Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Anak kita sudah menunggu


__ADS_3

Bryan melepas ciuman nya saat tahu kalau Freya menangis waktu dia cium. Dia juga meregangkan pelukannya.


"Kenapa kamu melakukan ini pada ku?" hik..hik..hik.. Freya memukul dada Bryan berkali-kali.


"Kamu jahat."


"Kamu jahat."


Freya terus mengulangi dua kata itu sambil terus memukul-mukul dada Bryan. Dia juga masih nangis sesenggukan.


Bryan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis melihat itu. Dia begitu gemas saat melihat Freya yang cemburu padanya. Bukankah itu tandanya Freya sudah mulai suka pada dirinya? batin Bryan entah kenapa berbunga-bunga saat tadi dia mendengar semua keluh kesah yang keluar dari mulut Freya.


Dia tadi menahan untuk tidak menjawab apa yang Freya katakan hanya untuk mengetahui sejauh mana Freya menyukainya. Dan ternyata Freya sudah mulai menyukainya. Ya walau hanya sedikit.


Bryan memeluk Freya yang terus memukul dadanya itu. Di dekapannya kepala Freya di dadanya juga tangan satunya memeluk pinggang Freya posesif.


"Kamu jahat Bryan." ucap Freya yang sudah mulai melemah suaranya. Pukulan di dadanya juga sudah tidak terasa lagi.


"Kenapa kamu melakukan itu pada ku dan juga Maura?" tanya Freya yang masih sesenggukan meski sudah tidak menangis lagi.


"Aku minta maaf." sesal Bryan yang tidak tega melihat gadis kecilnya menangis karena salah paham. Tapi dia juga gemas melihat Freya yang marah dan menangis karena cemburu.


"Apa kamu mau mendengar semua jawaban aku atas apa yang kamu tanyakan padaku tadi?" tanya Bryan yang terlihat menghirup wangi shampoo di rambut kepala Freya dengan memejamkan matanya.


"Kalau kamu diam saja berarti iya, kamu mau mendengarnya." sambung Bryan saat tidak mendapat jawaban dari Freya.


Bryan menghirup nafas dalam sebelum memulai bicara.


"Kamu juga Maura sangat berarti bagiku."


"Kalian segalanya bagiku."


"Kalianlah sumber kebahagiaanku saat ini dan seterusnya."


"Dan jangan tinggalkan aku di saat kita belum memulai semua ini."


"Jangan pernah tinggalkan aku." Bryan semakin mengeratkan pelukannya pada Freya meski Freya tidak membalas pelukannya.


"Aku sama Manda tidak akan pernah menikah."


"Selain aku tidak ingin, Mama sendiri yang membatalkan semua perjodohan ini dengan Manda tadi."


"Jadi kamu jangan cemburu dan marah sama aku yang akan menikah dengan siapa."


"Karena aku hanya akan menikah dengan Bundanya Maura Hanin Azzahra." Bryan tersenyum sendiri saat mengatakan itu. Dia baru sadar kalau dirinya itu terlalu percaya diri tiap kali berhadapan dengan Freya.


"Aku melamarmu selain dari rasa bersalahku juga aku ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku padamu."


"Juga karena aku ingin hidup berdua bersamamu dengan Maura juga anak-anak kita nantinya." Bryan mengatakan itu dengan pelan.


Dia menyesal karena baru menemukan Freya beberapa bulan yang lalu saat Maura ikut kompetisi Olimpiade yang dimana dia sebagai jurinya. Dia merasa bersalah akan apa yang telah dia lakukan terhadap Freya saat itu hingga menghasilkan Maura. Tragedi tahun baru yang merusak hidup Freya dalam satu malam. Bryan benar-benar breng sek. "Maafkan aku." gumam Bryan dan kembali mencium kepala Freya.


Dia semakin menundukkan kepala untuk melihat Freya yang sedari tadi hanya diam tanpa mengatakan apapun. Juga tidak mau membalas memeluknya.


Bryan menghembuskan nafas kasar saat tahu yang diajaknya berbicara justru tertidur. Wajar saja Freya tertidur karena jam sudah menunjukkan waktu tengah malam lewat. Ditambah Freya yang harus menemaninya menenangkan diri di kolam renang tadi.

