
Belum juga istirahat, Maura terus saja menceritakan kegiatan yang dilakukannya selama mengikuti kompetisi. Dia juga bercerita kalau professor yang menjadi juri di dalam kompetisi olimpiade kemarin di sana sudah tua-tua, tidak ada yang lebih ganteng seperti Ayahnya, Bryan.
"Memangnya menurut Maura, ganteng itu seperti apa sih?" tanya Mama Marisa yang masih berada di kediaman Abrisam karena ditahan oleh Maura. Maura ingin tidur bersama Oma Mama, katanya. Panggilan khusus yang Maura berikan pada Mama Marisa, Mamanya Bunda Freya.
"Ganteng itu seperti Ayah yang smart, cerdas, tinggi, putih, badannya bagus dan banyak uangnya, memiliki usaha sendiri jadi bisa libur kapan saja saat Maura ingin ditemani Ayah."
"Juga seperti Paman Robot, sama Paman Alex juga Mister Kevin."
"Kalau Paman Andre tidak termasuk. Karena Paman Andre hanya bekerja sebagai dokter di rumah sakit saja jadi karyawan."
Kening Mama Marisa mengkerut saat Maura menyebutkan nama Paman Robot, karena dia tidak tahu siapa itu Paman Robot yang dimaksud Maura.
"Paman Robot itu siapa?" tanya Mama Marisa.
"Oma Mama tidak tahu?" Mama Marisa menggelengkan kepalanya menatap cucunya itu.
Huffttt
Maura menghembuskan nafasnya lelah, "Capek dehhh!!!"
Mereka semua tertawa melihat ekspresi Maura yang pura-pura lelah saat Mama Marisa tidak mengetahui siapa Paman Robot itu.
Freya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu, lima hari tidak bertemu dan melihat tingkah putrinya, sekarang ada saja ekspresi baru yang Maura tunjukkan. Entah siapa yang mengajari putrinya itu, yang pasti bukan Mutia juga bukan dirinya. Caca, mungkin itu satu-satu tersangka yang mengajari bahasa dan ekspresi aneh-aneh pada putrinya.
"Paman Robot itu yang kemarin menemani Maura ke Singapura bersama Mama Mutia juga Aunty Caca."
"Paman Robot itu adalah Paman Rendy, asistennya Ayah."
"Paman Robot itu yang selalu menemani Ayah kemana saja."
"Kata Aunty Caca, Paman Rendy itu seperti kacungnya Ayah."
"Memang kacung itu apa sih Bunda?" tanya Maura pada Bunda Freya, kerena dia sendiri juga tidak tahu apa itu kacung.
Freya merutuki kebodohan adik iparnya itu. Bisa-bisa iparnya ngomong seperti itu kepada anak kecil. Apalagi pada putrinya. Bagaimana kalau Bryan sampai tahu, habis sudah itu Caca karena sudah mengajari putrinya yang bukan-bukan.
Mama Lea yang juga ada di sana begitu malu pada besannya karena putrinya mengajari yang tidak-tidak pada cucunya. Beliau begitu geram pada Caca, ingin rasanya memarahi Caca saat ini juga.
"Apa Bunda, kacung itu?" tanya Maura sekali lagi yang kini sudah berdiri di depan Bunda Freya yang tengah duduk.
"Ehmmm itu...Kacung itu..!!" Freya masih mencoba berfikir, jawaban apa yang sekiranya pantas untuk anak kecil dan tidak merusak pikiran Maura yang masih polos itu.
"Mungkin maksud Aunty Caca itu kucing."
"Kucing Kan selalu mengikuti majikannya."
"Selalu menurut sama majikannya."
"Kan Paman Robot bekerja di perusahaan Ayah juga Opa, jadi Paman Robot nurut sama bosnya ditempat kerja."
"Dan kebetulan Ayahnya Maura lah yang menjadi bosnya Paman Robot."
"Jadi wajar kan kalau Paman Robot seperti kucing?"
"Mengikuti Ayah kemana saja." Maura mengangguk-ngangguk seolah dia langsung paham maksud dari penjelasan sang Bunda.
"Kalau seperti itu, Maura ingin jadi bos seperti Ayah."
"Tidak mau jadi kacung." upssshhhh....Maura buru-buru menutup mulutnya.
"Jadi kucing maksudnya." hehehe...tawa Maura sambil menggaruk kepalanya.
