Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Pura-Pura Bodoh


__ADS_3

Mama Lea mengurungkan niatnya untuk naik ke dalam mobil yang akan membawa dirinya ke butik saat melihat Bryan memasuki gerbang dengan mengendarai motor sambil membonceng seorang wanita disusul sebuah mobil di belakang Bryan.


Mama Lea memicingkan matanya mengamati siapa kira-kira wanita yang dibonceng Bryan saat Freya tidak ada di rumah dan justru anaknya itu membawa wanita lain pulang ke rumah.


"Siapa dia?" Mama Lea tidak bisa melihat wanita itu karena terhalangi tubuh tinggi nan tegap milik Bryan.


"Ya Allah, Freya!!!" pekik Mama Lea saat tahu siapa wanita yang dibonceng Bryan itu adalah Freya, menantunya yang sudah beberapa hari ini pergi dan tinggal di apartemen Mamanya sendiri, Marisa.


"Alvaro!!!!" teriak Mama Lea karena geram pada putranya itu yang berani-beraninya membonceng Freya yang tengah hamil muda itu.


"Kenapa kamu membonceng Freya?"


"Apa kamu lupa kalau Freya tengah hamil muda?"


"Beraninya kamu membuat menantu juga calon cucu Mama dalam bahaya."


"Apa kamu tidak berfikir ke arah sana, hah?" Bryan hanya mendengkus mendengar ocehan Mama Lea. Lagi-lagi dirinya yang disalahkan, entah sampai kapan pria itu selalu salah dimata para wanita.


"Freya, kamu tidak apa-apa kan?"


"Kamu tidak terluka?"


"Al tadi tidak kencang kan saat mengendarai motor?"


"Apa punggungmu terasa sakit?"


"Bayinya tidak kena goncangan kan?" Mama Lea terus bertanya pada menantunya itu. Beliau begitu khawatir terjadi apa-apa dengan menantu juga calon cucu keduanya. Kalaupun itu sampai terjadi, entah apa yang akan Mama Lea perbuat pada Bryan.


Freya tersenyum dan menyalami tangan Mama Lea.


"Freya tidak apa,Ma"


"Mas Bryan tadi bawa sepeda motornya pelan-pelan kok."


"Dan itu tadi memang keinginan Freya, padahal Mas Bryan juga yang lainnya melarang Freya untuk ikut berboncengan dengan Mas Bryan."


"Tapi Freya memaksa untuk ikut naik motor bersama Mas Bryan." jelas Freya saat mengingat Bryan juga sang Mama dan Anelis melarang keras dirinya berboncengan naik sepeda motor.


Flashback On


"Mama sudah capek melihat tingkah kalian berdua." ujar Mama Marisa saat melihat Bryan juga Freya telah gabung dengan dirinya juga Anelis dan Andre.


"Mama juga sudah lihat perjuangan yang kamu lakukan buat Freya juga kepada Mama dan Anelis meski masih kurang greget menurut Mama."


"Mama juga kasihan melihat Freya yang susah tidur karena tidak dipeluk sama kamu."


"Dan itu sungguh membuat Mama juga Anelis pusing."


"Mama sama Anelis sudah memaafkan kamu Bryan."


"Jauh sebelum kamu meminta maaf, meski kami masih ada sedikit rasa kecewa."


"Tapi kamu tenang saja."


"Mama tulus memaafkan kamu juga menerima kamu sebagai menantu Mama, istri dari Freya, anak Mama"


"Terima kasih banyak Ma." hanya itu yang mampu Bryan ucapkan. Dia sungguh lega dan senang hati saat Mama Marisa juga Anelis sudah memaafkan dirinya atas kesalahan yang dilakukannya dulu.


"Tapi kamu harus janji satu hal pada kami, terutama pada Mama."


"Kalau kamu harus menjaga dan melindungi Freya dengan sepenuh hati kamu."


"Jangan sakiti dan kecewakan Freya."


"Atau Mama akan sungguh mengambil Freya dari kamu." ancam Mama Marisa pada Bryan.


"Bryan janji tidak akan menyakiti ataupun mengecewakan Freya."


"Dan untuk menjaga dan melindungi Freya adalah tugas Bryan."


"Jadi Mama nggak perlu khawatir." ucap Bryan dengan tegas sambil menggenggam erat tangan Freya.

__ADS_1


"Baiklah!! Mama akan antar kalian pulang."


