Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Dua dari Tiga Nyawa


__ADS_3

Di hari yang sama dan waktu yang sama juga namun di tempat yang berbeda. Dimana saat itu Bryan tengah melakukan quality time di rumah di hari minggu bersama istri dan kedua anaknya serta Oma-Oma kece serta Caca si Aunty cantik dan centil. Mereka terlihat bercanda tawa menghabiskan waktu libur kerja untuk berkumpul dengan keluarga.


Di tempat yang berbeda, keluarga Rendy yang terlihat begitu tegang dan panik saat mendapati Mutia terjatuh di kamar mandi dalam kondisi hamil tua. Dengan kondisi pingsan tak sadarkan diri dan darah sudah mengalir deras di tubuh bagian bawah juga kepalanya nampak memar.


Rendy yang tadi penasaran karena Mutia mandi begitu lama akhirnya menyusul sang istri karena perasaannya yang tidak tenang. Namun, keterkejutan yang dia dapatkan. Istrinya pingsan di dalam kamar mandi dengan kondisi yang begitu mengenaskan tanpa sehelai benang pun.


Dengan bantuan Nino dan sang Mama yang segera memanggil ambulan, akhirnya saat ini Mutia sudah berada di meja operasi tengah ditangani oleh dokter.


Rendy terlihat mondar mandir di dekat pintu ganda berwarna putih yang diatas pintu terdapat lampu yang menyala merah, menandakan operasi sedang berlangsung.


Dia tidak diperbolehkan masuk untuk menemani istrinya didalam mengingat saat ini kondisi Mutia memang tidak memungkinkan kalau orang luar meskipun itu suami pasien untuk tetap berada di dalam, yang ada nanti justru menganggu konsentrasi dokter yang menjalankan tugas mereka.


Beberapa kali Rendy terlihat menghembuskan nafas kasar karena sudah hampir satu jam lebih namun operasi yang dilakukan tim dokter belum selesai juga.


Suami dari Mutia itu terlihat begitu takut kalau sampai harus kehilangan istri dan kedua anaknya. Bahkan lelaki yang biasanya terlihat kaku, dingin dan memiliki wajah datar itu sekarang sudah mengeluarkan air matanya mengingat keselamatan istri dan kedua anaknya.


Entah, akan jadi apa dia kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan istri dan kedua anaknya. Mungkin sudah masuk rumah sakit jiwa nantinya.


Ingin rasanya Rendy mendobrak pintu ganda itu untuk melihat kondisi istrinya dan kedua anaknya. Dia begitu tidak sabar untuk mengetahui dan melihat kondisi orang tercintanya saat ini. Apalagi sejak tadi dirinya tidak mendengar suara tangis bayi sama sekali.


"Semoga baby twins kita selamat sayang. Kamu juga harus kuat dan selamat. Papa nunggu kalian disini."


Tubuh Rendy luruh ke lantai karena sudah tidak bisa membayangkan lagi bagaimana kondisi istri dan kedua anaknya didalam sana. Begitu banyak praduga yang ada di otaknya saat ini.


"Kak, jangan duduk disini. Ayo pindah kesana."


Nino terus saja membujuk kakaknya yang sedari tadi memang tidak mau duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari ruang operasi.


Dia sendiri juga khawatir dengan kondisi kakak iparnya dan kedua calon keponakannya. Tapi kalau dia juga ikut khawatir dan sedih, siapa nanti yang akan menenangkan Rendy. Apalagi saat ini Mama mereka juga sedari tadi terus saja menangis memikirkan kondisi menantu dan calon cucu-cucunya.


"Mereka baik-baik saja kan, No? Kenapa dokter begitu lama menangani mereka? Mereka bisa tidak menyelamatkan kondisi istri dan anak aku."


Rendy terlihat emosi sendiri karena sedari tadi dirinya tidak dapat kabar apapun dari dalam ruangan yang masih tertutup rapat itu. Dia begitu menyalahkan dokter yang begitu lama melakukan tindakan penyelamatan.


"Sabar kak. Lebih baik kak Rendy tenang, berdoa semoga kak Mutia dan kedua anaknya baik-baik saja. Mereka semua selamat."


Nino yang biasanya hanya mementingkan main dan makan itu terlihat begitu bijak saat memberi ketenangan dan kekuatan untuk sang kakak.


