
Dan benar saja, Freya benar-benar hamil kembali saat ini. Dan usia kandungan bumil itu memasuki usia lima minggu. Kehamilan ketiga Freya disambut begitu antusias oleh keluarga besar mereka. Terutama Bryan, karena saat ini dirinyalah yang mengalami morning sickness dan ngidam ingin makan ini, ingin makan itu. Akhirnya calon Ayah tiga anak itu mengalami juga yang Freya rasakan selama hamil baby Attar kemarin.
Dan untuk baby Attar juga baby Candra, kedua bayi itu akhirnya disambung dengan susu formula. Meski awalnya tidak mau, akhirnya lama kelamaan kedua bayi itu mau minum sufor. Dan Freya begitu sangat merasa bersalah pada baby Candra, karena baru sebentar bayi itu minum ASI dan harus kembali minun susu formula.
Untungnya saja Rendy tidak mempermasalahkan itu. Dia juga berterima kasih pada Freya karena memberi kesempatan pada baby Candra merasakan bagaimana itu rasanya minum langsung dari sumber yang asli meski bukan langsung dari ibu kandungnya. Tapi, tiga bulan itu sudah bisa membuat baby Candra begitu lengket pada Freya.
Buktinya, baby Candra selalu tenang bila berada di rumah kediaman Abrisam, apalagi dekat dengan Freya. Baby Candra akan terlihag banyak berceloteh dengan bahasa bayi yang seperti bahasa alien. Dan hanya Freya yang paham itu.
"Kalau Candra tidak mau ikut sama Papanya ya percuma aku pulang kerumah. Tujuanku pulang untuk baby Candra. Tapi dianya justru nangis dibawa pulang." keluh Rendy pada Bryan yang saat ini keduanya tengah berada di ruang kerja di rumah Bryan. Kedua orang dewasa itu tidak ada yang masuk kerja. Keduanya hanya mengobrol santai di ruang kerja.
"Ck..Itu tandanya Candra minta Mama baru. Aku yakin anak kamu itu mau pulang. Apalagi ada Mama baru dirumahnya."
Rendy mengambil bolpoint yang ada di atas meja dan melemparkannya pada Bryan. Untung saja lelaki bermata biru yang begitu mirip dengan Maura itu segera menghindar. Rendy terlihat kesal dengan perkataan mantan bosnya itu.
"Baru tiga bulan. Aku belum memikirkan mencari Mama baru untuk Candra juga Rafa." ucap Rendy yang memang berniat tidak ingin mencari pengganti sosok Mutia di kehidupan selanjutnya. Dia akan menjadi Ayah dan Ibu untuk baby Candra juga Rafa.
"Belum memikirkan. Berarti ada pikiran untuk mencari dong? Apalagi kata Bara anak kiayi Sodiq ada yang baru saja menjanda sama ada satu yang masih gadis. Bisalah itu buat dijadikan calon."
Bryan menaik turunkan kedua alisnya dengan tersenyum smirk pada Rendy yang terlihat jelas kalau sang duda baru itu tengah kesal akan perkataannya tadi.
"Kenapa?? Lumayan woi. Yang satu sudah berpengalaman, yang satunya lagi masih harus diajari. Tinggal pilih kamu nya mau yang mana. Kalau aku sih pilih yang berpengalaman. Bukannya janda semakin didepan?"
Bryan tertawa saat melihat duda baru itu dengan gereget ingin memukul dirinya dengan kursi yang tengah didudukinya. Dia tahu si duda baru itu tengah kesal pada dirinya. Dan dia juga tahu kalau Rendy sangat menyayangi dan mencintai mendiang Mutia. Tidak akan mungkin dengan Mudah lelaki itu kembali menjalin hubungan dengan lawan jenis.
"Iya, apalagi kalau tu janda naiknya Yamahmud. Auto semakin didepan." ketus Rendy dan berlalu keluar.
Lebih baik menemui anak-anak yang tengah bermain di kamar bermain daripada berbicara dengan Bryan yang akan membuatnya kesal dan emosi.
"Hai mau kemana? Tiga jam lagi kau akan berangkat menemui janda itu bukan?" teriak Bryan yang melihat Rendy hampir saja menghilang dari balik pintu.
Rendy melirik tajam pada Bryan yang tengah menertawakan dirinya itu. Dia keluar dan membanting pintu ruang kerja Bryan dengan kencang.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau menemui janda. Aku cuma mengantar Rafa kembali ke pondok terus pulang. Aneh-aneh saja yang dipikirkan orang itu."
Rendy terus menggerutu dengan langkah kakinya yang terus menapaki anak tangga satu demi satu untuk turun ke lantai satu dimana kamar main anak-anak berada.
"Maura sudah pulang, Nona Freya?"
Freya yang tengah mengambil jus di meja makan menoleh menatap orang yang bertanya kepada dirinya.
"Belum, katanya habis dhuhur baru keluar dari sekolah. Dia hanya les saja tadi. Kan hari sabtu ini. Nge-libur sekolah selama lima hari, makanya hari ini ambil les di sekolahan." jelas Freya sambil meminum jus alpukat yang tadi dibikinkan sama Surti.
