
Anelis terlihat di dapur sedang membuat minuman air lemon hangat. Setelah siap, segera dia letakkan di atas meja makan dan berlalu pergi ke kamar mandi.
"Apa masih mual?" tanya Anelis yang langsung masuk ke kamar mandi karena pintu tidak ditutup. Anelis mendekati Freya yang tengah berjongkok di depan closet.
Tadi Freya sepulang dari Bandara ikut pulang ke apartemen Anelis. Dia ingin bertanya-tanya tentang sosok Mama Marisa dan Bryan mengizinkannya karena Bryan sendiri saat ini sedang ada masalah di perusahaan yang masih dia sembunyikan dari Freya. Dan untungnya Maura tidak rewel ditinggal di rumah sendirian.
Setelah mengenal Anelis beberapa jam yang lalu, Freya baru tahu kalau seorang Anelis itu adalah sosok kakak yang begitu sayang sama adiknya.
Anelis menceritakan pada Freya bagaimana dulunya dia menantikan detik-detik kelahiran adiknya. Anelis begitu semangat dan antusias saat tahu adiknya berjenis kela min perempuan seperti apa yang dia harapkan. Jadi dia bisa bertukar baju dan make up juga bertukar mainan.
Namun apa yang di harapkan Anelis itu sirna sudah setelah bulan ketiga adiknya lahir di dunia dokter mengatakan kalau Freya mengalami kelainan hati. Dan saat itulah kebahagian dan keceriaan Anelis sirna seperti lenyap ditelan bumi, senyum yang selalu menghiasi wajahnya sudah tidak terlihat lagi semenjak sang Mama meminta Papa membawa pergi adik kesayangannya yang dia nantikan kehadirannya selama ini.
Dan Anelis menjadi sosok lain hanya untuk menutupi luka hatinya akan keegoisan kedua orang tuanya, terutama sang Mama. Sampai Anelis tidak mau mengakui Marisa sebagai Mama kandungnya hanya karena memisahkan dirinya dari Papa dan Adiknya.
Dan kelihatannya sekarang Anelis sudah mulai kembali ke sosok Anelis yang dulu. Apalagi dia sudah bersama dengan adik yang dia sayang yang dulu selalu dia nantikan kehadirannya di dunia.
Bahkan Anelis tidak bisa menutupi rasa khawatirnya saat melihat Freya yang mengalami morning sickness. Dia tadi begitu panik dan bingung sendiri sampai hampir saja memanggil dokter, namun dengan segera Freya cegah karena dia sudah membawa obat mual dan muntah di dalam tasnya.
"Hmm..!!!" Freya hanya berdehem dan mengangguk saja karena rasa mual nya kembali menyerang.
Anelis memijat tengkuk Freya dengan pelan dan memegangi rambut Freya yang panjang supaya tidak jatuh terurai ke depan dan mengotori rambut Freya.
Freya memencet tombol di closet dan segera berdiri setelah setelah dirasa mual nya sudah mulai berkurang. Dia berjalan ke mendekati wastafel dan berkumur dan mencuci tangan juga wajahnya.
"Makasih ya kak." ucap Freya dengan tulus tanpa lupa menampakkan senyum manisnya, karena Anelis sedari tadi terlihat khawatir pada dirinya saat mual dan muntahnya mulai menyerang.
Pasalnya dulu waktu Anelis hamil Michel dia tidak mengalami gejala apapun seperti yang Freya alami saat ini. Emosi Anelis saja dulu yang tidak bisa terkontrol, dia mudah marah dan menangis, selebihnya dia tidak mengalami apapun, ngidam pun dia juga tidak mengalami itu.
Anelis tersenyum dan mengangguk, "Ayo keluar, aku tadi sudah membuatkan air lemon hangat buat mengurangi rasa mual mu." kata Anelis dan menarik pelan lengan Freya dan mereka keluar dari kamar mandi.
