
Dini hari, tepatnya pukul dua pagi Bryan baru sampai rumah, jas yang sudah di lepasnya dan di sampir nya di pundak, dasi yang sudah lepas dari ikatannya, tiga kancing kemeja bagian atas sudah lepas memperlihatkan dadanya yang bidang dan ditumbuhi bulu halus. Rambut acak-acakan dan juga tercium bau alkohol yang begitu menyengat di indera penciuman. Entah berapa banyak minuman haram itu dia teguk, yang jelas saat ini dia memasuki rumah dengan dipapah oleh Rendy dengan meracau yang tidak jelas.
Papa Abri yang kebetulan bangun dan ada di dapur mengambil minum melirik Bryan yang baru pulang dalam keadaan mabuk dipapah Rendy dengan meracau yang tidak jelas. Dengan segera Papa Abri mendekati anaknya yang kurang ajar itu, bukannya merenungi kesalahannya justru mabuk-mabukan. Begitu susah di kasih tahu tapi selalu bersikap sewenang nya saja dengan orang lain terutama kepada Mama Lea dan Freya.
"Freya, aku minta maaf."
"Jangan tinggalkan aku."
"Kita bahkan belum membuatkan adik untuk Maura, tapi kenapa kamu pergi?"
"Aku akan mengurung mu kalau aku sampai menemukan mu sayang."
"Kembalilah padaku."
"Aku mencintaimu Freya."
Racau Bryan yang sempat-sempatnya membahas membuat adik buat Maura. Rendy sampai geleng kepala mendengar racauan Tuan Mudanya itu.
Bryan yang sudah hilang kesadarannya itu menangkup kedua pipi Rendy dengan erat. Diarahkannya wajah Rendy berhadapan dengan wajahnya.
"Tuan, anda mau apa?" tanya Rendy yang sudah panik dan mulai merasakan firasat buruk dengan kelakuan yang Tuan Mudanya itu lakukan. Dia tidak mau hal yang sudah-sudah terulang lagi.
"Tuan anda jangan macam-macam saya masih normal."
"Saya Rendy, Tuan!!" pekik Rendy saat Bryan mendekatkan bibirnya dengan bibir Rendy.
Rendy menahan kepalanya dan sedikit memaksa menjauhkan wajahnya dari wajah Bryan biar bibir mereka tidak bertemu. "Gila!!! Ini benar-benar gila. Cukup sekali saja kemarin karena ketidak sengajaan." batin Rendy mengingat kemarin saat Bryan mabuk, dia yang sedang menerima telephone langsung mematung di tempat saat Bryan jatuh dan menimpanya hingga bibir mereka bersentuhan.
"Aku mencintaimu, Freya. Jangan pergi dan kembalilah padaku, sayang." racau Bryan yang tetap menganggap Rendy itu adalah Freya, istrinya.
Hehehe
"Istri ku!!! Kenapa kamu sekarang tinggi."
"Tinggi kita sama."
Rendy bergidik ngeri mendengar racauan Bryan dan juga tingkah Bryan. "Tuan Muda memang sudah gila. Sekarang lebih parah dari pada sepuluh tahun yang lalu." batin Rendy yang sudah jengah melihat kelakuan Bryan kalau sedang mabuk seperti ini.
"Tuan hentikan!! Saya ini Rendy bukan Nona Freya."
"Saya ini bukan istri anda." geram Rendy dengan perasaan kesal dan ingin menghajar Bryan tapi mengingat sekarang mereka ada di kediaman Abrisam, Rendy mengurungkan niatnya itu.
"Kamu Freya. Wanita ku." Bryan memonyongkan bibirnya untuk mencium bibir Rendy.
"Sudah tidak waras kamu, Bryan." sentak Papa Abri dan menarik kerah kemeja Bryan dari belakang membuat Bryan terhuyung ke belakang dan jatuh saat dengan sengaja Papa Abri melepas tangannya dari kerah kemeja Bryan.
