Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Apa maksud kamu Bryan?


__ADS_3

Freya berenang ketepi kolam setelah berhasil meloloskan diri dari Bryan. Tadi selepas Freya menceburkan diri ke kolam bersama Bryan, Bryan langsung memeluknya erat. Untung Freya bisa meloloskan diri meski tadi Bryan sempat mencium bibirnya.


"Rendy sialan!!!" umpat Freya kesal.


"Memangnya aku ****** apa diminta untuk memuaskan Tuan Mudanya." sungut Freya mengingat Rendy membohonginya.


Freya menoleh menatap Bryan yang menahan nafas di dalam air. Dia mengusap kasar bibirnya yang dicium Bryan tadi. Freya mendengkus kesal sebelum akhirnya berusaha naik keluar dari dalam kolam.


Ahhkkkkkk


Teriak Freya saat Bryan menariknya kembali ke dalam kolam.


"Lep-paaass!!" Freya memberontak saat Bryan memeluknya dari belakang.


"Sebentar saja. Hanya sebentar." pinta Bryan dengan suara lirih.


Freya akhirnya memilih diam daripada dia bergerak justru semakin membuat api gairah Bryan bangkit lagi. Freya dapat merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa lehernya.


Bryan membalikkan badan Freya menghadap dirinya membuat jarak mereka begitu dekat. Bryan menatap Freya dan menyingkirkan rambut Freya yang menempel di pipi Freya.


Freya diam saja saat Bryan menatapnya begitu dalam. Dia menahan nafasnya saat Bryan menyingkirkan rambutnya yang menutupi pipinya. Jantung Freya berdetak kencang. "Semoga Bryan tidak mendengarnya." batin Freya berharap Bryan tidak mendengar detak jantungnya.


"Kamu salah menceburkan ku ke dalam kolam Freya."


"Justru air dingin semakin membuat hawa panas di tubuh semakin meningkat."


"Apalagi hawa panas karena gairah."


Freya melotot tak percaya akan apa yang Bryan katakan. Karena setahu dia kalau saat kita mau mendinginkan gairah itu dengan mandi air dingin. Tapi kenapa justru Bryan merasakan kebalikannya. "Apa karena aku ada disini." batin Freya yang mulai ketakutan.


"Tapi tidak apa." sambung Bryan menatap lekat Freya dengan kedua tangan memegangi pinggang Freya supaya tidak tenggelam ke kolam. Karena kedalam kolam itu setinggi pundak Bryan dan tinggi Freya hanya sepundaknya saja.


"Kamu bisa membantuku mendinginkan tubuh ini." sambung Bryan memeluk Freya erat.


Bryan sedikit mengangkat tubuh Freya lebih tinggi darinya membuat Freya langsung memeluk leher Bryan karena kaget.


"Sebentar saja seperti ini." Bryan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Freya.


"Aku janji tidak akan meminta lebih dari ini." sambung Bryan saat merasakan tubuh Freya yang menegang.


Mereka berdua hanya diam saling memeluk satu sama lain di dalam kolam yang dingin di bawah sinar rembulan yang tampak bersinar terang dengan warna putih.


"Bryan." panggil Freya pelan.


Bryan hanya berdehem saja. Dia masih menikmati harumnya tubuh Freya yang begitu memabukkan. Aroma jasmine rose, aroma yang bikin Bryan candu akan tubuh Freya.


"Dingin." lirih Freya yang sudah merasa kedinginan. Bagaimana tidak kedinginan, mereka berdiam diri sambil berpelukan selama satu jam lebih di dalam kolam renang di malam hari. Pasti akan merasa kedinginan. Bryan memang tidak memiliki perasaan.


Bryan mengangkat wajahnya dan menatap Freya yang sudah terlihat pucat dengan bibir sedikit membiru. Tanpa basa-basi lagi, Bryan berenang membawa Freya ke tepi kolam dan mengangkat tubuh Freya untuk di dudukkan disana.


Bryan sendiri segera melompat naik ke tepi kolam dan mengambil handuk yang ada di dekat kolam yang memang selalu disiapkan disana.


Bryan membungkus tubuh Freya dan di gendongnya menuju kamar mandi.


