
Bryan menatap tajam pada Freya yang menunduk takut setelah mengakui kalau Freya lah dan keluarganya yang lain yang tengah mengerjai dirinya. Dan yang lebih parahnya lagi, istrinya lah yang menjadi mempelopori ide untuk mengerjai dirinya.
"Bisa kamu melakukan itu pada suami kamu sendiri."
"Bagaimana kalau suami kamu marah dan menyerah dan memilih untuk pergi meninggalkan kamu demi mengejar wanita lain."
Freya menunduk, menangis mendengar perkataan Bryan. Dia akui dia salah telah mengerjai suaminya itu. Dia melakukan itu karena kesal dan kecewa saja saat mengetahui kalau suaminya lah penyebab kecelakaan Bapaknya Armand juga Laras, adik tirinya.
Oma Ami yang duduk di sebelah Freya berusaha menenangkan cucu menantunya itu sambil memegang tangan Freya juga mengusap punggung cucu menantunya dengan pelan. Beliau merasa kasihan pada cucu menantunya yang dimarahi oleh suaminya sendiri hanya karena kesal telah dikerjai istri dan keluarga yang lain.
"Bryan!!! Jaga ucapan mu." tegur Papa Abri tegas. Bisa-bisa putranya itu berbicara seperti itu pada menantunya yang jelas-jelas kesalahannya tidak separah yang Bryan lakukan kepada Bapak juga adiknya Freya dulu.
"Jangan hanya salahkan Freya saja."
"Ini juga salah kami semua."
"Seharusnya kamu juga marah sama kami." Bryan menatap tajam pada Papanya itu. Dia begitu marah sama Papanya saat mengetahui bahwa Papanya telah menyembunyikan rahasia besar pada dirinya.
"Benar, seharusnya Bryan marah dan salahkan Papa karena merahasiakan kebenaran dari Bryan."
"Padahal Papa sendiri tahu kalau Bryan selama ini mencari tahu siapa orang yang telah tidak sengaja Bryan tabrak."
"Dengan teganya Papa merahasiakan itu dari Bryan." Bryan pergi begitu saja dari ruang keluarga. Lebih baik dia pergi dari hadapan Papa Abri daripada membuat Freya melihat wujud aslinya kalau sedang marah.
Bryan begitu kesal, bukan kesal karena Freya yang telah mengerjai dirinya, tapi marah dan kesal pada Papa Abri yang merahasiakan kebenaran kalau Papanya itu sudah tahu terlebih dahulu bahwa Freya adalah anak dari orang yang ditabraknya.
"Mas Bryan tunggu!!"
Bryan menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan Freya dari dalam rumah.
"Mas Bryan mau kemana?" Freya memeluk Bryan dari belakang.
Bryan memejamkan matanya mendengar suara parau Freya dengan suara tangisan sesenggukan dari sang istri. Dia begitu tidak tega melihat istrinya itu menangis.
"Jangan pergi."
"Jangan tinggalkan Freya dan anak-anak."
"Freya minta maaf,Mas."
"Freya salah karena meminta yang lainnya untuk mengerjai Mas Bryan."
"Maafkan Freya."
"Jangan pergi dengan wanita lain."
"Mas Bryan hanya boleh bersama Freya."
Bryan hanya diam saja sambil memegang kedua tangan Freya yang melingkar di perutnya. Dengan perlahan Bryan melepas kedua tangan Freya yang melingkari perutnya.
"Nggak mau." Freya semakin mengeratkan pelukannya pada perut Bryan. Dia tidak mau ditinggal pergi sama Bryan.
"Aku sudah memaafkan kamu."
"Tolong lepaskan." ucap Bryan dingin dan tegas.
"Nggak mau."
"Mas Bryan pasti masih belum memaafkan Freya dan pasti masih marah sama Freya."
"Buktinya Mas Bryan berbicara dingin pada Freya." Bryan menarik salah satu sudut bibirnya. Jujur saja dia tidak marah dengan Freya yang telah berani mengajak semua anggota keluarga yang lain untuk mengerjai dirinya. Dia hanya marah pada Papanya saja. Dia sudah memendam amarahnya sejak dirinya diusir Mama Marisa untuk tidak menemui Freya lagi.
"Lepaskan dulu."
"Aku mau pergi ke kandang singa."
