yang minta untuk segera dikeluarkan.
__ADS_1
"Minggir!" seru Mutia yang tadinya lemas tiba-tiba memiliki tenaga untuk berteriak dan berlari kecil menuju kamar mandi.
Rendy berdiri mematung menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat dimana Mutia tadi masuk kedalamnya. "Apa dia beser?" dalam hatinya bertanya-tanya apa yang dimakan Mutia semalam.
"Ini minum dulu!" Rendy memberikan segelas air putih pada Mutia setelah beberapa kali keluar masuk kamar mandi.
"Hmm..Apa ini?" Mutia merasakan aneh dengan air putih yang Rendy berikan kepadanya. Rasanya seperti obat oralit yang ada di apotek.
"Cairan oralit." jawab Rendy, "sudah cepat habiskan ini biar diare segera berhenti." Rendy membantu Mutia untuk meminum cairan oralit yang tadi dia buat khusus untuk Mutia.
Dengan wajah menahan asin dan manis, Mutia segera mengambil gelas kosong yang tidak jauh dari tempatnya duduk dan menuangkan secukupnya air putih.
Haahhhhh...Mutia merasa lega setelah rasa asin dan manis yang begitu menyengat tadi perlahan hilang di indera perasa nya.
"Makan apa kamu semalam sampai diare seperti itu?" tanya Rendy yang baru saja kembali dari dapur.
"Perasaan kita makan makanan yang sama. Makanan yang dibawa Nino. Tidak ada makanan pedas sama sekali didalamnya." Rendy menatap Mutia dengan serius yang duduk di depannya dan hanya terhalang meja dan beberapa menu makanan yang tadi Rendy buat.
Mutia menelan salivanya secara kasar, memang benar semalam dia juga Rendy memakan makanan yang dibawa Nino dan sama sekali tidak ada masakan yang pedas yang dibawa Nino. Semuanya pedasnya normal saja dan tidak terlalu pedas sampai berlevel-level.
Tapi, tanpa sepengetahuan Rendy, dirinya dan Nino memesan sayap pedas level 20. Dan itu mungkin yang mengakibatkan perutnya sampai terasa panas dan diare.
"Kamu tidak diam-diam memesan makanan pedas bersama Nino kan?" Mutia menggeleng cepat saat Rendy terlihat semakin mencurigai dirinya.
"Kamu yakin?" Mutia mengangguk ragu, takut-takut kalau Rendy ternyata sudah mengetahuinya semalam atau mungkin tadi habis bertanya pada Nino yang memang saat ini menginap di apartemen mereka.
"Kamu tidak berbohong?" Mutia semakin terpojok melihat Rendy yang semakin memojokkannya dengan pertanyaan sederhana juga tatapan yang begitu menakutkan, seperti seorang polisi yang tengah mengintrogasi pelaku pembunuhan.
"Aaa-aku ke toilet sebentar." dengan gugup Mutia berdiri dari duduknya untuk menghindar dari pertanyaan yang Rendy ajukan.
"Mampus...Rendy pasti sudah tahu kalau semalam aku sama Nino habis makan sayap pedas." Mutia terlihat begitu cemas dengan dirinya sendiri yang pasti akan membuat Rendy marah dan dirinya juga akan kena hukuman dari suaminya itu, mengingat baru beberapa hari ini hubungan keduanya baru saja membaik dan tidak mungkin akan kembali memanas seperti yang lalu.
"Ngaku saja kali ya, daripada ntar semakin kaku dan memanas kembali." gumam Mutia yang akhirnya menurunkan egonya untuk mengakui kesalahannya sendiri yang memang memakan makanan pedas, padahal perutnya tidak kuat bila harus makan pedas.
Mutia membalikkan badannya dan menatap Rendy yang masih duduk ditempatnya dengan kedua tangan saling bertautan.
"Terus siapa yang memegangi bajuku?" tanya Mutia dalam hatinya karena bukan Rendy yang memegangi bajunya untuk menahannya.
"Kenapa masih disini? Katanya mau ke toilet." tanya Rendy dengan nada mengejek.
Mutia tidak menghiraukan ejekan yang Rendy lontarkan. Dengan perlahan pandangan mata Mutia menelusuri bajunya mencari siapa yang saat ini memegangi bajunya itu. Mata Mutia membulat seketika saat tahu siapa dalam yang membuat dirinya tidak melanjutkan langkahnya untuk pergi dan memilih bertahan.
"Memalukan!" batin Mutia yang begitu malu saat mengetahui kenyataan sesungguhnya.
Dengan cepat Mutia menarik bajunya yang nyangkut di kursi hingga menimbulkan bunyi. Mutia langsung berlari cepat menuju kamar karena malu dengan apa yang baru saja terjadi hingga bajunya sobek.
Rendy hanya tersenyum kecil melihat tingkah Mutia barusan. "Seperti Maura saja." batinnya.
Rendy berdiri dan mengikuti Mutia ke kamar. Dia tahu kalau sudah masuk ke dalam kamar karena malu pasti istrinya itu akan sulit untuk keluar, apalagi Mutia belum memakan apapun sedari tadi.
"Kok dikunci." gumam Rendy saat mencoba membuka pintu namun tak dapat terbuka.
"Mutia, buka pintunya!"
Mutia yang duduk di tepi ranjang hanya menatap pintu kamar yang dikuncinya dari dalam. Dia malu sendiri dengan apa yang terjadi padanya tadi. Dia juga kesal kesal dengan Rendy yang pasti sudah menertawakan dirinya.
