
Menjelang pagi, Freya segera bangun dan menjalankan kewajibannya sebagai umat Muslim. Selesai sholat subuh Freya tidak lupa menyiapkan keperluan suaminya meski dalam kondisi marah. Dia melihat kostum superman yang berada di dalam kantong paper bag.
"Padahal Freya ingin sekali melihat Mas Bryan memakai ini." Freya memandang kostum yang dipegangnya, dia membuang nafas kasar.
"Ya sudahlah..Mungkin Mas Bryan tidak sayang sama dedek junior, makanya tidak mau menuruti semua keinginan ngidamnya Bunda." Freya melempar kostum superman beserta kantong paper bag ke dalam keranjang baju kotor.
Freya menatap nanar kostum yang sudah terkoyak di dalam keranjang baju kotor sebelum akhirnya dia bergegas pergi ke kamar Maura untuk melanjutkan tidur di kamar sang putri. Dia malas kalau harus bertegur sapa ataupun melihat suaminya, Bryan. Padahal dari semalam dia tidak bisa tidur karena ingin tidur dipeluk kan Bryan. Ingin mencium aroma tubuh Bryan yang selalu membuatnya tenang dan nyaman selama hamil.
Freya menghentikan langkahnya saat melewati Bryan yang masih terlihat tidur dengan berbalut selimut tebal di sofa. Semalam Freya merasa kasihan pada suaminya yang tidur di sofa tanpa selimut dan akhirnya memilih untuk mengambil selimut baru dan diselimuti pada tubuh Bryan yang terlihat kedinginan karena kebiasaan Bryan yang tidur hanya menggunakan kolor saja tanpa memakai kaos ataupun baju tidur.
Freya mendekati Bryan yang masih terlihat memejamkan matanya itu. Ditamati nya wajah suami tampannya yang suka ingkar janji kalau dia menginginkan sesuatu itu. Freya sedikit menunduk dan menyentil kening Bryan gemas namun tidak mengenai kening Bryan, hanya di udara saja.
"Mas Bryan nyebelin, ngeselin!!!"
"Padahal Freya hanya ingin melihat Mas Bryan memakai kostum super hero."
"Kalau nggak mau dipakai seharian dan di depan banyak orang, seenggaknya dipakai di depan istri sendiri kan bisa walau hanya sebentar."
"Biar senang hati istri kamu ini."
"Aishhh..nyebelin banget punya suami macam kamu, Mas."
"Untung ganteng dan tampan juga kaya raya." gerutu Freya dan berlalu pergi ke kamar Maura.
Freya berhenti sebelum membuka pintu, "Bangun, Mas!! Waktu subuh nya hampir habis, jangan bolong-bolong terus." ucap Freya dengan suara sedikit lantang sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu dan menuju kamar Maura.
Bryan membuka matanya setelah mendengar suara pintu tertutup. Dia menyunggingkan senyum tipis saat mengingat perkataan Freya barusan. Dia sudah bangun dari tadi saat Freya sedang sholat. Dia hanya pura-pura tidur saja, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan Freya padanya. Dan ternyata istrinya itu masih marah dan ngomel-ngomel sendiri.
"Kemarin bilangnya dipakai seharian dari pagi sampai sore dan di kantor juga."
"Sekarang bilangnya seenggaknya dipakai di depan istri sendiri." cibir Bryan mengingat perkataan Freya kemarin juga yang barusan.
"Kalau dari kemarin kamu bilangnya seperti sekarang, aku juga tidak akan menolak dan semalam aku dan 'si rosi' pasti akan sangat puas dan senang banget."
"Ahhh..yakan bangun lagi hanya karena membayangkan yang kemarin." Bryan merutuki otaknya yang pagi-pagi sudah membayangkan apa yang dilakukan Freya semalam sebelum akhirnya marah. Dasar otak mesum.
Bryan bergegas bangun dan melakukan olahraga kecil, dia push up untuk mengurangi hawa panas ditubuhnya karena membayangkan Freya yang bermain dengan 'si rosi'.
