
Bryan menghentikan laju kendaraannya di sebuah Indomayet. Dia ingin membelikan sesuatu untuk Maura. Putrinya itu paling suka makanan ringan yang bungkusnya bulat lonjong yang kalau dibuka isinya coklat. Sampai suatu hari Bryan berinisiatif akan membeli saham dari perusahan yang memproduksi makanan itu. Tapi sayang, Freya melarangnya untuk melakukan itu.
"Daripada Mas Bryan membeli saham mereka. Kenapa tidak menjalankan kerjasama sama perusahaan itu?" saran Freya kala itu.
"Jangan karena Maura menyukai itu, Mas Bryan jadi gelap mata dan akhirnya membeli saham mereka."
"Aku tidak ingin nantinya Maura akan menjadi anak yang manja dan sombong karena memilik segalanya."
"Aku ingin mengajarkan Maura hidup sederhana namun berkecukupan dan penuh rasa syukur akan apa yang dimilikinya saat ini."
Bryan menghembuskan nafas pelan mengingat perkataan Freya. Istrinya itu selalu membuat hatinya sejuk dan damai. Di rumah Bryan akan seperti anak kucing kalau bersama Freya, tapi berbeda kalau sudah diluar, Bryan akan over protektif pada istrinya.
Bryan segera turun dari mobil dan masuk ke dalam Indomayet mencari sesuatu buat Maura. Dia terus menelusuri rak makanan ringan juga coklat. Namun yang dicarinya tak kunjung ketemu. Lebih tepatnya Bryan tidak tahu dimana letaknya. Karena baru kali ini dia masuk ke Indomayet. Dan biasanya yang membelikan itu Freya kalau nggak begitu Caca, terkadang Mama Lea juga membelikan.
"Ini untuk pertama dan terakhir kalinya aku masuk ke sini." umpat Bryan yang kesal karena tak kunjung menemukan apa yang dicarinya.
Seorang karyawan perempuan Indomayet yang sedari tadi memperhatikan Bryan mulai dari masuk dan berjalan mencari sesuatu terus saja memperhatikan langkah Bryan. Hingga akhirnya dia mendekati Bryan yang nampak kebingungan mencari sesuatu.
"Permisi Tuan!! Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan perempuan pada Bryan dengan nada dibuat selembut mungkin dan tidak lupa dia menyunggingkan senyum termanis untuk mengikat sosok lelaki tampan di hadapannya saat ini. Bahkan kancing seragam kerjanya sengaja dia buka lagi supaya memperlihatkan belahan dada nya. Dia nampak terpesona dengan ketampanan yang Bryan miliki meski saat ini penampilannya agak berantakan. Tapi itu tidak membuat karyawan perempuan tidak tertarik pada Bryan,justru karyawan perempuan itu tidak berhenti tersenyum dan menatap binar pada Bryan.
"Dimana letak kinder joy, sis?" tanya Bryan dengan masih mencoba untuk bersabar. Ini pertanyaan Bryan yang kesekian kalinya namun tidak kunjung dijawab oleh karyawan perempuan itu.
Bryan mendengkus kesal, dia tahu kalau karyawan perempuan tadi berusaha menggodanya. Tapi maaf ferguso!! Bryan sudah memiliki pawang dan tidak tertarik dengan buah-buah yang dimiliki orang lain.Dia lebih tertarik dengan apa yang ada di balik pakaian yang Freya kenakan, semua yang ada di diri Freya. Dia lebih tertarik dengan milik istrinya.
Bryan langsung pergi dari hadapan karyawan itu dan bertanya pada penjaga kasir itu jauh lebih baik menurut Bryan. Karena yang menjaga kasir tidak seperti perempuan tadi, penjaga kasir nya lelaki. Jadi tidak mungkin Bryan akan digodanya.
"Dimana letak kinder joy?" tanya Bryan tanpa menatap penjaga kasir, matanya masih menelusuri beberapa rak mencari keberadaan kinder joy.
Penjaga kasir itu tersenyum ramah pada Bryan sebelum memberi tahu dimana letak kinder joy. "Ada di depan anda, Tuan." jawab penjaga kasir dengan sopan. Dia tahu lelaki di hadapannya saat ini adalah Tuan Muda Abrisam. Dan dia tahu seperti apa watak Tuan Muda itu karena sudah sering dia dengar dan dia baca di majalah bisnis.