Bukannya kalau kita terlalu sedih dan mengkhawatir kan keadaan orang itu memang baik, namun jauh lebih baik lagi kalau kita mendoakan keselamatan mereka. Biar nanti kita bisa berkumpul lagi dengan mereka. Itu yang ada dipikiran Nino saat ini.


Nino menuntun Rendy untuk duduk di samping sang Mama yang sedari tadi terus saja menangis. Keduanya nampak saling berpelukan dan saling mengutarakan kekhawatiran mereka masing-masing.

__ADS_1


"Rendy tidak mau kehilangan mereka, Ma. Mereka separuh jiwa Rendy. Nafas Rendy. Mereka itu hidup Rendy."


Mama Asti yang juga masih menangis dan masih memeluk Rendy hanya bisa mengusap punggung anaknya dengan lembut. Beliau sendiri juga tidak ingin kehilangan menantu dan kedua cucunya. Beliau sudah terlanjur sayang dengan Mutia dan anak yang dikandung Mutia. Meski awalnya dia terus saja memaksa Mutia untuk segera hamil. Dan sekarang saat Mutia sudah hamil dan mau melahirkan, justru menantunya itu harus mengalami kecelakaan di kamar mandi waktu mandi.


"Nino!! Bagaimana keadaan Mutia juga kandungannya?"


Nino menoleh saat ada seseorang yang bertanya kepada dirinya. Dia mendapati Bryan dan Freya ada disana dan terlihat baru saja sampai. Terlihat jelas keduanya tengah mengatur nafas mereka.


"Kak Bryan. Nino tidak tahu kak. Sudah satu jam lebih namun dokter belum keluar juga dan operasinya juga belum selesai sedari tadi."


Nino menjelaskan keadaan Mutia yang memang belum dia ketahui bagaimana kondisi kakak iparnya itu.


Bryan mengangguk paham. Dia tahu langsung menuju rumah sakit saat mendapat kabar dari Baron, anak buahnya Rendy yang mengatakan kalau Mutia dibawa kerumah sakit setelah jatuh dari kamar mandi disertai pendarahan.


Bryan duduk didekat Rendy dan menepuk pelan pundak Rendy. Ayah dua orang anak itu terlihat memberi semangat dan dukungan buat sahabatnya itu. Dia tahu bagaimana takutnya Rendy kalau sampai harus kehilangan salah satu dari ketiga nyawa yang tengah bertarung untuk tetap bertahan di dunia yang fana ini.


"Semua akan baik-baik saja. Serahkan sepenuhnya pada sang pencipta."


Bryan tidak menyangka Rendy akan mengalami semua itu dan ini baru pertama kalinya dia melihat Rendy begitu rapuh seperti kehilangan separuh jiwanya. Ternyata mantan asistennya itu punya hati yang lembut juga kalau sudah berhubungan dengan orang yang disayang dan dicintai.


Bryan tersenyum tipis saat melihat Rendy yang hanya mengangguk dengan kepala tertunduk untuk menyembunyikan air matanya yang sedari tadi menetes tak ada hentinya. Diliriknya Freya yang tengah memeluk dan menenangkan Mama Asti.


Rendy dengan tergesa, dia berdiri dan melangkah cepat menuju kearah dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. Dan dia yakini itu salah satu dokter yang menangani istrinya tadi didalam.


"Bagaimana keadaan istri dan kedua anak saya dokter?"


Rendy bahkan memegang salah satu lengan dokter lelaki itu karena tidak sabaran menunggu jawaban dna penjelasan akan kondisi istri dan kedua anaknya.


Dokter itu terlihat mengambil nafas dan dikeluarkannya perlahan sambil menatap kearah kelima orang dewasa yang ada di hadapannya. Dia menunduk sebentar saat menatap Bryan sebelum memberi tahu kabar dan kondisi didalam ruang operasi.


"Kami mohon maaf."


Dokter itu menundukkan kepalanya pada Rendy. Begitupun perawat yang ada di samping dokter itu juga ikut menundukkan kepalanya.


Rendy nampak tegang saat mendengar kata maaf dari dokter yang tangannya masih dia pegang. Keningnya semakin mengkerut memikirkan praduga yang tidak tidak terjadi pada istri dan kedua anaknya mengingat sama sekali tidak mendengar tangisan seorang bayi sedari tadi.


"Maksud dokter? Dokter tidak bermaksud memberikan kabar burukkan kepada kami?"