"Nih minum dulu." Anelis memberikan segelas air lemon hangat pada Freya. Tadi dia sempat browsing dulu sebelum membuat air lemon hangat karena dia tidak tahu minuman apa yang bisa meredakan rasa mual dan muntah.
Freya menerimanya dan meminumnya sedikit demi sedikit. Dia melihat keluar jendela yang sudah terlihat gelap menandakan petang sudah datang meninggalkan senja. Dan inilah saat-saatnya dia menginginkan aroma tubuh suaminya yang menurutnya begitu harum dan menenangkan. Aroma tubuh yang bau kering bercampur aroma maskulin yang selalu tercium dari tubuh Bryan.
Anelis memicingkan matanya melihat Freya yang melamun dengan wajah cemberut. "Kamu kenapa?" Anelis memegang lengan Freya.
Freya menoleh dan menggeleng, tak lupa dia menyunggingkan senyum kecut pada Anelis mengingat dirinya saat ini sedang menginginkan suaminya ada disampingnya.
"Tidak apa, aku baru sadar kalau hari sudah petang dan sebentar lagi malam." kilah Freya, padahal saat ini dia ingin menghirup aroma tubuh suaminya yang belum mandi untuk mengurasi rasa mual nya.
"Kamu mau pulang sekarang?"
"Nanti saja kenapa?"
"Bukannya tadi kamu ingin makan nasi kari dan sudah aku pesankan."
"Mungkin sebentar lagi sampai pesanannya." ujar Anelis yang memang sudah pesan nasi kari sesuai pesanan Freya yang tadi ingin makan nasi kari. Kalau Freya pulang sekarang siapa nanti yang akan memakannya karena Anelis sendiri tidak suka nasi kari. Lebih tepatnya tidak bisa makan nasi.
"Kak Ane tadi jadi pesan nasi kari?" tanya Freya yang terlihat kaget. Memang iya tadi dia ingin makan nasi kari, tapi sekarang tidak lagi. Dia sekarang hanya ingin menghirup dan mencium bau tubuh suaminya yang belum mandi.
"Iya jadilah Freya."
"Kan kamu sendiri tadi yang ingin makan nasi kari."
"Gimana sih kamu ini, baru juga sejam yang lalu kamu bilang ingin nasi kari masa sudah lupa." keluh Anelis yang terlihat gemas melihat tampang Freya yang kaget dengan muka polos. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri sesuatu.
"Kan tadi aku bilangnya ingin,kak. Bukan beli."
"Kalau kak Ane sudah terlanjur beli ya sudah."
"Berarti kak Ane sendiri nanti yang makan."
"Karena Freya ingin mencium Mas Bryan." Freya membayangkan saat ini Bryan ada di sampingnya dan dia bisa memeluk dan mencium aroma tubuh suaminya seperti yang dia lakukan dua minggu terakhir ini.
Anelis menempelkan punggung tangannya pada kening Freya. "Tidak panas." gumam Anelis.
Dia menatap Freya yang tersenyum sambil memejamkan matanya seperti tengah membayangkan sesuatu yang indah namun dilihat dari gerak bibir Freya, Anelis meyakini kalau adiknya yang baru dia kenal dan saling menerima beberapa jam lalu sedang membayangkan hal yang berbau mesum. Apalagi Freya tadi bilang "ingin mencium Mas Bryan."
Anelis menyeringai, dia punya ide jail untuk mengerjai adiknya yang terlihat polos tapi memiliki pikiran mesum itu. Dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju sofa ruang tamu. Dia berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya.
"Ya ampun Bryan!!!! Akhirnya kamu datang juga." ucap Anelis dengan suara lantang.
Freya yang mendengar nama suaminya di sebut langsung tersadar dari khayalan mesumnya bersama sang suami. Dia segera berdiri dan berjalan mendekati Anelis yang ada di ruang tamu.
"Mana Mas Bryan?" tanya Freya dengan wajah berseri dan mata yang berpendar terang menatap sekeliling namun tak menemukan sosok suaminya itu.