Bryan menoleh menatap penjaga kasir sebentar kemudian sedikit menundukkan pandangannya dan benar saja apa yang dicarinya tadi ada di rak kasir.
"Saya ambil semua." kata Bryan.
"Kalau masih ada stok, saya ambil lagi lima box." imbuh Bryan.
Dengan cepat penjaga kasir itu meraih semua kinder joy yang ada di rak dan segera di hitungnya. Dia juga meminta temannya untuk segera mengambil stok di gudang. Dia tidak ingin membuat Tuan Muda Abrisam menunggu terlalu lama yang nanti akhirnya membuat Tuan Muda itu marah dan berakhir meratakan tempat kerjanya.
Setelah selesai pembayaran, Bryan meminta bantuan karyawan Indomayet untuk membawakan belanjaannya untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Bryan menatap sekeliling saat indra penciumannya mencium aroma kue yang begitu harum dan manis. Bryan melangkahkan kakinya ke sebuah toko kue yang ada di sebelah Indomayet. Bryan masuk dan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis dan sangat tipis. Dia melihat sebuah cake kesukaan Freya terpajang di etalase kue berjejer dengan jenis kue dan cake lainnya.
"Pasti Freya suka aku belikan itu." gumam Bryan dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi. Dia segera meminta karyawan toko kue untuk membungkus cake red valvet. Bryan juga menulis sebuah ucapan di sebuah kartu berbentuk love berwarna merah muda untuk dimasukkan ke dalam box kue.
Bryan tersenyum memandang box kue yang baru saja dia belikan khusus untuk Freya. Dia membayangkan pasti Freya akan tersenyum bahagia dan berterima kasih pada dirinya. Dan dia pasti akan mendapat ciuman dari Freya bahkan Bryan akan mendapat servis plus-plus dari Freya. Bryan terkekeh pelan saat membayangkan hal-hal mesum bersama Freya.
Diletakkannya kue itu di jok depan dan Bryan langsung tancap gas untuk segera pulang dan bertemu Freya. Dia akan memberi kejutan pada Freya, karena dia jarang bahkan tidak pernah di siang hari pulang ke rumah. Biasanya dia yang meminta Freya yang datang untuk menemuinya di kantor.
Sepanjang jalan Bryan bersenandung bahkan sesekali bersiul, dia terlihat tampak begitu bahagia. Dia seakan lupa atau mungkin benar-benar lupa kalau saat ini Freya tidak ada di rumah. Freya pergi meninggalkan dirinya sejak seminggu yang lalu.
Bryan bergegas masuk kedalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di depan teras. Dengan kedua tangannya, Bryan menenteng box kue dan juga sekantung kinder joy. Di belakangnya ada pengawal yang membawakan lima box kinder joy dan diletakkannya di meja makan sesuai arahan dari Bryan.
"Freya!!! Maura!!!!"
"Sayang!! Ayah pulang!!!"
Surti dan salah satu maid lainnya yang berada di dapur dan sedang duduk di lantai membuat rujak buah pesanan Mama Lea langsung mematung di tempat. Mereka berdua saling pandang, mereka begitu terkejut saat Tuan Muda mereka berada di rumah di siang hari. Dan itu jarang terjadi atau lebih tepatnya tidak pernah terjadi.
"Freya!!! Sayang, aku pulang!!"
"Aku beli sesuatu buat kamu." teriak Bryan karena Freya maupun Maura tak kunjung menampakkan batang hidung mereka.
"Maura!!!"
"Ayah pulang cantik."
"Pasti mereka bermain di kamar." gumam Bryan karena tidak mendapat sahutan sama sekali dari Freya maupun Maura.
__ADS_1
Bryan melangkahkan kakinya cepat, setengah berlari menaiki tangga menuju ke kamar Maura. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua bidadari nya. Entah kenapa Bryan begitu merindukan kedua bidadari nya itu. Ingin memeluk dan tak akan dia lepaskan.
"Kenapa aku sangat merindukan mereka?"
"Seakan aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka."
"Ohh ingin rasanya aku memeluk mereka."
"Terutama istri cantikku, Freya." gumam Bryan dengan terkekeh kecil melihat kekonyolannya sendiri yang sepertinya sudah bucin itu.
