
Freya terlihat sibuk mencari sesuatu di almari dapur. Dibuka tutupnya almari yang menyimpan kebutuhan pokok selama sebulan kedepan. Namun yang dicarinya tidak juga ketemu. Perasaan dia, sebelum dirinya menginap beberapa hari di rumah Mama Marisa persediaan makanannya masih ada dan sekarang dicarinya namun tak kunjung ketemu.
"Nona Freya cari apa?" tanya Surti yang melihat Freya yang sedari tadi mencari sesuatu yang tak ketemu.
"Ahhh...Surti!!"
"Kamu taruh mana stok bubur instan kuah soto yang pernah aku minta belikan itu?"
"Bukannya semuanya ditaruh disini?"
"Aku kemarin mintanya dibelikan satu kardus dan aku baru makan tiga bungkus saja."
"Tidak mungkin kan semuanya langsung habis." Freya terlihat begitu marah karena stok bubur instannya habis tanpa sisa padahal dirinya baru memakan beberapa bungkus saja. Dan setahu dirinya, di rumah ini tidak ada yang menyukai bubur instan seperti dirinya.
"Itu Nona!!" Surti terlihat panik dan bingung harus menjelaskannya bagaimana.
"Itu apa Surti...??!!" Freya geram pada Surti yang terlihat panik dan bingung itu. Tinggal menjelaskan saja apa susahnya sih, batin Freya yang geram.
"Itu Nona, bubur instan nya diambil semua sama grandma, dibawa ke rumah sebelah."
"Dan Surti juga lupa belum beli stok lagi."
"Maaf Nona."
Freya menghembuskan nafas perlahan, ternyata tersangka utamanya Oma Ami, Oma mertuanya.
"Ya sudah, tolong belikan lagi di market terdekat."
"Aku mau sarapan itu."
"Jangan lupa!! Rasa kuah soto." Surti mengangguk paham dan segera meluncur untuk membelikan apa yang diminta sama istri Tuan Muda.
"Mana buburnya?" tanya Mama Lea yang tidak melihat Freya membawa apapun setelah keluar dari dapur.
"Habis Ma, masih dibelikan sama Surti." jawab Freya sambil mengambil piring dan juga beberapa lauk.
Mama Lea terlihat mengerutkan keningnya, setahu beliau stok bubur instan yang Freya beli kemarin masih banyak dan baru dimakan beberapa bungkus saja, tidak mungkin habis dalam sekejap mengingat Freya sempat tinggal di apartemen Mamanya selama beberapa hari.
"Bunda!!!"
Freya menoleh dan melihat putrinya tengah berjalan ke arahnya bersama grandma juga grandpa nya.
"Pantesan tadi Bunda cari tidak ada."
"Ternyata bersama grandma sama grandpa ya." Freya membantu Maura menarik kursi untuk diduduki Maura.
"Iya Bunda. Habis mandi Maura langsung ke tempat grandma sama grandpa untuk diajak sarapan pagi disini."
"Biar tambah ramai." Maura tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putih nan rapi yang dimilikinya.
"Alvaro tidak ikut sarapan cucu menantu?" tanya Oma Ami yang tidak melihat Bryan berada di meja makan.
"Pasti cucu Mama itu sekarang sudah lemas dan tiduran dikamar seharian." jawab Papa Abri
"Maksud Papa apa?" Mama Lea benar-benar tidak paham dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya, padahal beliau tadi bertanya pada Freya, menantunya.
"Anak kamu tadi masuk ke kandang buaya."
"Baru sebentar sudah ketakutan dan diajak pergi begitu saja sama Freya." ujar Papa Abri yang terlihat kesal karena Bryan gagal menjalankan masa hukuman.
"Alvaro masuk kandang buaya?" sungguh, Mama Lea terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan sama suaminya itu.
Melihat Freya yang mengangguk, Mama Lea sontak tertawa terbahak-bahak. Bahkan Oma Ami juga ikut tertawa. Mereka semua tahu kalau Bryan itu takut sama buaya.
"Oma sama grandma kenapa sih Bunda?" Maura menatap Bundanya dengan bingung melihat Oma juga grandma nya tertawa begitu kencangnya. Seperti mendapat lotre, menang undian berhadiah.
"Maura mau tahu?" Maura menatap grandpa nya dan mengangguk cepat.
