
Bryan dan Freya terlihat duduk saling berhadapan di salah satu meja yang ada di cafetaria rumah sakit. Bryan yang tadi ingin berbicara dengan Freya mengajaknya ke restoran depan rumah sakit, namun Freya menolaknya, dia memilih cafetaria yang ada di rumah sakit. Alasannya karena kalau Maura terbangun dia tidak akan memerlukan waktu lama untuk berjalan. Apalagi sekarang yang menunggu Maura si Rendy manusia robot yang jarang sekali tersenyum, kaku dan selalu mematuhi perintah Bryan dengan cepat.
Freya hanya diam saja sambil mengaduk-aduk minumannya menunggu Bryan berbicara, karena dialah yang mengajaknya keluar untuk berbicara.
Bryan sendiri bingung harus memulai dari mana, dia berusaha tenang untuk menghilangkan kegugupannya. Berkali-kali Bryan terdengar menghela nafas dan melihat sekeliling cafetaria yang terlihat sepi pengunjung karena hari sudah sore.
Freya yang sudah tidak sabar menunggu karena Bryan tak kunjung bicara juga akhirnya dia duluan yang bertanya, "Apa yang ingin Tuan Bryan bicarakan dengan saya?"
Bryan menatap Freya yang duluan bertanya. Bryan berdehem untuk menetralkan suaranya. "Kenapa tadi anda bilang belum siap? Apa anda tidak ingin menikah dengan saya?" tanya Bryan dengan angkuhnya.
Freya tersenyum kecut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Bryan yang arogan. Freya menyeruput minumannya sedikit dan menjauhkan gelasnya untuk lebih leluasa memandang wajah Bryan yang memang rupawan itu.
"Saya belum siap karena saat ini Maura masih dalam masa pemulihan dan,-" Freya menyunggingkan senyum manisnya pada Bryan,
"Siapa sih yang tidak menginginkan menikah dengan anda Tuan Muda Abrisam."
"Seorang pria dewasa yang masih terlihat muda dengan tampang yang rupawan dan ber-IQ diatas rata-rata juga seorang pengusaha muda yang begitu terkenal akan kehebatannya."
"Tidak ada wanita yang tidak ingin menikah dengan anda."
"Pasti banyak wanita yang ingin menikah dengan anda."
"Berarti kamu maukan menikah dengan aku?" tanya Bryan spontan tanpa pikir panjang menggunakan aku kamu seperti saat dia dan Freya berhadapan dengan Maura atau saat menenangkan Freya sendiri. Bahkan ekspresi Bryan membuat Freya terkekeh karena lucu.
Bryan yang tersadar langsung berdehem dan pura-pura membenarkan dasinya. "Sial!!! Ekspresi bodoh apa yang aku tunjukkan tadi ke Freya." umpat Bryan kesal.
"Maksud saya, anda termasuk salah satu wanita yang ingin saya nikahi." kata Bryan dengan percaya dirinya.
Freya memicingkan matanya sambil menahan untuk tidak tertawa. Dia berdehem. "Menikah dengan anda adalah keinginan setiap wanita, namun tidak dengan saya." ucap Freya dengan menyunggingkan senyum tipis.
"Kenapa?" tanya Bryan karena Freya tidak termasuk wanita yang menginginkan dia nikahi.
"Karena anda yang telah merusak hidup saya." jawab Freya cepat tanpa menatap Bryan, senyum yang dia sungging kan tadi telah lenyap berubah menjadi amarah dan kekecewaan pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga diri.
Bryan yang tahu akan maksud dari jawaban yang Freya berikan semakin merasa bersalah.
"Tapi saya sudah minta maaf saat di kota S waktu itu dan anda juga sudah memaafkan saya." kata Bryan menatap lekat Freya yang masih terlihat memalingkan wajahnya itu.
"Siapa yang bilang saya sudah memaafkan anda." ketus Freya menatap Bryan kesal.
