
"Maura...Mama datang sayang." seru Mutia dengan cerianya masuk ke dalam ruang rawat Maura tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
Tadi dia dapat kabar dari Freya kalau Maura sudah sadar. Tadinya dia ingin segera melihat kondisi Maura, namun karena dia hanyalah karyawan biasa jadinya dia harus menunggu saat jam pulang tiba baru kembali lagi ke rumah sakit untuk menjenguk Maura. Anak kecil yang telah membuatnya jatuh hati sejak pertama kali melihatnya beberapa tahun lalu.
Dia melangkah cepat menuju brankar Maura dan meletakkan tasnya di samping kaki Maura. Dia begitu senang saat tahu kalau Maura sudah sadar.
"Maura...Kok kamu merem sih? katanya tadi kamu sudah sadar." ucap Mutia yang melihat Maura memejamkan matanya karena tidur.
"Bangun juaranya Mama!!" Mutia menoel-noel pipi Maura yang tidak gembul lagi.
"Aku akan membuat pipi mu gembul lagi seperti bakpao" desis Mutia yang melihat pipi Maura semakin tirus sejak terbaring sakit.
"Bunda kamu kemana sayang?" Tanya Mutia karena tidak melihat Freya menyambut kedatangannya.
Dia melihat sekeliling dan mendapati Rendy yang duduk di sofa tengah menatapnya tajam. Mutia memicingkan matanya saat melihat Rendy ada di sana.
"Kenapa anda ada disini?" tanya Mutia dengan nada tak suka pada Rendy.
"Anda sendiri kenapa ada disini?" tanya Rendy balik dengan dinginnya.
"Saya Mama nya Maura. Jadi wajar dong saya disini." jawab Mutia sewot.
"Mama Maura cuma satu, yaitu Nona Freya Almeera Shanum." kata Rendy tegas mengingatkan Mutia dimana posisinya.
"Freya itu Bundanya, Ibu yang telah melahirkan Maura. Dan saya Mamanya yang menemani Maura." balas Mutia tak kalah tegasnya
".Whatever, yang pasti Tuan Bryan dan Nona Freya orang tua kandung Nona Muda Maura." kata Rendy tak mau kalah.
"Saya juga tahu itu." cibir Mutia.
"Kenapa anda disini?" tanya Mutia dengan menyilang kan tangan di dada balik menatap Rendy tajam.
"Saya menjaga Nona Muda Maura." jawab Rendy dan berdiri dari duduknya, membenarkan dan mengancingkan jasnya. Dia berjalan mendekat ke brankar Maura.
"Dari wanita bar-bar seperti anda." sambung Rendy dengan nada rendah dan melempar tas milik Mutia yang diletakkan di samping kaki Maura.
Dengan gerakan gesitnya Mutia menangkap tasnya yang dilempar Rendy. Dia menatap Rendy dengan perasaan dongkol, kesal dan amarah menjadi satu. Ada ya manusia tak punya hati seperti itu, batin Mutia kesal.
"Apa salah tas saya?" Mutia berkacak pinggang menatap Rendy yang membelakanginya.
"Kenapa anda melempar tas saya?" sambungnya dengan nada tinggi.
"Tas anda mengotori tempat tidur Nona Muda. Merusak pemandangan." jawab Rendy tanpa perasaan.
"Dasar manusia tak punya hati. Manusi robot. Terkutuk kau!!!" teriak Mutia tanpa memperdulikan kalau dirinya saat ini ada di ruang perawatan Maura. Dia mengayunkan tangannya untuk memukul Rendy dari belakang.
Aakkkhhhhhh
Pekik Mutia kesakitan karena Rendy mampu menangkis tangan Mutia yang akan memukulnya.
__ADS_1
"Sakit bodoh." desis Mutia yang tangannya terkunci di belakang punggungnya dan ditekan oleh Rendy.
"Anda yang bodoh Nona." balas Rendy dan mendorong pelan Mutia.
Mutia berbalik menghadap Rendy sambil mengusap tangannya. "Tunggu belasan saya." geram Mutia pada asistennya Bryan itu.
"Mama sama Paman kenapa berantem terus dari tadi? Ganggu Maura tidur tahu nggak. Berisik." gerutu Maura yang melihat Mama Mutia yang berteriak dan berantem dengan Rendy membuat Maura terbangun dari tidurnya karena terganggu.
"Maaf Nona Muda, saya telah mengganggu tidur anda." Rendy menundukkan kepalanya pada Maura, bersikap sopan pada anak dari Tuan Muda Abrisam.
"Paman itu siapa, Ma?" tanya Maura pada Mutia yang mendekat ke arahnya.
"Seperti robot." cibir Maura sambil menutup mulutnya untuk menahan tawanya, karena kalau dia tertawa berarti dia tidak sopan pada orang yang lebih tua.
"Iya, dia memang robot yang berwujud manusia." jawab Mutia menatap Rendy sinis.
"Berarti ada chip nya dong Ma ditubuh paman itu?" tanya Maura menatap Rendy. Dia sepertinya percaya kalau Rendy itu memang benar robot.
Mutia mengendihkan bahunya, "mungkin saja ada." jawab Mutia malas kalau harus membahas Rendy manusia robot.
"Kalau ada chip nya, jadi bisa diperintah-perintah dong Ma, Paman robot itu." kata Maura dengan semangatnya.
Mutia menyeringai mendengar perkataan Maura. "Kesempatan buat ngerjain manusia robot." batin Mutia tertawa bahagia.
