
"Hallo gantengnya Mama Mutia, kenapa makin hari kamu makin emes aja sih."
Mutia terlihat begitu gemas melihat baby Attar yang menggerakkan kedua matanya kekanan dan kekiri mencari sumber suara seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai Mama Mutia namun terlihat tidak menemukan orangnya dan dia justru melihat Bundanya yang terlihat tersenyum kepadanya dirinya dengan memegang sebuah ponsel.
"Hai..Mama ada disini. Jangan lihatin Bunda kamu terus. Memang baby Attar tidak bosan apa lihat Bunda Freya terus. Ini ada Mama Mutia yang lebih cantik daripada Bunda kamu, baby Attar."
Namun baby Attar kelihatannya tidak memperdulikan ocehan Mama Mutia, justru dia tersenyum dan terdengar suara tawanya yang lirih saat Bunda Freya mengajaknya bercanda tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir dan matanya saja.
"Freya ih..Aku lagi kangen ini sama baby Attar. Arahkan dong kameranya ke baby Attar, calon menantuku yang paling ganteng ini."
Freya melirik layar ponsel nya dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Mutia yang saat ini tengah tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya. Sahabatnya yang di seberang sana terlihat begitu percaya dirinya menyebut kalau baby Attar adalah calon menantunya.
"Buat dulu yang benar, baru ngakuin kalau baby Attar itu calon menantu mu. Tapi itu kalau anak kamu nanti perempuan, kalau tidak ya jangan harap baby Attar akan jadi menantu mu."
Mutia mendengkus kesal mendengar ejekan dari sahabatnya itu. Freya tidak tahu saja kalau saat ini dirinya tengah berbadan dua dan di dalam rahimnya ada dua calon anaknya kelak. Ya meski belum tahu jenis kelaminnya, tapi Mutia terlihat yakin kalau salah satu calon anak kembarnya itu ada yang berjenis kela min perempuan.
"Aku pastikan nanti kalau baby Attar akan jadi menantuku. Saat ini aku sudah mencicil telinga, hidung dan bibirnya calon istrinya baby Attar." kata Mutia dengan bangganya.
Freya tertawa mendengar perkataan sahabatnya, Mutia. "Perasaan dari kemarin dicicil terus, kapan lunasnya? Masa istri seorang CEO buat anak kok dicicil. Dibayar kontan lah."
Mutia semakin kesal saat melihat tawa sahabatnya yang terlihat begitu menjengkelkan. Dan dirinya kan memang buatnya dicicil beberapa kali dalam seminggu, atau lebih tepatnya beberapa kali dalam sehari. Karena Rendy tiada hari tanpa terus menggempurnya untuk mencicil si junior biar cepat lunas.
"Tertawa saja sana sampai puas. Aku yakin nanti saat kamu pulang satu bulan lagi kamu akan kaget. Mungkin nanti suami kamu juga ingin karena iri."
Mutia menyunggingkan senyum tipisnya membayangkan reaksi Freya nanti saat pulang ke tanah air dan mendapati dirinya hamil. Apalagi saat ini dirinya tengah hamil anak kembar. Sudah dipastikan pasti nanti Bryan akan merengek pada Freya untuk membuat lagi karena tidak mau kalah sama Rendy.
Freya memicingkan matanya dengan kening mengkerut mendengar ucapan Mutia. Apa coba maksudnya? Kenapa suaminya harus iri segala? Kan suaminya sudah punya segalanya. Kenapa juga harus iri sama Mutia dan Rendy?.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan Nyonya Muda Abrisam, istrinyanya Tuan Muda Abrisam. Nanti yang ada ASI kamu tidak mau keluar dan bisa membuat calon menantu ganteng dan tajir ku nanti kehausan dan kelaparan." ucap Mutia sambil terkekeh pelan.
"Mana ada. Aku sudah punya stok banyak di freezer. Jadi tidak perlu khawatir lagi baby Attar bakal kelaparan." balas Freya dengan menatap sengit sahabatnya itu.
"Ya percaya, tiap hari kan dipijat terus sama Tuan Bryan. Makanya punya stok banyak."
Freya mendelik mendengar perkataan sahabatnya yang tidak di filter sama sekali. Kenapa semenjak menikah dengan Rendy, omongan sahabatnya itu semakin ceplas-ceplos tanpa di filter terlebih dahulu.
"Katanya kamu akan menyusul kesini kalau aku sudah lahiran. Kenapa ini usia baby Attar sudah dua bulan kamu tidak nongol juga disini? Tak ada duit buat beli tiket?"
Mutia mendengkus kesal saat mendapat pertanyaan yang terdengar begitu mengejek dirinya yang tidak mampu membeli tiket untuk pergi menyusul Freya ke Swiss.
"Hina aja terus sampai anda bosan, Nona Freya. Nihh, aku sekarang punya black card seperti yang anda miliki. Jadi aku bisa beli apa saja termasuk tiket pesawat ke Swiss."