"Mama juga ingin menemui Oma juga Opa kalian."


Mereka akhirnya bergegas keluar dari apartemen dengan perasaan bahagia. Terutama Bryan juga Freya yang terus saling menggenggam tangan dengan erat.


"Mas Bryan tadi naik apa kesini?"


"Kenapa mobil Mas Bryan tidak ada?" tanya Freya yang tidak melihat keberadaan mobil Bryan yang terparkir di dekat lobby, hanya ada mobil Andre dan satunya lagi punya siapa, Freya tidak tahu. Juga ada sebuah moge terparkir di sana.


"Aku naik itu." Bryan menunjuk moge yang terparkir di depan mobil Andre.


"Mas Bryan naik moge kesini tadi." Freya begitu tidak percaya. Dia berjalan cepat menuju moge yang terparkir sembarang itu.


"Freya boleh naik ini pulang ke rumah, Mas?"


"Jangan!!" pekik Bryan, Mama Marisa juga Anelis bersamaan.


Bryan mendekati Freya, "Kenapa Mas? Freya ingin naik motor." kata Freya dengan penuh harap.


"Tidak boleh, bahaya, kamu sekarang lagi hamil."


"Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kalian berdua." ujar Bryan dengan tegas membuat mata Freya berkaca-kaca.


"Tapi Freya ingin." ucap Freya lirih.


"Nggak boleh sayang!" ujar Mama Marisa yang ikut mendekati Freya, mencoba membujuk putrinya itu. Dia tahu pasti ini bukan keinginan Freya tapi keinginan bayinya.


"Kamu naik mobil saja sama Mama biar aman."


"Kamu mau terjadi sesuatu sama debay kamu?" Freya menggelengkan kepalanya sambil mengusap ujung matanya yang hampir meneteskan air mata.


"Tapi debay nya ingin naik motor bersama Ayahnya."


"Nanti Mas Bryan pelan-pelan saja jalannya nggak usah ngebut."


"Boleh ya Mas!! Ma!!" Freya memohon pada suami juga Mamanya.


"Cepat masuk mobil." Freya mendengkus mendengar perintah Anelis. Freya menatap Bryan dengan tampang memelas.


"Boleh ya Mas!!"


"Mas Bryan nggak kasihan sama debay junior?" Bryan hanya diam saja juga menatap Freya. Dia sebenarnya tidak masalah, tapi hanya takut saja dengan bayi yang ada di dalam perut istrinya itu.


"Ya sudah tidak apa." Freya menoleh cepat pada Mama Marisa yang mengizinkannya naik motor, lebih tepatnya dibonceng motor.


"Biarkan saja Freya naik motor bersama kamu."


"Tapi pelan-pelan."


"Kami ikuti kalian dari belakang." kata Mama Marisa pada Bryan.


"Tapi Ma." Bryan masih ragu membawa Freya naik motor.


"Nggak apa."


"Untung yang kamu bawa moge bukan motor balap."


"Aman saja untuk ibu hamil asal kamu bawanya pelan-pelan."


Bryan mengangguk dan memasangkan helm di kepala Freya yang tersimpan di box belakang.


"Makasih sayang."


Cup.


Bryan tersenyum, bukan karena kecupan singkat yang Freya berikan pada bibirnya melainkan kata 'sayang' yang baru saja keluar dari mulut Freya. Ini untuk kali pertamanya Freya memanggilnya 'sayang' dan Bryan sungguh senang bukan main.


Flashback Off


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja."

__ADS_1


"Mama tadi sangat khawatir saat tahu kamu yang di bonceng Alvaro." Mama Lea tersenyum dan menatap yang lainnya hingga keningnya mengkerut saat menyadari sesuatu.


"Freya!!!" Mama Lea menatap lekat mata coklat menantunya itu. Indah dan cantik seperti parasnya.


"Iya,Ma." Freya tersenyum melihat Mama Lea yang terlihat syok dan tak percaya akan sesuatu, entah itu apa. Mungkin karena dirinya pulang, tebak Freya dalam hatinya.


"Kamu pulang nak?" Freya tersenyum dan mengangguk. Benarkan Mama tidak percaya, batin Freya begitu senang tebakannya benar.


Akkhhhhh


Mama Lea histeris sambil mengguncang kedua lengan Freya begitu senangnya dan semangatnya.


"Ma lepas, Ma.!!"