Di kamar Maura, Freya terlihat berbaring di samping Maura dan memeluk Maura yang terlihat terusik dengan pelukan sang Bunda yang begitu erat.
"Bunda!! Jangan kencang-kencang meluknya." seru Maura dengan suara serak kas bangun tidur. Maura tidak bisa bergerak karena kedua tangannya didekap begitu erat sama Bunda Freya.
"Sebentar sayang, Bunda masih ngantuk." ucap Freya yang memejamkan matanya karena memang masih ngantuk.
"Kalau Bunda ngantuk ya tidur atuh di kamar Bunda sendiri."
"Biasanya Bunda kalau pagi tidur ditemani Ayah."
"Bunda akan bermanja-manja dengan Ayah, bukan dengan Maura seperti ini."
"Apa Bunda lagi marahan sama Ayah?" tebak Maura karena Bundanya tidak akan seperti saat ini kalau bukan karena marahan sama Ayah Bryan. Bundanya pasti akan memilih bersama Maura seperti saat ini.
"Aishh..Kasihan banget sih kamu, Maura, hanya dijadikan pelampiasan sama Bunda kamu sendiri saat lagi marahan sama Ayah." gerutu Maura saat tebakannya benar, karena sang Bunda hanya diam saja.
Freya terkekeh pelan mendengar gerutuan Maura. Dia merenggangkan pelukannya dan mencubit gemas hidung Maura.
"Anak Bunda gemesin banget sih." gemas Freya pada Maura dan menciumi wajah sang putri dengan gemas.
"Stop Bunda!! Maura belum mandi." Maura berusaha menghindar dari ciuman Bundanya.
"Maura masih bau Bunda." ucap Maura biar sang Bunda berhenti menciumi wajahnya.
"Iya, Maura bau jigong." goda Freya dan langsung membuat Maura cemberut.
"Kalau Maura bau jigong, kenapa Bunda menciumi Maura terus?" tanya Maura dengan wajah cemberut juga lirikan matanya yang sangat menggemaskan.
"Karena Bunda sayang sama anak Bunda yang bernama Maura Hanin Azzahra."
"Sayang banget sama anak Bunda."
Maura memalingkan wajahnya membelakangi Bunda Freya untuk menyembunyikan rena bahagia juga senyumnya. Rasanya dia ingin berteriak "Maura juga sayang banget sama Bunda!!", namun dia malu.
"Sudah ihh..Nggak usah malu-malu seperti itu."
"Bunda tahu kok, Maura tidak marah."
"Bunda juga tahu kalau Maura juga sayang sama Bunda." Freya mencolek-colek pinggang Maura. Dia tahu Maura paling tidak suka kalau pinggangnya dipegang taupun dicolek. Pasti dia akan marah karena tidak bisa menahan rasa gelinya.
"Bunda stop!!"
"Maura nggak kuat lagi."
"Geli Bunda!!" teriak Maura dan berbalik menghadap Bundanya.
"Ampun Bunda."
"Maura memang tidak marah sama Bunda."
"Muara juga sayang sama Bunda banyak banyak banyak banget pokoknya."
"Muachhh..." Maura mencium pipi Bundanya juga mencium perut Bunda Freya yang sudah terlihat buncit.
"Perut Bunda sudah buncit."
"Jadi Bunda benaran tidak bisa mengantar Maura ikut kompetisi matematika di Singapura?" tanya Maura mengingat beberapa hari lagi akan berangkat ke Singapura.
"Maafkan Bunda ya sayang, Bunda tidak bisa ikut Maura ke Singapura."
"Tapi doa Bunda akan selalu buat Maura."
"Semoga Maura disana nanti baik-baik saja juga bisa mengikuti kegiatan selama kompetisi dengan baik dan lancar. Maura juga bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik dan benar."
"Bunda tidak menuntut Maura untuk bisa meraih juara satu disana dan mendapat medali emas."
