Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Fashion Terbaru


__ADS_3

Pagi ini Bryan tampak begitu tidak semangat semenjak gagalnya acara kejutan dinner romantis yang dia siapkan untuk sang istri saat di kota S. Padahal mereka sudah kembali lagi ke kota J dan Freya tidak mau bicara sama sekali pada dirinya dan ini hari kedua Freya mendiami dirinya dan acuh terhadap dirinya. Bryan sendiri sudah beberapa kali meminta maaf pada Freya, namun Freya sama sekali tidak menanggapinya.


"Hufftttt!!" Bryan menghembuskan nafas kasar saat Freya tidak menyiapkan baju serta jas kerjanya juga yang lainnya.


Dengan masih mengenakan handuk, Bryan terpaksa memilih sendiri kemeja juga setelan jas yang akan dia kenakan. Sulit, itu yang Bryan rasakan saat ini. Karena biasanya yang menyiapkan baju kerjanya itu Freya dan sebelum menikah dulu Rendy yang menyiapkan semuanya untuk dirinya. Dia hanya terima beres saja dan sekarang dia terpaksa menyiapkan keperluannya sendiri karena sang istri sedang mendiami dirinya.


"Pakai yang mana ini?" Bryan bingung sendiri. Hampir setengah dari isi lemari dia keluarkan semua karena merasa tidak ada yang cocok dia kenakan hari ini.


"Kenapa warna sama modelnya sama semua sih?" gerutu Bryan saat sadar hampir seluruh isi lemari jas juga kemejanya hanya ada warna netral semua. Warna jas-nya hanya hitam, navy, gray dan dark gray, dan begitupun warna kemeja yang dimilikinya tidak jauh berbeda dengan warna jas yang dia miliki.


"Astagfirullah Mas Bryan!!" pekik Freya saat mendapati walk in closet nya berantakan. Kemeja dan jas berserakan dimana-mana di sekitar suaminya berdiri.


"Freya!!! Sayang!!! Kamu memanggil aku?" Bryan begitu senang saat mengira Freya memanggil dirinya. Lelaki dewasa yang sebentar lagi akan memiliki dua orang anak itu melangkahkan kali lebar setengah berlari mendekati istrinya yang tengah berdiri diambang pintu dengan tampang geram dengan tingkah laku suaminya.


"Sayang!! Kamu sudah tidak marah lagi sama aku?" Bryan memegang kedua lengan Freya dengan erat hingga membuat wanita berbadan dua itu meringis kesakitan.


"Aku senang karena kamu mau bicara lagi sama aku." senyum di bibir Bryan mengembang sempurna dengan tatapan mata yang begitu memancarkan cahaya kebahagiaan. Bahkan beberapa kecupan mendarat di wajah cantik Freya yang terlihat geram dan kesal itu.


Freya berdecak kesal pada suaminya yang sudah dia diamkan selama dua hari itu dengan beraninya mendaratkan kecupan di wajahnya. Tanpa mengatakan apapun Freya menyentak kedua tangan Bryan yang memegangi tangannya. Sebenarnya dia tidak marah sama suaminya itu, dia hanya kesal saja sama suaminya karena menyamakan dirinya dengan seekor singa. Istri mana coba yang mau disamakan dengan singa.


"Sayang, kamu masih marah sama suami tampan kamu ini?" Bryan membuntuti Freya yang terlihat sedang mencari baju yang akan dia kenakan sendiri. Karena hari ini dia akan mengantar Maura yang akan masuk sekolah untuk pertama kalinya setelah sekian lama hanya belajar home schooling setelah pindah ke kota J.


"Sayang, udah dong jangan marah-marah terus."


"Kasihan baby nya kalau Bundanya kerjaannya hanya marah-marah saja."


"Aku kan hanya bercanda saja kemarin."


"Kemarin kamu kan memang sedikit mirip sama singa."


"Tidak sedikit sih, tapi banyak. Benar-benar mirip kemarin itu." Bryan terus saja berbicara tanpa memperhatikan raut wajah Freya yang sudah berubah semakin kesal dan geram pada suaminya. Bahkan Bryan tidak menyadari istrinya itu sudah mengeluarkan air matanya saat dirinya terus disebut mirip singa.


"Hahaha...kemarin itu kamu sungguh mirip jelmaan singa betina."


"Singa betina yaaannnggggg..." Bryan tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Freya yang sudah tidak ada di hadapannya dan mendapati istrinya itu menangis di sofa.


"Astaga!!! Apa salah bicara lagi aku tadi?" Bryan merutuki lidahnya yang kenapa lemes banget hingga membuat istrinya itu tersinggung.


"Sayang!!!" dengan lirih Bryan memanggil Freya dan duduk bersimpuh di depan Freya.