"Dimana Kak?" tanya Freya yang masih celingukan mencari keberadaan sosok suaminya.
Freya tidak melihat wajah Anelis yang terlihat puas mengerjai adiknya itu. Freya berjalan mendekati pintu dan membuka pintu itu siapa tahu Bryan masih ada di luar.
Ceklek
__ADS_1
Ditariknya pintu itu kedalam dan seketika raut wajah yang tadinya berseri dengan mata berpendar terang lenyap seketika dan berubah menjadi raut wajah syok tak percaya akan apa yang dilihat dihadapannya saat ini. Matanya tiba-tiba memerah dan berkaca-kaca. Bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun begitu sulit untuk dia ucapkan.
Freya masih mematung di depan pintu dengan tangan yang satu masih memegang gagang pintu dan satunya lagi menempel di dinding. Hingga suara Anelis yang tepat dari belakangnya membuat air matanya tiba-tiba luruh juga.
"Mama!!!"
Iya...Yang dilihat Freya dan berdiri dihadapan Freya saat ini adalah Marisa. Mama kandungnya juga Mama kandung Anelis yang tadi katanya pergi ke Belanda. Namun sosok itu saat ini tengah berdiri di depan pintu apartemen yang sempat dia tempati bersama Anelis.
Freya mengulum senyum tipis dan menghambur dipeluk kan wanita yang tadi sempat membuatnya kecewa karena pergi tanpa memberi tahu dirinya. Wanita yang sudah mengandung dan melahirkan dirinya.
"Mama.." ucap Freya dengan suara tercekat karena menahan tangisnya. Namun itu sia-sia saja saat Mama Marisa membalas pelukannya juga memberikan kecupan dipundak juga rambutnya Freya semakin menangis histeris. Dia semakin mengeratkan pelukan kepada Mama kandungnya itu.
Anelis tersenyum dalam tangisnya melihat Mamanya yang kembali lagi dan tidak jadi pergi. Anelis melangkah mendekat saat Mama Marisa mengulurkan tangannya pada anak sulungnya.
Mereka bertiga berpelukan dengan tangis bahagia juga dengan rasa haru. Mereka saling mengeratkan pelukan mereka seakan tidak ingin terpisah lagi untuk kesekian kalinya.
Hingga pelukan itu harus terlepas dengan terpaksa karena seorang kurir makanan mengantarkan pesanan yang Anelis pesan tadi untuk Freya.
Mereka bertiga duduk di meja makan dengan Freya duduk di samping sang Mama dan tangan kanannya masih saja memegang tangan kiri Mama Marisa.
Anelis yang duduk di depan sang Mama hanya menggelengkan kepalanya melihat Freya yang mau makan dengan disuapi sang Mama.
"Tadi katanya tidak mau makan nasi kari."
"Kenapa sekarang sudah tinggal setengah porsi?"
"Siapa tadi Ma yang makan?" goda Anelis yang melihat Freya begitu lahap saat makan hingga membuat Mama Marisa hanya menyuapi Freya saja tidak sempat untuk menyuapi dirinya sendiri.
"Freya tadi kan bilangnya ingin makan nasi kari bukannya tidak mau makan nasi kari." kilah Freya, dia tidak mau disalahkan. Karena menurutnya apa yang dia katakan tadi benar tidak salah. Dan sekarang ini dia sangat senang karena bisa makan dengan disuapi langsung sama Mama yang telah mengandung dan melahirkannya.
"Aishh....dari tadi berkilah terus."
"Bisa-bisanya Bryan sabar menghadapi istri yang manja seperti kamu itu."
"Karena setahu ku Bryan itu manusia dingin dan kaku juga sedikit arogan."
"Ahhh iya... dia juga posesif." Anelis mengingat sikap Bryan yang dulu padanya yang begitu posesif pada dirinya yang tidak boleh memiliki teman laki-laki juga main kemana-mana tanpa dirinya. Dan itu membuat Anelis muak hingga akhirnya dia dekat dengan Andre dan jatuh cinta pada Andre.