Mutia menunjukkan sebuah kartu berwarna hitam yang baru saja dia ambil dari dalam dompetnya. Bahkan calon ibu itu mencium kartu itu seolah mencium kekasihnya.
__ADS_1
"Kalau bisa beli apa saja, ya cepat beli tiket dan datang kesini. Atau jangan-jangan itu hanya kartu kosong, tak ada isinya."
Mutia lagi-lagi mendengkus mendengar perkataan Freya yang sedari tadi terus saja mengejek dirinya.
"Ka_,"
"Kakak Ipar!!! Seblak sama rujak petisnya sudah datang!"
Mutia tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar teriakan Nino yang baru saja masuk ke apartemennya. Rasa kesalnya terhadap ejekan dari Freya langsung hilang saat mendengar seblak dan rujak petis yang dia pesan sudah datang. Senyumnya langsung mengembang dan terlihat tidak kesal lagi seperti tadi.
"Dah dulu ya, seblak sama rujak petis ku sudah datang. Bye calon besan. By calon menantu ganteng dan tajirnya Mama Mutia. Muachhh 😘."
Freya menatap tak percaya pada sahabatnya yang langsung mengakhiri panggilan vidio sepihak tanpa menunggu dirinya mengatakan sesuatu.
"Dia tadi yang vidio call duluan, dia juga yang mengakhiri panggilan. Dasar sahabat tidak tahu diri. Seenaknya sendiri." gerutu Freya yang kesal pada sahabatnya itu.
"Sayangnya Bunda, gantengnya Bunda. Nanti kalau kamu sudah besar dan menjadi menantu Mama Mutia kamu harus sabar ya. Mama Mutia itu bar-bar dan sedikit aneh. Jadi kamu harus hati-hati sama Mama Mutia. Oke." pesan Freya pada baby Attar yang hanya dijawab dengan senyum dan celotehan tak jelas sama sekali ala bayi.
"Cucu Oma Mama bening banget matanya. Baru bangun tidur ya?" tanya Mama Marisa yang memang tidak ikut pulang ke tanah air. Beliau ingin menemani Freya dan cucu gantengnya yang saat ini berusia dua bulan lebih tiga hari. Beliau menduduknya pantatnya di atas karpet dimana sang cucu dan sang anak juga duduk di sana.
"Sudah bangun dari tadi Oma Mama. Baby Attar juga baru selesai panggilan vidio sama Mama Mutia." jawab Freya dengan menirukan suara anak kecil sambil memegang gemas paha baby Attar yang terlihat seperti roti sobek.
Mama Marisa mengambil baby Attar yang tiduran di Baby Bouncer dan digendongnya sambil diajaknya berbicara. Freya terlihat menyunggingkan senyumnya melihat baby Attar yang tersenyum lebar tanpa suara saat diajak berbicara dan bercanda sama Oma Mama nya.
Freya mengerutkan keningnya melihat Bryan yang memanggilnya dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya. Apalagi matanya terlihat merah, bukan karena kesal atau marah, tapi terlihat sedih dengan tatapan kosong. Ada apa pikirnya.
Freya berdiri dari duduknya dan mendekati suaminya. "Ada apa, Mas?" tanya Freya pelan sambil memegang tangan kanan suaminya, tidak lupa dia juga memberikan usapan lembut ditangan kekar suaminya itu.
Bryan masih terdiam menatap Freya. Tapi tatapan matanya bukan sepenuhnya menatap wajah cantik istrinya, melainkan tatapan kosong. Seperti ada suatu yang hilang dalam dirinya saat ini.
"Mas!" tangan Freya terulur dan mengusap lembut rahang tegas suaminya.
Mata Bryan mengerjap beberapa kali seperti baru tersadar dari lamunan panjangnya. Dia menatap Freya kembali dengan tatapan sedih dan sendunya.
"Ada apa? Kalau ada masalah, cerita sama Freya. Siapa tahu Freya bisa bantu." Freya menyunggingkan senyum tipis nan manisnya meski hatinya begitu penasaran ada yang terjadi pada suaminya kenapa suaminya saat ini terlihat begitu sedih.
Bryan mengambil nafas sejenak sambil memejamkan matanya dan secara perlahan mengeluarkan nafas melalu mulutnya. Bryan membuka matanya dan tatapannya langsung bersitatap dengan mata bening berwarna coklat milik istrinya.
"Kita pulang hari ini juga."
Ucapan Bryan langsung membuat Freya menatap suaminya penuh tanda tanya. Kenapa begitu mendadak? Pulang. Hari ini juga. Terus baby Attar? Putranya, jagoan kecilnya masih berusia dua bulan. Tidak mungkin melakukan perjalanan jauh menggunakan pesawat dengan membawa seorang bayi.
"Pulang? Sekarang?" tanya Freya memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Freya lagi saat melihat Bryan menganggukkan kepalanya atas pertanyaannya tadi.