"Ayahnya Maura itu takut sama buaya."
"Dan tadi Ayahnya Maura baru saja masuk ke kandang buaya."
"Mungkin sekarang Ayahnya Maura malu untuk ketemu kita." Maura menetap tak percaya akan apa yang grandpa nya katakan.
"Benar itu Bunda? Ayah takut sama buaya?" Maura menatap Bundanya dengan menahan senyum dan mata berbinar.
"Hm...itu...?!!" Freya mengangguk ragu, takut saja nanti suaminya jadi bahan bully-an putrinya sendiri.
"Sayang....kamu mau kemana? Makan dulu!" ujar Freya saat melihat Maura yang langsung loncat turun dari kursi dan berlari.
"Mau ke kamar, lihat Ayah dan makannya di kamar saja bersama Ayah." teriak Maura dan berlari menuju kamar Ayahnya yang berada di lantai dua.
"Jalan saja nggak usah lari, sayang!!" teriak Freya yang terlihat khawatir tiap kali melihat Maura berlarian di tangga. Dirinya terlalu parno sendiri mengingat Maura yang pernah terjatuh dari tangga.
"Siap Bunda!!" Freya terlihat lega saat Maura menurut untuk jalan dan tidak berlari.
"Tadi Al sampai ken cing di celana lah?" tanya Oma Ami sambil tertawa membayangkan wajah Bryan yang ketakutan seperti apa.
"Tidak Oma, tapi sesampainya di kamar langsung lari ke kamar mandi tadi." jawaban polos Freya dan apa adanya itu membuat semua yang ada di meja makan sontak menertawakan Bryan, si Tuan Muda yang arogan, sombong, dingin dan tegas juga smart itu.
Freya menyengir saat menyadari apa yang baru saja dia ucapkan. Dengan tergesa Freya segera meletakkan dua piring untuk Maura juga Bryan dan juga tiga gelas susu.
"Freya ke kamar dulu."
Tanpa menunggu sahutan dari anggota keluarga yang lain, Freya bergegas menuju kamarnya di lantai dua menggunakan lift.
**********
__ADS_1
"Ayah!!! Ayah!!! Ayah!!!"
Suara teriakan Maura membuat Bryan yang tengah rebahan di ranjang sontak membuka matanya dan melihat sosok anak kecil berlari masuk ke kamarnya.
"Ayah!!" Maura naik ke ranjang dimana Ayahnya berbaring.
"Ayah!!"
Brughhh
Bryan memejamkan matanya saat Maura tiba-tiba naik keatas tubuhnya.
"Ayah!! Ayah takut ya sama buaya?" tanya Maura dengan bertopang dagu diatas dada Ayahnya.
Bryan menarik tubuh mungil putrinya dan didekap nya dengan erat. "Siapa yang bilang?"
"Grandpa.!!"
"Grandpa bilang kalau Ayah takut sama buaya."
"Benar Ayah?" tanya Maura sambil melepaskan diri dari dekapan Ayahnya.
"Grandpa itu bohong sama Maura."
"Semua itu tidak benar."
"Ayah tidak takut sama apapun, termasuk sama buaya." Bryan terlihat menahan kekesalannya karena Opanya memberitahu putrinya tentang dirinya yang takut dengan buaya.
"Beneran Ayah tidak takut?"
"Tapi kenapa semuanya tadi tertawa saat tahu Ayah masuk kandang buaya."
"Bunda juga tadi membenarkan kalau Ayah takut sama buaya." Bryan begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari putrinya. Istrinya juga membenarkan kalau dirinya beneran takut sama buaya.
"Freya!!!" Bryan terlihat geram dan mengeraskan rahangnya.
Bryan menatap Freya yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan juga minuman.
Freya tersenyum menatap suaminya juga putrinya dan meletakkan nampan di atas nakas.
"Mas Bryan kenapa?" tanya Freya yang melihat Bryan terlihat geram bercampur kesal itu.
"Ayah bilang kalau Ayah tidak takut sama buaya."
"Tapi kata grandpa tadi kalau Ayah takut sama buaya."
"Bukankah Bunda tadi juga membenarkan?" Freya menelan salivanya kasar mendengar perkataan Maura.
"Alamat..Mas Bryan pasti marah karena aku juga ikut membully-nya." batin Freya yang menyadari kenapa Bryan terlihat geram dan kesal itu.