"Kasihan Freya sama debay nya." Bryan menyingkirkan kasar kedua tangan Mama Lea pada lengan Freya. Dia begitu geram dengan kelakuan Mamanya itu.


"Ahh...Maaf sayang. Mama terlalu bahagia." Bryan memejamkan matanya saat justru dirinya lah yang jadi sasaran Mama Lea.


Mama Lea mencium wajah Bryan hingga lipstik merah yang Mama Lea pakai hampir membekas di semua wajah Bryan dan memeluk tubuh atletis putranya itu.


Freya dan yang lainnya hanya menahan tawanya saja melihat Bryan yang pasrah diperlakukan seperti anak kecil oleh Mama Lea.


"Makasih ya anak Mama yang cakep sudah membawa kembali menantu Mama." Mama Lea memeluk Freya sambil tersenyum pada Bryan.


Bryan mendengkus dan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu tanpa mengajak yang lainnya untuk masuk juga ke dalam rumah. Dia begitu malu, bercampur kesal atas kelakuan Mama Lea barusan.


"Emak-emak bar-bar. Bisa-bisanya seorang Bryan lahir dari rahim emak-emak seperti itu." dengus Bryan sambil membersihkan wajahnya yang penuh dengan bekas lipstik Mama Lea.


"Tapi kalau Freya yang mencium kok nggak pernah membekas ya?" Bryan begitu heran, padahal Freya juga memakai lipstik, tapi tiap kali Freya menciumnya pasti tidak ada bekasnya sama sekali.


"Kecuali ini.." Bryan mengangkat dagunya tinggi sambil menyibakkan sedikit kerah bajunya, "pasti membekas." Bryan tersenyum melihat bekas tanda merah keunguan yang tadi sempat Freya bikin ditubuhnya.


"Mas!! Mas Bryan!!"


"Baru juga diomongin sudah muncul saja dia." gumam Bryan.


Bryan keluar dari kamar mandi saat mendengar suara Freya yang tengah memanggilnya.


Bryan tersenyum saat melihat Freya sekarang sudah ada di dalam kamarnya lagi. Dia berjalan mendekati Freya yang berdiri di dekat meja rias. Diraihnya pinggang Freya hingga menempel sempurna pada tubuhnya meski terhalang perut Freya yang sudah mulai membuncit itu.


"Kenapa kamu tidak memanggilku 'sayang' lagi seperti tadi?" Freya tersenyum malu mendengar pertanyaan suaminya itu. Dia menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Memang dirinya tidak pernah memanggil Bryan dengan panggilan 'sayang' dan baru tadi dia memanggil suaminya itu 'sayang'.


"Memangnya harus ya?"


"Tapi Freya lebih suka memanggil dengan panggilan Mas Bryan."


"Freya rasa itu jauh lebih romantis." Bryan menarik salah satu sudut bibirnya keatas mendengar pengakuan Freya.


"Kenapa aku merasa kamu sedang merayuku saat ini?"


"Apa kamu ada salah sama aku?"


"Nggak biasanya kamu bersikap begitu manis pada suami mu ini?" Freya sontak mengigit bibir dalamnya sambil meringis. Dia merasa tersindir akan pertanyaan dari suaminya itu.


Freya melepas pelukan Bryan dan menatap Bryan sambil tersenyum manis seolah dirinya memang tidak memiliki salah apapun.


"Freya tidak ada salah sama Mas Bryan."


"Ayo kita turun!!"


"Freya tadi diminta Oma untuk memanggil Mas Bryan." ajak Freya yang menghindar supaya Bryan tidak bertanya yang aneh-aneh. Dia tidak mau Bryan tahu kalau dirinya dan anggota keluarga yang lain tengah mengerjai Bryan sebelumnya.


Bryan mengangguk saja dan mengikuti Freya yang menarik dirinya menuju ruang keluarga di lantai satu. "Menghindar saja terus sayang. Nanti kalau hukuman ku sudah selesai, giliran kamu yang aku hukum sampai kamu akan minta nambah, nambah dan nambah terus." batin Bryan mengikuti permainan Freya dan keluarga yang lain.


Memilih pura-pura bodoh dan tidak tahu hanya untuk melihat senyum dan tawa orang tersayang dan tercinta itu jauh lebih baik daripada sok tahu justru membuat mereka sedih.


🍁🍁🍁


have a nice day


big hug 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2