Rendy bernafas lega, seenggaknya hari ini dia selamat meski kemarin-kemarin dia tidak selamat karena Bryan terus menganggapnya sebagai Freya.
Sudah lima hari ini Bryan mabuk-mabukan setelah mengetahui Freya benar-benar pergi dari kehidupannya. Dia akan menjadikan Rendy sebagai pelampiasannya saat mabuk. Bukan pelampiasan amarah, melainkan pelampiasan rasa penyesalannya karena sudah membuat Freya pergi. Bryan akan memeluk Rendy bahkan menciumi wajah Rendy yang dianggapnya sebagai Freya.
Rendy akan selalu menghindar kalau Bryan sudah mulai berani menciumnya atau tangannya sudah menjalar kemana-mana. Bahkan Rendy dengan sengaja menghajar Bryan karena sudah kelewat batas ketidak warasan. Dia tidak peduli Bryan itu siapa, kalau sudah membuatnya risi dan jengah Rendy akan benar-benar menghajarnya kalau perlu menghabisinya. Namun karena yang membuatnya risi dan jengah adalah Tuan Muda nya, Bos nya, maka dia hanya menghajar saja supaya jera. Namun nyatanya tidak, Bryan masih saja mengganggu Rendy yang dianggapnya Freya kalau sudah mabuk.
Papa Abri dan juga Rendy sedikit menjauh dari Bryan saat Bryan memuntahkan isi perutnya yang membuat Papa Abri juga Rendy langsung menutup hidungnya. Baunya begitu menyengat dan membuat kedua orang itu juga ingin muntah rasanya.
"Bantu dia ke kamar, Ren!" perintah Papa Abri saat melihat Bryan yang sudah tidak sadar itu setelah muntah.
"Kamar tamu saja yang ada dibawah,nggak usah ke atas." imbuh Papa Abri yang merasa kasihan sama Rendy kalau harus mengangkat Bryan naik ke lantai dua meski ada lift di rumah itu.
__ADS_1
Rendy mengangguk dan menahan nafasnya saat mau mengangkat tubuh Bryan yang begitu berat.
"Terlalu banyak dosa yang Tuan Bryan lakukan, makanya badannya berat banget." cibir Rendy dalam hati saat mencoba menggendong Bryan.
Akhirnya dia menggendong Bryan di belakang punggungnya karena Bryan benar-benar sudah tidak sadar.
Hufffttttt
Rendy menghembuskan nafas kasar setelah membaringkan tubuh Bryan di ranjang secara kadar. Dia tidak peduli Bryan akan mengeluh badannya sakit semua atau tidak. Karena Rendy sudah capek kalau harus menggendong ataupun memapah Bryan saat mabuk.
"Baru ditinggal pergi aja sudah seperti ini."
"Bagaimana kalau tahu Nona Freya pergi dalam kondisi hamil." batin Rendy mengingat Bryan yang belum mengetahui kehamilan Freya. Yang Bryan tahu hanya Freya pergi setelah memergokinya berduaan sambil berpelukan dengan Anelis.
"Miris sekali hidup anda, Tuan."
"Coba kalau anda menuruti perkataan Tuan Abrisam dan saya menemani anda waktu itu."
"Saya yakin anda dan Nona Freya saat ini masih tinggal bersama dan bahagia mengetahui kehamilan Nona Freya." gumam Rendy menatap nanar Bryan yang sudah tidur itu meski sesekali bergumam menyebut nama Freya dan meminta maaf bahkan menyatakan cinta juga.
"Giliran orangnya sudah pergi bilang cinta, cinta, cinta. Makan tu cinta." gerutu Rendy yang kesal sebelum akhirnya meninggalkan Bryan sendiri di kamar tamu.
