Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Gengsi


__ADS_3

Mama Lea meletakkan makanan, buah, juga susu yang sudah dia tata di atas nampan. Dia menatap sekeliling memastikan Bryan tidak ada dan sudah berangkat kerja. Bisa gawat kalau Bryan mengetahui apa yang Mama Lea lakukan. Bryan pasti akan curiga dan melontarkan banyak pertanyaan.


"Biar saya saja Nyonya yang ngantar." ucap Surti tiba-tiba nongol di belakang Mama Lea.


"Surti!! Bikin kaget saja." pekik Mama Lea yang kesal pada maid nya itu yang nongol tiba-tiba. Mama Lea sampai mengusap dadanya karena kaget. Dia sudah takut kalau ketahuan Bryan, ini ditambah Surti yang nongol tiba-tiba membuat jantung Mama Lea berdetak cepat.


"Maaf Nyonya." sesal Surti sambil menunduk. Dia tadi tidak bermaksud mengagetkan Nyonya rumah, hanya menawarkan bantuan saja.


"Surti hanya ingin membantu saja, Nyonya." imbuh wanita yang usianya sekitar tiga puluh lima tahunan itu dan memiliki dua anak itu.


Mama Lea menghembuskan nafas pelan, dia tidak bermaksud memarahi maid nya itu. Dia hanya kaget saja saat mendengar suara Surti yang tiba-tiba nongol di belakangnya. Karena setahu dia tadi semua maid sudah kembali ke tugasnya masing-masing dan sudah tidak ada di dapur.


"Sudah, lebih baik kamu lihat apa Bryan sudah berangkat apa belum." perintah Mama Lea pada Surti.


"Sudah Nyonya. Barusan Surti lihat Tuan Muda sama Tuan Rendy sudah berangkat." kata Surti yang memang baru saja kembali dari depan setelah selesai menyiram tanaman.


Mama Lea mengangguk, "Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu biar ini saya antar sendiri." kata Mama Lea dan membawa nampan yang sudah dia isi makanan, buah dan juga susu. Dia melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga.


"Oma tunggu!!" teriak Maura dari arah pintu belakang berjalan bersama Caca


Maura lantas berlari ke arah Omanya saat melihat Omanya membawa nampan berisi makanan yang pastinya akan dibawa ke lantai tiga.


"Oma mau ke lantai tiga ya?" tanya Maura setelah berdiri di dekat Omanya.


Mama Lea mengangguk, "Iya!! Maura mau ikut." tanya Mama Lea dengan menyunggingkan senyum.


"Mau Oma..Maura mau ikut." jawab Maura dengan semangat, matanya berbinar terang seperti mendapatkan sesuatu yang dia impikan.


"Aunty, maaf ya. Maura mau ikut Oma saja."


"Nanti jangan lupa belikan Maura kinder Joy yang banyak ya." kata Maura sebelum masuk ke dalam lift.


"Oke!!!" balas Caca yang memang tadi akan mengajak Maura pergi ke Indomayet beli makanan ringan.


Akhirnya Mama Lea dan Maura naik ke dalam lift yang membawa mereka menuju lantai tiga. Mereka segera keluar dari dalam lift dan melangkahkan kaki mereka ke salah satu sudut ruangan yang ada di lantai tiga. Yang dimana di lantai tiga ada ruangan buat fitness, meja billiard, mini bar, ruang santai yang ada TV, bioskop mini, kamar mandi dan juga sebuah ruangan khusus milik Papa Abri. Dan tak seorangpun boleh masuk ke ruangan itu tanpa seizin dari Papa Abri. Namun saat ini ruangan itu di izinkan Papa Abri dimasuki oleh Mama Lea dan Caca juga Maura.


Maura mengetuk pintu ruangan khusus Papa Abri. Maura dan Mama Lea segera masuk setelah pintu dibuka dari dalam oleh seorang wanita. Maura langsung memeluk wanita itu dengan erat.


"Bunda!!" lirih Maura dengan mata berkaca-kaca.


Ya..wanita yang Maura peluk adalah Freya, Bundanya Maura yang beberapa hari ini tidak menampakkan batang hidungnya karena disembunyikan Papa Abri daripada lari dan justru menambah masalah.


"Sayangnya Bunda kenapa? hemm." Freya melonggarkan pelukan Maura dan berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi Maura.


Freya tersenyum menatap Maura, diusapnya dengan lembut pipi Maura dan diciumnya kening sang putri dengan sayang.


"Bunda sampai kapan bersembunyi di sini terus?" tanya Maura menatap Bundanya.


Maura baru tahu dua hari yang lalu kalau Bundanya yang dia kira pergi meninggalkannya ternyata sembunyi di lantai tiga.


Waktu itu dia tidak sengaja mendengar perbincangan antara Opa dan Omanya.


FLASHBACK ON


"Aunty, Maura kembali ke kamar Maura sendiri saja ya."


"Maura ingin tidur sendiri." kata Maura pada Caca yang tengah asik menonton drama.


"Maura nggak jadi tidur bareng Aunty?" tanya Caca menoleh menatap Maura.