"Maaf!!" ucap Freya lirih dengan menggigit bibir bawahnya. Dirinya tidak bermaksud ikut membully dan memberi tahu putrinya tentang suaminya yang takut dengan buaya. Dia hanya menjawab saja apa yang ditanyakan putrinya.
"Kenapa Bunda minta maaf?" Maura mengerutkan keningnya menatap sang Bunda dan beralih menatap Ayahnya diam dengan tatapan tajam.
"Ayah marah ya sama Bunda?" Maura menatap tajam Ayahnya dengan mata melotot sambil berkacak pinggang juga pipinya di gembungkan.
Bryan melirik Maura yang terlihat membela Bundanya itu. Bryan berusaha menahan untuk tidak tersenyum maupun tertawa saat melihat Maura yang begitu lucu dan menggemaskan.
"Ayah takut kan sama buaya? cemen." Maura mengangkat kedua jempol tangannya dan diputarnya kearah bawah dengan menjulurkan lidahnya.
Bryan melebarkan matanya, dirinya tidak percaya putrinya itu tengah mengejek dirinya. Kalaupun terus berkilah kalau dirinya tidak takut buaya pun sama saja. Pasti putrinya itu akan terus mengejek dan membully-nya.
"Kalau Ayah takut buaya kenapa? Hemmm." diangkatnya tubuh Maura dan digelitikinya tubuh putrinya itu hingga lemas.
"Ayah lepas!!"
"Geli Ayah!!"
"Ampun!!"
"Geli!!!"
"Bunda tolongin Maura!!"
Freya tersenyum melihat itu, suaminya tidak akan pernah marah lama kalau sudah berurusan dengan Maura juga dirinya. Meski terkadang Bryan marah pada dirinya, itupun hanya sekedar marah dan langsung meminta maaf ataupun langsung menghukumnya dengan olahraga ranjang.
"Bunda!! Ayah nakal." adu Maura yang telah berhasil lolos dari Ayahnya dan kini memeluk Bundanya dengan erat. Karena menerutnya, Ayahnya tidak akan menggelitikinya kalau sudah berdekatan dengan Bunda Freya yang tengah hamil. Ayah Bryan takut kalau terjadi apa-apa dengan dedek bayi yang belum lahir.
"Sudah yuk bercandanya."
"Kita makan dulu."
"Keburu dingin makannya."
Maura mengangguk, kebetulan dirinya juga lapar setelah perang dengan Ayahnya tadi.
"Makan dulu, Mas!" Bryan hanya berdehem dan berkutat dengan laptopnya.
"Ayah lihat apa itu?" tanya Maura yang melihat laptop Ayahnya tengah menampakkan gambar rekaman vidio di mini zoo.
"Itu kan Ayah."
"Jangan digeser dulu Ayah, Maura mau lihat dulu." Maura langsung berpindah duduk di pangkuan Bryan dan mengulangi rekaman vidio dari awal.
"Nggak bisa Ayah, tolong!!"
Bryan hanya pasrah saja dan mengulangi vidio rekaman CCTV yang ada di mini zoo. Rekaman yang menggambarkan dirinya tengah berkelahi dengan Rendy saat berebut penutup mata.
__ADS_1
"Hihihihi..Ayah sama Paman Robot rebutan penutup mata." Maura tertawa cekikikan sendiri melihat rekaman CCTV itu.
"Hilang sudah harga diriku di depan anakku sendiri." gumam Bryan yang sudah bergeser pindah duduk di dekat Freya.
"Yang sabar ya, Mas."
"Harga diri tidak akan hilang hanya karena takut dengan buaya. Itu manusiawi."
"Mas Bryan takut buaya dan Freya takut sama petasan."
"Terutama suara kembang api di tahun baru."
"Freya sangat takut dengan itu."
Bryan menatap Freya yang tersenyum meski matanya tidak bisa berbohong. Bryan melihat kesedihan dimata itu, apalagi saat bicara istrinya menatap Maura sendu.
"Maafkan aku." Freya tersenyum saat Bryan memegang salah satu tangannya.
"Apa trauma kamu sampai saat ini belum hilang juga?" tanya Bryan menatap sedih dan khawatir pada Freya.
"Sudah hilang dan sembuh kok Mas."
"Mas Bryan nggak usah khawatir dan merasa bersalah seperti itu."
