Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Ditinggal Pas Lagi Enak-Enaknya


__ADS_3

Maura begitu senang berada di sekolah barunya saat ini. Bukan senang karena sudah masuk sekolah, tapi anak kecil berusia 5 tahun yang sebentar lagi akan berusia 6 tahun itu begitu senang karena merasa bebas dari sangkarnya. Dia merasa bisa mengekspresikan setiap tingkah polah nya bersama teman-teman baru yang usianya dengan dirinya meski jarak usia Maura lebih muda satu sampai dua tahun dibawah mereka yang tidak bisa dia dapatkan selama menjalani home schooling selama hampir setengah tahun ini.


Maura bahkan sudah tidak memperdulikan Ayah dan Bundanya yang tadi mengantar dirinya ke sekolah. Setelah diantar masuk ke kelas barunya, Maura langsung bisa mengakrabkan diri dengan teman sekelas lainnya meski usianya terbilang masih kecil sendiri.


Maura berlari keluar dari dalam kelas saat melihat Ayah dan Bundanya masih berada di depan kelasnya. "Kenapa Ayah sama Bunda masih disini?" tanya Maura menatap Ayah dan Bundanya bergantian.


"Ayah sama Bunda pulang saja."


"Sebentar lagi juga kelas akan dimulai setelah perkenalan."


"Ayah sama Bunda kerja yang tekun biar mendapat uang yang banyak untuk Maura gunakan membelikan jajan buat teman-teman."


"Dan Maura minta tambah uang jajan lagi boleh." Maura menengadahkan kedua tangannya kepada Ayah Bundanya.


Bryan juga Freya menatap tak percaya dengan apa yang baru saja Maura katakan. Sungguh putrinya itu berbeda dari anak kecil lainnya yang sukanya meminta ataupun merebut mainan ataupun jajan milik temannya. Berbeda dengan putrinya yang lebih memilih membelikan jajan buat teman-temannya.


"Sayang, kan sudah Bunda kasih lima puluh ribu tadi dan Bunda juga sudah membawakan bekal buat Maura makan nanti." ujar Freya yang merasa tidak pantas anak sekecil Maura membawa uang banyak. Apalagi putrinya saat ini baru masuk sekolah dan baru duduk di bangku kelas 1 SD.


"Apa?? Kamu kasih Maura uang jajan hanya lima puluh ribu." Bryan begitu kaget saat tahu total uang jajan yang Freya berikan untuk Maura hanya lima puluh ribu.


"Hanya. Mas Bryan bilang hanya?"


"Lima puluh ribu itu banyak Mas buat anak kecil."


"Apalagi Maura baru kelas 1 dan uang segitu juga cukup buat traktir teman-temannya."


"Aku saja dulu waktu masuk SD tidak sampai seribu perak uang jajannya." Freya begitu tidak setuju dengan apa yang ada dipikiran suaminya saat ini. Dia tahu kalau suaminya tidak setuju dengan dirinya yang memberikan uang saku hanya lima puluh ribu buat Maura.


"Itu jaman kapan? Ini sudah tahun dua ribuan, uang segitu tidak cukup buat jajan Maura." Bryan mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar buat Maura.


"Ini nanti buat jajan kamu sama teman-teman."


"Dititipkan ke ibu guru dan bilang sama ibu guru untuk mentraktir teman sekelas." Maura menerima uang itu dengan senyum merekah di wajahnya. Dia begitu senang bisa mentraktir teman-teman barunya, karena dulu waktu masih sekolah di Kota Y dia selalu ditraktir sama teman-temannya yang tugasnya dikerjakan sama Maura.


"Terima kasih Ayah." Maura memeluk Ayah Bryan dengan rasa bahagianya karena sekarang dirinya bisa mentraktir teman-temannya.


"Ayah memang Ayah paling the best sedunia, paling tampan dan paling kaya." Bryan tersenyum bangga mendengar pujian dari putrinya. Karena apa yang Maura katakan itu benar adanya. Menurut dia sendiri, entah kalau menurut orang lain.


"Ini Ayah tambah seratus ribu buat ibu gurunya yang cantik itu." Maura mengangguk dan kembali masuk ke dalam kelas untuk menyerahkan uang pemberian Ayahnya kepada Ibu guru wali kelas-nya dan mengatakan apa yang dibilang Ayahnya tadi.