"Bukannya kamu akan menghukum ku selama sebulan di kandang singa?" tanya Bryan yang memang ingin pergi ke mini zoo nya untuk menghilangkan penat dan meluapkan kekesalannya.
"Iya!!" jawab Freya lirih yang masih enggan melepaskan pelukannya pada tubuh suaminya itu.
"Ya sudah lepaskan dulu." Bryan merasakan kepala Freya yang menggeleng di punggungnya.
"Kalau Mas Bryan dikurung di kandang singa selama sebulan."
"Terus siapa nanti yang akan menemani Freya tidur."
"Yang memeluk Freya saat Freya tidur."
"Mengelus perut Freya saat debay nya menendang-nendang." Bryan menghembuskan nafas pelan, dia pusing sendiri. Bukannya Freya sendiri yang memintanya dikurung di kandang singa selama sebulan dan kenapa ini yang mengeluh bukan dirinya, melainkan istrinya. Emang lah, keinginan ibu hamil itu terkadang membuat suaminya pusing.
"Tapi kamu sendiri yang meminta aku dikurung selama sebulan di kandang singa."
"Kamu masih ingatkan?" Freya mengangguk dan melepaskan pelukannya pada Bryan. Dia menghapus air matanya juga ingusnya yang ikut meler keluar.
"Kamu itu sudah jadi ibu-ibu buang ingus seperti itu, jorok Freya." geram Bryan yang melihat istrinya mengusap ingus menggunakan lengan baju yang dipakainya.
"Yang penting Freya tidak pakai baju yang Mas Bryan pakai." Bryan mendengkus dan berlalu menuruni tangga teras.
"Tunggu, Mas!!"
"Mas Bryan mau kemana?" Freya ikut menuruni tangga yang hanya ada lima tingkat itu mengikuti Bryan yang berjalan menuju garasi.
"Mau kemana?" Freya menarik kaos yang Bryan kenakan membuat Bryan mau tidak mau harus menghentikan langkahnya daripada Freya nanti terjatuh.
"Aku mau ke mini zoo."
__ADS_1
"Aku akan mengurung diri di kandang singa selama sebulan." Freya menggeleng cepat, dia tidak mau pisah lagi dengan Bryan walau dia masih bisa mengunjungi juga menemani Bryan dari luar kandang singa.
"Nggak!! Freya nggak jadi menghukum Mas Bryan untuk dikurung di kandang singa selama sebulan."
"Freya akan menghukum Mas Bryan selama sehari saja, tidak jadi sebulan."
"Freya tidak mau lagi jauh-jauh dari Mas Bryan." Bryan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya. Dia menang, bukan dirinya yang meminta dikurangi jatah hukumannya, melainkan Freya sendiri yang menguranginya hanya karena tidak bisa jauh dari dirinya.
"Aku yakin Freya tidak akan setega itu menghukum suami yang dicintainya itu." batin Bryan dengan percaya dirinya kalau Freya begitu mencintai dirinya.
"Kamu yakin akan merubahnya hanya sehari?" Freya mengangguk cepat sambil tersenyum walau wajahnya masih terlihat sembab bekas sisa tangisnya tadi.
"Baiklah kalau begitu."
"Aku akan ke mini zoo dulu." Bryan meminta seorang supir untuk mengambilkan mobil golf Royal Limo yang harganya sekitar Rp 288 juta
"Tapi dikurungnya bukan dikandang singa." Bryan yang akan naik ke mobil golf mengurungkan niatnya untuk naik.
"Terus dimana?"
"Kandang harimau, kandang kucing liar, burung unta atau jerapah, atau kandang yang lainnya." Bryan mengerutkan keningnya melihat Freya yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Bukan juga."
"Terus dimana?"
"Dikamar hotel seharian penuh bersama kamu." goda Bryan sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Itu sih maunya Mas Bryan."
"Yang ada nanti Freya yang bakal terkapar kalau dikurung bersama Mas Bryan di kamar hotel." gerutu Freya yang tidak bisa membayangkan kalau dirinya bakal digempur habis oleh suami mesumnya itu.
"Terkapar kenapa memangnya?"
"Tau ahh." dengus Freya yang kesal karena diejek suaminya sendiri.
"Jelas-jelas sudah paham kenapa juga harus tanya lagi. Dasar mesum." gumam Freya.