__ADS_1


Namun setelah itu dia kembali menyunggingkan senyumnya. Dia gemas sendiri pada dirinya sendiri. Kalau tidur seperti ini dan tidak mendengar penjelasannya berarti Freya masih salah paham pada dirinya. Dan dia harus menjelaskannya lagi nanti setelah Freya bangun.


"Sabar Bryan..mungkin besok Freya masih marah padamu." Bryan menyemangati dirinya sendiri.


Diangkatnya tubuh Freya ke dalam gendongan nya ala bridal style. Dia melangkahkan kakinya menuju balkon dan melewati kolam renang. Di bukanya pintu kaca paling sudut. Pintu penghubung dengan kamar pribadinya di hotel.


Ceklek


Bryan masuk ke kamar yang lebih mewah lagi dari yang sebelumnya. Dia berjalan mendekat ke ranjang tidur berukuran king size dengan warna bed cover berwarna grey yang berada di tengah-tengah ruangan.


Bryan meletakkan tubuh Freya perlahan di atas ranjang yang begitu empuk dan nyaman juga begitu hangat saat Bryan menyelimuti tubuh Freya sampai di batas dada.


Diciumnya kening dan kedua pipi Freya. Tak tertinggal dua belahan kenyal yang sedikit terbuka itu. Dilu matnya belahan itu dengan lembut sebentar saja karena Bryan tidak ingin membuat Freya terbangun juga yang ada diantara selang kangan nya itu terbangun juga.


"Good night dear, sweet dreams." Bryan kembali mencium kening Freya lembut sebelum akhirnya dia tidur di sofa bed yang ada di bawah kaki ranjang.


Lebih baik dia tidur di sofa bed daripada tidur seranjang dengan Freya dan saat bangun nantinya Freya semakin marah sama dia. Apalagi Freya tadi tidak mendengarkan penjelasannya karena tertidur di pelukannya dalam posisi berdiri.


Freya terbangun dari tidur saat sinar matahari menerpa wajahnya. Dia menggeliat dan menarik selimut untuk menutupi kepalanya. Freya menghirup aroma wangi yang sangat di kenalnya dalam beberapa minggu terakhir ini. Wangi kayu-kayuan yang selalu dipakai monster mesum itu. Kenapa begitu sangat kentara wangi itu menyeruak dihidung nya.


Karena penasaran Freya akhirnya membuka selimut yang menutupi kepalanya.


"Monster!!!" teriak Freya saat mendapati Bryan berdiri di sisi ranjangnya dengan pakaian yang sudah rapi, dengan kemaja hitam juga rompi drak grey yang senada dengan jas dan celananya juga dasi berwarna grey.


Bryan memicingkan matanya saat Freya meneriakinya monster. Apa penampilan formalnya ini seperti monster? Bukankah wanita selalu suka melihat pria yang tampan dan gagah berpakaian formal seperti dirinya. Kenapa gadis kecilnya ini selalu menyebutnya monster? Freya tidak rabun kan? pikir Bryan.


"Kenapa kamu ada di kamar ku?" bentak Freya sembari melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya.


Freya takut kalau Bryan macam-macam sama dia. Dan kenapa Mutia membiarkan monster ini masuk, pikir nya.


"Yakin ini kamar anda, Nona?" tanya Bryan dengan menaikkan sebelah alisnya juga tersenyum sinis menatap Freya.


"Apa ini kamar anda Nona Freya?" tanya Bryan dengan gaya angkuhnya yang membuat Freya semakin geram, kesal dan marah tentunya sama Bryan.


Dia segera bangun dan turun dari ranjang di sisi sebelahnya. Dia lantas berjalan keluar dari kamar itu, dia tidak mau berdekatan dengan Bryan. Dia ingin kembali ke rumah sakit untuk menemui anaknya, Maura. Dia yakin, pasti Maura saat ini mencari dirinya. Karena Freya kemarin pergi saat Maura terlelap dalam tidurnya.


Bryan melihat saja kemana perginya langkah kaki Freya. Bryan menahan tawanya saat Freya membuka sebuah pintu yang di kira Freya adalah pintu keluar.


"Bryan!!!! dimana pintu keluarnya??" teriak Freya saat dia salah membuka pintu. Karena pintu yang Freya buka adalah pintu kamar mandi.


Bryan yang sudah tidak bisa menahan tawanya akhirnya tertawa terbahak-bahak mendengar suara teriakan Freya yang salah membuka pintu. Kalau sudah marah dan kesal dicampur cemburu, Freya semakin menggemaskan dimata Bryan.