Freya melengos dan pergi begitu saja saat Ibu guru wali kelas Maura tersenyum pada Bryan dan suaminya itu juga membalas senyuman dari Ibu guru itu.


"Dasar lelaki, tak peduli ada istrinya tetap saja tebar pesona pada wanita lain." gerutu Freya yang kesal karena tidak biasanya suaminya akan peduli dengan wanita lain, apalagi belum dikenalnya.


"Sayang, ikut ke kantor dulu ya baru ke rumah Mama." kata Bryan setelah masuk ke dalam mobil.


"Freya mau ketemu Kak Ane sebelum dia pergi." ucap Freya dengan nada sewot dan ketus karena masih kesal pada suaminya yang tadi tebar pesona pada wali kelas-nya Maura.


"Sebentar tidak akan lama."


"Lagian Anelis perginya juga masih dua hari lagi."


"Nanti sepulang dari kantor atau mungkin besok juga masih bisa ketemu." Bryan melirik Freya yang terlihat tidak memperdulikan ucapannya. Dia tahu kalau istrinya itu marah pada dirinya karena tadi membalas senyuman dari wali kelas Maura.


"Bisa cemburu juga ternyata dia." batin Bryan yang merasa senang karena tidak biasanya melihat istrinya cemburu. Karena biasanya dirinya lah yang cemburu pada istrinya.


"Padahal tadi kan aku senyum buat Maura yang memberikan kiss bye untuk ku." Bryan mengingat saat tadi Maura memberinya kiss bye setelah menyerahkan uang kepada wali kelasnya dan bertepatan Ibu guru wali kelas Maura juga tersenyum pada dirinya.


Sepanjang perjalanan dari sekolah Maura ke perusahaan, Freya hanya diam saja menatap keluar kaca mobil tanpa mengajak Bryan bicara. Bryan sendiri juga disibukkan dengan beberapa email yang Bara kirim dan belum sempat dia bacanya kemarin.


"Freya, tunggu dulu di ruang kerja ku. Aku mau ketemu Papa dulu."


Freya menatap Bryan yang berjalan duluan menuju ruangan Papa Abri tanpa mengajaknya sekalian mengingat ruangan Papa Abri dengan ruang kerja suaminya hanya beda satu lantai saja. Tanpa banyak kata lagi, Freya menuju ruang kerja suaminya menggunakan lift karyawan.


"Bara!! Mana yang aku minta kemarin."


Freya menoleh saat mendengar suara Bryan yang memanggil Bara. Dikiranya dirinya akan menunggu lama ternyata hanya sebentar saja tidak sampai lima belas menit.


"Ini..Sesuai apa yang kamu minta kemarin." Bara menyerahkan beberapa berkas kepada Bryan.


"Sibuk lah dan jangan lupa tutup pintunya." ucap Bryan tanpa menatap asisten barunya. Dia terlihat melihat dan mengecek berkas yang dimintanya tadi sesuai yang dia minta apa tidak.


Freya hanya diam saja sambil membaca majalah bisnis yang tadi menemaninya selama menunggu Bryan kembali. Jujur saja, Freya paling tidak suka dengan suasana seperti saat ini. Saling diam dan sibuk sendiri.


"Mas,_"

__ADS_1


"Sebentar."


Freya mendengkus kesal karena suaminya sibuk sendiri dengan berkas yang Bara berikan tadi. "Tahu kalau hanya dijadikan patung lebih baik tadi pergi saja ke rumah Mama." batin Freya geram karena Bryan cuek terhadap dirinya.


"Nggak enak juga ternyata dicuekin." Freya menatap suaminya yang sering dia acuhkan dan dia diamkan. Bahkan dirinya juga sering marah-marah tidak jelas. Sebenarnya dirinya juga tidak ingin seperti ini, tapi entah kenapa semenjak hamil dirinya tidak bisa mengontrol emosinya.


"Maafin Freya ya, Mas." gumam Freya lirih yang merasa bersalah sama suaminya.


"Sayang sini!!" Bryan tersenyum menatap Freya sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Ini apa?" tanya Freya saat Bryan menyerahkan semua berkas yang tadi Bryan minta dari Bara.


"Buka dan bacalah." pinta Bryan.


Freya menatap Bryan sejenak yang terlihat tersenyum dan mengangguk pelan. Dengan perlahan Freya membuka dan membaca setiap lembar berkas. Salah satu berkas itu Freya sudah pernah melihat dan membacanya dan yang satunya lagi belum pernah dia lihat dan dia baca.


