Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Dasi


__ADS_3

"Sini aku bantu." Freya mengambil dasi yang tadi sudah dia siapkan untuk Bryan kenakan. Saat ini mereka ada di walk in closet.


"Aku bisa sendiri." Bryan menyahut dasi yang ada di tangan Freya dan berdiri di depan cermin.


Freya mengerutkan keningnya melihat sikap Bryan yang begitu dingin padanya. Tadi saat subuh tiba dia baru bangun dan kembali ke kamar mereka. Freya membangunkan Bryan untuk diajak subuh berjamaah namun Bryan tak kunjung bangun justru dia marah sama Freya.


"Bisa tidak nggak usah ganggu orang tidur!?"


"Aku ngantuk, tengah malam tadi baru pulang. Capek!" Bryan menarik selimutnya lagi hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Freya merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Tidak biasanya Bryan seperti itu. Dari tadi dia merasa Bryan menyueki dirinya juga sikap Bryan begitu dingin terhadapnya.


"Mas Bryan kenapa ya?" batin Freya bertanya-tanya.


Freya menatap Bryan dari pantulan cermin. Suaminya itu terlihat seperti kesulitan memasang dasi.


"Shitt!!!" umpat Bryan yang tak kunjung bisa memasang dasi.


Biasanya Bryan sendiri bisa memasang dasi sendiri sebelum menikah dan kenapa hari ini dia begitu kesusahan untuk memasang dasi dengan benar.


"Kenapa susah banget sih?" gerutu Bryan yang terus mencoba mengikat dasi dengan benar di kerah kemeja yang dia kenakan.


"Sini Mas dasinya! Biar Freya bantu." Freya mendekat ke Bryan dan tersenyum manis untuk suaminya itu.


"Mana?" tanya Freya saat Bryan tak kunjung memberikan dasinya kepada dirinya juga tidak mau menghadap dirinya juga. Bryan terlihat masih mencoba memasang dasi itu sendiri.


"Dasi sialan!!! Susah banget di ajak kerja sama." Bryan melepas dasi yang belum terpasang sempurna dan di hentakkan nya ke lantai.


Freya memejamkan mata sejenak dan menghembuskan nafas kasar, "Aturannya sekarang aku yang marah bukan dia." gumam Freya lirih.


"Dia yang berbohong tapi dia yang marah."


"Seharusnya aku kan disini yang marah."


"Dasar Tuan Muda aneh!" gerutu Freya mencibir suaminya yang berdiri di depannya.


Freya menatap sekilas Bryan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bryan sendirian di walk in closet. Dia marah karena Bryan cuek dan bersikap dingin pada dirinya. Di tambah dia juga marah karena Bryan tidak jujur pada dirinya soal masa lalu.


"Mau kemana kamu?"


Freya yang sudah hampir mencapai pintu ke luar walk in closet menghentikan langkahnya tanpa menoleh ataupun berbalik menghadap suaminya saat mendengar suara suaminya.


"Katanya mau bantu tapi pergi begitu saja."


Freya memejamkan matanya saat merasakan suara Bryan yang terkesan begitu dingin di telinganya. Dengan menahan marah dan rasa sedihnya Freya berbalik dan berjalan mendekati Bryan yang dimana suaminya itu sudah berdiri menghadap dirinya dengan wajah dan juga tatapan dinginnya.


Tanpa banyak kata lagi Freya mengambil dasi yang tadi Bryan buang ke lantai.


"Ambilkan yang baru!"


Freya menghembuskan nafas kasar dan mengambil asal dasi baru. Entah dasinya cocok apa tidak dengan jas yang Bryan kenakan Freya tidak peduli. Dia langsung membantu memasangkan dasi untuk Bryan setelah dia berdiri tepat di hadapan Bryan. Tanpa terasa air matanya menetes dengan sendirinya.


"Sudah!!"


Tanpa menatap suaminya, Freya lantas berlalu pergi setelah selesai memasangkan dasi di kerah kemeja yang Bryan pakai. Namun langkahnya terhenti saat Bryan memegang lengannya erat. Begitu erat hingga membuat lengannya itu memerah.


"Kenapa menangis?" tanya Bryan yang masih sikap dinginnya.


Freya yang tadi hanya meneteskan air mata dan menangis dalam diam kini semakin deras air mata yang jatuh di pipinya hingga membuatnya Freya menutup mulutnya karena menangis sesenggukan.