"Bunda sudah senang karena melihat Maura bisa ikut kompetisi kelas internasional."
"Sesuai keinginan Maura waktu dulu." ujar Freya panjang lebar sambil mengusap rambut kepala Maura.
"Iya Bunda, Maura juga tahu."
"Terima kasih Bunda, Bunda selalu mendukung Maura selama ini." ucap Maura dengan tulus dan memeluk Bundanya dengan sayang. Dia begitu sayang sama Bunda Freya yang dulu begitu tangguh saat sebelum bertemu dengan Ayah Bryan.
"Itu akan selalu Bunda lakukan sampai Maura nanti dewasa bahkan sampai Bunda nantinya menutup mata untuk selamanya." Diciumnya puncak kepala Maura.
__ADS_1
"Ayah sudah bangun Bunda?" tanya Maura yang belum sempat bernegosiasi dengan sang Ayah apa Ayah Bryan jadi mengantarkan dirinya apa tidak.
"Bunda tidak tahu. Mungkin sekarang sudah bangun."
"Kenapa memangnya." tanya Freya dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Maura mau melihat Ayah dulu."
"Maura mau bertanya sesuatu sama Ayah." Maura bergegas turun dari ranjang dan pergi keluar dari kamarnya menuju kamar sang Ayah.
Freya menghembuskan nafas pelan dan memejamkan matanya untuk tidur lagi. Namun usahanya untuk tidur lagi benar-benar tidak bisa karena tidak ada yang bisa dipeluknya. Sudah mencoba memeluk guling juga boneka milik Maura, tetap saja tidak bisa tidur lagi.
"Ada apanya sih dengan tubuh Mas Bryan?"
"Kenapa aku tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk sama Ayahnya Maura itu." keluh Freya yang kembali bangun dari rebahannya.
Freya mengehmbuskan nafas kasar dan kembali ke kamarnya. Entah nanti suaminya itu akan menertawakan dirinya atau tidak dia tidak peduli. Yang Freya inginkan saat ini adalah tidur dipeluk kan suaminya atau tidak hanya berada dipeluk kan suaminya saja sudah cukup.
Freya melangkah pelan menuju kamarnya sambil menggigit ujung kuku jari jempol tangannya. Freya menajamkan pendengarannya saat mendengar gelak tawa Maura saat sudah dekat dengan pintu kamarnya yang terbuka sebagian.
"Maura kenapa ya??"
"Kenapa ketawanya kencang banget seperti itu?"
Freya yang penasaran mengintip apa yang terjadi di dalam kamar sampai membuat Maura tertawa begitu kencangnya.
"Apa yang Maura tertawakan?" monolog Freya saat tidak melihat apapun dikamarnya selain Maura yang terlihat tertawa sambil guling-guling di atas ranjang.
"Maura!! Sayang, kenapa kamu tertawa?" tanya Freya mendekati Maura yang terlihat memukul-mukul guling sambil tertawa.
"Bundah hahaha...Lihat itu Bunda." dengan masih tertawa, Maura menunjuk kearah walk-in closet dimana disana ada Ayahnya yang menutupi tubuhnya dengan handuk.
Freya mengikuti arah yang ditunjuk oleh putrinya itu. Dia memicingkan matanya melihat apa yang dilihatnya itu tidak salah. Freya menyunggingkan senyumnya dan melangkah pelan mendekati suaminya itu yang terlihat cemberut dengan wajah kesal. Mungkin karena ditertawakan Maura.
"Apa?? Mau menertawakan aku juga seperti Maura tadi." sewot Bryan saat melihat Freya mendekatinya dengan menyunggingkan senyum.
Freya terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya, "Freya mau minta handuknya, mau Freya jemur." kilah Freya yang masih menatap Bryan dengan tersenyum.
"Nggak mau." Bryan mengeratkan handuknya untuk menutupi tubuhnya.
"Ayah malu Bunda, karena Ayah memakai cel-dam warna merah diluar bukan didalam." ucap Maura dengan tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena sedari tadi tertawa terus melihat Ayahnya yang memakai kostum spiderman. Bahkan air matanya sampai jatuh menetes karena tertawa.