Dokter itu menatap Bryan yang tengah menatapnya tajam. Buru-buru dia alihkan tatapannya itu sebelum Tuan Muda itu kembali menanyakan sesuatu yang justru membuat dia kesusahan untuk memberi tahu kabar yang terjadi didalam.


"Mohon maaf. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari anak Nyonya Mutia."

__ADS_1


Freya menutup mulutnya mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut dokter itu. Berarti itu artinya salah satu bayi kembar Mutia dan Rendy sudah meninggal. Air matanya kembali tumpah. Dia tidak bisa membayangkan jika itu harus terjadi kepada dirinya. Harus kehilangan anak.


Bahkan Mama Asti sampai jatuh pingsan saat mendengar kabar itu. Wanita paruh baya itu langsung dibawa Nino ke ruang pemeriksaan daripada menyusahkan ketiga orang yang masih terlihat syok itu.


Rendy terdiam, pegangan tangannya pada tangan sang dokter terlepas mendengar apa yang dokter itu katakan. Menyelamatkan salah satu dari kedua anaknya. Berarti itu salah satu anaknya ada yang sudah...


Rendy menggelengkan kepalanya tidak percaya dan yakin kalau salah satu anaknya telah meninggal. "Dokter tidak bohong kan?"


Rendy langsung menggenggam erat kedua tangannya saat dokter itu menggelengkan kepala pelan. Itu artinya anaknya meninggal salah satu dan yang satunya selamat.


"Dan untuk istri, Tuan-"


Genggaman kedua tangannya Rendy mengendur saat dokter itu akan mengatakan kondisi istrinya, Mutia. Di tatapnya mata dokter itu dengan tatapan tajam dan dalam meski ada sorot kekhawatiran di dalamnya.


"Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Rendy dengan suara yang begitu pelan.


Kembali, dokter itu mengembuskan nafas pelan sebelum melanjutkan kabar kondisi pasien di dalam ruang operasi.


"Kondisi istri, Tuan. Mohon maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan Nyonya Mutia. Nyo-"


BUGHH


Belum selesai dokter itu menyampaikan kabar, Rendy sudah memberi bogem mentah pada dokter lelaki yang belum sempat menghindar itu.


"Beraninya kau memberi kabar bohong itu pada ku. Dibayar berapa kamu sama istri ku untuk menge-prank suaminya sendiri. Hah" bentak Rendy pada dokter yang hanya diam saja tanpa membalas perlakuan Rendy pada dirinya. Dokter itu tahu pasti Rendy sangat syok mendapat kabar kematian dari istri dan salah satu anaknya.


Rendy terlihat tertawa sendiri sambil memukul pintu ganda ruang operasi yang sudah dikunci kembali dari dalam. Dia terus saja memanggil istrinya itu untuk segera keluar karena dia tidak termakan prank yang sudah dibuat oleh istrinya.


"Hai Mutia!! Keluar kamu!! Nggak lucu. Nggak usah prank-prank segala. Ini sudah bukan jamannya prank lagi. Kalau mau prank nanti saja saat dirumah."


"Ayo sayang, keluar!! Papa menunggu Mama disini. Papa kangen ingin peluk dan cium Mama."


Freya menangis dalam dekapan suaminya. Dia tidak menyangka akan mendapat kabar buruk dua sekaligus dalam waktu bersamaan. Kehilangan sahabatnya untuk selamanya dan kehilangan salah satu anak dari sahabatnya yang baru saja lahir. Dua dari tiga nyawa diambil dalam waktu bersamaan.


Apalagi saat ini dia melihat Rendy yang terlihat tertawa dan berbicara omong kosong sendiri di depan pintu ganda ruang operasi yang sudah tertutup kembali. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sakit dan hancurnya hati Rendy saat ini. Kehilangan separuh jiwanya dan darah dagingnya.


"Kenapa semua harus terjadi kepada Mutia, Mas? Dia orang baik meski sedikit bar-bar. Kenapa dia harus meninggal sekarang beserta bayinya?"


Bryan mengusap lembut punggung dan kepala Freya yang berada didekapannya. Diciumnya kepalanya istrinya itu begitu lama. Dia sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang Freya ajukan pada dirinya.


Semua itu sudah takdir, sudah ada garisnya sendiri. Seperti halnya mendapatkan keturunan, jodoh dan kematian. Bukankah itu takdir? Tinggal kapan waktu giliran kita tiba. Semua sudah ditulis di lauhul mahfudz.

__ADS_1


__ADS_2