"Saya sama sekali belum memaafkan anda." mata Freya berkaca-kaca menatap Bryan.
"Apa anda tahu bagaimana kehidupan saya waktu hamil Maura dulu?"
"Apa anda tahu begitu banyak cacian dan hinaan yang mereka lontarkan orang saat tahu saya hamil di luar nikah?" hik..hik..Freya yang sudah tak kuasa menahan air matanya akhirnya menangis. Dia menunduk membiarkan air matanya itu tetap jatuh.
"Aku sendirian saat itu."
"Hanya Ibu yang selalu menguatkan ku meski dia sendiri juga mendapat gunjingan dari orang hingga membuatnya jatuh sakit.
"Bukan hanya aku atau ibu, Maura juga mendapatkan cemooh dari orang karena dia lahir tanpa seorang ayah." hik..hik..hik..
"Ak-kuh..." suara Freya tercekat, dia tidak mampu meneruskan ucapannya, dia menjatuhkan kepalanya diatas meja menelungkup kan kepada kedua lengannya.
__ADS_1
Bryan berdiri dan berpindah duduk di samping Freya. Dielusnya pelan rambut Freya. Dia dapat merasakan bagaimana sakitnya dan sedihnya Freya kala itu. Bryan memang lelaki breng sek yang dengan paksa nya mengambil keperawanan milik Freya dan membuat hidup Freya berantakan.
"Maafkan aku."
"Aku akan menebus semuanya dan mempertanggung jawabkan apa yang telah aku ambil dari mu waktu itu." ujar Bryan dengan lembut yang tangannya masih setia mengelus rambut kepala Freya.
Freya mengangkat kepalanya, menatap Bryan dengan mata yang masih mengeluarkan air mata.
Bryan mengambil kedua tangan Freya dan digenggamnya erat. Ditatapnya lekat wajah gadis kecilnya yang terlihat memerah karena menangis.
"Aku minta maaf Freya. Aku minta maaf."
"Apapun yang terjadi aku akan menikahi mu."
"Entah Mama tidak merestui pernikahan ku dengan mu, atau mungkin,-" Bryan menunduk menatap kedua tangan Freya yang digenggamnya.
"Atau mungkin kamu tidak mencintaiku, aku akan tetap menikah dengan mu apapun alasannya." Bryan menatap Freya kembali.
"Walau itu hanya demi Maura atau karena aku memang ingin bersamamu dan memilikimu."
Freya mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar pernyataan Bryan yang terakhir. "Karena aku memang ingin bersamamu dan memilikimu".
Apa maksud Bryan barusan?
Apa Bryan mencintaiku?
Apa dia tidak salah telah mencintaiku?
Oh Freya...Kenapa jantungmu berdetak begitu cepat saat kamu merasa kalau Bryan memang mencintaimu. Bahkan hatimu berbunga-bunga saat ini walau wajahmu menunjukkan ekspresi yang tidak bisa ditebak oleh Bryan.
"Bukannya kamu sudah tahu tentang Manda kenapa aku selalu menolak jika Mama memintaku menikah dengannya?" tanya Bryan balik sambil menghapus sisa air mata Freya yang jatuh di pipi.
"Aku nggak tahu." kilah Freya dan melepas tangannya yang digenggam Bryan, dia tidak mau menatap Bryan.
Bryan terkekeh pelan melihat Freya yang sepertinya menghindari pertanyaannya tentang Manda.
"Aku tahu kalau dia itu wanita simpanan para sutradara ataupun produser, bahkan para laki-laki hidung belang." kata Bryan sambil mendekatkan gelas yang berisi minuman yang Freya pesan tadi tepat di depan Freya.
"Dia diperalat keluarganya untuk mencapai kekayaan." sambung Bryan.
"Dan dia.." Bryan tidak melanjutkan perkataannya.