Rendy tahu selama ini Bryan hanya menunjukkan rasa sayang dan cintanya pada Freya lewat tindakan bukan perkataan. Padahal setahu Rendy yang notabennya pria kaku dan tidak mengenal yang namanya pacaran karena selama ini tidak ada wanita yang cocok dengannya kecuali Mutia, wanita bar-bar yang sering beradu mulut dengannnya itu kalau cinta itu selain di tunjukkan lewat tindakan juga harus di ungkapkan. Biar hubungan itu semakin kuat meski ada perdebatan di dalamnya. Karena setiap hubungan pasti akan ada perdebatan dan tidak akan mungkin lurus saja.
"Bagaimana, Ren?" tanya Papa Abri saat melihat Rendy keluar dari kamar tamu.
"Tuan Muda sudah tenang dan tidur, Tuan." jawab Rendy sopan.
"Bara sudah berhasil membujuk Andre untuk pulang dan menemui anaknya setelah mendengar keadaan Bryan saat ini." kata Papa Abri yang terlihat senang akhirnya sebentar lagi masalah masa lalu Bryan dengan Anelis dan Andre akan berakhir.
"Dan tugasmu sekarang segera beri efek jera dan hukuman buat Manda dan keluarganya."
"Tarik dua perusahaan yang kemarin sempat saya berikan kepada keluarga Hertanto." imbuh Papa Abri dengan nada dingin dan tegas. Beliau terlihat begitu kesal dan marah karena sudah jengah berurusan dengan keluarga Hertanto.
"Baik Tuan!!"
"Saya juga sudah mengumpulkan bukti kejahatan yang dilakukan keluarga Hertanto juga Manda."
"Tinggal menunggu waktu yang pas saja untuk menyerahkan bukti itu pada kepolisian.
"Kerja bagus." Papa Abri menepuk pelan pundak Rendy sebagai rasa bangganya akan kinerja yang Rendy lakukan selama ini.
"Terima kasih masih setia bersama Bryan dan maaf Bryan selalu merepotkan mu." ucap Papa Abri dengan tulus.
Rendy menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk pelan, "Sama-sama Tuan. Itu memang tugas saya." balas Rendy dengan sopan.
"Baiklah, tidur saja di sini biar bisa istirahat."
"Ini sudah terlalu pagi kalau kamu pulang." kata Papa Abri dan berlalu pergi masuk ke kamarnya.
Rendy yang memang sudah lelah dan ngantuk langsung menuju kamar tamu yang sering dia tempati kalau pulang kemalaman seperti saat ini.
...............
Bryan menggeliat, merasakan pengar dan pusing di kepalanya. Dia mengusap kepalanya beberapa kali secara kasar karena rasa pusingnya yang teramat sangat parah tidak seperti biasa saat dia mabuk.
Bryan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya lebar. Kening Bryan mengkerut dan hidungnya pun juga mengkerut. Dia menahan sesuatu yang rasanya ingin keluar dari mulut.
__ADS_1
"Berapa banyak alkohol yang aku minum semalam?" batin Bryan bertanya pada dirinya sendiri.
Bryan menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya melangkah sedikit sempoyongan ke kamar mandi. Dia langsung memuntahkan isi perutnya yang sedari tadi terasa mengaduk-ngaduk. Dia berkumur dan mencuci wajahnya setelah beberapa kali muntah dan hanya air saja yang keluar.
Bryan menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di dinding wastafel, penampilan yang begitu kacau seperti tidak terawat.
"Kamu dimana, sayang?"
"Apa kamu baik-baik saja di sana?" gumam Bryan yang mengingat Freya tak berada disisinya saat ini.
"Aku merindukanmu, sayang."
Arrghhhh
Bryan menggusar rambutnya kasar mengingat kebodohannya yang tidak mau menuruti keinginan Papa Abri untuk menjauh dari Anelis. Dadanya naik turun dengan nafas memburu menahan amarah pada dirinya sendiri.
"Bodoh kamu Bryan!! Bodoh!!" teriak Bryan yang geram dan kesal pada dirinya sendiri.