Bryan tertawa dan mencium sekilas pipi Freya yang semakin tebal itu.
"Terus ini jadinya kamu akan mengurung suami tampan mu ini dimana?" tanya Bryan yang sudah naik ke mobil golf
"Di penangkaran buaya." kata Freya santai dan ikut naik ke mobil golf.
Wkwkwkwkwk
Freya menoleh ke arah pohon besar yang ada ayunan yang memang sengaja dibuat atas permintaan Maura.
"Pantas saja tidak ikut kumpul di ruang keluarga tadi. Ternyata ada disitu." gumam Freya.
"Kenapa dia?" tanya Freya menoleh pada suaminya.
"Mas Bryan kenapa?" tanya Freya saat melihat wajah suaminya yang tiba-tiba pucat dan keringat membasahi dahi juga pelipisnya.
"Mas.!!" Freya memegang tangan Bryan yang terasa dingin.
"Hai kakak ipar." Freya menoleh pada Andre yang mendekati dirinya juga Bryan.
"Kakak ipar tidak tahu ya?"
"Kakak sepupu itu takut sama buaya."
"Tampangnya saja yang buaya, tapi kalau melihat buaya bisa ngompol di celana nantinya." Andre tidak bisa menghentikan tawanya. Dia mengingat betul, dulu saat mereka diajak Papa Abri ke penangkaran buaya. Bryan langsung menangis dan ngompol ditempat karena begitu takutnya melihat buaya.
"Diam kau!!" Bryan melempar topi yang dipakai supir ke muka Andre yang menertawakan dirinya itu.
"Benar Mas Bryan takut sama buaya..,hmmppffttt." Freya tidak bisa membayangkan suaminya itu ngompol di celana. Ternyata dibalik gayanya yang arogan dan sikap dinginnya, suaminya itu ternyata ada yang ditakuti, buaya sama hantu.
"Siapa bilang aku takut."
"Aku tidak takut."
"Dan hentikan itu tawa jelek kamu." Bryan begitu geram istrinya itu juga ikut menertawakan dirinya. Mau ditaruh mana ini muka. "Andre sialan!!!" umpat Bryan pada sepupunya.
Freya mengusap ujung matanya yang berair sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa membayangkan Bryan yang takut juga ngompol.
"Iya, maaf." ucap Freya sambil menahan bibirnya untuk tidak tertawa lagi.
"Sudah ayo berangkat." Andre ikut naik ke mobil golf
"Aku ingin lihat tampang Tuan Muda yang arogan ketakutan saat melihat dan dikurung di penangkaran buaya." Bryan mendengkus mendengar ejekan Andre. Dia berharap ada dewa penolong yang akan menggagalkan rencana dirinya yang akan dikurung di penangkaran buaya. Jujur saja dia sampai saat ini masih takut untuk melihat buaya lebih dekat.
"Ayo pak jalan." perintah Freya pada supir. Freya tersenyum pada Bryan yang tengah melotot pada dirinya.
"Katanya tidak takut." ujar Freya setengah mengejek suaminya.
"Siapa juga yang takut."
"Jalan pak." perintah Bryan setengah membentak pada sopirnya.
"Ayah...Bunda...."
Bryan tersenyum senang saat mengenali suara itu. Putrinya sudah pulang dan itu artinya dia tidak jadi dikurung di penangkaran buaya.
__ADS_1
"Putriku jadi dewi penolong ku." gumam Bryan yang begitu senang.
"Maura!! Sayang!! Kok kamu sudah pulang?"
"Katanya besok baru pulang." Freya turun dari mobil golf dan mendekati putrinya yang baru saja turun dari mobil juga bersama Mutia juga Rendy.
"Iya Bunda."
"Katanya Paman Robot harus pulang saat ini juga karena Ayah yang meminta."
"Jadi Maura ikut pulang dech." jelas Maura sambil tersenyum memeluk Bundanya yang sudah lima hari tidak dia temui.
Bryan mengerutkan keningnya dan menatap Rendy. "Aku tidak meminta mu pulang hari ini."
"Maaf Tuan."
"Saya harus pergi sekarang."
"Mama sama adik saja kecelakaan dan saat ini mereka ada di rumah sakit." Rendy pergi begitu saja setelah mengantarkan Maura dan meninggalkan Mutia di sana juga tanpa mengantarnya terlebih dahulu.