Freya tersenyum dan memeluk Bryan dengan erat. Dia tahu suaminya saat ini tengah malu, tapi dia berusaha untuk membuatnya senang meski hatinya mungkin sedikit dongkol.
"Terima kasih, Mas."
"Terima kasih Mas Bryan sudah mau memakai kostum yang Freya beli kemarin."
"Freya senang banget." ucap Freya sambil mengenduskan hidungnya menghirup aroma tubuh suaminya.
"Puas kamu sudah bikin aku malu di depan anak aku sendiri." sungut Bryan yang tak urung juga membalas pelukan Freya.
Freya mendongak menatap Bryan dari bawah, "Hmmm.." Freya mengangguk, dia mengalungkan tangannya di leher Bryan.
"Terima kasih suamiku."
"Ik houd van je, Mr. Bryan Alvaro." bisik Freya dengan senyum merekah di bibirnya karena keinginannya untuk melihat suaminya memakai kostum pahlawan super terwujud.
"Tahu cuma seperti itu, lebih baik nggak aku pakai kostum laknat ini." gerutu Bryan karena merasa kurang puas dengan ucapan terima kasih yang Freya lontarkan kepadanya.
Freya tersenyum kecil, dia tahu maksud dari perkataan suaminya itu. Freya lantas berjinjit dan mendekatkan bibirnya pada bibir Bryan.
"Bagaimana caranya aku harus berterima kasih dengan baik?"
"Bolehkah Tuan Abrisam Bryan Alvaro mengajari Nona Freya Almeera Shanum caranya berterima kasih?" Freya menatap manik biru suaminya itu dengan pandangan binar.
Bryan menatap lekat mata Freya yang bertanya pada dirinya dengan gerakan bibir yang di sengaja menyentuh bibirnya. Mata itu berbinar meski tidak bisa dipungkiri kalau mata itu terlihat sayu karena kurang tidur dan Bryan tahu kalau istrinya itu semalam tidak bisa tidur seperti dirinya. Bryan menarik salah satu sudut bibirnya keatas.
"Kamu mau tahu bagaimana caranya?"
"Hmm.." Freya hanya berdehem karena bibir bawahnya sudah digigit lembut sama Bryan.
Freya memejamkan matanya saat bibir Bryan mencium bibirnya dengan begitu lembut, sangat lembut bahkan Freya sangat menikmati permainan bibir yang bergerak keatas dan kebawah bergantian.
"Ayah!!! Bunda!!! Jangan lupakan Maura disini." pekik Maura yang saat ini tengah berdiri di atas kursi yang ada di walk-in closet dengan kedua tangan di letakkannya di pinggang juga wajah yang dibuat seolah marah dengan kelakuan Ayah dan Bundanya.
Freya mendorong Bryan yang tengah menciumnya. Dia tadi seakan lupa atau memang benar-benar lupa kalau masih ada sosok anak kecil di kamarnya.
"Mentang-mentang Maura belum mandi, Maura tidak dicium Ayah."
"Ayah pilih kasih."
"Hufftt." Maura menatap tajam Ayah Bryan penuh permusuhan. Tangannya sekarang bersedekap di dada dan dagunya diangkat setinggi mungkin.
Freya geleng kepala melihat tingkah Maura, dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Dia kira tadi Maura marah karena dia cueki, ternyata karena tidak dapat ciuman selamat pagi dari sang Ayah.
Bryan garuk kepala dan melirik Freya yang hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. Bryan menyerahkan handuknya yang tadi dia gunakan untuk menutupi tubuhnya kepada Freya dan sekarang terlihatlah tubuh tegap dan gagah Bryan yang biasanya berbalut pakaian mahal dan berkelas dari casual sampai formal, sekarang tubuh itu berbalut kostum yang begitu ketat hingga memperlihatkan otot tubuhnya.