"Puas kamu!!" Freya melotot pada Bryan


"Tertawa saja terus." sewot Freya dan masuk kembali ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Bryan langsung menghentikan tawanya setelah Freya masuk ke kamar mandi. Dia mengambil handphone nya dan mengirim pesan pada Rendy.


"Undur meeting jadi jam 10."


Dia juga memesan sarapan pagi untuk dititipkan ke resepsionis. Dia yakin Freya tidak mau makan disini. Makanya dia meminta koki hotel untuk membungkus kan makanan untuk mereka bawa ke rumah sakit.


"Aku mau kembali ke rumah sakit." kata Freya setelah keluar dari kamar mandi.


"Dimana pintu keluarnya?" tanya Freya tanpa menatap Bryan yang duduk di sofa sambil memainkan handphone nya.

__ADS_1


"Kamu nggak mandi dulu?" tanya Bryan saat melihat Freya yang masih dengan pakaian yang sama dan hanya wajahnya saja yang sudah terlihat lebih segar dan tatanan rambut yang sudah rapi walau hanya diikat biasa.


"Aku mau ketemu Maura." jawab Freya pelan.


Bryan menghembuskan nafas perlahan dan mengambil tas Freya yang ada disampingnya. Dia berdiri dan melangkah mendekati Freya.


"Ayo!!!" Bryan menggenggam tangan Freya namun segera di tepis Freya.


"Mana tas aku." Freya menyambar tasnya yang ada di tangan Bryan.


Bryan menarik nafas dalam, dia harus sabar karena Freya saat ini dalam mode marah.


"Mau ketemu Maura apa ndak?" tanya Bryan tegas.


"Kalau iya, sini tangan kamu." Bryan mengayunkan tangannya di depan Freya.


Freya menatap Bryan dengan kesal dan diambilnya tangan Bryan untuk mempercepat waktu. Karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu Maura.


Mereka akhirnya keluar dari pintu yang menghubungkan kamar sebelahnya yang melewati kolam yang tadi malam mereka buat untuk saling mendinginkan hawa panas.


"Tunggu disini dulu." perintah Bryan dan dia pergi ke resepsionis mengambil sarapannya.


"Freya..." Freya menoleh saat seseorang memanggil namanya.


"Kak Evan." Freya tersenyum pada Evan.


"Ngapain kamu disini pagi-pagi?" tanya Evan yang merasa heran karena ini masih pagi dan juga bukannya anaknya Freya masih di rumah sakit? Kenapa Freya pagi-pagi ada disini? pikir Evan.


"Kak Evan sendiri ngapain pagi-pagi disini?" tanya Freya balik karena dia belum menemukan jawaban yang cocok untuk menjawab pertanyaan Evan padanya. Nggak mungkin kan dia bilang kalau dia nginap di hotel bersama Bryan dan lebih parahnya lagi mengatakan kalau dia dan Bryan semalam hampir melakukan itu.


"Aku ada meeting disini pagi ini. Dan Aku harus menyiapkan semuanya sebelum dimulai." jawab Evan dengan senyum manisnya menatap Freya yang menurutnya makin hari semakin cantik. Tidak salah jika dirinya mencintai Freya.


"Sayang..Maaf ya nunggu lama." ucap Bryan dengan lembutnya dan juga memeluk Freya dari samping dengan posesif dan jangan lupa, Bryan juga mendaratkan ciuman di pipi kiri Freya dengan mesranya tanpa memperdulikan tatapan Freya yang melotot marah pada dirinya. Dan juga tidak memperdulikan pria setengah wanita yang berdiri mematung dihadapan mereka.


"Ayo, kita pulang."


"Anak kita sudah menunggu Ayah Bundanya yang tidak kembali dari tadi malam." sambung Bryan yang langsung membawa Freya pergi dari sana dengan tangan masih memeluk pinggang Freya posesif.


🍁🍁🍁


Have a nice day


Terima kasih buat kakak-kakak yang cantik dan ganteng yang sudah LIKE, VOTE and FAVORIT juga yang sudah KOMENTAR.


Terima kasih banyak buat kalian semua Reader kesayangan yang masih setia menantikan kelanjutan cerita Ayah dan Bundanya Maura.


Happy reading


Big hug from far away🤗🤗🤗


dewi widya


🍁🍁🍁


Bonus visual

__ADS_1


semoga kalian suka yahhh



__ADS_2