"Ini kenapa semua atas nama Freya?" kening Freya mengkerut menatap Bryan. Sungguh dirinya tidak paham dengan apa yang ada di tangannya saat ini.


"Kalau yang ini Freya tahu." Freya menunjuk berkas yang sudah pernah dia lihat dan baca bahkan meminta Bryan untuk menyimpannya.


"Ini semua property yang Mas Bryan berikan untuk Freya saat nikah kemarin sebagai maharnya."


"Tapi yang ini apa maksudnya?" Freya menyodorkan berkas satunya lagi yang belum dia pahami apa maksudnya itu. Kenapa semuanya atas nama dirinya.


"Ini semua milik kamu. Semua property itu milik kamu."


"Aku memberikan itu buat kamu. Kamu kelola sendiri tanpa campur tangan dariku."


"Kelak kamu bisa memberikan itu buat Maura saat dia dewasa nantinya." jelas Bryan dengan perasaan getir menahan sakit yang dia rasakan tiap kali mengingat Maura.


"Tapi kenapa sebanyak ini Mas? Ini terlalu berlebihan."


"Dan Freya tidak menginginkan semua ini."


"Freya hanya ingin kita selalu bersama dalam suka maupun duka."


"Meski Freya selalu marah tak jelas sama Mas Bryan." ucap Freya lirih diakhir kalimatnya.


Bryan tersenyum kecil dan merangkul hangat tubuh istrinya. Dia tahu istrinya itu sering marah tidak jelas karena bawaan hamil dan dia tidak mempermasalahkan itu.


"Kamu tidak salah, aku yang salah." dengan cepat Freya menoleh, menatap Bryan.


"Kamu benar, istri ku selalu benar tidak pernah salah." kata Bryan dengan menarik pelan hidung mancung Freya.


Freya mendengkus sambil mengusap hidungnya yang pasti saat ini memerah karena ditarik oleh Bryan meski pelan.


"Freya." Freya kembali menoleh menatap Bryan saat suaminya itu memanggilnya dengan suara lirih seperti bergumam.


"Maaf, aku tidak bisa memberikan harta waris ku kepada Maura."


"Aku tidak bisa mewarisi apapun untuk Maura meski secara biologis Maura itu darah daging ku."


"Maafkan aku membiarkan Maura lahir di luar nikah." ucap Bryan dengan suara bergetar dan mata memerah tanpa menatap Freya.


Freya terdiam mendengar apa yang baru saja Bryan ucapkan. Memang benar Maura lahir di luar nikah dan itu artinya Maura hanya mempunyai Ibu meski nyatanya Maura juga mempunyai Ayah. Namun nasab Maura ada di Ibu yang melahirkan, bukan Ayah yang menyumbang sper ma nya.


"Aku memberikan semua itu untuk kamu kelola sendiri, buat tabungan kamu kelak."


"Nanti apa yang kamu kelola dan kerjakan bisa kamu wariskan untuk Maura."


"Karena nasab Maura hanya pada Ibu yang melahirkannya, bukan pada Ayahnya meski aku adalah Ayah kandungnya." Bryan tersenyum pahit melihat istrinya yang saat ini menangis sambil menatapnya itu.


"Kenapa kamu menangis? Apa kamu terharu dengan apa yang barusan aku katakan? Atau kamu marah dan kecewa sama suami kamu ini?" Freya menggeleng pelan, dia bukan terharu ataupun marah dan kecewa pada suaminya. Dia hanya tidak menyangka kalau suaminya telah memikirkan masa depan Maura kelak.


"Terus kenapa menangis? Tadi pagi sudah nangis dan sekarang nangis lagi."


"Nanti tambah jelek gimana hayo...Nggak cantik lagi gimana nanti." goda Bryan sambil memencet hidung Freya yang memerah.


"Biarin, yang penting Freya sudah nikah dan suami Freya tidak bisa jauh dari Freya."


"Mau tambah gendut atau jelek suami Freya pernah bilang tidak akan pernah meninggalkan Freya."


"Kalau berani ninggalin Freya. Jangan harap bisa ketemu anak-anaknya." Bryan tersenyum dan mencium kedua pipi Freya dengan gemas dan dibawanya tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.


"Terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku."

__ADS_1


"Memberiku begitu banyak warna dalam hari-hari ku."