"Mama sama adiknya Rendy kecelakaan." cicit Freya lirih dan menoleh pada Bryan. "Kok Mas Bryan tidak tahu."
"Aku tidak tahu, handphone ku dari tadi mati." kata Bryan yang memang handphonenya saat ini ada di kamar tengah dia charger.
"Bryan!!" teriak Papa Abri dari teras rumah dan berlari kecil menuju garasi mobil dimana Bryan juga Freya ada di sana.
"Rendy tadi pul,_" Papa Abri menghentikan ucapannya saat melihat Maura juga Mutia sudah ada di sana dan berarti Rendy juga sudah pulang.
"Kalian sudah sampai?"
"Rendy mana?" tanya Papa Abri karena tidak melihat Rendy dan terlihat panik.
"Rendy sudah pergi duluan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bibi Asti juga Nino." terang Bryan membuat Mutia langsung berpikir keras dengan nama-nama yang disebut Bryan tadi. Nama-nama yang sangat familiar di telinganya.
"Ya sudah cepat kamu ke rumah sakit dan lihat keadaan Mama juga adiknya Rendy." Bryan mengangguk saja karena dia juga ada niatan ke sana saat melihat kekhawatiran di mata Rendy.
"Freya ikut ya Mas." pinta Freya yang ingin melihat keadaan Mama juga adiknya Rendy, karena dia belum pernah bertemu dengan Mama juga adiknya Rendy.
"Kamu di rumah saja, Maura baru pulang."
"Kamu temani Maura di rumah." kata Bryan dengan tegas.
"Tapi kan di rumah banyak orang, Mas." Freya kekeh ingin ikut ke rumah sakit.
"FREYA!!" Freya menunduk saat Bryan menegurnya dengan tegas.
"Benar Freya, kamu di rumah saja."
"Kasihan Maura yang baru pulang." timpal Papa Abri yang membenarkan perkataan Bryan.
"Baiklah, hati-hati Mas."
"Kabari Freya nanti." akhirnya Freya menurut saja untuk tetap tinggal di rumah.
"Mana handphone kamu?"
"Handphone aku ada di kamar, aku pakai handphone kamu saja dulu." Freya memberikan handphonenya pada Bryan.
"Aku pergi dulu." Freya mengangguk dan mencium tangan Bryan,begitupun Maura juga mencium tangan Ayah Bryan.
"Hati-hati Ayah!!" Bryan tersenyum dan mengangguk pada putrinya.
"Aku ikut!!"
Bryan menoleh pada Mutia yang ingin ikut juga. Untuk apa pikirnya, pikirnya.
"Biarkan saja Mutia ikut, Mas." ujar Freya menatap Bryan sambil mengangguk pelan.
"Baiklah!! cepat masuk."
Mutia segera masuk ke dalam mobil, dia ingin memastikan kalau apa yang ada dipikirannya saat ini benar dan tidak salah.
Mutia melihat ke arah luar jendela yang memperlihatkan padatnya jalan di siang menjelang sore itu. Pikirannya melayang kemana-mana. Bayang-bayang masa kecilnya juga kedekatannya dengan Rendy akhir-akhir ini sungguh seperti kaset kusut berputar-putar terus di otaknya.
Rendy yang tidak menyetujui kedekatannya dengan Alex.
Rendy yang selalu ada untuk dirinya meski terkadang selalu membuatnya kesal dan marah.
Rendy yang memintanya untuk menyetujui perjodohan itu.
Rendy yang menginginkan dirinya meski tidak secara langsung.
Rendy yang sudah melihat lekuk tubuh polosnya, bahkan sudah bermain di setiap inci tubuhnya.
"Ya Tuhan." Mutia menangkup kan kedua tangannya pada wajahnya.
Bryan menyipitkan matanya melihat Mutia yang terlihat gelisah duduk di samping supir. "Kenapa tu wanita bar-bar?" batin Bryan cuek saja dan melanjutkan melihat-lihat foto di galery handphone Freya sambil tersenyum-senyum sendiri saat melihat foto dirinya juga Freya.
"Dasar Abrisam Bucin Alvaro."
🍁🍁🍁
have a nice day
big hug 🤗🤗🤗
__ADS_1