Maura menggelengkan kepalanya, "Maura ingin tidur sendiri." ucap Maura dengan wajah yang terlihat sedih karena mengingat Bundanya yang pergi entah kemana.


"Kenapa? Tidur sama Aunty saja ya." kata Caca yang khawatir akan terjadi apa-apa pada Maura. Apalagi melihat wajah Maura yang terlihat murung dan sedih.


Maura menggelengkan kepalanya lagi, "Nggak Aunty. Maura ingin tidur di kamar Maura sendiri." ucap Maura dan turun dari ranjang.


"Aunty jangan khawatir."


"Selamat malam Aunty kesayangan Maura."

__ADS_1


Maura langsung bergegas keluar dari kamar Caca setelah mengucapkan salam. Dia ingin tidur sendiri di kamarnya dan memeluk foto Bundanya berharap Bunda Freya datang ke mimpinya dan mengajaknya pergi.


"Apa tidak apa-apa Freya kita sembunyikan di sini?"


Maura menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang menyebut nama Bundanya. Dia mendekati sumber suara itu yang berasal dari kamar Oma dan Opa nya. Kamar itu terbuka, sehingga Maura dapat dengan jelas mendengar perbincangan Oma dan Opa nya yang sedang duduk di sofa bad.


"Tidak apa-apa. Di sini jauh lebih aman dan tidak akan membuat Bryan curiga." kata Papa Abri.


"Tapi kan Bryan sering ke lantai tiga Pa buat olahraga dan terkadang main billiard." ujar Mama Lea.


"Papa juga tahu itu. Tapi sejauh ini setelah Freya pergi, Papa tidak pernah melihat Bryan menginjakkan kakinya lagi di lantai tiga."


"Dia pagi asik mengajar di kampus tanpa mau pergi ke kantor lagi dan siangnya sibuk mencari Freya dan malamnya dia gunakan untuk mabuk-mabukan sampai menjelang pagi hanya karena tak kunjung menemukan Freya."


"Papa benar-benar heran sama dia."


"Kenapa anak itu semakin tak terawat setelah di tinggal Freya pergi."


"Seperti bukan Bryan." Papa Abri menggelengkan kepalanya mengingat rambut Bryan yang sudah mulai memanjang dan tidak tertata rapi, kumis dan brewoknya di biarkan tumbuh.


"Iya sih, Pa."


"Mama lihat Bryan semakin jorok saja."


"Padahal dulunya dia paling anti sama hal-hal yang berbau jorok dan tidak rapi." imbuh Mama Lea mengenai penampilan Bryan.


"Aman saja kan Pa, Freya tinggal di lantai tiga?" tanya Mama Lea setelah hening beberapa menit. Dia masih memikirkan keamanan Freya.


"Mama tenang saja. Freya aman di lantai tiga."


"Apa lagi dia ada di ruangan khusus milik Papa."


"Tak ada yang berani masuk ke ruangan itu kecuali Papa."


"Dan sekarang Mama sama Caca, Papa izinkan masuk ke sana untuk menemani Freya ataupun mengantarkan makanan buat Freya." kata Papa Abri yang yakin Freya jauh lebih aman kalau masih tinggal di rumah meski harus disembunyikan.


"Mama kasihan sama Freya"


"Nggak nyangka saja kalau Anelis dan Freya itu saudaraan."


"Dan anehnya Anelis yang tahu kalau Freya itu saudaranya, adik kandungnya justru menyakiti adiknya sendiri."


"Dan kerjasama sama Manda, wanita murahan tak tahu diri itu." Mama Lea terdengar begitu geram kalau mengingat Manda yang ternyata bukan wanita baik-baik seperti yang sering dia katakan.


"Dan Mama juga nggak nyangka kalau Anelis memiliki hubungan dengan Andre sampai memiliki anak yang aku kira anaknya Bryan." Mama Lea membuang nafasnya kasar mengingat itu semua dan hampir saja dia juga menyakiti hati Freya saat belum tahu kebenaran semuanya.


"Sudahlah,Ma. Yang terpenting sekarang meyakinkan Freya supaya dia bisa percaya lagi dengan Bryan dan juga merubah Bryan untuk jadi lebih terbuka lagi pada Freya dan tidak lagi memperdulikan masa lalunya."


"Boleh memperdulikan masa lalunya atau bahkan membantu, tapi tidak seperti kemarin yang harus merangkul bahkan memeluk."


"Tak hanya Freya yang akan salah paham, tapi orang lain yang melihatnya pun juga akan salah paham."


"Benar, Pa." Mama Lea berdiri dari duduknya dan mengambil makanan dan susu yang tadi akan dia antar kepada Freya.


"Mama mau melihat Freya dulu, Pa." pamit Mama Lea dan diangguki Papa Abri yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


Mama Lea menghentikan langkahnya saat melihat Maura ada di ambang pintu dengan tatapan menyelidik.


"Maura!!" cicit Mama Lea yang kaget melihat keberadaan Maura.


Papa Abri menoleh saat istrinya menyebut nama Maura. Dan benar saja Maura ada di ambang pintu dengan tatapan menyelidik.