"Kalau Maura ingin jadi bos, Maura harus belajar sama Ayah Bryan atau Opa."
"Bukannya Ayah Bryan juga Opa Abri itu bos,seorang pemimpin?" Maura mengangguk mendengar penuturan Grandma. Benar, Ayah juga Opanya adalah seorang pemimpin di sebuah perusahaan besar. Dan Maura ingin seperti itu.
"Maura nanti akan belajar sama Ayah, sama Opa juga."
"Maura ingin membangun sebuah rumah sakit besar yang dimana nanti Maura yang jadi pimpinannya dan juga jadi dokter hebat di rumah sakit Maura sendiri."
Freya tersenyum, dia tahu itu impian juga cita-cita Maura sejak bisa bicara dulu. Tiap kali ditanya cita-cita Maura besok ingin menjadi apa, pasti jawabannya. "Mola inin adi dotel di lumah akit ang Mola endili banun dan Mola antina ang akal adi bosna."
(Maura ingin jadi dokter di rumah sakit yang Maura sendiri bangun dan Mola nantinya yang bakal jadi bosnya.)
"Wahhh....Cucu Oma kenapa hebat sekali." Mama Lea membawa Maura kepelukannya dan diciuminya wajah Maura dengan gemas.
Beliau dulunya tidak mau mengakui Maura meski sudah terbukti Maura adalah cucunya, namun lambat laun beliau menerima kehadiran cucunya meski dulu belum seratus persen yakin. Tapi sekarang dia begitu sayang sama cucunya itu, bukan karena Maura cerdas dan selalu mengikuti kompetisi olimpiade, melainkan karena Maura adalah cucu kandungnya.
Dan Freya adalah menantu yang hebat yang bisa mendidik Maura sendiri tanpa bantuan suami. Dan Alhamdulillah sekarang Freya juga Maura sudah berkumpul dengan putranya, Bryan. Dan sebentar lagi dirinya akan memiliki cucu lagi.
"Maura hebat karena anaknya Ayah Bryan sama Bunda Freya."
"Cucu dari Oma Mama juga Opa Abri."
"Juga cicit dari Grandma sama Grandpa."
"Dan merekalah yang membuat Maura hebat."
Mama Lea melepas pelukannya pada Maura. Beliau menatap Maura lekat. "Kenapa tidak ada nama Oma Alea disitu?" tanyanya karena namanya tidak disebut sama Maura.
"Kata Grandma, Oma Alea tidak bisa memberikan contoh yang baik buat anak dan cucunya." jawab Maura dengan tampang polosnya tanpa ada rasa takut dan berdosa sama sekali. Maura menjauh dari Oma Lea dan berlari ke arah Opa Abri yang baru saja keluar dari ruang perpustakaan menuju taman belakang.
Freya yang memang duduk di sebelah Mama Lea hanya mampu menahan tawanya sambil mengusap punggung Mama mertuanya saja. Dia tahu kalau saat ini Mama Lea tengah geram dan kesal pada Oma Ami, bukan pada Maura.
__ADS_1
"Mama dari dulu selalu saja seperti itu."
"Membuat nama Lea jelek di mata anak juga cucu Lea sendiri." geram Mama Lea dan berlalu pergi begitu saja. Beliau terlanjur malu dengan besannya.
"Merajuk..Merajuk..Merajuk terus kerjaannya."
"Nggak bisa diajak bercanda sedikit saja." gumam Oma Ami yang memang tidak pernah akur dengan menantunya itu.
"Freya tinggal ke kamar sebentar."
"Freya ingin menghubungi Mas Bryan, ingin tahu keadaan Bibi Asti juga adiknya Rendy." pamit Freya pada Mama Marisa juga Oma Ami.
Freya mengambil handphone milik Bryan yang tengah di charger. "Sudah penuh." gumam Freya.
Setelah handphonenya Freya aktifkan, belum sempat dirinya menghubungi nomor miliknya sendiri ada panggilan masuk dari Mutia.
"Kenapa Mutia menghubungi nomornya Mas Bryan?" gumam Freya yang tak kunjung menerima panggilan masuk dari Mutia hingga panggilan itu berakhir.
Kembali, nomor Mutia muncul di layar handphone Bryan. "Mungkin darurat." gumam Freya.
"Hallo Mut, ada apa?" tanya Freya setelah mengangkat panggilan dari Mutia.