"Sebentar, aku ambilkan baju untuk mu." ucap Bryan setelah mendudukkan Freya dipinggir wastafel. Dia segera keluar untuk mengambil baju yang sekiranya pas di badan Freya.


"Ini bajunya." Freya menatap heran dengan baju yang Bryan berikan. Mungkin sudah disiapkan Rendy, pikir Freya. Karena baju yang Bryan berikan baju perempuan.


"Sudah aku siapkan air hangat, bersihkan dirimu sebentar jangan lama-lama." Bryan lantas pergi keluar dari kamar mandi setelah mengatakan itu pada Freya. Dia juga perlu menghilangkan sedikit sisa hawa panas di tubuh.


Freya turun dan mengunci pintu kamar mandi. Takut saja kalau monster mesum itu masuk tiba-tiba ke dalam kamar mandi. Apalagi posisinya saat Freya mandi. Big No.


Freya segera mandi dan tidak ingin berlama-lama dikamar mandi. Dia ingin kembali ke rumah sakit untuk menemani Maura.


Freya keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri.


"Kemana Bryan?" Hatchiiii!!


Freya mengusap hidungnya yang terasa gatal.


Hatchiiii!!!

__ADS_1


"Kebiasaan banget kalau kedinginan pasti seperti ini." keluh Freya yang merasakan gatal di hidungnya karena udara dingin.


Freya memicingkan matanya saat melihat pintu almari yang terbuka setengahnya. Dia berjalan mendekat ke almari itu, dan dibukanya lebar pintu itu. Freya menutup mulutnya dengan satu tangannya juga matanya melotot tak percaya melihat apa yang baru saja dia lihat di dalam almari.


"Baju siapa ini?" monolog Freya pada dirinya sendiri saat melihat begitu banyak pakaian wanita.


"Pacarnya Bryan atau para wanita yang disewanya?"


"Nggak mungkin kan Bryan yang pakai ini." Hatchiiii!


"Ini masih baru semua." gumam Freya saat melihat semua baju masih ada bandrol label bajunya.


Hatchiiii!


Karena terus-terusan bersin, akhirnya Freya mencari baju yang lebih hangat lagi dari yang dipakainya sekarang.


Freya membuka almari satunya lagi dan mendapati pakaian pria.


"Ini pasti punya Bryan." gumam Freya.


"Ambil satu tak apakan?" monolog Freya bertanya pada dirinya sendiri.


Freya memilih-milih baju yang sekiranya bisa menghalau hawa dingin.


"Sweater..Ini saja lah."


Setelah diambil dan dipakainya, Freya menuju mini kitchen untuk mengambil air hangat. Dia sudah tidak tahan karena dari tadi bersin terus menerus.


"Kamu ngapain?"


Auchhh


Freya mengibaskan tangannya yang terkena air panas karena kaget mendengar suara Bryan yang tiba-tiba terdengar di belakangnya.


Bryan yang panik langsung menarik tangan Freya dan disiramnya dengan air kran wastafel.


"Kenapa kamu nggak hati-hati?" Bryan marah pada Freya yang tidak bisa hati-hati.


Bryan membawa Freya duduk di mini bar.


"Aku nggak mau kulit kamu lecet sedikitpun."


Bryan mengambil kotak P3K dan duduk di samping Freya.


"Kulit kamu ini sangat berharga dan tidak boleh ada yang lecet."


Bryan terus saja berbicara sambil mengolesi krim untuk luka bakar.


Freya hanya diam saja memperhatikan Bryan. Dia begitu senang saat melihat Bryan yang khawatir terhadapnya. Perhatian yang Bryan berikan sedikit demi sedikit membuat Freya mulai luluh.


Tapi.....


Freya juga begitu sedih mengingat Bryan yang tadi membahas pernikahan dengan Amanda. Berarti Maura sudah tidak memiliki harapan lagi untuk tinggal bersama Ayah dan Bundanya.


Bukankah setelah membahas pernikahan itu tandanya mereka (Bryan dan Manda) akan segera menikah?


Sakit, itu yang Freya rasakan saat ini. "Apa aku sudah mulai ada rasa sama dia? Kenapa sesakit ini saat mengingat semuanya?" batin Freya menangis.