"Oma mau ke lantai tiga untuk bertemu Bunda?"


"Maura boleh ikut?" tanya Maura yang langsung pada intinya tanpa basa-basi lagi menatap lekat Mama Lea.


Mama Lea nampak terkejut, "Bagaimana Maura tahu? Apa Maura tadi mendengar pembicaraan ku dengan Papa?" batin Mama Lea bertanya.


Mama Lea menoleh menatap suaminya. Papa Abri menganggukkan kepalanya memperbolehkan cucunya itu untuk menemui Bundanya. Dia tidak ingin membuat cucunya itu ikut larut dalam kesedihan saat ditinggal Bundanya. Akhirnya memilih mengizinkan Maura untuk melihat Bundanya yang saat ini tinggal di lantai tiga.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


"Bunda tidak kasihan sama Ayah?"


"Ayah setiap hari mabuk-mabukan dan bahkan melukai tangannya sendiri sampai berdarah, Bun."


"Maura kasihan melihat Ayah seperti itu."


"Ayah juga terlihat tidak terawat dan tidak tampan lagi."


"Maura takut me dekati Ayah."


Freya hanya diam mendengarkan perkataan Maura. Dia sendiri sebenarnya juga kasihan sama Bryan saat malam hari dia diam-diam melihat Bryan yang pulang dalam keadaan mabuk dan menggumam yang tidak jelas karena Freya melihatnya dari lantai tiga, jadi dia tidak dengar apa yang Bryan gumam kan.


"Maura sebenarnya masih marah sama Ayah."


"Maura juga belum mau bicara sama Ayah."


"Tapi kalau melihat Ayah saat pulang malam dan mabuk dan selalu menyebut nama Bunda,Maura merasa kasihan sama Ayah."


"Ayah bahkan beberapa kali mengatakan maaf sama Bunda juga terkadang Maura pernah dengar kalau Ayah begitu mencintai Bunda."


Mata Freya memanas, dadanya begitu sesak saat mendengar perkataan Maura yang mengatakan kalau Bryan meminta maaf sama dirinya juga mencintai dirinya.


"Apa benar yang Maura katakan itu?"


"Bisa saja Mas Bryan hanya asal bicara."


"Dia kan bicara dalam keadaan mabuk."


"Tapi saat mabuk itukan apa yang keluar dari mulut itu memang berasal dari lubuk hati yang paling dalam."


"Haruskah aku percaya itu?"


"Aku ingin mendengar sendiri pengakuan Mas Bryan secara langsung."


"Bunda kenapa diam saja." Maura memegang lengan Bundanya dan sedikit dia gerakkan.


"Hmm.." Freya tersadar dari lamunannya. Dia menyunggingkan senyum kecut pada Maura.


"Nggak apa sayang.Bunda hanya lapar saja makanya diam." kilah Freya.


"Ayo!! Maura sudah makan belum tadi?" tanya Freya yang berjalan mendekati Mama Lea yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi antara Maura dan Freya.


Mama Lea sebenarnya juga kasihan pada Bryan dan juga menantunya itu. Tapi apa boleh buat, dia ingin melihat Bryan menyesal dan mengakui kesalahannya untuk tidak berhubungan lagi dengan masa lalu. Dan dia juga ingin melihat Freya untuk tidak mudah meragukan Bryan.


"Maaf ya Ma membuat Mama harus repot-repot mengantarkan makanan untuk Freya." ucap Freya dengan tulus dan duduk di samping Mama Lea.


"Sudah berapa kali kamu mengatakan itu? Mama sampai bosan mendengarnya." kata Mama Lea yang terlihat cuek saja dan memalingkan wajahnya menatap luar jendela.


Freya mengulum senyum melihat Mama Lea. Dia tahu Mama Lea tidak bermaksud cuek ataupun tidak peduli, tapi hanya gengsi saja. Kalau Mama Lea cuek dan tidak peduli sama Freya tidak mungkin Mama Lea yang selalu mengantar makanan buat dirinya. Bahkan saat malam hari Mama Lea juga mengantar susu dan camilan buat Freya sebelum tidur. Takutnya kalau malam Freya akan kelaparan. Mama Lea juga membelikan apapun yang Freya inginkan termasuk cake yang dia janjikan pada Freya kalau Freya mau jadi modelnya.


"Terima kasih Mama mertua aku yang baik banget sedunia." ucap Freya dengan manja dan memeluk Mama Lea dari samping dengan erat.


Mama Lea hanya mengulum senyum saja tanpa membalas pelukan Freya. Dia terlalu gengsi dengan menantunya itu. Makanya dia sering bersikap cuek dan terkesan tidak peduli sama Freya kalau sudah ada di hadapan Freya.


"Maura juga sayang sama Oma." Maura juga ikut memeluk Mama Lea membuat Mama Lea akhirnya tertawa lirih.


Padahal diantara Freya dan Mama Lea tadi tidak ada yang mengatakan sayang tapi entah mengapa Maura justru mengatakan itu dan membuat Mama Lea tertawa.


🍁🍁🍁


Have a nice day


Thanks for like, vote, comment and gift


Big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya

__ADS_1


__ADS_2