Kening Freya mengkerut saat hanya ada suara tangisan diseberang sana. Pikirannya melayang kemana-mana. Apa terjadi sesuatu hal buruk pada Mama juga adiknya Rendy? Pasalnya saat ini Mutia juga Bryan tengah ke rumah sakit melihat kondisi adik juga Mamanya Rendy paska kecelakaan.
"Mutia!! Kamu kenapa?"
"Apa terjadi sesuatu hal yang buruk pada keluarganya Rendy?" tanya Freya dan justru dirinya semakin mendengar tangis Mutia yang semakin menjadi saat dirinya menyebut nama Rendy.
"Mutia!! Sebaiknya kamu jangan menangis seperti itu."
"Seharusnya kamu memberi semangat pada Rendy karena sedang berduka."
"Aku yakin, Rendy sekarang butuh kamu untuk memberinya semangat." ucap Freya dengan pelan dan lembut supaya Mutia berhenti menangis dan bersedih dengan keadaan yang terjadi pada Rendy dan keluarganya.
"Aku yang berduka disini."
"Bukan baji ngan itu." kata Mutia dengan pelan dan geram mengingat kelakuan Rendy tadi bersama wanita lain.
Freya mengerutkan keningnya semakin dalam mendengar perkataan Mutia yang sepertinya memendam sesuatu yang bikin hatinya sakit dan terluka. "Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Freya yang belum mengetahui apapun keadaan di sana.
"Kamu kenapa sih,Mut?"
"Coba kamu cerita ke aku pelan-pelan."
"Apa ini masalah Rendy?" tanya Freya dengan tenang mengingat masih mendengar suara tangis dari Mutia.
Mutia di seberang sana hanya diam dan mengangguk sebagai jawabannya.
"Jangan diam saja seperti itu."
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu hanya diam saja." sentak Freya yang geram pada sahabatnya itu.
"Rendy mencium seorang wanita." suara Mutia terdengar tercekat setelah keheningan beberapa detik.
"Oh..Rendy mencium seorang wanita." jawab Freya dengan lempengnya tanpa memperdulikan perasaan Mutia diseberang sana.
"Kenapa memangnya?"
"Bukannya kamu tidak mencintai Rendy?"
"Kenapa juga harus menangis?"
"Atau jangan-jangan, secara diam-diam kamu sudah memiliki rasa lebih pada Rendy?" tebak Freya yang memang mengetahu kalau Rendy suka sama Mutia dari suaminya, Bryan.
"Tidak mungkin aku sudah memiliki rasa lebih padanya."
"Aku begitu membencinya." sungut Mutia berapi-api, dirinya begitu benci kenapa dirinya harus menangis saat melihat Rendy berciuman dengan seorang wanita.
Freya terkekeh kecil mendengar perkataan Mutia yang menurutnya omong kosong itu.
"Ya..Aku tahu, nggak mungkin kamu menyukai Rendy yang memiliki masa lalu seperti Mas Bryan."
"Bedanya Rendy pemilih dan susah ditebak."
"Dia juga sudah berhenti lama semenjak kejadian yang menimpa aku juga Mas Bryan dulu." ujar Freya mengingat cerita yang pernah disampaikan oleh suaminya pada dirinya tentang Rendy disaat suaminya itu bercerita tentang Rendy yang menyukai Mutia.
"Freya!!! Apa aku jatuh cinta?" tanya Mutia karena hatinya begitu sesak saat mengetahui kejadian tadi saat Rendy tengah mencium wanita itu.
"Memang apa yang kamu rasakan saat ini?"
"Bukannya kamu membenci Rendy dan selalu bertengkar dengan Rendy."
"Tapi wajar saja kalau kamu sampai jatuh cinta sama Rendy karena Rendy selalu ada untukmu." Freya mengingat pertemuannya dengan Rendy di apartemen beberapa bulan yang lalu. Dapat Freya lihat kalau Rendy begitu memperdulikan Mutia meski mereka selalu bertengkar tiap kali bertemu.
"Tapi??? Benci dan cinta itu beda tipis."
"Apa yang harus aku lakukan Freya??" tanya Mutia yang sudah terdengar frustasi itu.
Freya menghembuskan nafas lelah. Dia sendiri juga tidak tahu. Dia sendiri juga bingung mengingat Mutia tadi mengatakan kalau melihat Rendy tengah berciuman dengan wanita lain.
"Mana aku sudah menerima perjodohan itu." imbuh Mutia dengan dengkusan kasar.