Bryan melonggarkan cengkraman di lengan Freya dan melangkah mendekat pada istrinya itu. Bryan menatap Freya yang menunduk menyembunyikan tangisnya.


"Kenapa?" tanya Bryan dengan pelan dan lembut.


Dengan perlahan Freya mengangkat kepalanya untuk menatap suaminya itu, meski tidak begitu jelas karena terhalang air mata yang menggenang di kelopak matanya namun Freya dapat melihat kekhawatiran di mata suaminya saat melihat dirinya menangis. Dengan kesal Freya memukul dada Bryan berulang kali dengan tangis yang menjadi.


Bryan hanya diam saja saat Freya memukul dadanya, karena dia tahu kalau dia salah telah membohongi istrinya dan dia juga marah karena Freya semalam sudah melakukan hal jorok kepadanya. Padahal apa yang Freya lakukan semalam tidak sejahat apa yang telah dia lakukan ke Freya beberapa hari terakhir ini. Dia telah berbohong pada istrinya tentang masa lalu nya.


"Kenapa Mas Bryan bersikap cuek dan dingin pada Freya?"


"Kenapa Mas Bryan mendiami Freya sejak bangun tadi."

__ADS_1


"Apa salah Freya pada Mas Bryan?"


"Apa Mas Bryan marah sama Freya?"


Bryan diam saja menatap istrinya yang tengah menangis di harapannya itu. Dia hanya mendengarkan keluhan yang Freya tanyakan pada dirinya tanpa dia balas. Dia ingin mendengar semua keluhan yang Freya rasakan saat ini.


"Seharusnya disini Freya yang bersikap cuek dan dingin pada Mas Bryan."


"Karena Mas Bryan telah membohongi Freya beberapa hari terakhir ini."


"Seharusnya Freya yang marah pada Mas Bryan,dan bukannya Mas Bryan yang marah pada Freya."


Freya menghentikan pukulannya di dada Bryan. Dia mendongak menatap suaminya dengan wajah yang sudah memerah dan basah karena menangis.


"Kenapa Mas?"


"Kenapa Mas Bryan menyembunyikan masa lalu Mas Bryan dari Freya?"


"Bukannya Mas Bryan sudah janji untuk selalu terbuka dengan Freya."


"Tapi kenapa Mas Bryan berbohong."


"Kenapa Mas? Kenapa?"


Bryan membawa Freya kepelukan nya, dipeluknya erat tubuh istrinya itu.


"Maaf!" ucapnya lirih.


Mendengar ucapan maaf dari Bryan membuat Freya semakin kesal dan kembali memukul dada Bryan walau pelan.


"Aku nggak bermaksud bersikap cuek dan dingin pada kamu."


"Aku hanya marah saja dengan kelakuan mu semalam."


"Benar-benar jorok!"


"Ishh.." Freya merajuk di pelukan Bryan, di cubit nya lengan suaminya itu.


"Maaf!!"


"Aku telah menyembunyikan kebenaran masa lalu ku kepada mu."


"Aku hanya belum siap untuk menceritakannya pada kamu."


Freya menghentikan tangisnya saat Bryan mulai membahas masa lalu. Dia ingin mendengar secara langsung dari mulut Bryan supaya lebih jelas lagi seperti apa masa lalu suaminya itu.


"Tapi sekarang, aku akan mengakhiri dan menyelesaikannya biar rumah tangga kita tidak ada yang mengganggu lagi."


"Entah itu orang di masa lalu maupun di masa sekarang."


"Aku tidak akan membiarkan orang lain merusak pernikahan yang baru saja kita bangun ini."


Freya yang tadi tidak membalas pelukan Bryan kini dia dengan perlahan melingkarkan tangannya di punggung Bryan.


Bryan menyunggingkan senyum tipis dan kembali diciumnya rambut kepala Freya sambil menghirup aroma wangi shampoo yang Freya kenakan.


"Bukannya kamu sudah mendengarkan cerita masa lalu ku dari Papa?"


Freya mendongak menatap Bryan yang juga menatapnya dengan senyum tipis. Dari mana Mas Bryan tahu, pikirnya. Apa dari Rendy? batin Freya.


"Rendy yang cerita sama aku." sambung Bryan saat melihat Freya terkejut.


