Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Aku tidak tertarik dengan mu


__ADS_3

Papa Abri dan juga Mama Lea terlihat baru saja sampai di tempat tujuan. Dengan gagahnya meski usia sudah setengah abad, Papa Abri turun dari mobil mewahnya, Lexus LS 500h yang di bandrol dengan harga kurang lebih Rp. 4,7 milyar.



"Papa tadi sudah telephon Alvaro kan, Pa?" tanya Mama Lea yang baru saja turun dari mobil. Karena sudah beberapa hari ini Mama Lea tidak bisa menghubungi Bryan dan tidak pada dan jelas.


"Sudah." jawab Papa Abri singkat padat dan jelas.


"Tapi Mama belum melihat mobilnya." kata Mama Lea yang memang belum melihat mobil yang biasa Bryan kendarai terparkir di tempat parkir.


Mobil Range Rover 3.0 Autobiography LWB warna hitam yang di bandrol dengan harga kisaran Rp. 4-5 Milyar itu.



"Bryan datang kan, Pa?" tanya Mama Lea memastikan lagi.


"Mereka ingin bicara sama, Mama. Bukan sama Bryan." jawab Papa Abri tegas dan membawa istrinya itu untuk segera masuk ke restoran dan untuk segera mengakhiri perjodohan konyol yang tidak pernah dia setujui itu.


Siapa sih yang setuju berbesan dengan keluarga pembunuh anaknya sendiri. Kalaupun mau Papa Abri akan memperbudak Manda jika memang menikah dengan Bryan. Tapi Papa Abri masih punya perasaan.Lebih baik di akhiri baik-baik daripada menggunakan kekerasan.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Abrisam." sapa pelayan yang melihat pemilik restoran datang.


"Apa mereka sudah datang?" tanya Papa Abri menatap sekeliling restorannya yang cukup ramai.


"Sudah Tuan. Mari saya antar." pelayan itu berjalan duluan untuk mengantar Tuan dan Nyonya Abrisam sebagai pemilik usaha menuju ruang VVIP.


Pelayan itu membukakan pintu membuat tiga orang yang ada di dalam sana reflek langsung berdiri untuk menyambut orang penting yang akan menjadi besannya.


"Saya permisi Tuan, Nyonya." pelayan itu undur diri dengan segera.


"Selamat malam Tuan Abrisam dan juga Nyonya Abrisam." sambut Papa Manda dengan sopan dan senyum hangatnya.


Sedangkan Mama Manda sudah tersenyum sedari tadi apalagi saat melihat Tuan Abrisam yang masih terlihat gagah dan awet muda meski usianya yang sudah setengah abad


Kalau saja Tuan Abrisam itu mudah didekati, sudah Mama Manda dekati sedari dulu. Tidak perlu meminta putrinya untuk mendekati Bryan. Cukup dia saja mendekati dan menggoda Tuan Abrisam. Tapi apa boleh buat, Tuan Abrisam lebih sulit didekati daripada Bryan.


"Silahkan duduk." Mama Manda mempersilahkan Papa Abri juga Mama Lea duduk.


"Selamat malam Paman, Bibi." sapa Manda dengan gaya elegannya.


"Selamat malam sayang."


"Kamu cantik sekali malam ini." puji Mama Lea sambil memeluk Manda.


"Terima kasih Bibi." ucap Manda dengan gaya malu-malunya.


"Bryan mana, Bi?" tanya Manda karena tidak melihat Bryan datang bersama kedua orang tuanya.


"Bryan masih di jalan. Mungkin sebentar lagi juga sampai." jawab Mama Lea yang duduk di sebelah suaminya yang terlihat cuek saja dengan keluarga Hertanto.


"Sambil menunggu Bryan lebih baik kita makan malam terlebih dahulu." kata Papa Manda setelah cukup lama melihat keheningan dan suasana canggung.