Maura yang tadinya marah dan cemberut karena tidak mendapat ciuman selamat pagi dari sang Ayah menahan tawanya saat lagi-lagi melihat kostum yang dipakai sang Ayah.
"Tertawa saja nggak usah ditahan."
"Nggak dapat ciuman dari Ayan nanti." kata Bryan yang sudah berdiri di depan Maura yang wajahnya memerah karena menahan tawanya.
Maura melirik Ayahnya, tepatnya melirik tubuh sang Ayah yang berbalut kostum super hero, superman.
Happ!!!
Maura melompat dan memeluk Ayah Bryan dalam sekali lompat. Kedua tangannya di lingkarkan di leher sang Ayah dan kedua kakinya dilingkarkan di pinggang sang Ayah, seperti koala.
Bryan sontak menahan tubunya dengan kedua kakinya saat mendapat serangan tiba-tiba dari Maura. Dia menahan pantat Maura dengan satu tangan supaya tidak jatuh.
"Kenapa kamu nertawain Ayah? hemmm." Bryan menciumi wajah Maura dengan gemas.
"Ihhh...Maura bau jigong." goda Bryan namun langsung mendapat gigitan dipundaknya dari Maura.
"Ayah sama Bunda sama saja, ngatain Maura bau jigong." ucap Maura dengan cemberut.
"Maura, sayang nggak boleh seperti itu."
"Minta maaf dulu sayang sama Ayah." ujar Freya dengan lembut mengingatkan apa yang tadi Maura lakukan pada Bryan salah.
Maura menundukkan kepalanya, dia melirik Bundanya sejenak sebelum akhirnya mengucapkan maaf, "Maaf Ayah."
__ADS_1
"Iya Ayah maafin dan nggak boleh seperti itu lagi."
"Sudah, sekarang Maura turun dulu habis itu mandi."
"Ayah juga mau ganti baju dulu, ini sudah siang."
"Tunggu dulu Ayah." Maura mengeratkan kaki juga tangannya saat sang Ayah akan menurunkan dirinya.
"Maura mau tanya sesuatu sama Ayah."
"Ayo kita duduk disana." Maura menunjuk sofa yang ada di dalam kamar dekat ranjang tempat tidur.
"Maura mau bertanya apa?" tanya Bryan yang sudah mendaratkan pantatnya di sofa dengan posisi Maura masih didalam pangkuannya.
Sedangkan Freya membereskan tempat tidur juga sofa yang tadi malam dipakai suaminya tidur sambil mendengar perbincangan antara suami dengan anaknya.
"Ayah jadikan ngantar Maura ke Singapura?" tanya Maura.
Bryan diam sejenak menatap manik biru Maura yang seperti dirinya.
"Maaf, cantik. Ayah tidak bisa." sesal Bryan yang tidak bisa menemani Maura ikut kompetisi karena Bryan belum menemukan siapa penerima hasil dana penggelapan yang di lakukan oleh mantan Manager Keuangan.
"Maura sama Mama Mutia sama Aunty Anelis saja ya."
"Nanti Ayah juga akan meminta Paman Rendy juga ikut menemani Maura."
"Kan ada dosen gantengnya Maura juga, Mr. Kevin."
"Tapi Ayah kan kemarin sudah janji sama Maura.Mau ngantar Maura juga ke Singapura." kata Maura dengan tampang cemberut.
"Maaf cantik, Ayah banyak kerjaan."
"Ayah janji nanti sepulang Maura dari Singapura, Ayah sama Bunda akan mengajak Maura jalan-jalan."
"Kemanapun yang Maura mau."
"Nanti sekalian kita babymoon sama dedek junior juga."
"Bagaimana? Maura maukan?" tanya Bryan berharap Maura mau menerima idenya itu. Dia saat ini benar-benar tidak bisa pergi kemana-mana karena masih mencari orang, siapa dalang penggelapan dana di perusahaannya.
Maura menatap Bundanya yang terlihat baru saja selesai membereskan tempat tidur dan kembali menatap Ayahnya.