"Oh iya. Jangan panggil Nona lagi. Sudah aku bilang berulanh kali semenjak Mutia masih ada. Jangan panggil aku Nona. Panggil Freya saja. Nanti kalau ada meeting di kantor. Baru kamu boleh panggil Nona." omel Freya pada Rendy. Dia segera pergi setelah jus alpukatnya telah habis.
"Makanya. Kalau singa betina sudah memberi perintah itu didengarkan dan dipatuhi. Jangan dilanggar." Bryan menepuk pundak Rendy sambil mencibir Rendy yang hanya meliriknya saja itu.
"Mas Bryan!!! Freya dengar!!"
Rendy menertawakan keterkejutan Bryan yang mendengar seruan Freya yang kencang dari arah dapur.
Rendy membalas menepuk pundak Bryan dengan sindiran. Lantas dia pergi dimana anak-anak tengah main.
*****
Tepat pukul tiga sore, Rafa berpamitan pada semuanya untuk kembali ke pondok pesantren. Mama Lea terlihat begitu berat melepas Rafa yang akan kembali menuntut ilmu. Entah kenapa, dirinya begitu sayang sama Rafa semenjak pertama kali bertemu. Sama seperti Maura yang langsung jatuh hati sama Rafa saat pandangan pertama.
"Saat ini Oma tidak bisa mengantar kamu. Tapi nanti Oma yang akan mengunjungi kamu di pondok. Sekalian Oma juga ingin belajar ngaji disana." ucap Mama Lea dengan senyum di wajahnya.
"Iya Oma tidak apa. Rafa akan menunggu kedatangan Oma disana juga yang lainnya." balas Rafa dengan senyum yang begitu teduh hingga membuat siapa saja yang melihat senyum itu seakan disiram air es. Sejuk sekali.
"Kamu belajar yang rajin ya, Nak. Sering-sering telephone kami. Kami disini semua keluarga kamu. Akan selalu mendukung dan mendoakan kamu." imbuh Freya sambil mengusap lengan Rafa dengan lembut.
"Iya Bunda, terima kasih." Rafa sedikit menundukkan kepalanya pada Freya yang sudah dipanggilnya dengan panggilan Bunda sesuai permintaan Freya tentunya.
__ADS_1
"Sudah mau telat. Kami berangkat dulu. Salam buat Maura." ucap Rendy yang tidak melihat Maura turun untuk mengantar kepergian dirinya dan Rafa kembali ke pondok.
Freya mengangguk pada Rendy. Dia tahu kenapa putrinya itu tidak mau keluar kamar sepupang dari sekolah tadi. Katanya dia tidak ingin menangis saat melihat Kak Rafa nya pergi.
"Cepat pulang, jangan lama. Kalau lama pulangnya harus bawa anak nya pak kiayi yang janda itu."
Dengan kesal Rendy memukul lengan Bryan. Dia begitu geram dengan ucapan mantan bosnya itu. Semua gara-gara Bara menceritakan kalau Abah Sodiq memiliki dua putri yang saat ini tengah single. Satunya janda dan satunya perawan. Sungguh, kalau Bara saat ini ada di situ, sudah dipastikan kalau Rendy akan menjahit mulut Bara sekarang juga karena memiliki mulut yang seperti kompor mleduk.
"Cuma dua hari. Nggak usah ngelantur kemana mana deh jadi orang." geram Rendy pada Bryan.
"Sudah-sudah. Cepat kalian berdua berangkat. Keburu malam nanti tidak ketemu anaknya pak kiayi yang janda itu. Kasihan Candra karena Papanya tidak bisa ketemu sama calon Mama barunya."
Rendy mendengkus kesal melihat Freya yang ternyata sama saja pada Bryan. Dikiranya tadi bumil itu akan melerai, nyatanya membuat hatinya panas saja.
"Sudah nggak usah didengarkan mereka berdua. Nanti pas Bibi kesana, Bibi akan melamarkan dia untukmu."
Freya juga Bryan ketawa mendengar ucapan Mama Lea. Ternyata mereka bertiga tidak ada bedanya. Suka sekali merecoki Rendy sang duda.
Dengan kesal Rendy langsung menarik tangan Rafa untuk seger masuk kedalam mobil. Dia begitu malas dengan ejekan yang dilontarkan oleh keluarga Abrisam.
Setelah mengucapkan salam dan menitipkan baby Candra, mobil alphard yang ditumpangi Rendy juga Rafa perlahan meninggalkan perkarangan rumah.
*****
Maura menatap kepergian mobil yang membawa Papa Rendy juga Kak Rafa nya. Dia menatap mobil itu dalam diam. Ingin rasanya dia mengejar mobil itu dan meminta anak laki-laki yang ada didalam mobil alphard hitam itu segera turun dari mobil. Dia tidak rela bila harus berjauhan dengan cinta pada pandangan pertamanya.
Dia juga tidak rela bila wajah tampan kak Rafa nya di lihat wanita lain. Karena Rafandra Aditya Pratama hanya miliknya. Milik Maura Hanin Az-Zahra serorang.
"Baiklah!! Untuk saat ini Maura tidak boleh egois. Maura akan melepaskan kak Rafa untuk mengejar impian kak Rafa dan Maura akan mengejar impian Maura sendiri. Kita bertemu 13 tahun lagi. Maura pastikan saat itu Kak Rafa sudah menjadi milik Maura."
"Rafandra Aditya Pratama, my first love."
__ADS_1