"Tadi saya sudah memesankan makanan terlezat juga termahal di restoran ini. Mudah-mudahan anda suka Tuan Abrisam." sambung Papa Manda dengan rasa penuh percaya dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memesankan makanan yang lezat dan mahal ini." ucap Papa Abri memandang semua menu western yang menjadi andalan di restoran miliknya.


"Aku rasa anda melupakan satu menu yang sangat mahal di restoran ini Tuan Hertanto." sambung Papa Abri menatap sinis Papa Manda.


"Oh..benarkah? kalau mau akan saya pesankan." tawar Papa Manda.


"Ya kalau anda mampun untuk membayar semuanya saya tidak masalah." ucap Papa Abri dengan santainya.


Papa Manda terlihat mengepalkan tangannya saat mendengar hinaan keluar dari mulut Papa Abri.


"Sial!! dia pikir aku gak mampu apa membayar semua makanan ini." umpat Papa Manda menatap Papa Abri dengan senyum kecutnya.


"Maaf, saya datang terlambat."


Semua menoleh pada sumber suara. Keluarga Manda tersenyum cerah saat melihat Bryan datang di pertemuan ini. Karena biasanya Bryan selalu saja ada alasan untuk tidak datang.


"Tidak apa-apa nak Bryan. Kami tahu kalau kamu sibuk." kata Mama Manda.


"Terima kasih sudah mau meluangkan waktu nak Bryan untuk datang ke acara sederhana ini." timpal Papa Manda.


Bryan juga Papa Abri rasanya ingin muntah mendengar perkataan sepasang suami istri tidak tahu malu yang duduk di hadapan mereka.


Manda menatap Bryan dengan penuh minat, dia memang suka sama Bryan. Dulu dia dekat dengan Bryan sebelum sepupunya membuat prahara yang membuatnya jauh dari Bryan. Sekedar dekat.


"Saya datang untuk membicarakan perjodohan dan pernikahan antara saya dengan Manda yang tidak akan pernah ada bahkan terwujud." ujar Bryan to the point, dia tidak mau basa-basi.


Bryan ingin segera kembali ke rumah sakit untuk menemani Freya juga Maura. Apalagi Freya tadi mendiaminya tanpa alasan yang jelas. Bryan sempat berfikir mungkin Freya cemburu karena dia akan bertemu Manda dan keluarganya. Kalau iya,Bryan akan berteriak bahagia. Kalau benar Freya cemburukan berarti Freya mulai ada rasa padanya.


"Maksud kamu?" tanya Papa Manda menatap tak percaya pada Bryan.


"Apa maksud kamu Bryan? pernikahan ini tinggal dua minggu lagi." Mama Manda terlihat marah pada Bryan.


"Yang mau menikah kan Manda, bukan saya." jawab Bryan dengan santainya.


"Tapi semua media sudah tahu Bryan." sahut Manda dengan mata berkaca-kaca.


"Media memang tahu. Apalagi berita yang baru saja muncul beberapa menit yang lalu."


"Mereka pasti akan bersimpati pada saya dan menghujat anda." kata Bryan sambil meminum minuman yang ada di depannya.


Rendy sudah mendapatkan semua bukti tentang Manda juga apa yang di maksud Freya beberapa hari yang lalu. Jadi Bryan langsung meminta Rendy untuk memposting hasil temuannya di internet. Dan belum ada lima menit berita itu sudah menyebar luas dan di bagikan oleh beberapa akun.


Manda dengan segera mengambil handphone nya dan melihat begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari manager juga asistennya. Manda terkejut akan video dan foto-foto dirinya dengan beberapa pria yang disamarkan wajahnya.


Mama Manda yang melihat putrinya yang terkejut setelah melihat handphone langsung merebutnya dan dia juga begitu kaget saat melihat isinya.


Mama Lea yang penasaran juga ikut membuka handphone nya, dia menatap tak percaya pada Manda. Gadis yang dia bela, dia sanjung di depan Bryan dan suaminya tidak lebih dari wanita pela cur, wanita murahan,wanita rendahan.