"Maura!! Sayang!! Ayah bawa sesuatu." kata Bryan setelah membuka pintu kamar Maura. Kening Bryan mengkerut, dia tidak menemukan siapapun di kamar Maura. Sepi dan kosong tak ada penghuni.
"Kemana mereka?" monolog Bryan.
Dia keluar dan menuju kamarnya dan sama saja di kamarnya juga tidak ada siapa-siapa.
"Mereka kemana? Apa mereka kekantor?"
"Tapi kan aku nggak minta mereka pergi menyusul ke kantor." gumam Bryan.
Bryan kembali turun ke lantai satu dengan tangan yang masih membawa kue untuk Freya juga kinder joy buat Maura.
"Pak Mun!!! Surti!!!" teriak Bryan memanggil kepala pelayan juga salah satu maid senior.
Surti yang masih di dapur langsung mengakhiri panggilan telephon pada Nyonya rumah. "Kamu lanjutkan bikin rujaknya, Nyonya sebentar lagi akan turun." kata Surti pada maid yang membantunya membuat rujak buah.
Surti langsung berdiri dan melangkah cepat menuju sumber suara sebelum nanti akhirnya dia kena marah sama Tuan Muda Abrisam.
"Lama banget kalian ini kalau dipanggil." sentak Bryan pada Surti juga Pak Mun yang datang bersamaan.
"Maaf Tuan." sesal keduanya sambil menundukkan kepala mereka.
"Dimana Freya sama Maura?"
"Kenapa rumah sepi?"
"Kemana perginya mereka?" Bryan terlihat marah karena tidak mendapati Freya dan Maura ada di rumah dan juga anggota keluarga yang lainnya juga tidak terlihat.
"Jawab!! kenapa kalian diam saja?" bentak Bryan karena tak kunjung mendapat jawaban dari kepala pelayan juga maid nya itu.
"I-itu Tuan. Nona Freya...Nona Freya pergi_"
"Apa kamu bilang?" sergah Bryan yang nampak terkejut membuat Pak Mun tidak bisa melanjutkan ucapannya. Sedangkan Surti hanya diam saja, dia takut kalau Tuan Muda marah dan akan menghukumnya atau lebih parahnya memecatnya.
"Pergi?? Pergi kemana dia?" tanya Bryan yang terlihat geram dan marah karena Freya pergi tidak memberi tahu kepada dirinya.
"Kemana Freya pergi?" bentak Bryan dengan nafas memburu menatap kedua orang yang berdiri menunduk di hadapannya.
"Bisa tidak kamu nggak usah teriak-teriak Alvaro." ucap Mama Lea sedikit lantang yang baru saja turun dari lift.
Dia menatap tajam pada anaknya itu. "Bryan sudah gila. Apa dia lupa kalau Freya pergi menghilang selama semingguan ini." batin Mama Lea yang merasa kasihan dengan nasib putra satu-satunya itu.
"Dimana Freya sama Maura, Ma?" tanya Bryan yang juga membalas tatapan Mama Lea tak kalah tajam. Setahu Bryan,Mama Lea tidak menyukai Freya. Bisa saja Mama Lea nantinya berbohong pada dirinya.
Mama Lea meminta Pak Mun juga Surti pergi dan sekalian membawa apa yang tadi dibawa Bryan yang sudah terkoyak di lantai.
"Malang sekali nasib kue itu. Aku yakin kue itu untuk Freya." batin Mama Lea menatap kue red valvet kesukaan Freya yang sudah tak terbentuk lagi yang sedang di bersihkan sama Surti.
"Apa kamu sudah lupa atau kamu memang sudah gila Alvaro?" tanya Mama Lea balik dan mendaratkan pantatnya di sofa tanpa menatap Bryan. Mama Lea justru melirik ke atas, lantai tiga dimana dia melihat Freya mengintip dari sana.
Mama Lea menghembuskan nafas lelah, "Anak muda jaman sekarang, ada masalah dikit-dikit lari, sembunyi, marah terus baikan. Begitu saja terus sampai air di lautan mengering. Kenapa nggak dibicarakan baik-baik terlebih dahulu." gumam Mama Lea dalam hati.
"Maksud Mama apa?"