"Bisa sayang. Coba saja kamu minta dia untuk berjoget." bisik Mutia pada Maura sambil menahan tawanya.
Maura mengangguk setuju.
Rendy mendekat saat Maura memanggilnya.
"Maura ingin melihat Paman Robot berjoget dangdut." kata Maura menatap Rendy penuh harap. "mau ya Paman." Maura menampilkan puppy eyes.
"Tapi Nona..." Rendy tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Maura yang cemberut karena dia tolak keinginannya. Kalau sampai Tuan Mudanya tahu bisa dilempar dia nanti di kandang buaya.
"Baiklah,Nona. Saya akan melakukan apa yang Nona Muda minta." akhirnya Rendy menuruti keinginan Maura, yaitu berjoget dangdut.
"Terima kasih Paman." ucap Maura dengan senyum merekah di wajahnya yang berbinar seri meski masih tampak pucat.
"Lagu ini saja Tuan." Mutia memutar lagu dangdut oplosan untuk Rendy berjoget.
Karena tidak ingin sendirian,Rendy menarik Mutia yang sedari tadi menahan tawanya saat melihat dirinya bersiap untuk berjoget.
"Ehhhh....saya nggak mau." pekik Mutia saat Rendy menarik dan mengajaknya berjoget.
"Ayo, Ma..Ikut saja berjoget." seru Maura dengan semangatnya.
"Apa-apaan kalian ini!!!" sentak Bryan yang baru saja kembali dari cafetaria.Dia masuk ke kamar rawat Maura bersama Freya dan mendapati asistennya berjoget dangdut dengan Mutia.
Rendy dan Mutia sontak langsung berhenti berjoget dan menunduk pada Bryan. Mereka takut kalau Bryan marah dan menghukum mereka. Mutia juga tahu kalau Bryan itu akan menghukum orang tanpa ampun kalau melakukan kesalahan dan membuatnya marah ataupun kecewa.
__ADS_1
Freya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya mendekati putrinya yang sepertinya juga ketakutan. Dia mengambil handphone Mutia dan mematikan musiknya.
"Bunda takut.." gumam Maura lirih saat melihat Bryan yang datang-datang langsung menyentak Mutia juga Rendy.
Freya duduk di samping Maura dan memegang tangan Maura yang satunya lagi mengusap pipi Maura.
"Gak apa sayang, ada Bunda disini." kata Freya dengan lembut.
"Paman itu jahat,-" Maura menunjuk Bryan yang masih berdiri di depan Rendy juga Mutia, masih memarahi mereka berdua karena membuat keributan di kamar rawat putrinya.
"-Paman itu memarahi Mama sama Paman robot yang sedang menghibur Maura." ujar Maura dengan mata berkaca-kaca.
"Paman robot?" batin Freya bertanya-tanya siapa Paman robot yang dimaksud Maura. Freya melirik ke arah Mutia yang sedang berdiri bersebelahan dengan Rendy. Freya menyunggingkan senyumnya saat tahu siapa yang dimaksud putrinya itu. Siapa lagi kalau bukan si Rendy manusia kaku dan seperti robot itu.
"Paman itu nggak marah sayang. Dia hanya memperingati Mama Mutia dan Paman robot untuk berbuat sopan saat di rumah sakit.
"Takutnya mengganggu pasien lain yang sedang sakit dan perlu istirahat." jelas Freya dengan lembut. Dia tidak ingin membuat Maura semakin tidak suka sama Bryan selepas Maura tidak lagi mengingat Bryan sebagai Ayahnya.
"Maura ngerti kan maksud Bunda?" Maura mengangguk paham.
Bryan mendekat ke brankar Maura setelah memberi peringatan pada Rendy juga Mutia. "Maaf ya cantik, Ayah sudah membuat kamu takut." kata Bryan dengan lembut.
"Kenapa Paman selalu menyebut diri Paman 'Ayah' pada Maura?" tanya Maura menatap netra biru milik Bryan yang sama seperti miliknya.
"Karena Paman ingin menjadi Ayah Maura satu-satunya." jawab Bryan menggenggam tangan Maura yang dipasang jarum infus. Dia juga menatap lembut netra biru milik Maura.
"Memangnya Paman mau jadi Ayah Maura?" tanya Maura yang terlihat ragu, karena selama ini tidak ada laki-laki yang mendekati Freya untuk menjadi Ayah dari Maura. Mereka datang hanya untuk Freya saja bukan untuk Maura juga.
Bryan menyunggingkan senyum tipisnya saat mendengar pertanyaan Maura. "Paman mau dan Paman ingin menjadi satu-satunya Ayah Maura juga istri dari Bunda kamu." Bryan melirik Freya yang terlihat cemberut karena jawabannya.
"Benar Paman???" tanya Maura dengan binar bahagianya.
"Iya cantik. Dan sekarang jangan panggil Paman lagi, tapi panggil Ayah. Oke." Bryan mencubit pelan hidung Maura dengan gemas membuat sang empunya hidung tertawa.
"Baiklah, Ayah." Bryan tersenyum hangat pada putrinya itu. Diciumnya kening Maura dengan kasih sayang.
"Ayah janji akan selalu membahagiakanmu dan menjagamu bersama Bunda Freya juga." janji Bryan dalam hatinya.
"Kalian segalanya bagi Ayah."
🍁🍁🍁
Have a nice day
selamat sabtu malam kakak-kakak reader
jangan lupa vote and like yaaaa
Big hug from far away 🤗🤗🤗
__ADS_1
dewi widya