"Udah dong jangan nangis lagi, aku tadi hanya bercanda. Maaf ya.." ucap Bryan dengan memegang kedua tangan Freya yang terlihat memalingkan wajahnya itu.


"Senyum dong! Dikit saja nggak usah banyak-banyak."


"Seperti ini." Bryan tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putih nan rapinya.


"Atau seperti ini." Bryan menjulurkan lidahnya dengan mata mendelik.


"Itu namanya Mas Bryan meledek Freya." Freya semakin kencang nangisnya saat Bryan meledeknya, menggodanya.


Bryan tersenyum kecil melihat istrinya yang merajuk dan memeluk tubuh Freya meski gerak tubuh sang istri menolak pelukan darinya.


"Udah ya jangan nangis lagi."


"Aku minta maaf, dan aku janji tidak akan mengatai kamu lagi."


"Nanti kamu juga boleh menghukum suami kamu ini sesuka hati kamu."


"Tapi ingat, jangan yang berhubungan dengan buaya." Sontak saja Freya langsung menghentikan tangisnya dan menatap mata suaminya itu dengan mata berbinar dan terlihat sembab.


"Benar Freya boleh menghukum Mas Bryan sesuka hati Freya?" Bryan berdehem dan menganggukkan kepalanya sambil menghapus air mata yang jatuh di pipi sang istri.


"Kalau begitu Freya akan memberi hukuman buat Mas Bryan sebanyak tiga hukuman." ujar Freya.


"Tiga!!" ulang Bryan yang tidak percaya istrinya itu akan memberinya tiga hukuman.


Freya berdehem dan menganggukkan kepalanya, "Kalau tidak mau ya sudah, tidak ada maaf dari Freya dan nggak usah dekat-dekat dengan Freya lagi." Freya berdiri dan kembali mengambil baju yang tadi belum sempat dia ambil.

__ADS_1


"Tapi itu banyak sayang."


"Satu saja ya hukumannya, nggak usah banyak-banyak." tawar Bryan yang tidak mau mendapat hukuman yang aneh-aneh dari Freya meski dia sendiri yang mengatakan boleh memberinya hukuman.


"Sial!! Aku lupa sekarang kalau Freya semenjak hamil jahilnya minta ampun." gumam Bryan yang merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang baru saja dia katakan pada Freya.


"Tiga atau Mas Bryan tidak akan pernah melihat Freya juga kedua anak Mas Bryan lagi." ancam Freya dengan menatap tajam suaminya itu.


"Jangan seperti itu dong sayang."


"Mana bisa aku hidup tanpa kamu juga kedua anak aku."


"Terlebih kamu. Aku tidak bisa jauh dari kamu." Freya menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat tampang Bryan yang begitu memelas untuk tidak meninggalkan dirinya.


"Ya sekarang Mas Bryan pilih."


"Tiga hukuman atau...." belum juga Freya melanjutkan kalimatnya sudah disela oleh Bryan.


"Iya-iya tiga hukuman."


"Tapi kamu janji jangan pernah tinggalkan aku."


"Kecuali kematian." Freya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengiyakan janjinya yang tidak akan meninggalkan Bryan kecuali maut yang memisahkan mereka.


"Terima kasih sayang!!" dengan suka cita Bryan mencium wajah Freya bertubi-tubi dan berakhir dengan kecupan singkat di bibir.


"Ck...Freya belum memaafkan Mas Bryan ya." cibir Freya yang memang belum memaafkan suaminya yang menyebut dirinya seperti singa.


"Tidak masalah kamu belum memaafkan aku."


"Sekarang suami tampan mu ini minta tolong sama kamu untuk menyiapkan keperluan kerja suami kamu." Bryan mendorong tubuh Freya pelan menuju almarinya untuk mengambil kemeja juga setelan jas untuk dikenakannya.


"Manja!!! Apa-apa minta disiapkan." gerutu Freya sambil memilih setelan jas yang cocok untuk suaminya kenakan hari ini.


"Pakaikan!!" ucap Bryan dengan merentangkan kedua tangannya dengan senyum jahilnya.


"Manja banget sih."


"Sudah...Freya mau siap-siap dulu." Freya berlalu untuk mengganti pakaiannya sendiri.


"Ngapain di kamar mandi? Disini saja?"


"Gantian aku yang bantu kamu." ujar Bryan setengah berteriak saat Freya akan menutup pintu kamar mandi.


"Freya bisa sendiri." teriak Freya dari dalam kamar mandi.


"Tiga??? Kira-kira hukuman apa yang akan Freya berikan ya??" Bryan berfikir keras tentang hukuman yang akan Freya berikan untuknya.


"Semoga saja hukumannya tidak aneh-aneh."


"Kalau minta dibelikan saham akan aku hijabahi."