"Bryan tidak lupa, Bryan juga tidak gila." Bryan tidak terima Mama Lea menyebutnya gila. Dia masih waras, kalau lupa mungkin iya. Bukankah Bryan lupa kalau Freya sudah seminggu ini menghilang, pergi entah kemana gara-gara dirinya.
"Bryan tanya sekali lagi sama Mama."
__ADS_1
"Dimana Freya juga Maura, Ma?" tanya Bryan dengan suara lantang. Kalau diingat-ingat Bryan sudah lama tidak pernah menghargai Mama Lea sebagai Ibu yang mengandung dan melahirkannya serta merawatnya saat kecil. Dia sudah tidak sayang lagi sama Mama Lea setelah Mama Lea menjodohkannya dengan Manda. Sejak saat itu Bryan sudah tidak lagi menghargai Mama Lea dan terkesan tidak peduli. Bahkan Bryan juga tega menghukum Mamanya sendiri.
"Mama tidak tahu."
"Yang Mama tahu Maura pergi bersama Caca." kilah Mama Lea, padahal saat ini Maura sedang tidur di kamar yang di tempati Freya untuk bersembunyi. Dan berharap Caca tidak pulang secepatnya. Bisa gawat kalau Bryan sampai tahu, karena nomor handphone nya Caca tidak bisa dihubungi sedari tadi.
"Kalau Freya, Mama tidak tahu."
"Dia sudah pergi selama seminggu ini."
"Dan itu karena ulah kamu sendiri, Alvaro." Mama Lea lantas berdiri dari duduknya dan pergi. Dia malas bicara lama-lama sama Bryan. Lebih baik kembali ke kamar setelah mengantarkan rujak buah buat Freya. Karena sedari tadi Freya muntah terus dan hanya bisa makan buah dan tadi dia meminta dibikinkan rujak buah, ingin makan yang asam-asam katanya.
"Surti!! Antar pesanan saya ke kamar." kata Mama Lea pada Surti yang masih terlihat di dapur.
Surti yang paham langsung bergegas mengikuti Mama Lea karena rujak buah untuk Freya yang tadi dibikin sudah siap.
Bryan menjatuhkan dirinya di sofa, pandangan matanya terlihat kosong. Rentetan kejadian beberapa minggu terakhir berputar di otaknya seperti kaset rusak yang terus berputar berulang kali. Otaknya dipenuhi gambaran Freya yang menangis dengan tatapan kecewa.
"Kenapa aku sampai lupa."
"Kenapa aku lupa kalau Freya pergi."
Bryan menunduk menumpukan kedua siku tangan di kedua lututnya, telapak tangannya dipakainya untuk menutup sebagian wajahnya.
"Kamu dimana sayang??"
"Aku sangat merindukan mu."
"Maafkan aku!!"
"Aku salah..Aku telah membuat kesalahan."
"Maafkan aku, Freya."
Freya yang melihat Bryan dari lantai tiga hanya diam saja. Dia menutup mulutnya untuk tidak mengeluarkan suaranya. Dia menahan air matanya untuk tidak jatuh tapi jatuh juga, Freya menangis melihat kondisi Bryan saat ini.
"Maafkan aku, Mas."
"Aku hanya ingin menenangkan diri aku sebentar."
"Aku juga ingin melihat betapa besar rasa cinta yang kamu miliki untuk aku."
"Aku hanya butuh pengakuan cinta dari kamu, Mas Bryan."
"Dan juga maaf dari kamu.
Freya langsung bergeser saat melihat Bryan bersandar di sofa dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca memandang langit-langit rumah yang begitu tinggi. Matanya fokus menatap lantai tiga yang beberapa hari ini jarang dia kunjungi untuk fitness.
"Aku merindukan mu, Freya."
"Aku merindukan mu, Mas Bryan."
"Sangat merindukan mu."
Mama Lea sudah sampai di lantai tiga, dia menggelengkan kepalanya melihat Freya yang menangis karena melihat Bryan. Bryan pun sama, dia juga terlihat menahan untuk tidak menangis tapi satu dua butir air mata jatuh dari ujung matanya.
"Ini baru seminggu dan mereka sama-sama saling merindukan."
"Bagaimana kalau sampai sebulan sesuai rencana awal Papa???"
"Bisa-bisa mati karena merindu mereka."
🍁🍁🍁
have a nice day
thanks for like, vote, comment and gift
__ADS_1
big hug from far away 🤗🤗🤗
dewi widya