Pranggg
Bryan meninju kaca cermin di depannya hingga telapak tangannya mengeluarkan darah.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Rendy yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi. Dia tadi mendengar teriakan Bryan dan benda pecah di kamar mandi saat mengantarkan air madu hangat dan obat penghilang pusing untuk Bryan minum.
Bryan hanya diam saja dan berlalu pergi melewati Rendy tanpa menatap dan berbicara dengan asistennya itu. Dia keluar dari kamar tamu itu menuju kamarnya. Namun langkahnya berhenti saat matanya beradu pandang dengan sosok anak perempuan kecil yang memiliki warna mata biru seperti dirinya. Mata anak itu terlihat sembab dengan wajah yang pucat dan terlihat begitu letih.
"Maura!!" suara Bryan tercekat memanggil nama anaknya yang sudah beberapa hari ini tidak mau berbicara dengannya ataupun melihatnya sejak tahu Bundanya pergi karena Ayahnya.
Maura yang berdiri di ujung tangga paling bawah segera memalingkan wajahnya tidak mau menatap Ayahnya yang menurutnya sekarang sudah tidak tampan lagi. Ayahnya yang biasanya tampil dengan pakaian rapi dan wangi kini Ayahnya terlihat seperti preman atau lebih tepatnya seperti gembel. Dan itu bukan seperti Ayahnya Maura.
Namun mata Maura sesekali juga melirik dimana Ayahnya berdiri. Dia tanpa sengaja melihat tangan Ayahnya yang berdarah, ingin rasanya Maura menanyakan kenapa tangan Ayahnya bisa berdarah pada Ayahnya dan membantu mengobati luka Ayahnya. Namun Maura urungkan niatnya untuk bertanya karena saat ini Maura sedang kecewa dan marah pada Ayahnya yang membuat Bundanya pergi tanpa membawa dirinya.
"Maura!!" sekali lagi Bryan memanggil Maura dan melangkah mendekati anaknya itu.
"Oma!! Maura lapar." ucap Maura sedikit berteriak saat melihat Omanya berada di dapur. Dia segera berlalu pergi tanpa memperdulikan Ayahnya.
Bryan menatap sendu anaknya yang begitu cuek pada dirinya, bahkan Maura terkesan tidak menganggapnya ada. Tak hanya Maura, hampir seisi rumah ,Papa Abri, Mama Lea dan juga Caca sudah tidak memperdulikannya lagi. Mereka semua terlihat masa bodoh dengan kehidupan Bryan setelah Freya pergi.
Dengan menahan rasa sakit yang menghantam hatinya, Bryan melangkah menuju kamarnya sendiri bersama Freya dan sesekali menengok meja makan dimana Maura duduk di sana sedang di ambilkan makan oleh Mama Lea.
"Kasihan sekali Tuan Muda, Nona Muda Maura terlihat tidak memperdulikan Ayahnya."
"Taun Muda yang malang." batin Rendy nelangsa melihat Bryan yang begitu menyedihkan seperti itu. Bahkan adik dan kedua orang tua Bryan juga melakukan hal yang sama seperti Maura.
"Kalau Tuan Muda seperti ini terus, kapan aku punya waktu untuk kesenangan ku sendiri." Rendy tampak geram dan frustasi karena sudah lima hari ini dia tidak bisa bertemu Mutia karena diminta Papa Abri untuk mendampingi Bryan hampir 24 jam. Papa Abri takut kalau Bryan melakukan hal yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Mencoba bunuh diri.
"Aku ingin segera menaklukkannya sebelum kedahuluan Alex." Rendy mengepalkan tangannya erat saat mengingat kabar dari anak buahnya yang dia minta untuk mengintai Mutia mengatakan kalau akhir-akhir ini Mutia sering berduaan bahkan keluar bersama Alex.
🍁🍁🍁
Have a nice day
Thanks for like, vote, comment and gift
Big Hug From far away 🤗🤗🤗
dewi widya
__ADS_1