"Maura mau, tapi Maura tidak mau sama Aunty Anelis."
"Maura maunya sama Mama Mutia, Aunty Caca juga Paman robot."
"Mereka bertiga yang boleh menemani Maura di Singapura nanti."
"Bolehkan Ayah??" tanya Maura yang memang belum mengenal Anelis juga belum terlalu dekat dengan Anelis.
"Boleh!!"
Maura dan juga Bryan menoleh, menatap Freya yang langsung mengizinkan Maura tidak mengikut sertakan Anelis didalamnya.
"Kamu tidak apa sayang?" tanya Bryan yang memang tahu Freya berusaha mendekatkan Maura dengan Anelis juga Mama Marisa. Namun Maura terlihat lebih welcome kepada Mama Marisa daripada Anelis.
"Tidak apa." Freya duduk disebelah Bryan.
"Yang terpenting Maura nanti disana aman dan juga baik-baik saja, Bunda akan senang."
"Apalagi orang yang diminta untuk menemani Maura ke Singapura orangnya sudah Maura kenal sejak lama."
"Jadi Bunda mengizinkannya." Freya tersenyum sambil mengusap rambut kepala Maura.
"Benar Bunda?" tanya Mayra memastikan.
Freya mengangguk, "Iya sayang." ucapnya.
"Terima kasih Bunda." Maura memeluk Bundanya juga Ayahnya bersamaan meski tangannya tidak sampai.
"Biar Maura yang ambilkan handphonenya Ayah." kata Maura saat mendengar bunyi ponsel milik Ayahnya. Dia turun dari pangkuan sang Ayah dan berlari menuju nakas samping tempat tidur.
"Kamu sudah puas aku memakai kostum laknat ini." tanya Bryan pada Freya dan membawa istrinya itu kedalam dekapannya.
"Hmm..Sudah sangat puas sekali." jawab Freya dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Boleh aku lepas sekarang?"
"Aku nggak mau memakai ini di depan banyak orang." sungut Bryan.
Freya mengangguk, "Iya boleh dilepas."
"Nanti kamu tidur ya setelah aku berangkat kerja."
"Tapi jangan lupa untuk makan, minum vitamin juga susunya dan makan buah yang banyak."
"Biar Bryan juniornya tumbuh kuat didalam sini." Bryan mengusap lembut perut Freya yang sudah nampak membuncit.
"Iya, Paman robot. Ini Maura kasih ke Ayah." kata Maura dan memberikan handphone kepada Ayahnya.
"Ayah dicari Paman robot." kata Maura dan diangguki Bryan.
"Bunda, Maura mau kembali ke kamar dulu ya. Mau mandi biar tidak dibilang bau jigong lagi." pamit Maura dan berlalu begitu saja kembali menuju kamarnya.
Freya tersenyum kecil melihat Maura yang telah menghilang dibalik pintu. Dia menatap Bryan yang terlihat marah, entah kabar apa yang Rendy berikan kepada suaminya itu. Tatapan Bryan yang tadinya sejuk dan hangat berubah jadi tatapan dingin dan mematikan.
"Ada apa Mas?" tanya Freya setelah melihat Bryan selesai menerika telephone.
"Bantu aku bersiap."
"Tikus sialan itu sudah mau bicara siapa yang menyuruhnya melakukan penggelapan."
Freya tanpa banyak kata lagi membantu Bryan bersiap. Dia tahu saat ini suaminya dalam mood yang tidak bagus, Freya dapat merasakan dari perubahan raut wajah Bryan yang begitu kentara.
Semoga mantan manager itu memberi informasi yang benar, supaya masalah kasus penggelapan uang itu segera selesai. Tapi siapa kira-kira orang yang menyuruhnya melakukan itu? ingin sekali Freya tahu, tapi melihat perubahan sikap Bryan membuatnya mengurungkan niatnya.
🍁🍁🍁
have a nice day
thanks for reading brother and sister
big hug 🤗🤗🤗
__ADS_1