"Saya sendiri yang akan membatalkan perjodohan Bryan dengan Manda." kata Mama Lea dengan lantang.


"Ayo kita pulang." Mama Lea berdiri di ikuti suami juga anaknya.


"Bibi...Ini pasti bohong, Bi. Manda gak mungkin melakukan itu semua."

__ADS_1


"Pasti ini kerjaan wanita yang mengaku punya anak dengan Bryan itu, Bi." ucap Manda dengan deraian air mata memegangi tangan Mama Lea untuk tidak melanjutkan langkahnya.


"Jaga ucapanmu Manda." bentak Papa Abri saat tahu siapa yang dimaksud Manda.


"Sudah tahu salah, masih saja tidak mau mengakuinya."


"Dasar wanita tidak tahu malu kamu Manda." Papa Abri langsung menarik istrinya pelan dan dibawanya pergi dari sana.


"Kalian!!" Bryan menatap Manda dan kedua orang tuanya. Bryan menggelengkan kepalanya yang sedikit pusing.


"Aku harap kalian tidak lagi mengusik keluarga Abrisam atau kalian tahu sendiri akibatnya." ancam Bryan lantas segera pergi dari sana.


"Sial!! mereka memasukkan obat laknat itu kedalam minuman yang aku minum." umpat Bryan yang sudah mulai merasakan hawa panas di tubuhnya.


"Bryan tunggu.!!!" Manda memegang tangan Bryan.


Manda tahu kalau obat yang dicampurkan ke dalam minuman yang Bryan minum tadi sudah bereaksi. Manda meminta kedua orang tuanya untuk segera pergi dari sana, karena dia akan menggoda Bryan supaya Bryan mau menikah dengannya.


"Kamu kenapa? Kenapa berkeringat seperti ini?" tanya Manda memperlihatkan kekhawatirannya. Dia ingin mengusap pelipis Bryan yang berkeringat namun dengan segera Bryan tepis tangan Manda.


"Aku tahu kamu telah mencampurkan obat itu kedalam minuman ku."


"Tapi maaf, aku tidak tertarik dengan mu." Bryan mendorong Manda kasar hingga mundur beberapa langkah.


Bryan lantas keluar dari sana dan menuju mobilnya tanpa memperdulikan Manda yang berteriak memanggil namamya.


"Carikan wanita untuk memuaskan ku cepat!!!!" perintah Bryan pada Rendy melalui sambungan telephon.


"Antar ke hotel biasanya. Manda telah mencampurkan obat laknat itu ke minuman ku." sambungnya lantas melempar handphone nya begitu saja di jok samping.


"Sial!!! berapa dosis yang dia campurkan tadi." umpat Bryan sembari melepas ikatan dasi di kemeja juga kancing kemejanya. Jasnya sudah dilempar begitu saja saat tadi baru saja masuk ke dalam mobil.


Setelah susah payah dia berkonsentrasi saat mengendarai mobilnya dalam kondisi tubuh yang tidak memungkinkan, Bryan akhirnya sampai juga di hotel miliknya.


Bryan segera turun dan menuju lantai paling atas dimana biasanya dia menempati kamar itu untuk bersenang-senang.


Bryan masuk kamar itu dan mendapati Rendy sudah ada disana bersama seorang wanita yang begitu Bryan kenal. Yang Bryan inginkan saat ini, tapi dia takut untuk menyakiti wanita itu lagi.


"Kenapa kau membawa dia bodoh.!!"


🍁🍁🍁


have a nice day


untuk yang minta up lebih banyak lagi,


tunggu kerjaan author kelar dulu yahh...


nanti kalau khilaf, Insha Allah akan double up,


tapi tunggu author khilaf yaaa...


jangan lupa Like and Vote ya kakak-kakak Readers yang cantil dan ganteng

__ADS_1


BIG HUG FROM FAR AWAY🤗🤗🤗


dewi widya


__ADS_2