"Freya sudah tidak apa-apa." ujar Freya dengan tersenyum.
"Tapi mata kamu tidak bisa berbohong sayang." Freya mencium tangan Bryan yang menangkup pipinya.
"Freya hanya teringat masa-masa dulu setelah kehadiran Maura."
Bryan lantas memeluk istrinya itu, begitu banyak kesalahan dimasa lalu yang telah dia buat pada istrinya itu tepat di tahun baru. Dua kejadian yang mengguncang mental Freya di saat tahun baru.
"Maafkan aku sayang." bisik Bryan.
Freya tersenyum dan mengangguk dalam pelukan Bryan dan memeluk erat suaminya itu.
"Bunda!! Mana sereal Maura?"
"Maura mau makan sereal sambil melihat Ayah sama Paman Robot yang lucu disini." kata Maura dengan mata yang fokus pada layar laptop.
Freya melepas pelukannya Bryan dan mengambil mangkuk kecil berisikan sereal dengan potongan buah pisang dan strawberry juga taburan kismis.
"Berdoa dulu dan pelan-pelan makannya nggak usah buru-buru." Maura mengangguk saja dan melakukan apa yang Bundanya perintahkan.
Freya memicingkan matanya melihat rekaman CCTV yang menampakkan sosok Rendy yang keluar dari kandang buaya dan bertemu Mutia.
"Rendy gagal dalam misi hukumannya?" Bryan mengangguk menjawab pertanyaan istrinya.
"Dan ketahuan sama Mutia." imbuh Freya dan mengambil sendok yang dipegang Bryan.
Bryan berdehem dan menerima suapan dari Freya.
"Dua lelaki yang dari luar terlihat begitu dingin namun saat berhadapan dengan buaya langsung menciut nyalinya." gumam Freya dengan menahan tawanya, sungguh lucu dan gemas saat melihat suaminya tadi yang ketakutan saat berada di kandang buaya ditambah Rendy yang sok berani, ternyata takut juga.
"Tertawa saja nggak usah ditahan seperti itu." Bryan terlihat kesal karena lagi-lagi istrinya menertawakan ketakutannya akan buaya.
"Jangan marah dong." Cup. Freya mengecup singkat ujung bibir Bryan.
"Kan sudah dapat maaf dari Freya."
"Jadi ntar malam Mas Bryan bisa jenguk Bryan junior." Freya melihat Bryan yang terlihat menahan senyumnya dan pura-pura masih marah.
"Tapi karena Mas Bryan masih marah, jadi ntar malam tidak bisa menjenguk Bryan junior." Freya tertawa saat Bryan melebarkan matanya menatap dirinya.
"Tadi bilang bisa menjenguk, kenapa sekarang bilang tidak bisa menjenguk."
"Belum ada semenit Freya kamu bilangnya tadi." Freya bukannya menjawab, dirinya justru tertawa melihat ekspresi suaminya yang terlihat kesal karena tidak mendapatkan jatah olahraga ranjang.
"Kau!! Memang minta di ***** yak." Bryan yang geram dengan istrinya yang tertawa terus itu akhirnya meraih tengkuk Freya.
Cup
Bryan membuka matanya melihat Maura yang melotot menatapnya.
"Sial!! tangan anakku sendiri yang aku cium." geram Bryan dalam hatinya.
"Sudah puaskan cium Mauranya."
"Sekarang Maura mau pinjam Bunda buat nyuapin Maura."
"Ayah sudah besar dan Ayah bisa makan sendiri."
Freya tertawa melihat Bryan yang diam saja tidak percaya dengan apa yang baru saja Maura lalukan.
"Itu hukuman buat Ayah."
"Karena saat ini Paman Robot juga masih dihukum sama Mama."
"Jadi impas deh."
"Ayahnya Maura juga calon Papanya Maura sama-sama dihukum."
Freya juga Bryan saling pandang setelah mendengar perkataan Maura barusan. Tahu dari mana pikirnya. Karena tidak ada yang memberi tahu Maura sama sekali dan di rekaman CCTV itu tidak ada suaranya.
"Apa Maura punya indera ke-enam?"
Pikiran Freya juga Bryan berkelana kemana-mana. Selain pintar dan cerdas, ternyata anaknya itu juga punya indera ke-enam. Sungguh pemikiran yang luar biasa dengan khayalan mereka masing-masing.
__ADS_1