Freya menatap Bryan yang menunduk yang masih mengolesi luka bakarnya.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Freya.


"Karena aku nggak mau kulit kamu ada yang terluka." jawab Bryan yang sudah selesai dengan kegiatan mengolesi krim pada luka Freya.


"Kenapa?" tanya Freya lagi yang masih menatap Bryan yang sedang membereskan kotak P3K.


Bryan menghembuskan nafas pelan dan menatap Freya balik.


"Karena kamu sangat berarti bagi ku Freya Almeera Shanum." jawab Bryan menatap netra coklat milik Freya lekat.


Freya tersenyum kecut dan mengalihkan pandangannya. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja. Pandangannya lurus kedepan.

__ADS_1


"Berarti bagaimana maksud kamu?"


"Berarti karena kamu hanya mempermainkan aku dengan Maura."


Bryan masih diam tidak menjawab atapun menyahuti apa yang Freya katakan. Dia tahu kalau Freya sepertinya sedang gelisah. Bryan dapat lihat dari tatapannya tadi.


"Kamu dan keluargamu pergi membahas pernikahan dengan Manda."


"Bukankah itu artinya kalian sebentar lagi akan menikah?"


Freya melirik Bryan sebentar yang posisinya masih sama, duduk miring menghadap dirinya.


"Tapi kenapa Tuan Abrisam melamar aku kemarin buat anaknya, Bryan?"


"Kenapa juga kamu melamar aku waktu itu?"


Freya sudah mulai terbawa emosi dengan ucapannya sendiri. Apalagi Bryan hanya diam saja, bahkan Bryan tersenyum menanggapi apa yang dia katakan.


"Terus apa maksud semua perhatian yang kamu berikan kepada ku itu Bryan?" tanya Freya dengan nada tinggi yang tiba-tiba berdiri dari duduknya. Dia menatap Bryan lekat, matanya sudah mulai memanas.


"Apa maksud kamu?" tanya Freya lagi yang masih melihat Bryan diam saja.


"Jangan karena aku hanya orang biasa yang tidak memiliki apa-apa, kamu bisa melakukan seenaknya yang kamu inginkan."


"Aku punya hati, aku juga punya perasaan."


Freya menatap Bryan dengan nafas memburu karena kesal dan marah. Entah kenapa dia ingin meluapkan semuanya pada monster mesum dihadapannya ini.


"Aku minta sama kamu jangan temui aku maupun Maura setelah ini."


"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa."


"Dan lupakan kalau kamu memiliki Maura."


"Terima kasih sudah membayar semua biaya perawatan Maura di rumah sakit."


"Dan selamat atas pernikahanmu dengan Manda."


Freya pergi dari hadapan Bryan menuju sofa dimana dia meletakkan tasnya tadi.


"Mau kemana kamu?" tanya Bryan tegas dengan mencekal tangan Freya erat.


"Aku mau kemana bukan urusan kamu lagi." jawab Freya dengan ekspresi datar dan dingin.


"Lepas!!" perintah Freya tak kalah tegas dari Bryan.


"Aku nggak akan melepaskanmu." ucap Bryan menatap tajam mata Freya.


"Lepas aku bilang!!!." pinta Freya dengan suara naik satu oktaf.


"Nggak akan pernah aku lepaskan." ucap Bryan penuh penekanan.


Bryan menarik Freya dan diciumnya dua belahan kenyal itu dengan kasar.


"Mmmpphhh...Brymmpph..lephh..." Freya memukul dada Bryan minta untuk di lepaskan ciuman itu.


Bryan semakin menahan pinggang juga tengkuk Freya untuk memperdalam ciuman itu. Ciuman yang awalnya kasar kini mulai melembut.


Freya mulai diam, dia memejamkan matanya dengan air mata mengalir di pipinya. Perasaan apa ini? Kenapa begitu sakit? Apa maksud kamu Bryan?


🍁🍁🍁


have a nice day


jangan lupa Like and Vote ya kakak cantik dan ganteng


dukung author yaaaa


Big Hug From Far Away 🤗🤗🤗


dewi widya

__ADS_1


__ADS_2