"Kamu belum makan, kita juga belum siap-siap. Ini sudah jam tujuh lebih. Buka pintunya, sayang! Nanti kita telat ke kantor."
__ADS_1
Mutia masih bergeming di tempatnya, dia begitu malas melakukan perintah dari Rendy. "Biarin saja telat, toh aku sekarang istrinya CEO tempat aku sendiri." gumam Mutia dengan membanggakan dirinya sebagai istri seorang CEO.
"Baiklah kalau tidak mau membukakan pintu. Tolong ambilkan ponsel ku! Aku akan menghubungi Lisa kalau datang terlambat."
Mutia melirik nakas samping tempat tidur dimana biasanya ponsel suaminya disimpan. Diambilnya ponsel itu dan dilihatnya isi ponsel dari suaminya itu. Mutia menyunggingkan senyumnya saat melihat wallpaper yang dipasang Rendy.
"Jadi waktu itu dia mengambil foto ini?!" gumam Mutia saat baru mengetahui foto dirinya dan Rendy yang tengah berciuman saat bulan madu kemarin diambil sendiri oleh Rendy tanpa sepengetahuannya.
"Mutia! Sayang! Mana ponsel ku? Aku tidak hapal nomornya Lisa." Rendy masih tetap berusaha supaya Mutia membukakan pintu untuknya meski sebenarnya dirinya memiliki kunci cadangan sendiri.
Akhirnya suara kunci terdengar dan pintu terbuka sedikit dengan tangan Mutia yang menjulur keluar sambil memegang ponsel milik Rendy.
Rendy tersenyum kecil dan menarik pelan tangan Mutia membuat Mutia refleks membuka pintu kamar secara lebar. Dengan gerakan cepat, Mutia sudah berada dalam dekapan Rendy dan pintu kamar kembali tertutup.
Rendy menyunggingkan senyum saat melihat wajah panik Mutia. Entah apa yang membuat istrinya itu panik, Rendy sendiri tidak tahu. Yang pasti saat ini dia senang melihat Mutia yang dulu sudah kembali lagi.
"Terima kasih kamu mau kembali dan memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang aku lakukan padamu akhir-akhir ini."
Mutia yang tadinya panik, sekarang dia menatap netra Rendy dengan seksama. Dia ingin mencari kebenaran dan keseriusan dari apa yang Rendy katakan pada dirinya.
"Maaf, karena aku sama Mama sering membuatmu merasa tertekan saat itu. Aku janji sama kamu untuk tidak memaksa lagi kamu untuk melakukan semuanya."
"Kita pasrahkan kepada sang pencipta, kita berdoa dan berusaha sampai Allah memberikan kepercayaan kepada kita."
"Dan selalu buat hati kamu tenang, aman dan bahagia."
Mutia menyunggingkan senyumnya saat melihat adanya keseriusan di setiap tatapan mata yang Rendy berikan untuknya. Entah kenapa dia begitu bahagia saat ini saat mendengar perkataan Rendy. Dia berharap Rendy tidak memaksa dan menuntutnya lagi untuk segera memiliki anak. Karena anak itu pemberian dari Allah dan kita tidak bisa memaksa Allah untuk memberikan sekarang juga atau nanti hasilnya pasti tidak akan membuat kita bahagia justru kesedihan yang ada.
"Kita mulai dari sekarang. Bukannya kamu sudah selesai haid?" Mutia mengangguk membenarkan. Dia kemarin memang baru selesai datang bulan.
"Tunggu!!" Mutia menjauhkan kepalanya saat kepala Rendy akan mendekat padanya.
"Nanti kita telat ke kantor dan itu bukan contoh yang baik. Apalagi kamu CEO nya dan aku istrinya CEO."
Rendy tersenyum, "Karena aku Bosnya dan kamu istri Bos, telat tidak masalah. Bilang saja habis mencetak Rendy junior."
Mata Mutia membulat dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Rendy. Sungguh itu pasti akan membuat dirinya menjadi bahan ghibahan karyawan kantor nantinya.
"Sudah nggak usah banyak pikir lagi. Kita cicil buat telinganya dulu."
Tanpa persetujuan Mutia, Rendy sudah tancap gas duluan menjamah setiap inci tubuh Mutia yang sudah beberapa hari ini tidak di sentuhnya secara langsung seperti ini.
"Waahhhhh...Enak banget ini bangun tidur sudah disiapkan sarapan." seru Nino yang baru saja keluar dari kamar.
"Siapa ini yang masak tadi? Love, love, love." Nino melihat semua makanannya disajikan dalam bentuk love. Mulai dari roti panggang, telur mata sapi dan juga saladnya pun di bentuk love semua.
Nino mencoba salad sayurnya terlebih dahulu, "Ck..Si kaku ternyata yang masak tadi." ejek Nino saat tahu kalau Rendy yang memasaknya, karena Nino sudah hapal betul bagaimana cita rasa masakan yang Rendy buat.
"Bucin banget si kaku sekarang."
Nino dengan tanpa permisi dan lahapnya menghabiskan semua makanan yang disiapkan Rendy untuk Mutia. Dia begitu menikmati setiap gigitan masakan sederhana itu dengan lahap seperti orang yang tidak makan selama seminggu.
Nino memakan semuanya tanpa memikirkan kakak dan kakak iparnya sudah makan apa belum tadi. Yang ada dipikirannya saat ini Rendy dan Mutia sudah makan dan berangkat kerja mengingat saat ini sudah jam 8 lewat.
"Ahh..kenyangnya!!" seru Nino saat sudah menyelesaikan acaranya makan gratisnya.
"Terima kasih kakak!!"
__ADS_1