"Terima kasih istriku." Freya tersenyum dalam pelukan Bryan. Dia mengeratkan pelukannya saat merasakan ketulusan rasa sayang dan cinta Bryan untuk dirinya juga Maura.


"Besok kalau Maura sudah tujuh belas tahun, kita ceritakan semuanya."


"Aku tidak mau nantinya Maura tahu dari orang lain."


"Apalagi besok kalau Maura menikah aku tidak bisa jadi walinya."


"Dan jangan halangi aku untuk memanjakan Maura, menuruti apapun yang Maura inginkan."


"Karena hanya itu yang bisa aku berikan untuk Maura selain cinta dan kasih sayang juga melindunginya." Freya mengangguk dan melepaskan pelukan suaminya.


"Terima kasih Mas Bryan sudah memikirkan masa depan Maura."


"Freya tidak menyangka kalau Mas Bryan sudah menyiapkan semuanya untuk Maura."


"Terima kasih banyak suamiku. Maaf aku sering marah dan cuekin kamu selama hamil ini." ucap Freya dengan tulus.


"Maaf sudah diterima dan dimaafkan."


"Sekarang hapus air matanya dan tersenyum."


"Saatnya kamu memberi hadiah buat suami kamu." Freya berteriak minta tolong saat Bryan mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar pribadi. Dia tahu apa yang diinginkan suaminya saat ini.


"Ini masih pagi Mas, dan ini juga kita ada di kantor." Freya berusaha menghindar dari serangan tangan Bryan yang begitu nakal.


"Kantor kantor aku, tidak ada yang berani masuk tanpa seizin dari ku."


"Lagian kita juga pernah bercinta di sini."


Freya akhirnya pasrah juga karena dirinya sudah terbawa suasana dengan permainan tangan juga lidah dan bibir suaminya. Dia menikmati setiap sentuhan yang Bryan berikan pada tubuhnya.


"Mas Bryan mau kemana?" tanya Freya saat melihat Bryan yang tiba-tiba bangkit dan turun dari ranjang padahal tubuhnya sudah dipolosi sama suaminya itu.


"Tunggu sebentar sayang. Kebelet." Brakk...suara pintu kamar mandi tertutup kencang.


Freya melongo tidak percaya dengan tindakan suaminya barusan. Sungguh dirinya ditinggalkan saat sudah dipolosi, ditelanjangi oleh suaminya padahal nikmatnya hampir sampai di ubun-ubun.


"Kalau tadi kebelet ngapain ngajak olahraga segala sih. Menyebalkan!!" Freya melemparkan bantal ke arah pintu kamar mandi dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Ngapain juga aku tiduran dalam keadaan polos begini."


"Dikiranya aku lagi menunggunya nanti."


Freya segera bangun dan memakai kembali pakaiannya dan membenahi riasan wajahnya juga rambutnya sebelum keluar dari kamar pribadi suaminya.


Aku ke tempat Mama dulu


Makasih sudah membuatku pusing


Tolong transfer buat menghilangkan pusing di kepala istri kamu ini


dari istri cantik mu


Freya 💕


Bryan tersenyum membaca memo yang ditinggalkan istrinya untuk dirinya itu. Dia tahu apa yang istrinya itu rasakan saat ini, karena dia sendiri juga pernah ada diposisi Freya. Ditinggal pas lagi enak-enaknya.


"Dasar wanita, tidak jauh dari uang." Bryan mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu di handphonenya.


*****


"Kamu kenapa sih dari tadi lihatin handphone mulu?" tanya Anelis pada Freya yang sedari tiba di apartemen melihat handphone terus.


Freya berdehem dan menatap Anelis, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak apa." jawab Freya, namun dirinya kembali melihat handphonenya.


"Sudah satu jam tapi tidak dikirim-kirim."


"Menyebalkan banget sih." gerutu Freya yang kesal sampai melempar handphonenya pada sofa.


"Kalau lempar HaPe itu di lantai, jangan di sofa. Atau sekalian di lempar dari jendela sana biar rusak sekalian." sindir Anelis pada Freya yang nampak tidak mendengarkannya itu.


Klunting

__ADS_1


Buru-buru Freya mengambil handphonenya saat mendapatkan satu pesan masuk di handphonenya. Senyumnya merekah saat mendapatkan transferan dengan nominal yang tidak sedikit dari suaminya.


"Ma!!! Mama!!! Ayo kita shopping!!"


__ADS_2