"Dasar Rendy tidak bisa menjaga rahasia." Bryan terkekeh mendengar gerutunya Freya.


"Nggak apa. Jangan salahkan Rendy."


"Aku juga sudah meminta Rendy untuk mencari kebenaran foto dan vidio yang dia kasih lihat ke aku."


Bryan memejamkan matanya saat Freya dengan percaya dirinya mengusap ingusnya dengan dasi yang dia kenakan.


"Kenapa aku punya istri jorok seperti ini?" batin Bryan menjerit melihat kelakuan Freya.

__ADS_1


"Tapi kenapa begitu menggemaskan." Bryan gemas sendiri dengan dirinya sendiri yang sepertinya sudah buta itu.


"Memang apa isi foto dan vidio itu?" tanya Freya dengan tampang tak berdosa nya menatap Bryan.


"Kamu mau tahu isinya?" Freya mengangguk dengan tampang polosnya.


"Ya sudah, lepas dulu." Bryan memegang tangan Freya dan dibawanya duduk di sofa.


"Tunggu sebentar." Freya mengangguk saja dan melihat apa yang Bryan lakukan.


"Kenapa dasi sama kemejanya dilepas?" tanya Freya yang heran melihat Bryan melepas dasi dan kemejanya di hadapannya.


"Nggak apa. Tadi ada yang dengan PeDe nya membuang ingus di dasi dan juga mengenai kemeja." jawab Bryan santai dan berjalan menuju Almari mencari kemeja yang baru.


Freya meringis mengingat kalau dia tadi tanpa sadar memakai dasi Bryan untuk membuang ingus. Dia meringis melirik Bryan yang sudah selesai memakai kemeja baru dan juga dasi yang hanya dia kalung kan saja.


Bryan berjalan mendekati Freya dan di sentil nya pelan kening istrinya itu, "Jangan jorok seperti tadi."


Freya meringis dan mengangguk saja. "Maaf." ucapnya lirih.


"Sudah ayo bantu aku."


"Sudah siang ini." Bryan menarik pelan tangan Freya untuk berdiri membantunya bersiap.


"Terus vidio dan fotonya gimana?"


"Mas Bryan belum memberi tahu aku loh." tanya Freya setelah keduanya keluar dari walk in closet.


"Nanti siang datanglah sendiri ke kantor."


"Biar kamu tahu keaslian vidio dan foto itu." Freya mengangguk mengiyakan permintaan Bryan.


"Ayah!!!" Maura berlari masuk ke kamar orang tuanya.


"Cantiknya Ayah kok makin cantik saja sih." dengan gemasnya Bryan membawa Maura ke gendongannya dan diciumnya beberapa kali pipi gembul Maura.


"Iya dong Maura cantik."


"Maura kan anaknya Ayah sama Bunda." kata Maura dengan gaya centil khas anak kecil.


"Maura sayang Ayah." ucap Maura lirih dan memeluk erat Ayahnya itu.


"Kenapa?" tanya Bryan pada Freya tanpa suara.


"Dia sudah ingat." jawab Freya tanpa suara juga.


Bryan tersenyum senang dan dipeluknya erat putrinya itu. Dia juga mencium dengan sayang kening Maura.


"Ayah juga sayang sama cantiknya Ayah yang satu ini." ujar Bryan membuat Maura menangis.


"Kok nangis sih cantiknya Ayah." Bryan memundurkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah putrinya. Dihapusnya air mata yang jatuh di pipi Maura.


"Maura nggak nangis Ayah, Maura hanya bahagia saja. Hoosstttt." Maura mengusap ingusnya dengan dasi yang Ayahnya kenakan.


Freya tertawa melihat ekspresi Bryan yang langsung menegang itu. Dia tahu pasti saat ini Bryan menahan kesal dan amarahnya atas apa yang baru saja Maura lakukan padanya.


Bryan menurunkan paksa Maura dan tanpa banyak bicara Bryan melangkah kembali ke walk in closet.


"Kenapa punya anak dan istri kelakuannya sebelas dua belas seperti itu sih?" gerutu Bryan yang kesal sendiri karena sudah ketiga kalinya dia berganti dasi.


"Ini dasi yang ke empat, seharusnya aku sudah dapat piring gratis kalau seperti ini."


like mother like daughter


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote, comment and gift


big hug from far away🤗🤗🤗

__ADS_1


dewi widya


__ADS_2