"Atau minta dibuatkan pusat perbelanjaan akan aku turuti." gumam Bryan dengan rasa percaya diri kalau memang Freya memintanya untuk melakukan itu.


"Ayah!!! Bunda mana?" tanya Maura yang mendekati Ayah Bryan yang tengah memakai sepatu. Maura menatap penampilan Ayahnya dengan tatapan bingung dan terasa aneh.


"Pagi cantiknya Ayah." Bryan mengusap kepala Maura tanpa merusak rambut Maura yang sudah dikepang dengan model yang rumit menurut Bryan.


"Bunda masih bersiap." jawab Bryan.


"Putri Ayah cantik banget sih pagi ini. Pakai seragam baru nih." goda Bryan pada sang putri yang mengenakan seragam sekolah barunya.


"Maura kan memang cantik dari dulu, Ayah."


"Siapa dulu Bundanya? Bunda Freya yang cantik gitu."


"Iya tidak Bunda?" tanya Maura pada Bundanya yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Anak Bunda memang cantik seperti Bunda."


"Tidak ada duanya. Muachh" jawab Freya dengan memberi ciuman dari jauh buat Maura.


"Ehhh...Ayah tidak terima."


"Ayah juga yang berkontribuksi didalam prosesnya."


"Masa Ayah Bryan yang paling tampan sedunia ini tidak diikut sertakan." protes Bryan yang tidak terima dirinya tidak disebut oleh putrinya sendiri.


"Ayah Bryan memang Ayah paling tampan sedunia."


"Tapi untuk hari ini, Ayah tidak tampan lagi." Maura menutup mulutnya untuk tidak kelepasaan tertawa.


"Kenapa tidak tampan? Ayah kan selalu tampan." protes Bryan dengan bersungut-sunngut karena dibilang tidak tampan.


"Ayah memang selalu tampan dan paling tampan sedunia."


"Tapi hari ini, Ayah seperti orang gila."


"Gila??" Maura mengangguk dengan senyum-senyum sendiri.


"Ayah!!"


"Hari ini Ayah tidak usah mengantar Maura ke sekolah saja ya."


"Soalnya Maura malu kalau sampai Ayah mengantar Maura ke sekolah."


"Kenapa?" Bryan mengerutkan keningnya bingung, padahal semalam Maura merengek untuk hari pertamanya masuk sekolah, dia ingin diantar Ayah dan Bundanya. Tapi kenapa hari ini dia bilang tidak mau diantar.


"Maura tidak mau diantar sama Ayah karena Ayah memakai jas dan berdasi juga memakai sepatu tapi tidak memakai celana."


"Ayah hanya memakai handuk saja."


"Ayah sungguh memalukan, mirip orang gila."


Bryan menunduk untuk melihat penampilannya dan benar saja dirinya lupa untuk memakai celana. Dirinya masih mengenakan handuk.


"Ini..ini...ini model terbaru. Fashion terbaru yang baru keluar pagi ini."


"Kalian saja yang belum melihat majalah pagi ini." ujar Bryan dan berlari ke kamar mandi untuk menutupi rasa malunya.


Freya tertawa terbahak mendengar pembelaan Bryan yang menurutnya tidak masuk akal itu. Dia pikir tadi saat dirinya bersiap untuk berganti pakaian, suaminya itu akan memakai celananya sendiri, tapi ternyata salah dugaannya, suaminya itu ternyata masih memakai handuk dan sudah mengenakan sepatu.


"Ayah kenapa keluar lagi?" tanya Maura saat melihat Ayahnya yang berjalan mengendap mendekati celana yang masih ada digantungan baju.


"Handuknya lembab, Ayah takut masuk angin." Bryan mengambil cepat celananya dan berlari lagi menuju kamar mandi.


Freya masih saja menertawakan tingkah konyol suaminya itu. "Kuwalat sama istri sendiri!" batin Freya yang merasa senang karena suaminya baru saja disebut seperti orang gila oleh anaknya sendiri.


Tok tok tok


Freya mengetuk pintu kamar mandi dimana suaminya masih berada di dalam.


"Impas kan Mas."


"Dari kemarin Mas Bryan ngatain Freya terus dan sekarang Mas Bryan dikatain sama anaknya Mas Bryan sendiri."


"Dadah suamiku..Freya tunggu dibawah ya." ucap Freya dengan nada mengejek suaminya.


"Ayo sayang, kita turun dulu buat sarapan." Freya menggandeng tangan Maura diajaknya menuju ruang makan.


"Sial!! Sial!!! Sial!!!" umpat Bryan yang merasa malu sampai di ubun-ubun.


"Pasti Ibu dan anak itu saat ini tengah menceritakan kejadian tadi pada orang rumah."


"Mana ditaruh mana muka aku."

__ADS_1


Arrgghhhh


Si monster yang berdarah dingin ternyata punya malu juga.


__ADS_2