Dan jujur saja sampai saat ini Anelis tidak pernah ada rasa apapun sama Bryan. Dulu dia hanya senang saja saat Bryan menyatakan cinta pada dirinya. Siapa sih yang bisa menolak pesona Bryan waktu itu. Anelis dulu hanya ingin menjadi terkenal saja, makanya dia menerima cinta dari Bryan. Dan ternyata semakin lama Anelis semakin muak dengan sikap-sikap Bryan yang selalu mengekangnya dan begitu posesif terhadap dirinya.
"Mas Bryan memang dingin, kaku juga arogan dan sombong, tidak lupa dia juga posesif, dan aku suka itu."
"Apalagi kalau dia marah atau frustasi karena tidak Freya kasih jatah."
Anelis mendengkus kesal, mencibir adiknya yang ternyata benar-benar memiliki otak mesum.
"Kau itu ya!! Kalau ngomong bisa difilter dulu nggak sih." Anelis yang geram lantas melempar potongan buncis yang ada di piringnya ke arah Freya. Saat ini Anelis memakan steak.
Freya tertawa puas akhirnya bisa membalas kejahilan Anelis yang tadi sempat mengerjai dirinya.
"Nggak kasihan apa kamu sama dua wanita jomblo ini."
"Kurang belaian kita berdua."
"Jadi gak usah bicarakan keuwuan mu dengan Bryan didepan kita." sungut Anelis yang tiba-tiba teringat Andre yang seperti berusaha untuk kembali padanya lagi.
"Kenapa kamu bawa-bawa Mama segala."
"Mama nggak merasa seperti yang kamu katakan." protes Mama Marisa yang tidak terima dibilang kurang belaian sama Anelis walau kenyataannya memang sudah 25 tahun dia selalu menjaga jarak dengan lelaki yang mendekatinya.
Freya mengikuti Mama Marisa yang pindah ke sofa karena tak terima dengan perkataan Anelis dan dia juga sudah selesai makan.
Freya bersandar di bahu sang Mama sambil memeluk Mama Marisa dari samping. Dia ingin mengenali bau tubuh Ibu yang telah mengandung dan melahirkannya itu. Wangi dan hangat itu yang Freya rasakan saat Mama Marisa membalas pelukannya.
"Mama jangan pergi lagi ya."
"Jangan tinggalkan Freya lagi."
"Hanya Mama dan Kak Ane yang Freya miliki saat ini." ucap Freya lirih karena hanya Marisa dan Anelis lah keluarga kandungnya saat ini.
"Mama tidak akan pergi lagi."
"Mama akan selalu ada untuk kamu."
"Maafkan atas keegoisan Mama dan Papa waktu dulu." Mama Marisa mengusap kepala Freya dengan lembut.
"Freya sudah memaafkan semuanya."
"Freya ingin hidup damai dan tidak memiliki musuh lagi."
"Memang kamu dulunya punya musuh?" tanya Mama Marisa yang memang tidak tahu apapun karena Anelis tidak pernah cerita apapun padanya. Yang dia tahu hanya Bryan yang saat ini suami dari Freya dulunya adalah mantan dari Anelis. Selebihnya dia tidak tahu.
__ADS_1
Freya mengangguk dan mengangkat kepalanya, "Itu salah satunya." Freya menunjuk Anelis yang masih menikmati steak yang baru saja dia makan dengan wajah cemberut.
"Tapi sekarang semua kesalahpahaman sudah selesai."
"Dan Freya ingin menikmati kehamilan kedua Freya dengan tenang bersama orang-orang yang Freya sayang." Freya tersenyum menatap Marisa sambil mengusap perutnya yang sudah ada sedikit perubahan walau belum kentara.
Mama Marisa membalas senyuman Freya dan juga ikut mengusap pelan perut putrinya yang tengah berbadan dua.
"Sudah berapa bulan kehamilan kamu, Re?" tanya Mama Marisa.
"Sekarang sudah 12 minggu."