"Yang benar??" tanya Freya kaget, karena dia tahu bagaimana usaha Mutia untuk menggagalkan perjodohan itu.
__ADS_1
Mutia berdehem.
"Kamu tahu siapa yang dijodohkan dengan ku itu?" tanya Mutia.
"Ya tahulah..."
"Yudha, teman masa kecil mu yang gendut dan berkacamata." jawab Freya dengan semangat tanpa melupakan tawa senangnya.
Mutia mendengkus, jawaban Freya memang benar, tapi kurang tepat.
"Kamu tahu Yudha itu siapa?" tanya Mutia lagi
"Teman kecil kamu." jawab Freya cepat.
"Kurang tepat." sahut Mutia cepat karena lagi-lagi jawaban Freya tidak ada yang tepat.
"Terus siapa?"
"Nggak usah main tebak-tebakan deh." Freya kembali geram pada Mutia yang tidak langsung pada intinya.
"Rendy."
"Rendy Yudha Pratama."
"Asisten dari Tuan Muda Abrisam."
Mutia menjauhkan handphonenya dari telinganya saat mendengar teriakan Freya yang begitu kencang.
"Kamu serius??"
"Yudha itu Rendy yang saat ini bekerja sebagai asisten Mas Bryan?"
"Rendy itu Yudha yang akan dijodohkan dengan kamu?"
"Wkwkwkwkwkwk..Kalau sudah takdir, jodoh yang awalnya ditolak karena gendut kini mendekat dengan sendirinya dengan penampilan diluar ekspetasi."
Freya tertawa puas mengejek sahabatnya itu. Pantas saja Rendy begitu menjaga Mutia, ternyata dia tahu kalau Mutia dijodohkan dengan dirinya. Batin Freya.
Freya tidak menyangka kalau Yudah yang pernah dilihatnya di sebuah foto yang Mutia miliki itu adalah Rendy, asisten sang suami.
"Rendy benar-benar glow up."
"Memanglah, uang bisa merubah segalanya."
"Yang dulunya seperti kue lemper, sekarang sudah seperti proselin."
"Halus dan lembut."
"Ahhh..Kok aku kalah ya."
"Aku makin berisi semenjak hamil lagi."
"Hidungku makin hilang kalau aku tersenyum juga tertawa." Freya melihat penampilannya di depan cermin.
"Ini baru menginjak empat bulan tapi kenapa sudah naik begitu banyaknya." Freya menangis melihat timbangan berat badannya sudah naik 8kg selama dua bulan terakhir. Sekarang beratnya sudah 50kg.
"Nanti kalau aku gemuk bagaimana?"
"Mas Bryan masih suka nggak ya sama aku."
"Mau kamu makin gemuk, makin jelek dan tambah tua aku tak hanya suka sama kamu."
"Tapi aku akan tetap cinta dan sayang sama kamu."
Freya menoleh dan melihat Bryan berdiri tidak jauh dati dirinya. Freya semakin menangis dan membuat Bryan tertawa kecil sambil berjalan mendekati istrinya.
"Cengeng banget sih Bundanya anak-anak." Bryan membawa Freya kepelukannya.
"Benar Mas Bryan akan tetap cinta dan sayang sama Freya meski Freya bertambah gemuk, jelek dan tua." tanya Freya sesenggukan dengan sisa tangisnya.
"Iya sayang.." Freya tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Bryan.
"Nanti kalau Freya sudah lahiran, Freya akan menghabiskan uangnya Mas Bryan untuk Freya melakukan perawatan supaya glow up seperti Rendy."
"Masa istri seorang billionaire kalah sama asisten suaminya yang bisa se glow up itu."
"Kan malu."
"Nanti black card punya Freya di isi penuh ya."
"Kalau perlu punyanya Mas Bryan di kasih ke Freya juga."
"Supaya Freya cepat glow up nya."
Bryan terkekeh dan mengangguk saja mendengar perkataan Freya. Padahal Freya tidak perlu glow up sudah glow up sejak kecil.
Bryan jadi mengingat dulu saat awal bertemu dengan Rendy memang tidak setampan sekarang. Dulu asistennya itu gemuk dan berkacamata dan sedikit memiliki warna kulit gelap. Dan sekarang asistennya itu sudah glow up semenjak masuk kuliah di London dan bekerja bersama dirinya.
🍁🍁🍁
have a nice day
big hug 🤗🤗🤗
__ADS_1