Freya menoleh dan mendapati raut wajah Bryan yang terlihat sedih. Seperti ada luka yang begitu dalam dihatinya.
"Dia kenapa?" tanya Freya yang penasaran kenapa Bryan tiba-tiba menghentikan perkataannya.
"Dia salah satu dari keluarga yang telah membunuh adik saya beberapa tahun yang lalu."
Freya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Adik Bryan dibunuh oleh keluarga Hertanto.
Bryan tersenyum tipis melihat ekspresi terkejut Freya, dia tarik pelan tangan Freya yang masih digunakan untuk menutup mulutnya sendiri. "Sudah, itu sudah berlangsung lama. Dan aku juga gak bakal nikah sama nikah" ucap Bryan
"Dan ini ada yang lebih serius." sambung Bryan
__ADS_1
"That's a question for you, Ms Freya." Bryan kembali menatap lekat kedua netra coklat milik Freya dengan masih menggenggam tangan Freya.
"Will you allow my genes to influence your genes?" tanya Bryan dengan menampilkan senyum menawannya.
Freya yang ditanya seperti itu sontak memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merah di kedua pipinya. Dia berusaha untuk mengatupkan rapat mulutnya untuk tidak tersenyum walau hatinya membuncah bahagia.
Seorang Tuan Muda dari keluarga Abrisan melamarnya dengan bahasa yang berbeda dari yang lainnya dan terdengar sensitif terlalu fulgar. Apa tadi dia bilang? Will you allow my genes to influence your genes?.
Ingin rasanya dia menarik kedua tangannya yang digenggam erat Bryan kemudian dia bersembunyi untuk menutupi rona bahagia diwajahnya.
Oh Freya...Jangan bilang kamu juga mencintai laki-laki yang baru saja melamarmu dengan bahasa yang membuat kupu-kupu di dalam perutmu ingin meledak keluar ini.
"Kenapa diam saja?" tanya Bryan saat melihat Freya yang diam saja itu, walau dia tahu sebenarnya Freya malu akan pernyataan lamaran yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Kamu nggak mau menikah dengan ku walau demi Maura meski kamu belum mencintaiku?" tanya Bryan lagi saat Freya menatapnya.
"Tapi aku tidak mencintaimu." jawab Freya cepat walau matanya mengatakan tidak. Freya memang merasakan rasa nyaman saat Bryan berada didekatnya, bahkan rasa hangat selalu menghampiri dirinya saat Bryan menenangkannya ataupun memeluknya. Apa itu bisa dinyatakan cinta?
"Kamu bukannya tidak mencintaiku, tapi belum mencintaiku." ralat Bryan akan jawaban yang Freya berikan.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." kata Bryan yakin kalau dia bisa membuat Freya jatuh cinta padanya.
"Jadi.....Will you allow my genes to influence your genes, Ms. Freya?"
"Aku mau kembali ke kamar Maura."
Freya menarik kasar tangannya yang dipegang Bryan dan berlalu pergi dengan langkah cepat menutupi rasa malunya akan pertanyaan yang Bryan berikan.
Bryan tertawa melihat Freya yang selalu menghindar saat dia melamarnya dengan kata-kata sedikit sensitif dan fulgar itu. Dia segera berdiri dan mengejar Freya. Dia akan mencoba terus sampai Freya mengatakan "yes, I will."
🍁🍁🍁
That's a question for you, Ms Freya.
(Ini harus ditanyakan kepada mu, Nona Freya.)
Will you allow my genes to influence your genes?
(Bolehkah genku mempengaruhi gemmu?)
🍁🍁🍁
Bryan pikirannya tidak jauh dari hal-hal seperti itu yaaaa...
Memang benar yang dikatakan Freya kalau Bryan itu monster mesum yang berwujud pria tampan.
Have a nice day kakak-kakak readers
like and vote
biar makin semangat menghalunya
komen untuk memberi masukan juga boleh
__ADS_1
big hug from far away 🤗🤗🤗