"Padahal Freya tahunya baru beberapa minggu yang lalu, sekitar sebulan yang lalu."
"Ehhh nggak tahunya sudah 12 minggu saja." Freya terkekeh pelan mengingat dirinya yang sering lupa meminum pil penunda kehamilan mengakibatkan dirinya hamil.
"Freya kamu kenapa?" Mama Marisa terlihat panik saat tiba-tiba Freya berdiri dan berlari masuk kamar mandi.
"Mungkin muntah, Ma."
"Dari tadi dia muntah-muntah." kata Anelis yang sedang membereskan meja makan.
"Sudah enakan?" tanya Mama Marisa yang mengusap lembut punggung Freya.
Freya mengangguk, tapi wajahnya seperti menahan sesuatu dan akhirnya kembali muntah lagi. Nasi kari yang dia makan tadi keluar semua tanpa tersisa.
Freya terlihat lemas, dan dibawa keluar dengan segera sama Mama Marisa dari kamar mandi.
"Ini Ma." Anelis memberikan air hangat pada Mama Marisa yang duduk di sebelah Freya.
"Reya, minum dulu sayang. Biar enakan perutnya." Mama Marisa membantu Freya minum.
"Mas Bryan.." gumam Freya dengan mata berkaca-kaca. Dia saat ini benar-benar menginginkan suaminya itu.
"Bryan???!!!"
"Memang Bryan dimana?" tanya Mama Marisa pada Anelis.
"Dia masih di kantor dan katanya mau jemput kesini nanti sekitar jam tujuh jam delapan."
"Dan sekarang sudah hampir jam delapan." kata Anelis yang melihat jam di dekat TV menunjukkan pukul 19.48 menit.
Freya kembali muntah-muntah membuat Anelis akhirnya menghubungi Bryan mengingat Freya yang menyebut nama Bryan terus sambil menangis.
"Kamu dimana? Cepat kesini."
"Freya dari tadi muntah-muntah dan sekarang nangis nyebut nama kamu terus." tut tut tut Anelis langsung memutus sambungan telephone setelah berbicara dengan Bryan.
Bryan yang saat itu tengah menghitung juga mengecek semua total pengeluaran perusahaan langsung buyar konsentrasinya saat menerima telephone dari Anelis.
Bryan seakan lupa kalau istrinya itu akan mengalami morning sickness di petang hingga malam hari dan akan reda kalau sudah memeluk dirinya yang belum mandi. Dan Bryan juga lupa kalau tadi dia sudah berjanji pada Freya akan menjemput jam 7 malam.
"Ren..Selesaikan saja yang kamu kerjakan itu dan langsung kirim semua berkasnya ke rumah."
"Nanti aku cek lagi di rumah." Rendy mengangguk paham.
"Kamu lanjutkan yang aku kerjakan tadi." Bryan memberikan beberapa lembar kertas ke pada Julian.
"Selesai ini kalian boleh pulang."
"Kita lanjutkan besok sisanya." kata Bryan sebelum menghilang dari balik pintu.
"Nona Freya sekarang manja banget juga sering nangis dan marah gak jelas."
"Gitu amat orang hamil. Jadi takut hamil." Rendy bergidik ngeri membayangkan kalau dirinya hamil dan bertingkah aneh seperti Freya yang membuat Bryan pusing tujuh keliling.
"Astaga!!! kenapa aku jadi membayangkan kalau aku yang hamil." Rendy menjedotkan kepalanya di atas meja yang terdapat tumpukan kertas berserakan.
"Kenapa kau Ren?"
"Kurang belaian dari gadis bar-bar itu."
"Mau aku belai biar berdiri itu belalainya."
Rendy yang kesal melihat Julian menertawakan dirinya lantas menjitak kepala Julian yang ngomong seenak udel nya sendiri.
Julian itu kalau ngomong suka benar. Rendy memang kurang belaian dari Mama Mutia. Karena Mama Mutia sibuk dengan Alex.
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
thanks for like, comment, gift and vote
big hug 🤗🤗