"Baby Attar baru dua bulan, Mas. Mas Bryan sendiri juga yang menunggu baby Attar usianya tiga sampai empat bulan baru kita pulang. Terus kenapa Mas Bryan mengajak pulang secara mendadak seperti ini. Bagaimana nanti kalau terjadi apa-apa sama baby Attar. Ini perjalanan jauh, Mas."
Bryan memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas kasar. Pertanyaan dan ocehan yang keluar dari mulut istrinya sungguh membuat dirinya ingin marah disaat hatinya tengah merasa kehilangan.
"Bisa tidak nurut apa yang suami kamu katakan."
Freya tercengang mendengar perkataan Bryan yang terkesan dingin dan menuntutnya mematuhi semua perintah sang suami. Apalagi tatapan suaminya yang tadi terlihat sedih dan sendu, kini berubah menjadi amarah.
Bahkan Mama Marisa yang sedari tadi hanya menyimak saja langsung berdiri dari duduknya saat melihat Bryan yang hampir saja membentak Freya.
"Cepat bereskan apa yang ingin kamu bawa. Hari ini juga kita pulang."
Air mata Freya terjatuh dengan sendiri melihat suaminya yang berlalu pergi dari hadapannya. Sikap dingin suaminya kembali lagi. Entah apa yang telah membuat suaminya kembali bersikap dingin seperti itu kepada dirinya.
"Apa aku ada salah sama kamu, Mas?" gumam Freya lirih menatap punggung lebar dan tegap suaminya.
"Tuan Bryan, tunggu!"
Bara berlari menuju arah Bryan yang terlihat menghentikan langkahnya dan langsung menatap nya. Bara terlihat mengatur nafasnya sebelum akhirnya memberi laporan kepada atasannya itu.
"Tiket pesawatnya sudah dapat. Tiga jam lagi pesawatnya terbang. Jadi kita harus pergi sekarang juga sebelum ketinggalan pesawat. Atau tidak, kita akan pulang besok."
Lapor Bara mengingat jarak tempuh dari rumah Bryan ke Bandara memakan waktu lebih dari dua jam. Dan Bryan meminta penerbangan yang paling cepat dan dapatnya hari ini, tiga jam lagi.
Bryan mengangguk, "Bawa seperlunya saja yang penting. Kita pulang sekarang." ucap Bryan dan berlalu pergi.
"Bara, tunggu!" Freya menghentikan langkah Bara yang akan menyiapkan dan melakukan tugas sesuai perintah Bryan.
"Ada apa ini? Kenapa kita harus pulang hari ini juga?" tanya Freya penasaran karena Bryan tidak memberi tahunya dengan jelas.
"Nona Freya belum diberi tahu kabar duka sama Tuan Bryan?" Bara balik tanya pada Freya dan langsung dijawab dengan gelengan kepala dengan kening mengkerut bingung.
"Papa mertua anda meninggal, Nona. Jadi kita harus pulang saat ini juga. Semua keperluan baby Attar dipesawat sudah saya siapkan. Jadi anda tinggal membawa apa yang perlu anda bawa. Sisanya biar ditinggal disini dulu tidak apa." ujar Bara dan berlalu dari hadapan Freya karena dirinya belum selesai menyiapkan apa yang diperintahkan Bryan pada dirinya.
Freya menutup mulutnya tak percaya mendengar kabar duka yang baru saja Bara sampaikan pada dirinya. Papa mertuanya meninggal. Berarti Papa Abri, lelaki parubaya yang selalu berada dipihaknya telah tidak ada. Lelaki yang sudah dia anggap sebagai bapak nya sendiri telah pergi meninggalkan dirinya seperti bapaknya yang sudah berpuluh tahun meninggal.
"Papa sakit apa? Kenapa Papa mendadak pergi meninggalkan kami semua? Apa penyakit jantung Papa kambuh sebelum Papa pergi untuk selamanya? Kenapa Freya tidak tahu kabar apapun mengenai Papa."
Air matanya menetes kembali bersamaan melihat Bryan yang keluar dari ruang kerja sambil berbincang dengan seseorang di telephone. Dia tahu kenapa Bryan tadi sempat marah pada dirinya. Karena dirinya banyak tanya dan tidak mau menurut sama perintah suaminya yang tengah kalut ditinggal pergi oleh Papa Abri selamanya. Ditambah saat ini suaminya, Bryan tidak berada disisi Papa Abri saat beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
"Freya sudah hapus air mata kamu. Cepat kamu ambil barang kamu yang penting saja dan segera temani Bryan. Biar baby Attar Mama yang ngurus."
__ADS_1
Freya menatap Mama Marisa sejenak dan menganggukkan kepalanya. Dia segera berlalu dari hadapan Mama Marisa setelah memberi kecupan pada kening baby Attar yang terlihat anteng dan tidak rewel.